Hi!
MISSION IN SCHOOL 2
"Teruslah berjalan. Jangan berhenti di tengah-tengah, aku akan menunggu kalian pada akhir cerita."
Now playing | Fire - BTS
•••••••
"Kemungkinan besar pelaku pembunuhan mempunyai partner, Niel." Nathan mengotak-atik laptopnya.
Daniel mengangguk. "Gue udah duga hal itu."
"Tapi, apa mungkin pembunuhnya seorang perempuan?" tanya Iptu Pratama. "Paman sedikit ragu jika pelakunya adalah perempuan. Dia bisa membunuh Gilang yang memiliki badan kekar."
"Itu tidak mustahil, Paman. Kalau misalnya perempuan tersebut adalah seorang ahli bela diri atau bahkan psikopat, dia bisa melakukannya," sahut Nathan.
"Terus bagaimana dengan rekaman tadi? Apa kamu menemukan sesuatu yang baru?" tanya Pratama, namun Nathan menggelengkan kepalanya.
Daniel telah tiba sekitar lima belas menit yang lalu di kantor polisi. Nathan langsung memberitahunya tentang rekaman CCTV yang ia dapatkan.
"Bagaimana dengan penyelidikannya? Apa Arka mengatakan sesuatu saat interogasi?" Daniel bertanya.
Pratama menggeleng. "Dia menyangkal dan terus mengatakan bahwa dirinya tidak melakukan hal itu pada korban. Tapi tersangka tidak mengatakan apa pun yang bisa membuktikannya."
Nathan berdecak. "Dia gak bisa membela dirinya sendiri? Kalau Arka gak ngomong waktu diselidiki, dia justru bisa dicurigai lebih banyak lagi."
Daniel menghela napas. "Dimana Arka?" tanyanya.
"Dia masih ditahan sambil menunggu waktu sidang." Pratama menoleh curiga. "Apa yang mau kamu lakukan padanya?" tanyanya begitu melihat Daniel beranjak berdiri.
"Ada sesuatu yang harus kutanyakan padanya."
Daniel pergi berlalu. Iptu Pratama dan Nathan saling berpandangan.
Apa yang akan dilakukan Daniel?
***
Sel penjara itu terbuka. Seorang pemuda mengenakan baju tahanan keluar dengan kepala menunduk. Ia duduk di hadapan Daniel. Daniel menganggukkan kepala pada petugas yang mengantarkannya, menyuruh petugas tersebut untuk meninggalkan mereka berdua.
"Lo Arka, kan? Siswa kelas XII IPA 3 Galaxy High School, mantan Hanindhya Anya dan sekarang menjadi tersangka kasus percobaan pembunuhan." Daniel tersenyum miring melihat Arka mulai menatapnya. "Gue tahu ini gak adil buat lo. Tapi, menyangkal tuduhan juga gak akan membantu banyak. Kalau lo mau keringanan, lebih baik lo mengakui perbuatan---"
"Bagaimana kondisi Anya?"
Daniel menghentikan ucapannya. "Anya? Maksud lo korbannya? Tenanglah, dia masih hidup. Karena itu, lo hanya dituntut dengan percobaan pembunuhan."
Arka menatap Daniel serius. "Gue gak melakukan hal itu," ujarnya lirih namun menekan. "Gue gak bisa mengaku padahal gue gak melakukannya."
Daniel mengangguk. "Ya, lo emang gak bisa melakukannya. Tapi, lo juga gak bicara banyak saat penyelidikan polisi. Kenapa lo pergi ke sekolah malam-malam begitu? Kenapa lo ada di lokasi dengan baju penuh darah dan pisau yang memiliki sidik jari lo sendiri?" Arka terdiam membisu. Daniel menatapnya datar. "Katakan apa pun yang lo tahu, katakan apa pun yang lo lihat. Gue janji bakal bebasin lo dari sini kalau lo mau diajak bekerjasama."
Arka balas menatapnya ragu. "Kenapa lo percaya sama gue?"
"Karena lo gak kenal sama gue. Iya, kan?"
Kening Arka terlipat bingung. Memangnya, apa hubungan pria di hadapannya itu dengan kejadian yang menimpa Anya?
"Maksud lo?"
"Gue akan jawab kalau lo juga percaya sama gue. Beritahu apa pun yang lo lihat di lokasi dan kenapa lo bisa ada di sana."
Dari raut wajah Arka, dia masih merasa ragu untuk mengatakannya. Dia menghela napas. "Anya ... pacar gue."
"Pacar?" Daniel tidak percaya dengan ucapannya. "Bukan mantan?"
Arka menggeleng. "Gue sama dia belum putus, tapi dia jadian dengan cowok lain."
Daniel mengangguk-angguk. "Jadi, lo pacaran dengan korban?"
Arka mengiyakan. "Gue pacaran sama Anya."
Daniel menundukkan kepala, membuka ponsel dan membaca sebuah informasi yang dikirimkan kepadanya. "Menurut catatan investigasi polisi, korban ditikam di perutnya. Sebelum itu, ditemukan sayatan menyilang di bagian perut juga." Daniel mengalihkan tatapannya pada Arka lalu mengatakan, "dan dia tidak sadarkan diri."
Beberapa detik Arka terdiam. Dia menghela napas. "Waktu itu, gue sama Anya udah ada rencana untuk ketemuan di sekolah. Tapi---"
"Setelah lo ada di sana, lo gak ketemu sama korban. Lo terus cari dia sampai UKS dan melihat korban sudah ditusuk?" potong Daniel tanpa mengalihkan tatapannya pada Arka.
Arka mengangguk pelan. "Ya."
Daniel melipat kedua tangannya di depan d**a. "Lo bakal dipenjara."
Mendengarnya, Arka menatap Daniel tak mengerti. "Apa?"
"Lo mengaku pacaran sama korban, tapi hal itu sama sekali gak mampu membuktikan kalau lo gak bersalah. Justru lo semakin dicurigai karena kebanyakan kasus percobaan pembunuhan terhadap wanita disebabkan oleh masalah percintaan," ujar Daniel menjelaskan dengan tenang.
Arka menatapnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan. "Lo denger gue tadi bilang apa, kan?" Ia memajukan wajahnya lalu berbisik, "gue gak melakukannya."
Daniel langsung menyela, "Gak penting lo melakukannya atau tidak. Yang jadi masalah di sini, lo harus mengatakan sesuatu yang bisa dimengerti oleh hukum."
"Tapi, bukannya lo tadi percaya sama gue kalau gue gak melakukan hal itu?"
"Ya, gue percaya sama lo. Meskipun gue percaya sama lo, apa lo bakal dibebaskan?" Melihat Arka tak menjawab, Daniel tersenyum miring. "Kalau lo gak mau menghabiskan waktu dipenjara, maka lo harus dengerin apa yang gue katakan."
"Apa?"
"Gue harap lo gak akan mengatakan apa pun yang bisa memberatkan diri lo sendiri waktu sidang nanti. Sementara gue akan mencari tahu siapa pembunuh yang sebenarnya."
Arka terdiam lama. Sedikit ragu pada ucapan Daniel. Karena pada faktanya, Daniel bisa menemukan sesuatu yang lain jika pria itu mencari tahu kebenaran tentang kejadian yang menimpa Anya. Sesuatu yang ia harapkan tidak akan terbongkar begitu saja, hanya demi melindungi nama baik Anya.
***
Keesokan harinya.
"Bun, Krystal berangkat dulu." Gadis bersurai panjang itu mencium pipi Nadya sekilas lalu melambaikan tangan.
"Daniel juga pamit, Bun." Di sampingnya, Daniel menyalimi tangan Nadya. Mendengar sesuatu yang ganjil dari ucapan Daniel, Krystal mengerutkan keningnya.
"Hati-hati di jalan. Daniel, tolong jaga Krystal dan awasi dia di sekolah, ya."
"Siap, Bun."
Mereka berbalik, Daniel berjalan di belakang, menggiring Krystal untuk segera masuk ke dalam mobilnya. Krystal menoleh sekali lagi pada Nadya, melambaikan tangan sampai akhirnya mobil mereka melaju meninggalkan rumah sakit.
Krystal menoleh cepat menatap Daniel. Matanya memicing. "Sejak kapan lo panggil nyokap gue dengan sebutan 'Bunda'?"
Daniel mengangkat bahunya. "Bunda yang nyuruh gue buat manggil kayak gitu. Kenapa emang?"
Krystal meringis. "Gak apa-apa, sih. Ya, cuman gitu, deh. Geli aja gue dengernya." Dia terkekeh pelan. "Kek kakak-adik."
Sontak Daniel meliriknya dengan alis terangkat. Ia terkekeh pelan sambil menggelengkan kepalanya, merasa aneh dengan ucapan Krystal.
Kakak-adik?
Yang benar saja.
"Ngomong-ngomong, cowok kemarin yang nemuin lo itu siapa?" tanya Krystal mengubah topik pembicaraan. Melihat Daniel terdiam membuat Krystal merasa ia tak seharusnya mengajukan pertanyaan itu. Dia berdehem pelan. "Gue cuman ngerasa dia mirip sama, ehm, Raja," lirihnya.
Krystal membuang tatapannya, memilih untuk melihat kendaraan berlalu lalang di jalan raya.
Daniel menatapnya sekilas sebelum akhirnya ikut membuang muka. Tanpa sadar, ia meremas setir mobilnya kuat. "Dia kakak kandung Raja."
Mata Krystal membulat, ia menoleh cepat ke arah Daniel. "Kakak kandung?" Daniel menganggukkan kepala, membuat Krystal membulatkan mulutnya tak percaya. "Dasar fakboi. Gue gak tahu apa pun tentang dia, padahal gue mantannya. Dulu gue gak tahu Raja punya kembaran, kirain dia anak tunggal. Lah, ternyata dia juga punya kakak cowok."
Mendengar gerutuan Krystal membuat Daniel lebih tenang. Ia tak lagi meremas kuat setirnya. Justru Daniel mengatakan, "Raja emang gitu, sok misterius."
Krystal mengangguk menyetujui. "Eh, lo kenal Raja dari lama, kan? Dia dulu orangnya gimana, sih?" Dia tak lagi canggung menanyakan perihal Raja karena Krystal tahu kedua pria yang sama-sama menyebalkan itu telah berbaikan.
Daniel memikirkan jawaban yang tepat. Ia melirik Krystal yang menatapnya penasaran. "Dia dulu gendut, jelek banget pokoknya. Otaknya gak pernah dipake. Tubuhnya pendek, suka warna pink." Daniel terdiam sejenak sebelum akhirnya berbisik, "Raja juga suka ngupil sembarangan."
Krystal memerjabkan mata, ia tertawa kaku lalu memandang Daniel datar. "Pinter banget bohongnya."
Daniel mengangkat bahu. "Terserah kalau lo gak percaya." Ia tersenyum tipis.
Krystal memutar bola mata. "Terus kenapa kakaknya Raja nemuin lo? Apalagi gue lihat lo sama dia kayak, ehm, gak punya hubungan yang baik." Dia melirihkan suaranya di akhir kalimat.
"Bukan hal yang penting." Daniel terdiam sesaat. Ia menghembuskan napas pelan. "Anggap aja dia temen lama gue. Lo gak perlu tahu lebih dari itu."
"Oh, oke." Suasana menjadi canggung. Krystal tak tahu kenapa Daniel seolah menghindari topik ini. Bukannya mau ikut campur dengan kehidupan Daniel, Krystal hanya merasa ia perlu tahu. Bukankah Daniel juga mengetahui apapun tentangnya?
Gadis itu berdehem. "Soal Arka ... bagaimana kelanjutan kasusnya?"
"Kemarin Nathan dapat rekaman CCTV sekolah. Di sana, ada yang mencurigakan. Lo bisa lihat sendiri nanti, gue ada salinan rekamannya di ponsel. Untuk saat ini, Arka tetap gak mau buka mulut," jawab Daniel.
"Lo beneran yakin kalau bukan Arka pelakunya?"
Daniel mengangguk tegas. "Bukan dia, gue yakin seratus persen. Meskipun gue yakin dan percaya sama dia, gue tetap aja gak bisa membuat Arka bebas. Setelah sidang, kemungkinan Arka bisa ditahan. Apalagi ini adalah kasus percobaan pembunuhan. Hukum harus bertindak adil, gue gak mau ada orang tak bersalah yang dirugikan."
"Terus apa yang mau lo lakukan? Arka aja gak bisa diajak bekerjasama dengan kita, dia gak mau buka mulut. Dan kita gak punya bukti yang kuat untuk membebaskannya." Krystal benar. Arka tidak akan bisa dibebaskan jika Arka sendiri tidak mau buka mulut untuk membela diri. Apalagi mereka tidak memiliki bukti yang kuat untuk membebaskan Arka.
"Gue ada rencana." Daniel tersenyum tipis. Ia menoleh menatap Krystal. "Tapi lo harus bantu gue."
"Bantu apa?"
"Kumpulin anak-anak yang lain dulu. Mereka juga harus tahu tentang rekaman yang Nathan dapat. Kita gak akan pernah bisa bergerak tanpa bantuan mereka. Gue akan kasih mereka beberapa misi yang harus kita pecahkan. Sementara buat kita berdua, ada misi khusus."
Buat kita berdua...
Krystal justru salah fokus dengan ucapan Daniel. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya pelan dan merutuki dirinya sendiri. "Misi khusus? Apaan?"
Daniel tersenyum miring.
***
To be continued....