⋆༺☾༻⋆
Hujan turun perlahan di atas kota sejak dini hari.
Tidak deras. Tidak juga benar-benar reda.
Langit abu-abu menggantung rendah, membuat pagi terasa lebih sunyi dari biasanya.
Di depan gerbang sekolah elit itu, mobil hitam berhenti dengan pelan.
Pintu belakang terbuka.
Sepasang sepatu hitam menyentuh aspal yang masih basah.
Zayn Alexandrovich Qaireen keluar tanpa berkata apa pun.
Seragamnya rapi. Rambut hitamnya sedikit lembap terkena udara dingin pagi. Tangannya memasukkan satu sisi earphone ke telinga, meski musik tidak benar-benar diputar.
Ia hanya tidak ingin mendengar dunia terlalu jelas.
“Selamat pagi, Tuan Muda.”
Supir itu membungkuk kecil sebelum Zayn berjalan pergi.
Tanpa jawaban.
Lorong sekolah sudah ramai.
Suara tawa. Langkah kaki. Obrolan kecil tentang tugas, pertandingan olahraga, dan kehidupan orang lain yang terdengar terlalu hidup.
Dan di tengah semua itu…
Zayn berjalan sendirian.
Seperti biasa.
Beberapa orang langsung menoleh saat melihatnya lewat.
“Qaireen…”
“Anak direktur itu ya?”
“Ganteng sih, tapi serem.”
“Dia nggak pernah senyum ya?”
Bisikan-bisikan kecil mengikuti langkahnya seperti bayangan.
Tapi Zayn tidak pernah benar-benar mendengarkan.
Sudah terlalu lama.
Kelas fisika lantai tiga terasa lebih hangat dibanding lorong luar.
Namun tetap tidak cukup nyaman untuk membuat Zayn merasa ingin berada di sana.
Ia berjalan menuju kursi paling belakang dekat jendela.
Tempat favoritnya.
Bukan karena nyaman.
Tapi karena itu satu-satunya tempat di mana ia bisa mendengar hujan lebih jelas dibanding suara manusia.
Zayn meletakkan tasnya pelan.
Tangannya membuka buku fisika yang sudah penuh coretan kecil dan catatan rumit.
Fisika selalu lebih mudah dipahami dibanding manusia.
Rumus tidak berbohong.
Manusia iya.
“Eh, dia datang.”
Suara itu membuat beberapa siswa tertawa kecil.
Zayn tahu siapa tanpa perlu melihat.
Aga.
Diikuti Diza dan Glenn seperti bayangan yang tidak pernah jauh.
Aga menjatuhkan dirinya duduk di atas meja depan Zayn.
“Pagi, anak jenius.”
Tidak ada jawaban.
Diza mengambil pena Zayn lalu memutarnya di jari dengan sengaja.
“Gila, hidup lo bosen banget nggak sih?”
Glenn tertawa pelan.
Zayn diam.
Tatapannya tetap lurus ke buku di depannya, meski huruf-huruf di halaman itu sudah tidak lagi masuk ke kepalanya.
Ia hanya ingin mereka cepat bosan.
Seperti biasanya
“Cih, kutu buku sialan!”
Aga bangkit dari meja depan Zayn sambil mendecakkan lidah kasar.
Kursi di depannya bergeser keras hingga menimbulkan suara nyaring yang membuat beberapa siswa menoleh sekilas.
Diza terkekeh pelan sebelum melempar pena milik Zayn sembarangan.
Pulpen itu mengenai halaman buku fisika yang terbuka.
Garis tinta hitam panjang tercoret di antara rumus-rumus rumit yang sudah ditulis rapi sejak semalam.
Hening beberapa detik.
Zayn menatap halaman itu tanpa bergerak.
Coretan hitam itu merusak seluruh perhitungan di tengah halaman.
Padahal ia menghabiskan hampir dua jam untuk menyelesaikannya.
Tangannya perlahan mengepal di bawah meja.
Sedikit saja.
Tidak cukup untuk terlihat.
Aku benci suara mereka.
Aku benci cara mereka tertawa seolah semua ini lucu.
Tapi lebih dari itu…
aku benci diriku sendiri yang bahkan tidak bisa melakukan apa pun selain diam.
Pandangan Zayn turun pelan ke arah tinta yang mulai menyebar di kertas putih.
Berantakan.
Sama seperti kepalanya akhir-akhir ini.
Kadang ia berpikir…
mungkin kalau ia melawan sekali saja, semua ini akan berhenti.
Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu.
Di sekolah ini, orang-orang lebih suka pura-pura tidak melihat daripada ikut terseret masalah.
Dan masalah terbesar bernama Aga.
Di luar pintu kelas, suara langkah beberapa siswa kelas tiga terdengar mendekat dari arah tangga.
Tawa kecil dan percakapan santai memenuhi lorong lantai tiga yang mulai ramai menjelang pergantian jam.
Cyan Azarel Lynx berjalan di depan dua temannya dengan tangan dimasukkan ke saku seragam.
Posturnya santai, dasi sekolahnya sedikit longgar, sementara rambut gelapnya masih sedikit basah setelah latihan pagi.
Di sekolah itu, hampir semua orang mengenalnya.
Anak sport.
Pintar di bidang ekonomi dan matematika.
Kakak kelas populer yang selalu terlihat ramah pada siapa pun.
Tapi juga orang yang paling sering berurusan dengan Aga.
Langkah Cyan melambat saat pintu kelas fisika terbuka kasar.
Aga keluar lebih dulu bersama Diza dan Glenn.
Mereka berpapasan tepat di depan pintu.
Aga hanya melirik Cyan sekilas sebelum berjalan pergi sambil mendecakkan lidah malas.
Tatapan Cyan bergerak pelan dari punggung mereka… menuju bagian dalam kelas.
Dan di sanalah ia melihatnya.
Zayn Alexandrovich Qaireen.
Duduk sendirian di kursi belakang dekat jendela.
Diam.
Terlalu diam.
Salah satu teman Cyan ikut melirik ke dalam kelas.
“Lagi?” gumamnya pelan.
Cyan tidak menjawab.
Karena semua orang di sekolah ini memang tahu tentang Aga yang selalu mengganggu Zayn.
Tapi tidak ada yang benar-benar berani ikut campur.
Aga terkenal suka menantang duel siapa pun yang mencoba melapor atau membela orang lain.
Dan kebanyakan siswa lebih memilih menjauh daripada jadi target berikutnya.
Namun entah kenapa…
hari itu tatapan Cyan tertahan sedikit lebih lama ke arah anak laki-laki di dekat jendela itu.
BERSAMBUNG…