STORY 52 - Peringatan
***
Flashback On
Tahun 2027 – Masa lalu saat Ratu belum kembali
REKOMENDASI LAGU – Alec Bejamin – Let Me Down Slowly
Warna lebam yang cukup banyak menghias seluruh tubuh Hanum, tepat di daerah lengan, d**a, perut bahkan leher pun tak luput dari incaran kekerasan Abhimanu setelah dia memaksa wanita itu untuk membuka jaketnya.
“Kenapa Abhimanu melakukan ini padamu? Wajahmu sampai berdarah, dan lebam ini,”
Shock tentu saja, dibalik pakaian lengan panjang yang selalu digunakan oleh Hanum tersimpan banyak luka. Bahkan beberapa luka baru masih nampak kemerahan, luka di leher meninggalkan lebam sebuah tangan tercetak jelas.
“Apa dia pernah mencekikmu juga?!”
Hanum hanya tersenyum gugup, “Ti-tidak apa-apa, Ratu. Aku hanya ingin meminta tolong padamu,”
“Kita harus melaporkan hal ini ke pihak berwajib, bukti luka di tubuhmu sudah cukup membuat polisi yakin,”
“Tidak bisa Ratu, seberapa banyak luka yang kumiliki. Semua itu pasti bisa ditutupi sebaik mungkin oleh suamiku, sekarang aku hanya ingin menitipkan Vanessa setidaknya satu sampai tiga hari sampai masalah ini selesai,” pinta Hanum, untuk kali ini saja Hanum meminta tolong pada Ratu.
Berharap Ratu bisa membantu barang sedikit saja. Entah apa yang terjadi dengan rumah tangga Hanum saat ini, Ratu seolah ragu, bahkan dia sempat berpikir sesaat.
Bersikap egois di saat ini dan tidak mempercayai ucapan Hanum?
“Kumohon Ratu, untuk malam ini saja kutitipkan Vanessa di rumahmu.”
***
“Tolong aku, Ratu.”
Kalimat bisikan itu bisa Ratu dengar dengan jelas, saat Hanum berusaha menoleh dikala tangan besar Abhimanu mendorong tubuhnya agar segera menjauh dari rumah wanita itu.
Hujan menuruni kota Jakarta, ketakutan Hanum semakin menjadi saat mendengar bisikan suaminya. “Kau berusaha meminta bantuan wanita itu ‘kan? Sudah kubilang tak ada gunanya, sayang.”
Saat mereka semakin menjauh, tubuh Abhimanu mendekat lagi, tepat berjalan di sampingnya, memegang erat pundak wanita itu,
“Ugh, sakit,” Mengirimkan rasa sakit karena cengkraman. Namun Abhimanu tak peduli, lelaki itu justru menyeringai senang.
“Selama kau masih memegang kartu dalam rencanaku, selama kau masih mengingat semua itu, jangan harap kau bisa kabur, sayang.” ujarnya pelan, “Jika satu kali saja kau berniat pergi tanpa sepengetahuanku, akibatnya akan fatal.”
Tubuh Hanum meremang, tetesan bening kembali mengalir dari pelupuk. Dia takut, sangat takut, memeluk Vanessa erat dalam gendongannya, berusaha tenang namun tidak bisa. Hanum terus terisak,
Sampai akhirnya sebuah tamparan melayang di salah satu pipi, “Berisik! Kau tahu seberapa mengesalkannya tingkahmu hari ini?! Aku harus pergi dan membuang-buang waktuku untukmu saja!!”
Air hujan sudah mengenai tubuh mereka, Vanessa mengerang dalam tidurnya. “Cepat masuk! Jangan sampai anak itu menangis, berisik!!”
Tidak bisa melawan, pandangan Hanum teralih menatap gerbang rumah Ratu, tak ada tanda-tanda sahabatnya itu akan datang berlari menyelamatkannya. Dia terlalu berharap, dan akhirnya hancur sendiri.
“Ba-baik,”
Rasa kecewa menyelubungi wanita itu, apa dia salah karena bergantung pada Ratu untuk terakhir kali?
Lalu kemana dia harus mengadu? Siapa yang bisa menolongnya jika orangtua dan sahabatnya pun tak bisa membantu.
“Uhk,” Terisak tipis, memeluk Vanessa sembari menenangkan gadis kecil itu. Hanum takut sekali, entah kenapa semakin hari sikap Abhimanu makin kasar. Bahkan setelah dia mengetahui seluruh rahasia kecil lelaki itu bersama wanita asing bernama Rheandra.
‘Aku bahkan belum sempat memberitahu Ratu tentang itu,’ batinnya.
Malam itu, dalam keadaan tubuh yang sakit, Hanum memaksakan diri tidur, namun dia tetap waspada, bahkan satu sampai dua jam wanita itu pasti terbangun karena takut.
Takut jika pada akhirnya Abhimanu akan melakukan hal di luar batas nalar manusia.
***
Tahun 2027 –Masa lalu
Malam itu tangisan gadis kecil bergema memanggil nama ibunya berkali-kali. “Ibu, tolong!! Huaaa, Ibu!!” Merasakan bagaimana sebuah pisau kini terarah tepat di lehernya, dalam kukungan tubuh besar, sementara di depan sana.
Seorang wanita menangis kencang, “Jangan, Abhimanu!! Jangan, ingat dia putri kita!!” teriak demi teriakan melolong, lelaki di depannya tertawa keras. “Kau sudah mulai berani melakukannya wanita sialan,” Pisau kini tersayat tipis, meninggalkan jejak darah di leher Vanessa,
“HUAAA!! IBU!! IBU, AKU TAKUT!!”
Vanessa menggapai sosok ibunya, namun dia tak bisa. “Aku tidak akan melakukannya lagi!! Aku janji, karena itu lepaskan Vanessa!!” Membuang jauh-jauh handphone di tangannya, dan berlutut. “Aku mohon, lepaskan putriku.”
Lelaki itu mendengus sinis, dengan seringai lebar, “Aku sudah memberikanmu kesempatan untuk diam, Hanum. Tapi kau tetap melawan, karena itu hari ini rasa muakku sudah diambang,”
Tubuh Hanum lemas, saat seorang pelayan di tempat mereka masuk ke dalam kamar membawa sebuah tali rotan yang cukup kuat, lengkap dengan sarung tangan hitam,
“A-apa itu?”
Seringai menakutkan, saat sang suami dengan sengaja menunjuk ke arah tali yang dipegang oleh pelayan tadi, ke arah ceiling besi mereka.
Dengan kalimat yang dingin, “Jika kau ingin anak ini selamat,”
Saat itu juga detak jantung Hanum hampir saja berhenti, diiringi tangisan Vanessa yang tak kalah keras, di malam sunyi,
Hanum tidak mengira sebuah permintaan kejam terucap dari bibir suami yang pernah Ia cintai.
“Gantung dirimu sendiri di sana sekarang juga,”
Ah, Tuhan betapa kejamnya takdir yang kau berikan padaku.
Flashback Off
***
Tahun 2025 – Masa Kini
Ratu berjalan masuk kembali ke dalam restaurant, maniknya mencari sosok Hanum di tempat yang sama, melangkah cepat berharap kalau Hanum masih belum pergi,
‘Itu dia,’
Wanita itu masih ada di sana, dengan posisi yang sama. Menghampiri Hanum perlahan, Ratu mengecek terlebih dahulu, bagaimana wanita itu kini menunduk, seolah terfokus memikirkan sesuatu.
Menepuk pelan pundak wanita itu, “Hanum,”
Sang empunya langsung terlonjak kaget, menengadah dengan wajah pucat pasi. Maniknya melebar shock, “Ra-Ratu?”
“Kau sedang apa di sini sendirian?” Kali ini Ratu langsung duduk di depan sahabatnya, masih menatap cemas, “Mana Vanessa dan Abhimanu?” tanya-nya lagi.
Hanum kembali menunduk, manik wanita itu teralih tak berani menatap Ratu. “A-ah itu, kebetulan hari ini aku ingin sendiri,” jawab wanita itu singkat.
Masih tertekuk heran, “Lalu siapa yang menjaga Vanessa? Dia pasti khawatir jika tidak melihatmu?”
Sudah pasti Ratu ragu jika Abhimanu mau menggantikan Hanum menjaga Vanessa, bahkan mungkin membiarkan wanita ini pergi pun rasanya mustahil. Lalu kenapa Hanum bisa ada di sini?
Banyak pertanyaan muncul, namun berusaha Ratu tahan. “A-ah, aku menitipkannya pada mertua di rumah,”
Bohong, Ratu tahu itu. Jika memang mertua Hanum memiliki sifat yang baik, Hanum tidak mungkin mau repot-repot datang ke rumahnya malam itu, demi menitipkan Vanessa saja, Hanum rela menerjang hujan tanpa sepengetahuan Abhimanu.
Menelisik gerak-gerik wanita itu, seperti biasa Hanum menggunakan dress berlengan panjang hingga menyentuh lutut bawahnya, menyembunyikan banyak luka.
Bergerak menggenggam jemari Hanum pelan, “Ini sudah malam, Hanum. Sebaiknya kau kembali pulang, atau kau ingin aku mengantarmu?”
Meski Ratu tahu kalau Hanum pasti tidak ingin kembali ke tempat itu. Tapi kasian Vanessa, apa gadis kecil itu sedang tidur, jadi Hanum berani meninggalkannya selama ini?
Hanum menggeleng kecil, “Aku sedang tidak ingin pulang,” jawabnya singkat. “Lalu Vanessa?”
Hanum melepaskan genggaman Ratu, “Kau tidak akan mengerti, Ratu.” Dengan wajah menahan sendu. “Aku butuh waktu sendiri sekarang, kau bisa meninggalkanku,” Untuk pertama kali, Hanum menepis dan melawan permintaan Ratu.
Dia tidak marah sama sekali, justru merasa kasihan. Melihat wajah Hanum yang semakin kurus, tanpa dandanan, dan rambut sedikit berantakan. Dress yang Ia gunakan sekarang pun hanya sebagai pajangan saja agar bisa masuk ke tempat ini, memesan satu porsi nasi goreng dan jus jeruk.
Namun sampai saat ini Hanum tidak menyentuh makanannya sama sekali.
“Apa yang terjadi, kau bisa menceritakan semua padaku,”
Satu hal yang berubah hanya sikap Ratu. Dia berusaha keras memahami penderitaan Hanum. Mencoba bertanya namun sahabatnya memilih bungkam.
Terdiam sesaat, Ratu mendesah panjang, bergerak lagi menggenggam tangan Hanum, dengan manik redup. “Maafkan, aku.” Satu ucapan maaf terlintas keluar dari bibir Ratu.
Pelan dan lembut, sontak Hanum menatap balik sahabatnya kaget. “Ke-kenapa kau tiba-tiba minta maaf,”
Ada begitu banyak alasan kenapa ucapan maaf itu baru bisa Ratu katakan sekarang. “Maaf karena selama ini aku sudah jadi sahabat yang buruk. Aku menjadi wanita yang egois dan tidak pernah mau mengerti tentangmu.”
“Maaf karena aku tidak pernah ada di sampingmu, di saat kau benar-benar membutuhkan seseorang.” Kembali berucap pelan.
“Ra-Ratu,”
Manik Hanum tanpa sadar berkaca, Ia menggeleng kecil. “Ka-kau tidak perlu minta maaf padaku, Ratu.”
“Untuk kali ini saja, Hanum.” Menatap lekat wajah Hanum. “Jika ada masalah yang kau sembunyikan, kau bisa bercerita padaku,”
Tubuh Hanum menegang takut, sedikit gemetar, Ia menggeleng. Perlakuan Abhimanu selama ini, perselingkuhan suaminya, semua hidup yang Ia jalani bagai neraka. Dia tidak pernah sekalipun bisa menceritakan hal itu pada seseorang.
“Ti-tidak ada yang kusembunyikan,” racaunya tanpa sadar, bergerak lagi menepis tangan Ratu.
Sampai akhirnya berusaha berdiri meninggalkan wanita itu, “Hanum, kumohon ceritakan semua padaku,”
“Tidak ada—tidak ada,” Gemetar menutup tasnya dan memasukan handphone, namun karena terlalu takut. Wanita itu reflek menjatuhkan tas gendongnya, semua barang di dalam sana jatuh berantakan.
Ratu berusaha membantu, melihat beberapa barang yang keluar dari dalam sana, namun tubuhnya sudah lebih dulu membeku,
Melihat sebuah botol obat yang Ia ketahui dengan sangat jelas, karena di masa depan dulu selalu Ia gunakan untuk menenangkan diri.
“Apa itu obat tidur dosis tinggi?” tanya Ratu sekilas,
Hanum semakin gemetar, berniat mengambil botol obat itu, “Bu-bukan!”
Ratu bergerak lebih cepat, menundukan tubuh, dan mengambil botol milik sahabatnya, membaca dengan jelas. Benar saja!
Obat tidur dosis tinggi yang tidak dianjurkan untuk anak kecil dan khusus orang dewasa.
‘Tu-tunggu dulu,’
Tiba-tiba Ratu teringat ucapan Hanum tadi, “Vanessa, sedang bersama mertuaku,”
Vanessa-
Manik Ratu melebar, jemarinya gemetar memegang botol milik Hanum. “Apa Vanessa benar-benar bersama mertuamu sekarang?”
Hanum hanya bungkam tanpa suara. Wajahnya memucat takut,
Jangan bilang-