STORY 53 - Puzzle yang Terhubung
***
Tahun 2025 – Masa Kini
REKOMENDASI LAGU – James Arthur – Impossible
Merebut obat di tangan Ratu dengan cepat, Hanum berniat untuk pergi namun tak semudah itu, karena Ratu sudah lebih dulu menarik tangan sahabatnya, mengajak Hanum untuk duduk lagi.
“Hanum, kita belum selesai bicara!” tegas sang Edrea, melarang Hanum untuk pergi, sahabatnya hanya menggeleng takut. “A-aku harus pergi, maaf Ratu,” Berniat menepis tangan Ratu namun saat maniknya menatap Ratu.
Tubuh Hanum membeku, melihat tetes bening mengalir dari manik Ratu. “Kumohon, jangan buat aku merasa bersalah lebih dari ini, Hanum.”
Manik wanita itu semakin berkaca, menggigit bibir bawahnya sekuat mungkin, menahan tangisan yang selama ini menjadi beban untuknya. Rasa sakit, dan kecewa Hanum sudah tidak bisa Ia bendung, selama bertahun-tahun menikah paksa dengan lelaki itu, tak ada satu hari pun Ia lewati tanpa rasa sakit,
“Aku akan mendengar semuanya, kau tidak perlu takut. Aku bisa membantumu, karena itu kumohon, untuk kali ini saja,”
Bagaimana bisa sahabat dingin dan datar seperti Ratu bisa berubah menjadi begitu perhatian dalam beberapa hari saja?
Sudah cukup lama Hanum merasa iri dengan semua hidup yang Ratu miliki. Kenapa? Sikap wanita itu selalu egois dan dingin dihadapan suami yang begitu menyayanginya. Memiliki dua putra kecil, dalam lingkungan keluarga yang begitu nyaman.
Sementara dia? Setiap hari bagaikan neraka. Bangun tidur pun kadang tubuh Hanum gemetar merasakan sakit akibat pukulan yang selama ini dilayangkan suaminya.
Kenapa? Wanita itu memiliki semua yang Hanum inginkan, sementara dia, tidak ada satupun orang yang mau memihaknya.
Bergerak menepis tangan Ratu, Hanum akhirnya menangis, “Memangnya kau mengerti apa?! Kau hidup dalam keluarga kecil yang begitu kuinginkan, tapi kenapa? Sikapmu begitu egois dan angkuh?!”
“Orang sepertimu tidak akan mengerti bagaimana menderitanya hidupku, jadi menyingkirlah!” Terisak tipis, beberapa tamu mulai melihat ke arah mereka namun Hanum tak peduli. “Jangan kau sia-siakan waktumu hanya untuk mendengar ceritaku saja, nikmati hidupmu, Ratu.” Tersenyum dalam tangisannya,
Ratu menggeleng cepat, “Aku tidak ingin mengulang kesalahanku lagi,” bisiknya pelan.
“Apa maksudmu?”
Menggenggam tangan Hanum, “Kau memang benar, aku adalah wanita paling egois yang selama ini menyia-nyiakan pemberian Tuhan untukku. Dikaruniai seorang suami yang begitu menyayangiku, kedua putra kecil yang manis. Kadang aku berpikir, tanpa orangtua ataupun kakakku, keberadaan mereka sudah cukup banyak mengubah hidupku,”
Hanum mendengus singkat, “Baguslah jika kau sudah sadar,” Berusaha melepaskan genggaman Ratu.
“Karena itu,” Manik amber itu menatap Hanum, seraya menangis, “Aku ingin semua orang yang kusayangi bahagia, Hanum. Termasuk kau, wanita kuat sepertimu berhak bahagia, meskipun selama ini kau menyembunyikan semuanya, aku tahu,”
Tubuh Hanum menegang, saat Ratu bergerak memeluknya. “Aku tahu,” Hanya dengan kalimat itu saja, Hanum seolah mengerti apa maksud wanita itu. Rahasia yang Ia sembunyikan di depan semua orang.
“Kudengar kau membelanjakan uang suamimu lagi sesuka hati? Wah, enaknya.”
Bohong-
“Pasti bahagia jika menikah dengan lelaki kaya dan perhatian seperti Abhimanu.”
Bohong!
“Jangan-jangan kau sengaja menikahi Abhimanu karena uangnya? Wah berani sekali,”
Bohong!!
Berulang kali Hanum mendengar kalimat itu. Menuduhnya sebagai w************n yang tertarik dengan kekayaan Abhimanu, membelanjakan uang sesuka hati, bertingkah layaknya wanita kaya, menyombongkan diri. Membanggakan nama Abhimanu dan menyudutkan Hanum.
Semua itu bohong!!
“Kau benar-benar membosankan, Hanum.”
“Uhk,” Bergerak memeluk tubuh Ratu, Hanum terisak. Air matanya mengalir deras, kedua wanita itu sama-sama menangis, untuk pertama kali.
Mereka mengutarakan isi hati masing-masing, bahkan sebelum Hanum mengatakan semua ceritanya, entah kenapa Ratu seolah tahu.
“Aku takut, Ratu—hiks,”
***
Saat tak ada siapapun yang melihat mereka lagi, barulah Hanum memberanikan diri. Perlahan menyibak lengan panjang yang selama ini menutupi kedua tangannya.
Manik wanita itu tertutup sekilas, gemetar mengingat semua perlakuan Abhimanu. Lelaki yang beberapa tahun ini entah mengapa jadi begitu suka melampiaskan semua masalah padanya.
Lengan yang penuh dengan warna ungu lebam menjadi bukti, bahkan Ratu nyaris tidak bisa melihat warna kulit asli Hanum, semua tertutupi oleh warna legam.
“Apa Abhimanu yang melakukan semua ini?”
Hanum terdiam sesaat, “Tak hanya Abhimanu saja,”
Tubuh Ratu membeku, alisnya tertekuk shock, “Bukan hanya Abhimanu? Maksudmu orang lain ikut terlibat juga,”
Mengangguk tipis, “Ayah dan ibu mertua,”
Tak menyangka bahwa seberat ini masalah Hanum, wanita itu mengira hanya Abhimanu yang menyiksa Hanum, tapi ternyata kedua orangtua lelaki itu juga?!
“Apa kau pernah melaporkan hal ini ke polisi?”
Wanita itu tersenyum sendu, “Pernah, mereka awalnya percaya. Tapi dengan uang, dalam satu malam saja, mereka bisa menuduhku balik.” Mendengus sekilas, “Menuduhku gila dan suka menyakiti diri sendiri,”
Menutup bibir dengan salah satu tangan, menatap tak percaya, “Lalu ayah dan ibumu?”
Hanum menggeleng cepat, “Keluargaku menanggung hutang banyak di keluarga Abhimanu, jadi aku tidak mau menambah beban mereka, jika mereka tahu kondisiku, aku takut, Ratu.”
“Abhimanu bisa saja mengincar mereka,”
Betapa kuatnya kekuasaan Abhimanu, Ratu tahu itu. Dia sendiri sempat bingung bagaimana menghadapi lelaki seperti itu, ada banyak cara yang bisa Abhimanu lakukan dengan uang miliknya.
“Aku hanya seorang wanita yang menikah dengannya tanpa membawa kekayaan apapun, apa yang bisa kulakukan? Tidak ada, Ratu.”
Menarik napas sesaat, perlahan menjauhkan pelukannya, manik amber Ratu kini menatap Hanum lekat, “Kau bisa menjelaskan padaku, untuk apa kau membeli obat tidur dosis tinggi itu?”
Hanum menunduk takut, tidak menjawab. “Hanum, jawab pertanyaanku.”
Sedikit ragu, wanita itu menarik kembali lengan dress agar menutup lukanya lagi, berbisik sekilas, dia bingung,
Ratu hanya berusaha menebak, “Apa obat itu untuk Vanessa?”
Seolah tepat, Hanum kembali gemetar, menggigit bibir ragu untuk menjawab, namun dari gerak-geriknya, Ratu yakin kalau jawabannya benar. “Kau tahu ‘kan kalau obat itu tidak cocok dikonsumsi anak-anak,”
“Aku tahu,”
“Lalu kenapa kau melakukannya?”
Menatap Ratu, “Aku tidak mau dia mendengar pertengkaran kedua orangtuanya, setiap hari Abhimanu selalu membentak marah, ayah dan ibu mertuaku juga begitu, mereka sama sekali tidak memikirkan Vanessa, karena itu-” Terisak lagi, dengan napas terengah,
“Aku lebih baik membuat Vanessa tidur,”
Seberapa buruk kehidupan Hanum, Ratu tidak menyangka kalau sahabatnya akan mengambil cara itu, “Lalu sekarang, apa kau juga memberikan Vanessa obat tidur? Dimana dia sekarang?”
“Ya, aku memberikannya tadi. Mungkin beberapa jam lagi atau pagi besok dia baru bangun, aku hanya ingin pergi menenangkan diri,” Semudah itu Hanum mengatakannya,
“Kau tidak bisa melakukan hal itu terus menerus, Hanum. Tubuh Vanessa bisa saja menolak obat itu dan terjadi komplikasi,”
“Lalu aku harus apa?! Aku tidak mau Vanessa mendengar tangisan ibunya setiap malam! Aku takut dia mengalami trauma!!”
Menggenggam jemari Hanum erat, Ratu berusaha meyakinkan wanita itu lagi. “Jika kau percaya padaku, apa kau mau mengikuti rencana milikku?” tanya Ratu sekali lagi,
Rencana? Untuk menghancurkan Abhimanu, sebuah rencana gila yang mau tak mau mereka lakukan, tak ada cari lain, sebelum mereka menemukan bukti yang jelas.
Sebanyak mungkin, dan mendapat dukungan jelas untuk melawan kekuasaan Abhimanu. Ratu membutuhkan uang yang sangat banyak.
Menunggu jawaban Hanum, wanita itu awalnya ragu. Namun karena begitu pasrah, mendapat bantuan dan pertolongan Ratu merupakan cara terbaik untuknya.
“Baiklah, aku percaya padamu, Ratu. Semua rencana itu, aku akan melakukannya,”
Tersenyum dan mendesah lega, “Sebelum itu,” Belum sempat Ratu berbicara, Hanum kembali mengambil alih. “Ada hal penting yang harus kau tahu, Ratu.”
“Hal penting?”
Raut wajah Hanum berubah serius, melepas genggaman Ratu. Dia bergerak mencari handphone di dalam tas, membuka file rekaman yang sempat Ia save tadi,
“Apa kau mengenal suara wanita ini?”
Saat rekaman terputar pelan, Ratu mendengar dengan seksama. “Aku akan melakukan apapun, keluarga itu harus hancur!”
“Kau gila, Abhimanu!!”
Menyebut nama Abhimanu dengan suara yang sangat familiar, semakin banyak kepingan puzzle terkumpul sedikit demi sedikit, menyatu, dan menciptakan jalan untuknya. Dari semua misteri yang terjadi dulu,
“Apa kau mengenal wanita bernama Rheandra sebelumnya? Aku mendengar suaramu di dalam kamar mandi, berbicara dengan wanita itu,”
Tubuh Ratu menegang, maniknya melebar tak percaya, “Sepertinya suamiku mengenal Rheandra jauh lebih baik darimu,”
“Apa kau tidak masalah menjaga tiga orang anak, sementara di rumahmu hanya ada satu penjaga saja?”
Kilasan masa lalu menyatu, dan membentuk jalan keluarnya, “Sejak kapan kau tahu alamat rumahku, Tuan Abhimanu?”
“Hanum tak pernah kuizinkan memberitahu siapapun dimana alamat rumah ini, tanpa sepengetahuanku,” Saat hujan membasahi kota Jakarta malam itu, kedatangan Abhimanu yang begitu tiba-tiba membuat Ratu heran.
Kenapa Abhimanu bisa begitu tahu tentang kehidupan di sekitar Ratu?
“Rheandra. Aku mengenalnya,”
Ternyata tebakan Ratu benar. Puzzle semakin menyatu,