⋆༺☾༻⋆
Hujan berhenti saat jam sekolah berakhir.
Langit masih gelap, meninggalkan aroma tanah basah yang memenuhi udara sore.
Sebagian besar siswa sudah pulang. Lorong sekolah mulai sepi, hanya menyisakan suara langkah kaki dan pintu kelas yang ditutup satu per satu.
Di dalam kelas fisika lantai tiga, Zayn Alexandrovich Qaireen masih duduk di tempatnya.
Buku-buku di mejanya sudah rapi kembali.
Termasuk halaman yang tadi dicoret tinta hitam.
Meski bekasnya masih terlihat jelas.
Zayn menatap halaman itu cukup lama sebelum akhirnya menutup bukunya perlahan.
Aku seharusnya sudah terbiasa.
Kalimat itu terus berulang di kepalanya.
Tapi anehnya… hari ini terasa sedikit berbeda.
Karena seseorang ikut melihat semua itu.
Suara langkah kaki terdengar dari lorong luar.
Pelan.
Santai.
Tidak terburu-buru seperti siswa lain yang ingin cepat pulang.
Zayn tidak terlalu peduli sampai langkah itu berhenti tepat di depan pintu kelasnya.
“Masih di sini?”
Suara itu lagi.
Zayn mengangkat kepala pelan.
Cyan Azarel Lynx berdiri di depan pintu sambil memegang tas olahraga hitam di pundaknya.
Seragam kelas tiganya sedikit berantakan, rambutnya masih lembap sehabis latihan.
Tapi wajahnya tetap terlihat santai seperti biasa.
“Sekolah udah sepi.”
Tidak ada jawaban.
Cyan mendecakkan lidah kecil lalu masuk tanpa izin.
Ia berhenti di samping meja Zayn.
Tatapannya jatuh pada buku fisika yang masih terbuka sedikit.
“Fisika kedokteran?”
Zayn perlahan menarik bukunya menutup.
“Bukan urusan kakak.”
Cyan terdiam beberapa detik.
Lalu… tertawa kecil.
Bukan tawa mengejek.
Lebih seperti kaget karena akhirnya mendengar Zayn bicara.
“Oh,” gumamnya pelan.
“Jadi lo ternyata bisa ngomong.”
Zayn langsung mengalihkan pandangan ke jendela.
Dan entah kenapa… itu membuat Cyan makin ingin mengganggunya.
“Aga emang nyebelin.”
Kalimat itu keluar tiba-tiba.
Zayn sedikit menegang.
“Kenapa kakak ngomong itu ke saya?”
“Karena emang kenyataannya gitu.”
Cyan menarik kursi depan lalu duduk terbalik menghadap Zayn.
Santai. Seolah mereka sudah kenal lama.
Padahal bahkan ini pertama kalinya mereka berbicara.
“Lo nggak pernah kepikiran buat lawan dia?”
Hening.
Angin sore masuk dari jendela yang sedikit terbuka, membuat tirai bergerak pelan.
Zayn menunduk sebentar sebelum menjawab lirih.
“Kalau saya lawan… semuanya bakal makin ribut.”
“Dan?”
“Saya capek.”
Jawaban itu terlalu jujur.
Sampai Zayn sendiri sedikit menyesal sudah mengatakannya.
Namun Cyan tidak langsung menjawab.
Tatapannya berubah pelan.
Untuk pertama kalinya, ia sadar sesuatu.
Anak ini bukan lemah.
Dia cuma… terlalu sendirian.
Dari luar kelas, suara langkah beberapa siswa terdengar samar menuruni tangga.
Matahari sore mulai tenggelam perlahan di balik awan gelap.
Cyan bersandar malas di kursi sambil memperhatikan wajah Zayn yang terkena cahaya samar dari jendela.
Cantik.
Itu kata pertama yang muncul di kepalanya.
Dan itu membuatnya kesal sendiri.
“Nama lo Zayn, kan?”
“…”
“Kakak tahu?.”
“Ya iyalah,” Cyan tertawa kecil.
Zayn menghela napas pelan.
Orang ini berisik.
Terlalu santai.
Terlalu dekat.
Dan anehnya…
Zayn tidak terlalu membencinya.
Satu jam lagi, Zayn harus sudah sampai di tempat lesnya.
Jaraknya tidak terlalu jauh.
Sekitar satu kilometer dari sekolah.
Biasanya ia berjalan kaki sendirian.
Selalu sendiri.
Zayn memasukkan buku fisikanya ke dalam tas dengan rapi lalu berdiri tanpa suara.
Kursinya bergeser pelan.
Cyan yang sejak tadi duduk santai di kursi depan mengangkat kepala.
“Pulang?”
“Tempat les.”
Jawaban Zayn pendek.
Seperti biasa.
Cyan mengangguk kecil sambil berdiri dari kursinya.
Dan saat itulah Zayn sadar…
kakak kelas itu tinggi sekali.
Tubuh Cyan berdiri tepat di depannya, membuat jarak mereka terasa sempit.
Sekitar dua kepala lebih tinggi darinya.
Bahunya lebar karena latihan olahraga, sementara seragamnya yang sedikit berantakan justru membuatnya terlihat terlalu mencolok untuk ruangan kecil itu.
“Wah…” Cyan melirik jam tangannya sebentar.
“Rajin banget. Gue jam segini biasanya udah nyari makan.”
Zayn tidak menjawab.
Ia mencoba berjalan melewati Cyan, tapi langkahnya berhenti sesaat ketika Cyan tiba-tiba bergerak ikut berjalan di sampingnya.
“Mau apa lagi?”
“Temenin.”
“Tidak perlu.”
“Belum tentu.”
Zayn mengerutkan alis tipis.
“Kenapa kakak suka ikut campur urusan orang lain?”
Cyan memasukkan kedua tangan ke saku sambil berjalan santai di sebelahnya.
“Karena gue orang baik.”
“Itu terdengar seperti kebohongan.”
Cyan tertawa kecil.
Dan suara itu…
anehnya tidak mengganggu.
Lorong sekolah sudah jauh lebih sepi sekarang.
Cahaya sore masuk dari jendela panjang di sepanjang koridor, memantulkan warna keemasan redup di lantai putih.
Langkah mereka terdengar pelan.
Berbeda.
Satu santai.
Satu lagi terlalu hati-hati.
Beberapa siswa yang masih berada di sekolah langsung menoleh saat melihat Cyan berjalan bersama Zayn.
Tatapan heran mulai muncul.
Tentu saja.
Cyan terkenal di sekolah.
Sementara Zayn…
selalu hidup seperti bayangan.
Kontras mereka terlalu jelas untuk tidak diperhatikan.
“Lo beneran jalan kaki ke tempat les?”
“Iya.”
“Setiap hari?”
“Iya.”
“Gila.”
Zayn melirik sekilas.
“Kakak cerewet.”
“Dan lo terlalu pendiem.”
Jawaban itu datang cepat sekali sampai Zayn tidak sempat membalas.
Cyan membuka pintu gedung sekolah lalu menahannya dengan satu tangan agar Zayn bisa keluar lebih dulu.
Angin sore langsung menyambut wajah mereka.
Udara dingin setelah hujan terasa lembap dan tenang.
Zayn menuruni tangga depan sekolah tanpa banyak bicara.
Namun beberapa detik kemudian…
ia menyadari sesuatu.
Langkah Cyan masih mengikutinya.
Zayn berhenti.
“Kakak ngapain ikut saya?”
Cyan ikut berhenti beberapa langkah di belakangnya.
Tatapannya santai. Terlalu santai.
“Kan tadi gue bilang. Temenin.”
“Tidak perlu.”
“Perlu.”
“Kenapa?”
Cyan diam sebentar.
Lalu bahunya terangkat kecil seolah jawaban itu bukan hal penting.
“Karena gue lagi nggak pengen pulang.”
Jawaban asal.
Dan mereka berdua tahu itu.
Namun Zayn terlalu lelah untuk memperdebatkannya.
Ia kembali berjalan pelan menuruni jalanan basah di depan sekolah.
Cyan menyusul di sampingnya.
Suasana sore setelah hujan terasa dingin dan tenang.
Mobil-mobil lewat dengan suara samar, sementara lampu toko mulai menyala satu per satu di sepanjang jalan.
Zayn memegang tali tasnya sedikit lebih erat.
Ia tidak terbiasa berjalan bersama seseorang.
Apalagi dengan Cyan.
Keberadaan kakak kelas itu terlalu mencolok.
Terlalu hidup.
Dan terlalu dekat.
Beberapa siswi yang lewat bahkan langsung berbisik kecil saat melihat mereka.
“Itu Cyan, kan?”
“Dia jalan sama siapa?”
“Bukannya itu anak fisika yang pendiem itu?”
Zayn mempercepat langkah sedikit.
Namun Cyan malah menyesuaikan langkahnya dengan santai.
“Kok buru-buru?”
“Saya nggak suka dilihatin.”
“Biasain.”
“Saya tidak mau.”
Cyan melirik ke arahnya sekilas sebelum tertawa kecil lagi.
Aneh.
Sudah beberapa kali hari ini Zayn mendengar suara tawa itu.
Dan anehnya lagi…
ia mulai bisa mengenalinya.
Bersambung…