Dua minggu berlalu dengan damai. Bahkan Jelita sudah tidak terlalu memusingkan perihal ruqyah maupun rencana mencari jodoh yang digagas oleh keluarganya bersama si praktisi.
Jelita berpikir, jika pada akhirnya tidak ada yang mau dengan perempuan yang memiliki kekurangan seperti dirinya, ia pun tidak terlalu mempermasalahkannya.
Justru, ia merasa sedikit lega.
Sejak awal, di dalam hatinya memang ada keengganan untuk dijodohkan. Jadi jika tidak ada laki-laki yang datang, bukankah itu berarti semuanya selesai dengan sendirinya?
Namun, apa yang dipikirkan Jelita sekali lagi ternyata salah.
Hari itu suasana rumah terasa sama saja. Jelita tetap mengerjakan pekerjaan rumah, menulis novel web-nya dengan kepala yang cukup santai, juga berbincang-bincang bersama keluarganya.
Semuanya terasa normal.
Sampai malam hari.
Jelita yang sudah lelah bekerja seharian, ditambah harus menulis beberapa bab sekaligus demi menyelesaikan novel terbarunya, merasa mengantuk bukan main meskipun waktu baru menunjukkan pukul delapan malam.
Gadis itu memilih merebahkan diri di dalam kamar. Bermain ponsel sebentar sebelum akhirnya terlelap tanpa sadar.
Malam Jumat, pukul sepuluh malam.
Jelita yang sudah tertidur pulas tiba-tiba saja dibangunkan secara paksa oleh sang ibu.
Wanita baya itu mengatakan bahwa Jelita harus segera mengecek ponselnya. Dengan mata setengah terpejam dan rasa terkejut yang membuatnya panik, Jelita meraba sisi kanan tempat tidurnya, mencari-cari ponsel yang ternyata berada di sebelah kirinya.
“Buka chat dari Pak Ris,” kata sang ibu lagi.
Jelita yang masih belum sepenuhnya sadar hanya menurut. Namun, begitu matanya membaca pesan yang muncul, rasa kantuknya seketika menghilang.
Di dalam pesan tersebut terlampir sebuah foto seorang pria dewasa dengan brewok tipis yang tengah berpose di depan kamera.
Pesan di bawahnya berbunyi,
“Mbak Jelita, besok saya bakalan ke rumah. Dan kalau sama ini gimana? Ini ada yang mau. Ini keponakan saya.”
Jelita membaca tulisan tersebut dalam hati. Ia kemudian menatap ibunya sebentar sebelum kembali melihat foto itu tanpa minat.
Tidak ada nama, umur, ataupun keterangan apa pun.
Hanya sebuah foto dan tawaran apakah Jelita mau atau tidak.
Aneh sekali.
“Sudah terima saja. Besok kalau dia datang kamu harus bersikap sopan. Jangan bikin malu ibu.”
Jelita mendengkus. Menatap foto tersebut sekali lagi sebelum menjawab,
“Ya tergantung cocok atau nggak, lah. Masa nggak cocok dipaksakan?”
“Mau nyari yang cocok yang kayak gimana lagi? Sudah terima saja,” sahut sang ibu sembari berlalu keluar.
Jelita kembali mendengkus. Ia meletakkan ponselnya dengan sedikit kasar di atas ranjang.
Ia dibangunkan paksa saat sudah tertidur pulas hanya demi membahas sesuatu yang bahkan sebenarnya tidak ia setujui?
Gila!
Jelita mencoba memejamkan mata kembali, tetapi tidak kunjung terlelap. Perasaan kesal yang mendadak merambat di dalam d**a membuat matanya terus terjaga.
Kepalanya memutar berbagai macam hal.
Tentang dirinya yang tiba-tiba diruqyah.
Tentang perjodohan.
Dan tentang suaranya yang lagi-lagi tidak terdengar.
Tanpa sadar, air mata mulai turun satu per satu, membasahi pipinya. Jelita mendekap boneka pinguin ke d**a, menenggelamkan wajah di sana untuk meredam suara tangisnya sendiri.
Sampai akhirnya ia kembali tertidur tanpa sadar.
***
Siang hari berlalu dengan lesu.
Jelita masih termenung di depan layar monitor sejak satu jam lalu. Hanya ada satu kata yang tertulis di layar putih tersebut. Satu kata yang mewakili perasaannya saat ini.
Kenapa?
Kata itu terus berputar di dalam kepalanya.
Jelita kebingungan. Ia merasa kasihan pada dirinya sendiri yang bahkan tidak bisa membela diri untuk saat ini.
Namun, di sisi lain, ia memang tidak ingin terjadi perdebatan di dalam rumah.
Tetapi...
Apakah harga yang harus dibayar untuk kedamaian rumah adalah nasibnya sendiri?
Dengan ragu, Jelita mengambil ponselnya. Ia menatap sekali lagi ruang obrolannya dengan Pak Ris sebelum mulai mengetik sesuatu.
“Namanya siapa? Umurnya berapa?”
Tidak ada basa-basi. Tidak ada jawaban mau atau tidak.
Jelita hanya ingin tahu.
Diam-diam ia bahkan berharap jarak usia di antara mereka cukup jauh sehingga bisa ia jadikan alasan untuk menolak.
Kling.
Bunyi notifikasi balasan terdengar.
“Ari. 31 tahun.”
Hanya itu.
Tidak ada informasi mengenai status, kepribadian, pekerjaan, ataupun hal-hal dasar lainnya.
Jelita meletakkan ponselnya sembarangan. Ia kembali menghela napas.
Di dalam hatinya terus berbisik bahwa ada yang salah dengan semua ini.
Ada sesuatu yang tidak benar.
Dan ia harus mencari tahu apa itu.
***
Malam datang.
Jelita yang tengah duduk di meja makan dipanggil untuk keluar. Di ruang tamu sudah duduk si praktisi dengan senyum bangga yang hanya dibalas senyum seadanya oleh Jelita.
“Gini, Mbak Jelita. Mbak Jelita apa kabar?” tanya si praktisi, memulai pembicaraan.
“Baik,” sahut Jelita pendek.
“Gini, sebenarnya tadi Masnya mau ikut sekalian, tapi saya pikir jangan dulu. Lagian ada informasi yang harus disampaikan.”
Ucapan si praktisi menggantung.
Suasana menjadi hening.
“Mas Ari itu sebenarnya duda. Dia sudah punya satu anak. Dulunya dia dikhianati sama istrinya. Istrinya pergi ke luar negeri untuk bekerja demi kesembuhan anaknya yang sakit, tapi malah di rumah nyeleweng sama laki-laki lain. Jadi sama Mas Ari diberikan saja. Dan selama sepuluh tahun ini dia melajang, nggak pernah berhubungan sama perempuan mana pun.”
Si praktisi berhenti sejenak sebelum kembali melanjutkan.
“Sampai saya sendiri nanya, ‘Ar, apa kamu nggak mau berkeluarga lagi? Sudah sepuluh tahun kamu sendirian.’ Dan jawabannya katanya mau, tapi dia masih takut kalau bakal kejadian seperti dulu.”
Jelita diam.
Orang tuanya menatap si praktisi dengan tatapan prihatin. Mereka tampak terenyuh mendengar cerita yang baru saja dipaparkan.
Namun entah mengapa, perasaan janggal yang dirasakan Jelita justru semakin kuat.
Bukannya merasa simpati dengan cerita tersebut, ia malah semakin merasa ada yang tidak beres.
“Sekarang istrinya di mana? Anaknya ikut siapa? Kasihan sekali. Sedang berjuang untuk keluarga jauh di perantauan, malah istrinya berulah dengan berselingkuh. Benar-benar...” ujar sang ibu sambil menggeleng prihatin.
“Yang saya tahu, sekarang istrinya sudah menikah lagi dengan laki-laki selingkuhannya itu. Dan anaknya ikut bersama ibunya. Iya, memang kasihan sekali. Di saat dia berjuang di negara orang, malah istrinya berkhianat.”
Si praktisi menghela napas.
“Dia itu anaknya rajin, salatnya bagus, nggak neko-neko padahal. Tapi memang istrinya saja yang tidak tahu bersyukur.”
Pembicaraan terus berlanjut.
Kisah sedih mengenai pengkhianatan, juga segala kebaikan Mas Ari, diumbar oleh si praktisi dengan nada penuh keyakinan hingga seluruh anggota keluarga yang ada di sana merasa simpati.
Terkecuali Jelita.
Entah mengapa, ia sama sekali tidak tersentuh.
Justru semakin banyak cerita yang didengarnya, semakin kuat perasaan janggal itu muncul.
Berbagai pertanyaan memenuhi kepalanya.
Jika benar Mas Ari sudah sendiri selama sepuluh tahun, dengan segala kepribadian baiknya itu, ditambah ia rajin bekerja...
Apakah benar selama itu ia sama sekali tidak pernah berhubungan dengan perempuan mana pun?
Penjelasan yang terlalu sempurna untuk masuk ke dalam nalar Jelita.
Meski ia tahu, hal itu juga mungkin saja terjadi.
“Jadi... bagaimana, Mbak Jelita? Apakah Mbak mau sama Mas Ari?” tanya si praktisi.
Ia kemudian melanjutkan dengan santainya,
“Ya, jujur saja memang Mas Ari itu salahnya cuma di statusnya saja yang duda. Selain itu, ya nggak ada kayaknya.”
Jelita diam.
Jemarinya terus tertaut, pertanda dirinya mulai resah.
“Sebenarnya, saya lebih prefer single,” sahutnya lirih.
Untuk kali ini, ia memilih jujur.
Ia mengatakan apa yang memang benar-benar ia inginkan.
Namun, ucapan si praktisi berikutnya membuat emosi di dalam d**a Jelita seketika bergejolak.
“Ya, kalau nyariin yang single buat perempuan berusia dua puluh delapan kayak Mbak, ya susah. Nggak ada, Mbak. Ini saja sudah saya tawarkan ke enam orang, nggak ada yang mau.”
Jelita terdiam.
“Cuma ini saja yang katanya nggak mandang fisik. Dia mau menerima apa adanya dan mau diajak serius buat berumah tangga.”
Diam-diam tangan Jelita mengepal.
Ia menatap si praktisi dengan tatapan kesal. Ada kemarahan yang perlahan bergejolak di dalam dirinya.
Ia merasa terhina.
Direndahkan serendah-rendahnya.
Memangnya jika ia tidak bisa mendapatkan laki-laki single di usia dua puluh delapan tahun, apakah itu berarti ia tidak memiliki jodoh?
Apakah itu berarti ia harus menerima siapa pun yang disodorkan kepadanya?
Hanya karena ada seseorang yang katanya mau menerima dirinya apa adanya?
Gila.
Jelita menarik napas pelan.
Untuk sesaat, ia menahan semua kata yang ingin keluar dari mulutnya.
Namun kemudian, tanpa berpikir panjang, satu kalimat terlontar begitu saja.
“Kalau begitu saya pengen tahu namanya juga nama bin-nya. Mau saya cek ke website putusan Mahkamah Agung.”