Quila menunggu pintu lift terbuka sambil mengetukkan kakinya di lantai marmer yang dingin. Hawa perusahaan ini membuat Quila semakin gugup.
Akhirnya setelah menunggu dua mingguan akhirnya Quila menerima surel penerimaan dari Al Company. Hari ini Quila mulai bekerja setelah kemarin tanda tangan kontrak.
Namun anehnya Quila disuruh untuk datang pukul 11 siang. Sedangkan Quila tau pasti perusahaan ini jam kerjanya dimulai pukul 7 pagi.
Tetapi Quila hanya mengiyakan dan mengikuti arahan yang disampaikan oleh HRD yang menemani Quila untuk tanda tangan kontrak.
Hingga bunyi lift berdenting membuat Quila mendongakkan kepalanya. Quila masuk ke dalam lift dan ketika ingin membalikkan badannya seorang pria berdiri membelakanginya.
Pintu lift tertutup tetapi pria itu tidak minggir untuk memberikan ruang Quila menekan tombol lantai tujuannya. Tetapi ketika melihat lantai 22 yang dituju pria itu membuat Quila mengurungkan tangannya untuk menekan lagi.
HRD yang memberikan arahan kemarin mengatakan jika pukul 11 siang Quila harus sudah sampai dan ke lantai 22. Ingatan Quila yang hanya memuat satu giga membuat Quila melupakan nama HRD kemarin.
"Kau pasti bisa!" ucap Quila sambil menghembuskan nafasnya.
"Gugup dihari pertamamu, Nona Ranjana"'
Quila menatap punggung pria di depannya. Dengan cepat Quila memegang lengan pria itu dan membalikkan badan pria itu.
Benar saja Ares yang berdiri di depan Quila. Bagaimana mungkin Quila sampai tidak familiar dengan aroma parfume mahal yang digunakan pria itu.
"Kau menguntitku ?" Quila menatap Ares dengan pandangan horornya seakan menuduh Ares melakukan tindak kejahatan.
Ares merasa gemas melihat Quila yang begitu mungil dan rapuh berdiri di depannya. Apalagi dengan ekspresi curiga.
Tangan besar Ares langsung menyentil kening Quila yang membuat perempuan itu langsung memegang keningnya dan mengeluh.
"Dasar Psycho! Sakit" ucap Quila sambil mengusap keningnya yang memerah.
"Hey, kau lupa aku kerja di sini. Jadi hilangkan pikiran kotormu" ucap Ares sambil menatap ke depan.
Ketika Quila masih ingin protes tiba-tiba pintu lift terbuka. Ares tanpa mengatakan apapun langsung keluar dan belok kiri.
Quila ikut keluar dan menatap punggung Ares yang menjauh. Hanya ada satu pintu di depan sana. Itu adalah tempat yang harus didatanginya, itu perintah Ibu HRD kemarin.
Quila menenangkan detak jantungnya dan mengatur nafasnya sebelum melangkah dengan percaya diri mendekati pintu itu.
Hingga bertemu dengan satu perempuan dan satu laki-laki yang langsung berdiri ketika Quila mendekati. Meja mereka terlihat mewah dan begitu berkelas. Apalagi tertata rapi yang membuat meja itu nampak elegan.
"Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu ?" ucap perempuan itu dengan senyuman ramahnya yang tulus.
"Ehm... Ibu HRD menyuruh saya untuk datang ke ruangan ini. Saya karyawan baru di sini" ucap Quila
Quila ingat jika orang kemarin menyuruhnya untuk memberikan kartu tanda pengenal yang dimiliki semua pegawai di perusahaan ini.
Dengan cepat Quila merogoh tasnya dan mengambil kartu tanda pengenal itu. Kemudian memberikannya ke perempuan itu.
Ketika menerima tanda pengenal milik Quila. Mereka berdua saling bertatapan dan kemudian tubuh mereka bersikap tegak.
Mereka berdua menundukkan badannya seakan memberikan hormat yang membuat Quila kebingungan sendiri. Dengan kebodohannya Quila ikut menundukkan badannya dengan wajah bingung.
Hingga suara tawa yang membuat Quila kaget dan refleks membalikkan badannya. Ares berdiri di belakang Quila sambil tertawa dengan kerasnya.
Sungguh tawa dan senyum Ares terdengar lembut mengalun di telinga Quila. Tawa yang begitu tulus dan sangat murni.
"Pesawat sudah siap, Mr Alfarell" ucap pria itu yang membuat Ares menghentikan tawanya dan menganggukkan kepalanya.
"Perkenalkan diri dan beri penjelasan kepada Nona Ranjana, Oliv"
Perempuan yang bernama Oliv menganggukkan kepalanya dan menghadap Quila. Senyuman ramah tak luntur dari wajah Ayu perempuan itu.
"Perkenalkan nama saya Oliv sebagai sekertaris Mr. Alfarell. Anda bisa memanggil saya Oliv dan ini Hugh sebagai tangan kanan Mr. Alfarell. Jika Anda membutuhkan sesuatu kami bisa membantu"
Dengan kebingungan yang masih melanda Quila menganggukkan kepalanya dan menatap Ares. Sedangkan pria itu memiringkan kepalanya dengan senyuman mautnya.
"Ehm... Lalu apa pekerjaanku ?" ucap Quila sambil menunjuk dadanya.
"Aku saja yang menjelaskan. Quila, ikut denganku dan Hugh tolong siapkan berkas yang dibutuhkan untuk seminggu ke depan"
Tangan Ares langsung menarik tangan Quila dan menyeretnya menuju lorong sebelah kiri dan membawa Quila menyusuri lorong yang sepi.
Quila bukan orang bodoh dan akan mencari perkara dengan pria di depannya ini. Ares dipanggil dengan sebutaan Mr. Alfarell dan Oliv serta Hugh merupakan bawahan pria ini.
Tentu saja pria ini memiliki jabatan yang tinggi di sini atau jangan-jangan dia adalah pemilik perusahaan ini. Astaga sepertinya Quila sudah membuat masalah.
*_*_*
Ares menatap Quila yang duduk di kursi pesawat pribadinya dengan canggung. Bahkan bisa dilihat dengan jelas jika Quila tidak nyaman dengan posisinya saat ini.
Dengan angkuh Ares melipat kakinya dan mengetukkan beberapa kali. Hal itu membuat perhatian Quila teralihkan.
Perempuan itu sejak tadi duduk dengan meremas-remas kedua tangannya. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh perempuan itu.
"Kita akan kemana, Mr. Alfarell" ucap Quila dengan suara rendahnya.
Sebuah senyuman hampir saja disinggungkan oleh Ares karena melihat tingkah laku Quila. Perempuan itu seperti kelinci yang sedang menunggu waktu untuk dicabut nyawanya.
"Mana panggilanmu yang dulu ? b******k ? Sialan" ucap Ares tetapi tidak mendapat respon yang menggebu-gebu seperti biasanya.
Sialan kenapa Ares tidak suka jika Quila bersikap penurut seperti ini ? Apakah tipenya sudah berubah. Ares sebelumnya sangat suka dengan perempuan patuh
Bahkan semua perempuan yang bertekuk lutut di hadapannya selalu patuh dan penurut. Hanya Quila yang berbeda dan membangunkan sisi primitif Ares.
Sialan!
Ares berdehem dan ingin mengatakan sesuatu tetapi Hugh datang. Hugh menyerahkan dua map kepada Ares.
"Bilang pada Pilot jika kita akan terbang" ucap Ares yang membuat Quila mendongak
"Tunggu! Kita akan kemana ? Aku... tidak membawa apapun dan Kak Akhza ?" ucap Quila dengan wajah paniknya.
"Lakukan tugasmu, Hugh. Aku tidak ingin terlambat" ucap Ares yang membuat Quila panik dan ingin berdiri ikut pergi dengan Hugh.
Namun langsung ditahan oleh Ares dan memaksa Quila untuk duduk. Sebelum akhirnya Ares menyodorkan map yang tadi dibawakan oleh Hugh.
"Tenang saja, aku tidak akan menculikmu. Kita akan pergi bekerja. Itu adalah tugas pertamamu dan anggap saja turnamen pertamamu. Masalah Akhza sudah diberikan pemberitahuan tadi pagi"
"Tunggu! Lalu aku bekerja dibagian apa ? Bahkan sampai pergi ke luar denganmu" ucap Quila yang membuat Ares yang ingin membuka Ipadnya terdiam.
"Dengarkan aku baik-baik pekerjaanmu adalah menjadi tangan kananku untuk menghadapi investor penting dan semua desainmu membuat beberapa kolegaku tertarik. Anggap saja kau adalah orang yang kupromosikan"
"Kita akan terbang ke Singapura selama seminggu. Semua sudah diatur di sana jadi kau hanya perlu bawa otakmu saja"
Quila cemberut mendengar ucapan terakhir yang dilontarkan Ares. Mulut pria itu selalu saja mampu mengiris-iris hatinya, menyebalkan.
"Dengan kata lain kau berada di bawah kekuasaanku sekarang. Kemanapun aku pergi akan selalu ada kau, partnerku"
Entah kenapa Quila selalu merasa jika ucapan pria itu tidak hanya sekedar ucapan biasa. Seakan akan janji yang terselip dan tersembunyi di sana.
Quila seakan bisa mendengar janji yang masih abu-abu itu. Tersampaikan tetapi sulit dimengerti itu mungkin kata yang pas untuk pria di depannya ini