“Maaf, Mbak Jelita. Bapak mau nanya. Apa sekarang Mbak Jelita sudah ada keinginan untuk menikah?”
Pertanyaan itu menggantung di udara. Jelita tidak langsung menjawab.
Gadis itu menunduk, meremas kedua tangannya sendiri di atas pangkuan.
Mengapa pembicaraan tiba-tiba berbelok ke arah pernikahan? batinnya.
“Mau, tapi…”
“Alhamdulillah!”
Belum selesai Jelita menjawab, seruan rasa syukur sudah lebih dulu bergaung dari orang-orang di sekitarnya.
Dengan air mata yang bercucuran, sang ibu beranjak dan memeluk tubuh Jelita yang mendadak kaku. Otaknya tidak bisa berpikir. Ia bahkan belum selesai menjawab, tetapi kenapa orang-orang di sekitarnya sudah membuat kesimpulan sendiri?
Ia memang ingin menikah.
Memangnya siapa yang tidak ingin?
Membuat keluarga kecil yang bahagia adalah impian banyak orang, bukan?
Namun untuk saat ini, Jelita sendiri belum tahu. Ia belum memiliki gambaran untuk sampai ke tahap pernikahan. Ia merasa masih belum selesai dengan dirinya sendiri.
Masih banyak hal yang ingin diperbaiki. Masih banyak hal yang ingin dipelajari. Ia masih ingin berkembang, mengenal banyak orang, merantau, bekerja, dan merasakan hidup di luar lingkaran kecil yang selama ini ia kenal.
Jelita masih ingin membahagiakan dirinya sendiri terlebih dahulu sebelum benar-benar mantap untuk berkomitmen dalam ikatan sakral bernama pernikahan.
“Akhirnya kamu berani bilang. Selama ini setiap kali Ibu tanya, jawaban kamu selalu nggak tahu. Akhirnya kamu bilang mau,” ucap sang ibu penuh haru.
Lagi-lagi Jelita hanya bisa terdiam.
Otaknya masih belum mampu memproses semua kejutan yang datang secara beruntun malam ini.
Ia ingin menolak.
Ia ingin mengatakan bahwa dirinya masih memiliki keinginan untuk merantau, bekerja, membangun relasi, dan menjalani kehidupan yang selama ini hanya berani ia bayangkan dalam kepala.
Namun mulutnya terlalu sulit untuk berucap.
Otaknya mendadak kosong. Seolah-olah ia tidak mampu mengendalikan tubuhnya sesuai dengan apa yang sebenarnya ada di dalam hati.
Terlebih ketika melihat sang ibu yang sudah semakin renta dan kini menangis haru di hadapannya, Jelita pada akhirnya memilih untuk diam.
Ia berpikir mungkin ia bisa meluruskan kesalahpahaman malam ini esok hari, ketika suasana sudah lebih kondusif.
Toh, ia belum benar-benar mengatakan iya.
Setidaknya, begitu yang ia yakini.
Semua orang yang ada di ruangan itu tersenyum lega mendengar jawaban yang dilontarkan Jelita.
Hanya Jelita yang masih terdiam dengan ekspresi kebingungan.
“Alhamdulillah, sekarang Mbak Jelita sudah sembuh. Ini ada air doa. Besok siang pas zuhur dibawa mandi, ya. Harus pas zuhur, nggak boleh sebelum atau sesudah,” kata si praktisi.
Jelita hanya mengangguk kecil.
“Tapi sebelum saya berpamitan, saya boleh minta foto Mbak Jelita?” lanjutnya.
“Untuk apa?” tanya Jelita.
“Buat ikhtiar. Kan kalau mau berkenalan, minimal harus tahu rupanya. Nanti jika memang ada yang tertarik, akan saya hubungi.”
Jelita terdiam.
Ia bahkan tidak tahu harus memberikan reaksi seperti apa.
“Iya, Jelita. Tidak ada salahnya berikhtiar. Siapa tahu kamu seperti Esa, bisa dapat pasangan berkat bantuan Pak Ris,” timpal sang ibu kemudian.
“Iya, kasih saja. Kan cuma foto, nggak bikin rugi apa-apa juga,” imbuh sang kakak pertama.
Jelita tidak langsung mengiyakan.
Lagi-lagi ia hanya diam dan menundukkan kepala, mendengarkan suara orang-orang di sekitarnya yang terus membujuknya agar mau memberikan foto dirinya kepada si praktisi.
Sebenarnya Jelita ingin menolak.
Ia sudah mulai memahami ke mana arah pembicaraan dan prosesi pembersihan ini akan berjalan.
Ia merasa enggan memberikan fotonya kepada orang asing, meskipun semua orang mengatakan bahwa hal itu dilakukan demi kebaikannya sendiri.
Bukankah seharusnya ia ditanya terlebih dahulu?
Bukankah seharusnya keputusan itu tetap berada di tangannya?
Namun sebelum Jelita sempat mengatakan apa pun, sang ibu sudah lebih dahulu mengambil keputusan.
“Sudah, Pak. Nanti Jelita bakalan ngasih fotonya ke Bapak lewat bibinya. Biar saya yang atur,” ucap sang ibu kemudian.
Lagi-lagi.
Biar saya yang atur.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi entah kenapa terasa begitu berat bagi Jelita.
Tidak lama kemudian, si praktisi berpamitan.
Jelita akhirnya bisa bernapas lega. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi sembari mengecek ponsel sekadar untuk melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Setidaknya, untuk beberapa menit, semuanya sudah selesai.
Namun ternyata ia terlalu cepat merasa lega.
“Ayo, sekarang foto. Terus dikirim ke Bibi biar bisa langsung dikirim ke Pak Ris,” ucap sang ibu yang baru saja selesai membereskan gelas ke belakang.
“Sekarang?” tanya Jelita ragu.
“Iya, nunggu apalagi?”
Hela napas itu terdengar berat.
Untuk sesaat, Jelita hanya memandangi ponsel di tangannya yang sudah mengaktifkan fitur kamera.
Ia menatap pantulan wajahnya sendiri di layar ponsel dengan ekspresi sedih yang samar.
Wajah yang selama ini begitu ia kenal.
Wajah yang bahkan untuk sekadar ditampilkan kepada orang lain pun malam ini tidak bisa ia putuskan sendiri.
Kenapa jadi begini?
Lagi dan lagi, hidupnya ditentukan oleh orang lain.
***
Malam hari, pukul sebelas malam.
Jelita baru saja menyelesaikan salat Isya. Namun gadis itu tidak kunjung beranjak dari atas sajadah.
Ia termenung, menatap sajadah berwarna biru yang terbentang di hadapannya.
Tanpa sadar, setetes air mata meleleh membasahi pipi. Disusul tetes demi tetes lainnya.
Jelita menggigit bibir, berusaha meredam suara tangis yang akhirnya pecah tanpa bisa ia tahan.
Hatinya tiba-tiba saja terasa berdenyut begitu nyeri.
Sakit.
Entah karena apa.
Mungkin karena malam ini terlalu banyak hal yang terjadi dalam waktu bersamaan. Atau mungkin karena selama ini ia terlalu sering menahan semuanya sendirian hingga akhirnya tidak tahu lagi harus menangis karena yang mana.
Ia merasa ditipu, tidak dihargai, dan lagi-lagi hak suaranya direbut.
Ia merasa sakit hati dengan apa yang dilakukan oleh orang tua, saudara, bibi, dan si praktisi.
Jelita tahu maksud dan tujuan mereka baik.
Mereka ingin dirinya lekas menemukan tambatan hati.
Namun, haruskah semuanya dilakukan dengan berbohong?
Bukankah semuanya bisa dibicarakan secara baik-baik terlebih dahulu dengannya sebelum melakukan tindakan apa pun?
Bukankah ia juga berhak tahu apa yang sedang direncanakan untuk hidupnya sendiri?
Jelita menundukkan kepala.
Ia juga merasa jika dirinya baru saja melakukan kesalahan.
Jelita mengakui dirinya bukan wanita salehah. Ia masih jauh dari kata sempurna.
Namun sepanjang yang ia tahu, tidak ada ruqyah berlandaskan keislaman yang membiarkan lawan jenis bersentuhan langsung antar kulit dengan yang bukan mahram tanpa penghalang apa pun, seperti yang dilakukan si praktisi sebelumnya.
Hati kecilnya mengatakan bahwa ini salah.
Apa yang baru saja dilakukannya tidak benar.
Namun pada saat itu, ia tidak tahu bagaimana caranya menolak.
Dengan tangan bergetar, Jelita meraih ponsel. Ia mengetikkan sesuatu ke dalam kolom pencarian mengenai salat taubat.
Jelita membaca beberapa informasi yang muncul di layar dengan mata yang masih dipenuhi air.
Ia sadar bahwa di rumah, dirinya tidak memiliki kendali penuh atas dirinya sendiri.
Namun setidaknya, ia masih bisa memilih kepada siapa ia menyerahkan seluruh kegelisahan itu.
Sang Pencipta.
Zat yang benar-benar memiliki kendali atas hidup seluruh makhluk di dunia.
Dengan terbata-bata sembari menahan tangis, Jelita mulai menunaikan salat taubat.
Ia membaca istigfar berkali-kali hingga perlahan hatinya mulai terasa lebih tenang.
Tidak langsung sembuh.
Tidak pula membuat semua masalah malam ini menghilang.
Namun setidaknya, untuk beberapa saat, Jelita merasa tidak sendirian.
Lalu dengan lirih, juga air mata yang masih terus mengalir, ia mulai berbisik.
Mengadu kepada Sang Rabb tentang sakit hati, perlakuan buruk, juga kebohongan yang ia terima.
Ia menceritakan semuanya.
Tentang ruqyah yang dilakukan tanpa sepengetahuannya.
Tentang foto yang diberikan kepada orang asing.
Tentang jawaban yang belum selesai ia ucapkan tetapi sudah dianggap sebagai persetujuan.
Tentang keinginannya yang selalu terasa kalah oleh keputusan orang lain.
Tidak lupa, Jelita menyelipkan permintaan ampun atas segala hal yang sudah dilakukannya.
Apa yang ia lakukan semata-mata hanya demi menjaga kedamaian suasana keluarga dan juga demi menyelamatkan dirinya sendiri dari cibiran keluarga.
Malam itu, setelah puas mengadu kepada Sang Maha Kuasa, Jelita akhirnya berbaring.
Tubuhnya terasa lelah, matanya sembap, sementara kepalanya masih dipenuhi berbagai pikiran yang belum menemukan jawaban.
Namun setidaknya, malam ini ia sudah mengatakan semuanya kepada seseorang yang tidak akan memotong ucapannya sebelum ia selesai berbicara.
Jelita memejamkan mata.
Malam semakin larut.
Dengan isi kepala yang penuh, akhirnya ia tertidur.
Berharap esok hari akan terasa lebih baik.