STORY 50 - Kepingan Kedua
[TIME TRAVEL STORY]
.
.
.
.
[ Tahun 2025 – Masa kini ]
[REKOMENDASI LAGU – Orbit – Hwa Sa]
Pikiran Ratu awalnya tidak fokus, melihat Hanum di Restaurant ini atau itu hanya sekedar bayangannya saja? Beberapa hari ini Ratu memang kerap kali membayangkan wajah Hanum, karena wanita itu selalu hadir di mimpinya. Sebagai korban yang sama-sama tidak bisa Ratu selamatkan.
‘Pasti hanya perasaanku saja,’ batin Ratu,
“Ibu,” Suara kecil menyentakkan pikiran wanita itu, Ravin duduk tepat di sampingnya dan Asta, menyentuh lengan sang Edrea pelan, “Ibu, mau pesan apa?” tanya pemuda kecil itu lagi.
Tersenyum tipis, “A-ah, kalian memesan-lah dulu, Ibu akan menyusul nanti,”
Mengangguk kecil, “Baiklah!” Ravin nampak penuh semangat memegang buku menu begitu juga Asta, syukurlah kedua anak kecil itu sudah baikan lagi. Bahkan Ravin tidak mempermasalahkan perbuatan sang kakak, mereka bisa tertawa dan berbincang sama-sama,
Asta pun begitu, menunjukkan sikap biasa. Ratu berharap kalau semua ucapannya tadi bisa memberi pengaruh baik bagi sang Faresta.
“Aku mau milkshake pisang, dan kak Asta milkshake anggur!”
Kedua anak kecil itu nampak senang, sementara Ratu sendiri kadang melamun, meski Rhea kini berada di dekat Asta dan Ravin, ada hal yang perlu Ia pastikan lagi.
Apa wanita yang Ia lihat tadi itu Hanum? Sayang mereka duduk berjauhan, jadi Ratu tidak bisa memperhatikan dengan jelas.
Arsen tentu melihat sikap istrinya, duduk tepat di depan Ratu, tangan lelaki itu bergerak menyentuh jemari Ratu. “Ada apa? Sejak masuk ke tempat ini kau terus melamun,” tanya sang Rajendra khawatir. “Apa kau tidak suka dengan tempat ini?” lanjutnya.
Ratu langsung saja menggeleng cepat, “Ah, bukan karena itu, hanya saja tadi aku seperti melihat seseorang yang kukenal,” Tanpa menyebut namanya,
“Siapa?”
Manik amber Ratu melirik ke arah Rhea yang masih fokus berbicara dengan Ravin dan Asta, walau sekilas wanita itu kadang melihat ke arah mereka berdua.
Kali ini, di depan sang Daffy, entah kenapa Ratu tidak ingin menyebut nama Hanum. Teringat kata-kata terakhir wanita itu,
Sampai saat ini pun, Ratu masih menaruh kecurigaan besar pada Rhea. Ia hanya tersenyum tipis, “Sahabat SMA-ku. Mungkin hanya perasaanku saja, karena mereka begitu mirip.”
Arsen memang tidak begitu mengenal sahabat Ratu selama ini, karena wanita itu memang tak pernah menceritakannya. Tapi melihat sikap gelisah istrinya.
Manik sang Rajendra berubah sendu, “Apa dia laki-laki?” tanya lelaki itu tanpa sadar,
Ratu mengerjap polos, kini fokusnya benar-benar terarah pada Arsen seorang, mendengar hal itu keluar dari bibir suaminya. Ada rasa geli menggelitik, tanpa bisa menahan diri.
“Hm, kenapa memangnya? Apa jangan-jangan kau cemburu?” tukas sang Edrea singkat, diiringi senyuman tipis. Mengira bahwa Arsen akan menepis pertanyaannya dan mengelak.
Tapi sayang, raut wajah Arsen justru berubah serius, dengan rengutan yang menambah ketampanannya. “Memangnya tidak boleh?” tanya lelaki itu balik.
Ratu reflek meneguk ludah, terbatuk sesaat. Rasa geli itu menghilang, digantikan gugup yang tiba-tiba datang. Degup jantung sang Edrea bermain lebih cepat dibanding biasanya,
“A-ah,” Untuk pertama kali, seorang Ratu yang terkenal dingin. Kini berubah gugup? Hanya karena tatapan dan jawaban polos sang suami.
Di sisi lain, Rheandra justru muak. Mendecih sekilas, melihat kemesraan dua pasangan itu membuatnya mual. Manik sang Daffy memicing, tanpa aba-aba Ia bergegas bangkit dari kursinya.
“Permisi, saya ke toilet sebentar.” Dengan senyum khasnya, tanpa menunggu jawaban kedua orang itu, Rhea langsung saja pergi.
.
.
.
.
.
Siapa yang menyangka kalau tindakan mereka berdua tadi berhasil mengusir Rhea secara tak langsung. Ratu tersenyum tipis, kali ini menatap Arsen, Ia sengaja mendekatkan wajah,
Sembari memperhatikan sekitar, “Rasanya aku melihat Hanum tadi, tapi dia datang sendirian. Bukan bersama Abhimanu atau Vanessa,” bisik Ratu cepat.
Semua rasa cemburu Arsen menghilang dalam sekejap, mendesah lega. “Apa mungkin dia menunggu temannya?”
Sedikit aneh melihat sikap Ratu yang tiba-tiba berubah perhatian dengan Hanum. Jika biasanya wanita itu akan cuek dan berpura-pura tak peduli.
Ratu masih terlihat ragu, jika teman-teman yang dibicarakan Arsen. Apa sejak awal Hanum punya banyak teman, jika selama ini pun wanita itu hanya pernah berteman dengan Ratu dan keempat orang temannya sejak SMA.
Kalau memang benar dia menunggu temannya, Ratu tidak perlu khawatir ‘kan? ‘Apa Abhimanu mengizinkan Hanum pergi semudah itu? Apalagi tanpa mengajak Vanessa?’ batin Ratu lagi,
Arsen tersenyum tipis, memainkan jemari Ratu. “Bagaimana kalau kita fokus saja dengan mereka berdua hari ini? Lihat,” Manik Arsen menunjuk ke arah Asta dan Ravin yang kini melihat ayah, ibunya.
“Ayah, ibu mau pesan apa?!” tanya mereka berdua kompak.
Perasaan nyaman itu kembali datang, kekhawatiran Ratu langsung lenyap. Membalas senyum mereka, ya setidaknya hari ini saja. Ratu harus berusaha fokus pada keluarga kecilnya.
Membutuhkan waktu bertahun-tahun bagi Ratu untuk merasakan kenyamanan seperti ini.
.
.
.
.
.
[Di tempat lain – Toilet ]
Manik wanita itu menatap tajam ke arah kaca, menumpahkan rasa bencinya setelah melihat kemesraan dua pasangan tadi. Semua rencananya hari ini gagal total!
‘Padahal kukira akan mudah merebut hati Asta,’
Siapa sangka kalau Ratu akan berubah dan berani mengajaknya bertarung tanpa diketahui Arsen sama sekali. Sikap wanita itu yang nampak tenang selama ini nyaris membuat dia lengah.
Ratu mungkin hanya diam saja melihat sikapnya, bahkan nyaris tak mau bersusah payah melawan, tapi lambat laun. Baik perkataan atau sikap asli wanita itu mulai terlihat.
Menekan, menusuk dengan kalimat, bahkan melawan tanpa diketahui sang Rajendra. ‘Kau kira aku akan takut,’ Memicing tajam, salah satu tangannya bergerak mengambil handphone. Dia sudah tidak tahan lagi,
Menekan nomor yang sudah familiar dalam otaknya, menghubungi seseorang. Dalam beberapa detik nada dering itu terangkat,
[“Ada apa memanggilku malam-malam seperti ini, sayang?”] Suara baritone dengan nada menggoda terdengar. Tubuh Rhea nyaris merinding, mendengus sinis.
[“Sudah kubilang berhenti memanggilku dengan nama menjijikan itu!”]
Siulan tipis terdengar di seberang sana, [“Kau tidak berubah, selalu saja sinis padaku, hm.”]
Mendesah panjang, Rheandra terdiam sesaat, memikirkan kembali tindakan yang akan Ia ambil selanjutnya. Haruskah?
Menggigit bibir bawahnya kuat, kedua tangan Rhea terkepal nyaris meneteskan darah karena tertusuk ujung kuku. [“Mengenai penawaranmu saat itu, apa aku bisa menggunakannya sekarang?”] tukas sang Daffy tiba-tiba.
Sosok di seberang sana terdiam kaget, namun tak lama kemudian tawa keras bergaung di telinganya, [“Khahaha, kau benar-benar yakin? Bukannya rencana itu ingin kau jalankan beberapa tahun lagi?”]
[“Percepat semuanya! Aku sudah tidak tahan melihat mereka bersama! Akan kuberikan semua yang kau inginkan! Kau hanya perlu menghancurkan keluarga itu!”]
[“Kau yakin?”]
Manik itu menyipit sekilas, [“Aku memang berencana melakukan ini sembari menunggu mereka tumbuh sedikit lebih dewasa,”]
Mempermainkan emosi dari seorang anak kecil yang perlahan mengerti artinya kehilangan. Menumbuhkan rasa benci secara pelan-pelan setiap harinya, menunggu beberapa tahun sembari melihat bagaimana kedua anak itu perlahan mulai paham dengan semua kondisi di sekitarnya.
Rheandra berniat menghancurkan semuanya dan mempercepat rencana. [“Akan kubayar semua berapapun yang kau inginkan,”]
Tawa itu masih terdengar, baritone yang membuat kenyamanan Rhea hilang saat semakin tipis, [“Kau kira aku butuh uang, saat aku bisa membeli semua dengan uang yang kumiliki sekarang?”]
Tubuh Rhea membeku, semakin tak nyaman, [“La-lalu, apa yang kau inginkan?”]
Sosok diseberang sana perlahan menyeringai, [“Kau tahu ‘kan sudah berapa tahun aku menikah dengan wanita itu karena terpaksa? Dia begitu membosankan, lemah tidak sepertimu, Rheandra.”]
Raut Rhea mengeras, entah kenapa arah pembicaraan ini perlahan mengalir, dan dia mulai mengerti. [“Cepat katakan, jangan berbasa-basi lagi!!”]
Saat permintaan lelaki itu terucap dengan nada seduktif, seluruh tubuh Rheandra meremang, menyisakan rasa yang nyaris membuatnya mual seketika. Amarah wanita itu meledak tanpa sadar,
Dengan manik menyala, bibirnya berucap keras, [“Jangan bercanda kau, Abhimanu!!”]
Saat itulah, suara benda terjatuh lantas membuat perhatian sang Daffy teralih cepat. Reflek memeluk handphone, dan bersikap waspada.
Apa ada yang mendengar pembicaraan mereka?
.
.
.
.
.
Wanita itu gemetar, tidak mengira kalau dia akan berada dalam posisi seperti ini. Berniat keluar dari bilik kamar mandi setelah beberapa menit diam di sana,
Saat suara wanita tengah menghubungi seseorang sukses membuat Ia mengurungkan niat. Mengenal dengan samar suara itu,
Siapa? Kenapa rasanya dia mengenal suara wanita itu? Walau secara samar, tapi dia yakin pernah mendengarnya di suatu tempat.
Memilih untuk diam, untuk berjaga-jaga, wanita itu perlahan mengambil handphone di saku dressnya. Menghidupkan perekam saat mendengar kata yang tidak enak,
[“Kau hanya perlu menghancurkan keluarga mereka!!”]
Menghancurkan keluarga seseorang? Alis wanita itu tertekuk, mulai merasa aneh. Cepat-cepat Ia menghidupkan perekam. Memilih untuk tetap diam, di dalam bilik, menajamkan pendengaran.
Pembicaraan mereka penuh dengan kalimat buruk berniat mencelakai seseorang. Siapa? Mencoba mengingat dengan keras suara familiar itu berulang kali,
[“Aku akan membayar apapun yang kau inginkan!”]
Saat mendengar perihal bayaran, kalimat terakhir yang diucapkan wanita itu sukses membuat tubuhnya membeku.
[“Jangan bercanda kau, Abhimanu!!”]
Mengenal dengan jelas nama itu, terucap dengan lantang dan keras, manik sang empunya melebar shock, tubuh yang membeku perlahan membuat jemarinya lemas.
Reflek handphone dalam genggaman itu terjatuh tanpa Ia sadari, menghantam lantai dengan suara cukup keras.
‘Ah!’
Wanita itu tersadar sepenuhnya.
“Siapa di sana?!”
Degup jantung perlahan berubah cepat, bergerak mengambil handphone di lantai dan menyimpan semua rekaman sigap, meneguk ludah saat satu persatu pintu bilik dibuka dengan paksa.
“Keluarlah jika anda mendengar pembicaraan saya tadi,”
‘Apa yang harus kulakukan?!’
Hanum berdiri dengan wajah pucat, menutup bibirnya, menahan diri agar tidak menangis. Wanita asing baru saja menyebut nama ‘Abhimanu’ yang tak lain adalah suaminya sendiri.