STORY 51 - Rahasia
***
Tahun 2025 – Masa kini
REKOMENDASI LAGU – Alec Bejamin – Let Me Down Slowly
Tubuh wanita itu gemetar, berusaha menutup bibir sekuat mungkin agar tidak reflek mengeluarkan suara. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk keluar, karena tanpa sadar dia sudah ikut masuk ke dalam permasalahan wanita di luar sana.
Apalagi saat wanita itu menyebut nama sang suami ‘Abhimanu’. Hanum menahan tangisan, kenapa suaminya berhubungan dengan wanita lain? Apa yang mereka bicarakan? Kedua orang itu berniat menghancurkan keluarga tertentu? Tapi siapa? Apa Hanum mengenalnya?
Detak jantungnya terus berdegup kencang, deru napas itu semakin terengah saat mendengar langkah kaki semakin mendekat, bahkan nekat mengetuk dan membuka satu persatu bilik kamar mandi.
Tak peduli seberapa tidak sopannya itu. Hanum tahu, kalau wanita di luar sana benar-benar tak ingin melewatkan siapapun di tempat ini.
Manik Hanum menatap handphone yang kini sudah tersimpan kembali di saku dressnnya, berharap kalau tidak ada yang menghubungi atau berbunyi. Menahan ketakutan,
“Keluarlah, saya tidak akan melukai anda.” Suara itu terdengar tenang, sopan namun menyimpan nada serius yang membuat Hanum semakin takut. Bohong, entah apa yang akan dilakukan wanita itu jika sampai tahu kalau dia mendengar semua pembicaraan mereka tadi.
“Sepertinya ada yang menguping pembicaraan kita, aku matikan dulu panggilannya.”
Sosok itu berbincang sesaat, dengan santai membuka beberapa bilik kamar mandi dan mengecek secara detail. “Apa? Kau gila? Bagaimana kalau dia mendengar pembicaraan kita lebih jauh. Apa yang harus kulakukan?”
Tiba-tiba suara handphone berubah menjadi speaker, menggema dalam ruang. “Bungkam jika dia berusaha melawan. Aku akan menyiapkan semuanya.” Suara Abhimanu terdengar jelas, menekan seolah menikmati semua tindakannya.
“Kau yakin? Bagaimana kalau ada yang curiga,”
“Aku bisa mengurus semua, itu masalah kecil, kau tak usah takut”
Suara decakannya terdengar lagi, “Jangan bilang semua itu ada syaratnya?”
Suara pintu bilik terbuka kembali membuat Hanum tersentak, tinggal berapa bilik lagi? Setahunya di tempat ini ada enam bilik kamar mandi dan dia sengaja mencari paling pojok tadi, kali ini bahkan wanita itu nekat menaiki kloset duduk agar kakinya tak terlihat.
“Tentu saja, istri membosankan seperti wanita itu sudah membuatku muak. Mungkin kau bisa menggantikannya,”
“Siall, sikapmu sama sekali tidak berubah sejak dulu,”
“Khahaha, kau juga sayang. Baiklah, kabarkan aku lagi setelah ini. Kuharap kau bisa, aku ingin mengenang lagi malam panas kita saat itu,” Dengan nada menggoda, tubuh Hanum semakin menegang. Tak kuasa menahan tetes bening di pelupuknya.
“Ck, sudah kubilang berhenti memanggilku sayang!” Panggilan tertutup paksa.
Suara Abhimanu terngiang, sosok yang tidak pernah menggunakan nada sayang seperti itu padanya kini berbicara dengan wanita lain. ‘Menikmati malam panas mereka?’
Terisak diam, kebenaran yang tidak Hanum sangka dia akan mendapatkannya sekarang. Semua prasangkanya selama ini ternyata benar,
“Uhk,” Pundaknya gemetar, “Keluarlah, Nyonya. Saya janji tidak akan melakukan apapun jika anda mau diam saja.”
“Kenapa diam saja, Nyonya? Jangan takut,”
Manik Hanum tertutup, bagaimana kalau wanita itu mengenal wajahnya? Lalu melaporkan semua pada Abhimanu? Dia harus apa? Suaminya pasti akan sangat marah, entah apa yang akan terjadi,
Dia takut,
‘Tolong aku,’ batin wanita itu dalam hati. Berdoa pada Tuhan, untuk kali ini saja. Tolong dia.
“Sepertinya hanya tersisa satu bilik lagi, anda tidak bisa bersembunyi selamanya, Nyonya.” Tenang namun menghanyutkan, ketakutan Hanum semakin besar. Suara langkah itu mendekat, kini tepat berada di depan biliknya.
‘Tolong aku,’
***
“Apa yang kau lakukan?”
Tubuh Rheandra menegang, reflek menoleh ke arah sumber suara diambang pintu. Baru saja dia berniat membuka paksa bilik di depannya tadi, tapi kamar mandi sudah terbuka lagi.
“A-ah, maaf, Nyonya.” tukasnya seraya berbalik dan mencuci tangan kembali.
Sementara Ratu, manik sang Edrea menyipit, melangkah masuk masih dengan ekspresi dingin di wajah. “Kutanya, kenapa kau berniat masuk ke bilik yang jelas-jelas ada orang di dalamnya?” tanya Ratu lebih spesifik.
Suara air terhenti, Rheandra masih tersenyum tenang. “Saya kira di sana tidak ada orang,”
Manik sang Edrea melirik ke arah bilik, memang benar tak terlihat kaki di tempat itu, apa yang sebenarnya terjadi saat dia tak ada?
“Apa kau sedang menghubungi seseorang?” tanya Ratu lagi, kali ini senyuman Rhea perlahan hilang. Membuang tisu di tempat sampah, wanita itu berjalan mendekati Ratu, dengan senyuman tipis khasnya.
“Apapun yang saya lakukan tadi, bukannya ada batas dimana saya bisa menjawab atau tidak?” Suara itu terdengar tenang dan menusuk, seolah Rhea kini tidak lagi menunjukkan aktingnya. Perlahan menghapus sifat palsu itu, saat tak ada Arsen di dekat mereka.
Namun Ratu justru menyeringai sinis, “Tentu saja.” Menepuk pundak Rhea, tubuh sang Edrea perlahan mendekat, kini tepat berhenti di samping telinga wanita itu, “Siapa tahu ada rencana kecil yang tidak kuketahui darimu,”
Manik Rhea melebar sesaat, namun menghilang dalam sekejap. “Anda tidak usah khawatir, Nyonya. Selama ini saya menjaga Ravin dan Asta dengan sangat tulus,”
Mereka saling bertatap selama beberapa menit, sampai akhirnya Ratu yang teralih lebih dulu, “Kembalilah sekarang, sebelum aku benar-benar mengorek banyak rahasiamu malam ini, Rhea.” Berbalik meninggalkan Rheandra.
Wanita itu nyaris membanting handphonenya, melirik ke arah bilik kamar mandi yang belum sempat Ia buka paksa. ‘Ck, siall!’
Reflek menendang pintu, menatap punggung Ratu penuh amarah. “Argh, wanita itu mengesalkan sekali!” gerutunya cepat. Berjalan mengikuti langkah Ratu, meninggalkan kamar mandi.
Tanpa mengetahui bahwa dibalik bilik tadi, Hanum mendesah lega. Tubuhnya secara tak sadar berubah lemas dan duduk di atas kloset dengan napas terengah,
Tuhan menolongnya kali ini, mengetahui siapa pemilik suara yang menyelamatkan dia tadi. Hanum terisak kecil, mengingat semua pembicaraan wanita itu.
Nama ‘Rheandra’ tentu saja dia dengar jelas. Hubungan antara Abhimanu dengan Rheandra. Lalu fakta bahwa wanita itu mengenal sahabatnya menjadi temuan baru untuk Hanum.
Pikiran Hanum tanpa sadar mengingat pembicaraan Rheandra tadi. Tentang menghancurkan satu keluarga?
Apa keluarga yang dimaksud itu keluarga sahabatnya, “Ratu.” bisik wanita itu ragu.
***
Kedua wanita itu kembali lagi, Asta dan Ravin kini sudah fokus dengan makanan mereka, bahkan kadang tertawa bersama. Sementara Arsen menatap istrinya yang datang dengan wajah tertekuk,
“Apa kau melihatnya?”
Ratu duduk kembali, “Ya, apa yang dia lakukan selama dua puluh menit lebih di dalam kamar mandi?” bisik sang Edrea heran. Arsen mendesah sekilas, “Mungkin dia ada urusan,” Melihat gerak-gerik Ratu yang nampak tak nyaman, namun berusaha tenang.
Sebelum Rhea datang, “Kenapa akhir-akhir ini sepertinya kau berubah waspada pada Rheandra? Apa dia sempat melakukan sesuatu di belakang kita?” Pertanyaan yang telak, sukses menghentikan gerak Ratu. Nyaris terbatuk,
“Ibu, minum cepat!” Ravin langsung memberikan ibunya minuman. “Terimakasih sayang,” Menepuk puncak kepala putranya. Saat melihat Rhea datang, Ratu mendehem sekilas.
“Akan kujelaskan nanti di rumah,” jelas Ratu singkat, memasang ekspresi datarnya kembali. Membiarkan Arsen dipenuhi tanda tanya.
***
Mata Ratu tidak salah, tepat setelah mereka selesai dengan acara malam ini. Untuk kesekian kali dia melirik ke tempat yang sama, dan wanita itu masih ada di sana.
Menggandeng tangan Asta berniat keluar dari restaurant. Saat melihat wanita itu menunduk dan menumpukan wajah dengan kedua tangan, semakin membuat Ratu tak tenang.
Alhasil, saat berada di area parkir, Ratu memutuskan untuk kembali. “Sepertinya itu benar-benar temanku, apa aku boleh berbincang dengannya sebentar, Arsen?” tanya Ratu, meminta izin pada sang suami, dengan raut cemas.
Arsen mengerjap sekilas, “Tentu saja, kami akan menunggu di sini,” jelasnya. Ratu menggeleng cepat, “Tidak usah, aku akan pulang sendiri dengan taksi. Kasian Asta dan Ravin, mereka pasti mengantuk,” Melihat kedua anak-anaknya yang kini menguap kompak. Bahkan mengucek mata beberapa kali,
“Ibu, mau kemana? Aku ikut,” rengek Ravin lagi, Asta pun begitu, “Aku juga mau,”
“Ibu, ada urusan sebentar, jadi kalian pulang lebih dulu, oke?” Mensejajarkan tubuh di depan kedua putranya, manik amber itu melirik ke arah sang sulung, menyentuh pipi Faresta pelan, “Asta, apa kau masih ingat kata-kata Ibu tadi?” tanya Ratu,
Asta mengerjap polos, dia mengangguk malu, “Masih, Bu.”
“Pintar,” Mencubit pelan dan langsung saja memeluk tubuh mungil kedua putranya. “Ingat, kalian tidak boleh bertengkar seperti tadi lagi. Tetap saling menjaga satu sama lain. Ayah dan Ibu selalu menyayangi kalian, semua sama tak ada yang lebih besar atau lebih kecil, paham?”
Sang Rajendra entah kenapa mulai terbiasa dengan semua tindakan Ratu, seolah wanita itu tetap memikirkan sedikit saja permasalahan dalam keluarga mereka dan langsung memperbaikinya.
“Iya, Bu. Kami janji,” jawab kedua anak kecil itu,
Perlahan kembali bangkit, manik Ratu melirik ke arah Rheandra. “Kau bisa menidurkan mereka berdua nanti ‘kan, Rhea?”
Sedikit tersentak, “A-ah, tentu saja, Nyonya.”
‘Wanita itu sedang memikirkan sesuatu rupanya,’ batin Ratu yakin, “Kalau begitu aku masuk dulu.” Kali ini tanpa Arsen sadari, hal yang tidak pernah Ia dapat dari sang istri setelah sekian lama.
Ratu menarik lengan suaminya, mengecup pelan pipi lelaki itu pelan. “Jika kau lelah, istirahatlah lebih dulu,” Suara yang teralun lembut nyaris membuat Arsen kehilangan pijakan kakinya, rasionalitasnya hampir hilang kalau saja dia tak ingat sedang berada di tempat umum.
Tersenyum tipis, meninggalkan keluarga kecilnya Ratu melangkah pergi. Dalam tiap langkahnya, raut di wajah wanita itu perlahan berubah, menjadi rasa gugup dengan rona merah menjalar ke seluruh wajah.
Sementara Arsen berusaha menahan diri agar tak tersenyum, kedua pipinya reflek memerah padam. Menutup bibirnya dengan salah satu tangan,
“Hh,”
Tanpa menyadari kalau Rheandra kembali melihat kedua pasangan itu bermesraan tepat di depannya. Ratu pasti sengaja melakukan hal tadi,
Semakin terkepal penuh emosi, semua kebimbangannya untuk menerima tawaran Abhimanu langsung hilang dalam sekejap.