Hi!
MISSION IN SCHOOL 2
"Ini menjadi semakin mudah jika kalian mengikuti semua yang aku arahkan."
Now playing | Lucid Dream - Monogram
•••••••
Netra itu menatap sayu. Deru napas yang bersahutan terdengar memenuhi ruangan. Kelopak mata yang mulai menutup lalu terbuka lagi dengan keringat dingin yang mengalir deras membasahi kerutan di dahinya. Gadis berambut panjang itu membuka mulutnya, hendak mengucapkan sesuatu namun tertahan. Di hadapannya seorang pria terlihat sangat kacau.
Rembulan yang bersinar terang terlihat dari balik gorden tipis, seakan menjadi satu-satunya penerangan bagi mereka, menyinari sebuah name-tag yang teronggok membisu di atas lantai putih.
Hanindhya Anya.
Bau anyir darah menyeruak memasuki indra penciuman. Warna merah pekat mengotori seluruh kain putih bahkan menetes sedikit demi sedikit di atas lantai.
Gadis itu menahan sakit yang amat terasa ketika ujung pisau masih singgah di perutnya. Tangannya mengepal seolah ia sedang menghadapi ujung maut. Ia menatap pria di hadapannya dengan sendu. Satu kata yang sedari tadi sulit ia ucapkan meluncur dari bibirnya meski terdengar lirih.
"M―maaf."
Angin malam hadir melewati celah jendela, membuat gorden ruangan itu berkibar hingga pantulan sinar sang rembulan berhasil masuk. Tampak sebuah name-tag di seragam putih yang ternoda oleh darah.
Arka Aldiano.
Pria itu menggeleng-gelengkan kepala. Ia mencabut pisau yang tertancap pada perut sang gadis. Wajahnya tampak sangat kacau dengan napas tersengal. Matanya memandang nanar gadis dengan kondisi sangat menyedihkan di depannya itu. Tangannya sudah basah oleh darah, namun ia tak peduli.
"Nya," ucapnya tertahan. Air mata lolos dari sudut matanya ketika melihat mata sang gadis tertutup sempurna, kehilangan kesadaran.
Brak!
Pemuda itu menoleh terkejut, mendapati dua orang berseragam putih abu-abu yang sama sepertinya berdiri di ambang pintu UKS dengan napas memburu.
***
"Jadi, Arka pembunuhnya?" tanya Allena di depan UKS. Polisi sedang menyelidiki bagian dalam ruangan itu, mereka tak diperbolehkan untuk masuk kecuali Daniel dan Nathan. Hal tersebut membuat semuanya bertanya-tanya. Sebenarnya, siapa Daniel dan Nathan? Mengapa mereka bisa begitu dekat dengan pihak kepolisian?
Krystal berdehem, ia sudah tahu alasan Daniel dan Nathan dipanggil. "Dari apa yang gue sama Daniel lihat tadi, Arka memegang pisau. Sudah pasti, ia meninggalkan sidik jadinya di pisau itu. Gue gak lihat keadaan sekitar karena masih kaget sama keadaan Anya, jadi gue cuman lihat ada Arka dan Anya di UKS."
"Gimana keadaan Anya?" Jessica menoleh ketika menanyakannya.
"Dia langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat. Polisi datang gak lama setelah gue sama Daniel menemukan mereka. Beberapa langsung nahan Arka, yang lainnya bawa Anya ke rumah sakit, dan sisanya tetap di sini." Krystal menjelaskan.
Semuanya membulatkan mulut. Mereka terlambat datang ke sekolah sehingga tidak melihat kejadian sebenarnya.
"Apa lo yakin Arka adalah pembunuhnya?" tanya Arlan pada Krystal.
Krystal mengangguk. "Hanya ada Arka di sini. Lagian, dia kelihatan takut ketika gue sama Daniel datang."
"Eh, apa motif Arka bunuh Anya?" Zoya mengerutkan keningnya bingung.
Jessica berdehem. "Gue baru ingat satu hal ini. Korban pertama adalah Gilang. Kalian tahu, kan? Gilang pacaran sama Anya sejak akhir kelas sebelas. Tapi sebelum itu, Anya udah pacaran sama Arka. Jadi, Arka adalah mantan Anya. Setahu gue, Anya itu gadis baik-baik. Dia menolak semua orang yang menembaknya dengan halus, tapi dia nerima Arka dan Gilang. Anya juga cantik, dia bahkan jadi murid teladan di sekolah kita karena kepintarannya. Gitu, kan, Lan?" Jessica menoleh pada Arlan, teman sekelas Anya tiga bulan yang lalu.
Arlan hanya mengangguk ragu. "Gue gak terlalu tahu tentang dia, sih. Tapi menurut rumor yang beredar di kelas gue, emang begitu faktanya."
"Jadi, kalau Arka adalah pembunuh Anya, maka dia juga yang membunuh Gilang? Motifnya gak lain karena cemburu, gitu?" tanya Allena menyimpulkan.
Jessica mengangguk. "Bisa jadi." Ia menggeleng-gelengkan kepalanya lalu berdecak. "Cinta segitiga memang menyeramkan."
Arlan tersedak, teringat masa lalunya bersama Krystal dan Daniel. Beruntung ia bisa move on setelah tiga bulan lalu menyukai Krystal. Jessica memang benar, cinta segitiga terkadang menyeramkan.
"Tapi, gue bingung sama satu hal." Zoya angkat suara. Ia memandang wajah teman-temannya. "Kalau pembunuhnya adalah Arka dan motifnya melakukan semua ini karena cemburu pada Gilang dan Anya, lalu kenapa Krystal dan Daniel terlibat?"
Semuanya terdiam, memikirkan ucapan pemaparan Zoya yang membuat masalah ini tambah rumit. Zoya benar, Arka tak memiliki motif apapun untuk mengancam Krystal dan Daniel.
Jadi, siapa pembunuh yang sebenarnya?
Mengapa Arka ikut terlibat dan membuat mereka semua kebingungan?
***
"Lo gak ikut ke kantor polisi sama Nathan?" tanya Krystal pertama kali setelah mereka berdua larut dalam keheningan.
"Nanti gue nyusul."
Krystal mengangguk-anggukan kepala. "Menurut lo, apa Arka yang membunuh Anya?"
"Gue gak yakin sama hal itu. Tapi polisi sudah menetapkan Arka sebagai tersangka kasus percobaan pembunuhan."
"Percobaan pembunuhan?" Krystal mengulanginya dengan ragu. "Itu artinya ... Anya masih hidup?"
Daniel mengangguk sekali. "Anya masih bernapas. Tapi dia dalam keadaan kritis. Kalau Anya tidak selamat, maka Arka bisa menjadi tersangka kasus pembunuhan."
"Gue takut." Krystal menatap Daniel. "Gue takut kalau kita salah melangkah. Gimana kalau ternyata Arka bukanlah pembunuh yang sebenarnya?"
Daniel balas menatap Krystal. Ia tersenyum tipis. "Lo tenang aja. Hukum pasti bertindak adil. Sebelum semuanya menjadi jelas, Arka hanya akan ditetapkan sebagai tersangka. Kita masih memiliki satu alasan kuat yang tidak bisa membuktikan bahwa Arka adalah pembunuhnya."
"Masalah teror yang gue sama lo terima?" tanya Krystal memastikan. Daniel mengangguk.
Mobil yang mereka tumpangi berhenti di parkiran rumah sakit. Krystal turun dan mengambil tas berisi barang-barangnya. Daniel ikut membantu namun ia tak berniat masuk ke dalam. "Lo gak ikut?" tanya Krystal begitu langkah Daniel terhenti.
Bukannya menjawab, Daniel justru melihat seorang pemuda berdiri bersandar pada mobil hitam dengan melambaikan tangan padanya, tersenyum lebar. Rahang Daniel mengeras, membuat Krystal mengernyitkan dahinya bingung. Gadis itu mengikuti arah pandang Daniel.
Daniel menoleh pada Krystal. Ia tersenyum tipis, setidaknya supaya Krystal tidak bertanya lebih lanjut mengapa ekspresinya bisa berubah seperti itu. Daniel mengusap pelan pucuk kepala Krystal, "Lo langsung masuk ke dalam. Gue masih ada urusan, setelah ini gue langsung ke kantor polisi. Nathan udah nunggu di sana."
Krystal mengangguk pelan. Ia melihat Daniel pergi menghampiri pemuda tadi sebelum akhirnya Krystal memutuskan untuk masuk. Gadis itu diam, meski ada pertanyaan yang membuatnya penasaran.
Siapa dia?
Kenapa Daniel terlihat marah dan menghindarinya?
Sementara itu, Daniel melangkah dengan tatapan datar. Bibirnya tak melengkung sama sekali. Dia tak terlihat menyukai kehadiran pria yang bersandar di mobil hitam dengan tersenyum lebar itu.
"Ngapain lo ke sini?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Bertemu adik gue sendiri. Salah?"
Daniel berdecih. "Adik lo gak di sini."
Terdengar kekehan yang membuat Daniel muak. "Ah, ya. Gue punya tiga adik. Maksud gue, gue pengin ketemu sama adik tiri gue."
"Salah. Lo hanya punya dua adik, kalau lo lupa."
"Niel, gue masih bersikap baik untuk ngomong sama lo. Jadi, jaga sikap lo sama gue." Pria itu terlihat menahan marahnya.
"Siapa lo? Gue gak ngerasa harus bersikap baik sama lo." Daniel mengepalkan tangannya. Ia melangkah maju.
"Papa sakit," ujarnya terus terang. Ia menatap Daniel. "Lo gak kasihan sama Papa?"
"Papa masih punya satu anak yang sangat berbakti, kan? Jadi, untuk apa gue kasihan?"
Pria itu--Esa--menatap Daniel tajam. Mereka saling melemparkan tatapan penuh kebencian. Esa tersenyum miring, ia sudah susah payah mencoba untuk berbicara dengan sopan pada adik tirinya ini, tapi Daniel justru membuatnya muak.
"Terserah lo aja, Niel. Gue cuman menyampaikan pesan dari Papa, dia ingin lo balik lagi ke rumah. Meskipun gue berharap lo gak akan kembali. Lo tenang aja, gue bisa jaga Papa layaknya menjaga ayah kandung sendiri." Esa menepuk bahu Daniel dua kali, masih mempertahankan senyum miringnya.
Daniel menatap pria itu tajam. "Pergilah, ambil semua yang lo mau dari gue. Kebahagiaan, kasih sayang, rumah, sahabat, bahkan sampai ayah gue sendiri lo ambil."
Esa terkekeh pelan, balas menatap Daniel dengan ekspresi yang dibuat-buat. "Gak, kok. Gue sama sekali gak ngambil semua itu dari adik gue sendiri. Lo yang memilih untuk pergi dan menyerahkan mereka sama gue, jangan kebalik."
Daniel menggeram. "Pergi lo," ujarnya menekan.
"Oke, gue akan pergi. Tapi, emang lo gak ada pertanyaan yang penting buat gue? Gue dari tadi nunggu lo nanya tentang Krystal, loh." Esa meletakkan tangannya di depan d**a.
Daniel mencengkeram kedua bahu Esa. "Jangan pernah ganggu cewek itu lagi!"
Esa tertawa. "Emang lo siapanya dia? Oh, gue tahu. Krystal itu anak sahabat dari ayah angkat lo, kan?"
Daniel mendesis marah. "Pergi lo!" Ia mendorong bahu Esa dengan kasar lalu melangkah pergi meninggalkan pria itu. Ia tak mau kehilangan kendali dan meluapkan amarahnya. Daniel bukan tipe orang yang suka menyelesaikan masalah dengan adu fisik.
Esa menatapnya tajam. Ia mengeluarkan ponselnya ketika ada seseorang yang menghubunginya. "Halo?"
"..."
Tangannya terkepal. "Apa maksud kamu?"
"..."
"Jangan biarkan Papa menandatangani surat itu. Saya akan tiba di rumah sebentar lagi. Ingat, jangan sampai Papa menandatanganinya! Kau mengerti?!" Ia berteriak marah.
"..."
Tut!
Esa menendang ban mobilnya dengan kesal. Ia melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya. Esa segera memasuki mobil, memacu kendaraan secepat mungkin untuk bisa sampai di rumah. Ia harus mencegah sesuatu yang bisa mengubah seluruh kehidupannya.
"Gue gak akan biarin lo dapat semua warisan itu, Daniel."
***
"Paman, kapan sidangnya dimulai?" tanya Nathan pada Iptu Pratama.
Mereka masih berada di kantor polisi. Nathan langsung bergegas ke sekolah ketika Krystal menghubungi dirinya dan mengatakan bahwa pembunuhan yang selanjutnya akan terjadi malam tadi. Dan kini dirinya masih menunggu kehadiran Daniel.
"Persiapannya dua hari lagi. Paman sungguh tidak mengerti mengapa Arka melakukan semua ini." Polisi bernama Pratama Dwiangga itu menyesap kopinya pelan. Sekarang sudah pukul 21.30 WIB. Ia dihubungi oleh anak buahnya, yang tak lain adalah Nathan dan langsung menuju Galaxy High School setelah Nathan mengatakan akan terjadi pembunuhan di sana. "Bagaimana kamu bisa tahu akan ada pembunuhan di sekolahmu?"
"Krystal menghubungiku. Kemungkinan besar dia mendapatkan teror yang sama seperti saat kasus pembunuhan Gilang," jelas Nathan. Dia mengeluarkan Blacky dan memeriksa sesuatu di sana.
Pratama menggeleng takjub. "Laptop itu sudah seperti anakmu sendiri."
Nathan terkekeh. "Blacky sudah seperti kekasihku, Paman. Aku masih muda, belum pantas dianggap memiliki anak." Dia mengetikkan sesuatu di sana. Ia lalu menyengir. "Jangan bilang pada Allena kalau aku mengatakan kalimat tadi, ya. Dia bisa ngamuk semalaman karena cemburu sama Blacky."
Pratama tertawa lepas. "Anak jaman sekarang ada-ada saja." Ia mengintip apa yang sedang dikerjakan Nathan. Matanya membulat lebar dan ia menatap Nathan kesal. "Kamu mau meretas CCTV lagi?!"
Nathan meringis. "Sekali saja, ya? Lagian, kita harus tahu apakah memang benar Arka pembunuhnya atau bukan."
Mendengar alasan Nathan, Pratama memutar bola matanya malas. "Lalu, apa yang kamu dapat?" Ia sebenarnya juga penasaran, mengapa Nathan bisa meretas hal seperti itu dengan mudahnya.
"Aku sudah sering menghubungkan laptopku dengan CCTV di sekolah---" Nathan menghentikan ucapan, ia keceplosan. Melihat Pratama yang memandangnya datar, pria itu mengangkat jari peace-nya. "Ini adalah rekaman CCTV yang ada di belakang perpustakaan. Semua akan melewati tempat itu jika mau ke UKS."
Nathan mengulangi rekaman yang ada dalam laptopnya. Terlihat jelas ada seseorang memakai jubah hitam berhenti di tempat itu. "Siapa dia?" gumam Pratama.
"Mana aku tahu," jawab Nathan. "Tapi dia sepertinya seorang perempuan."
Pratama menoleh. "Bagaimana kamu bisa yakin kalau dia perempuan?"
"Dilihat dari caranya berjalan. Dia juga lebih pendek dari pria pada umumnya."
"Bagaimana kalau memang dia pria bertubuh pendek?"
Nathan terkekeh. "Kalau pun itu benar, maka Arka tidak sependek itu, Paman. Arka bahkan lebih tinggi dari Paman."
Nathan seolah tengah membela Arka. Tapi, logikanya memang benar. Pratama kembali menyaksikan rekaman yang ditampilkan oleh Blacky. Di sana, seseorang berjubah hitam itu menghentikan langkah, lalu menoleh ke arah kamera CCTV. "Apa dia sadar ada CCTV di sana?"
"Kalau dia sadar, artinya dia adalah murid GHS. Kalau bukan, dia adalah alumni GHS." Nathan menyimpulkan.
"Ada apa ini?" Rekaman tiba-tiba mati. Nathan memeriksanya, namun ia tak menemukan masalah apa pun. Itu berarti Blacky tidak sedang error, tapi memang CCTV di belakang perpustakaan itu yang mati.
"Sepertinya dia tidak sendirian," gumam Nathan. Ia sangat yakin, pelaku pembunuhannya lebih dari satu.
Pertama, adalah orang berjubah hitam yang tertangkap kamera CCTV.
Kedua, adalah orang yang telah merusak kamera CCTV tersebut.
Nathan mendesis. Sebenarnya, siapa mereka?
***
To be continued ....