Quila berjalan di belakang Ares yang berjalan di depannya sambil bermain ponsel. Mereka berdua seperti orang tersesat yang berjalan di lorong yang sangat panjang.
Mereka akan menginap di hotel ini. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Setelah mendarat Ares mengajak Quila untuk melihat perusahaan cabang Singapura
Astaga Quila tak menyangka jika teman kakaknya ini sangat kaya dan bahkan menjadi miliader kaya di usia 30 tahunnya sekarang.
Entah bagaimana Kakaknya itu berteman dengan Ares. Namun yang diketahui Quila saat ini adalah Ares bukan orang sembarangan.
Bahkan ketika baru sampai beberapa pria berpakaian hitam sudah menyambut dan mereka langsung membahas bisnis
Sedangkan Quila yang baru saja terjun di dunia kerja seakan sedang terjun bebas tanpa alat bantu. Quila bingung dan terombang-ambing.
Apa yang mereka bahas saja Quila tidak tau. Selama diperjalanan Quila hanya mempelajari Map yang sudah di berikan Ares. Sedangkan pria itu fokus mengerjakan sesuatu di Ipad.
"Mau sampai kapan kau berjalan ?" sebuah suara dari belakang Quila menyadarkan Quila.
Quila membalikkan badannya dan melihat Ares yang menahan tawanya. Rasa malu sudah tidak terhingga di dalam diri Quila.
Sudah berapa kali Quila terlihat bodoh di depan Ares. Urat malunya seakan sudah menghilang dengan sendirinya.
Ares membukakan pintu kamar itu dan Quila memilih langsung masuk. Setidaknya hal itu menghindarinya dari rasa malu apalagi jika di lorong tadi ada CCTV, astaga.
Quila langsung terpukau dengan semua fasilitas di satu kamar ini. Begitu lengkap dan mengagumkan itu adalah kalimat yang pas untuk kamar ini.
Suara pintu di tutup membuat Quila menoleh dan menemukan Ares yang juga ikut masuk. Ares masuk ke dalam kamar seakan tidak memiliki dosa sama sekali.
"Kau kenapa di sini ? Ehm.. Mr. Alfarell, apakah ini kamar anda ? Lalu kamar saya dimana ?" ucap Quila yang langsung membenarkan ucapan yang salah tadi.
"Ini kamar kita tentu saja"
Ares melangkah kakinya mendekati Quila yang perlahan juga melangkah mundur. Quila sadar jika posisinya saat ini tidak menguntungkan jika memberontak.
Di kamar hanya berdua dan dengan pria yang entah kenapa ekspresinya tidak bisa dibaca. Ares tersenyum menatap Quila yang melangkah mundur dan masih berusaha menghindar darinya.
"Ares... panggil aku dengan nama itu" ucap Ares yang membuat Quila menganggukkan kepalanya tanda patuh.
"Ini sudah malam. Dimana kamarku ?"
"Panggil namaku, Quila" desis Ares yang membuat Quila bingung dan masih berusaha menjauh.
"A... Ares" gumam Quila yang tiba-tiba membuat tubuh Ares membeku.
"Bolehkah aku pergi ?" ucap Quila lagi.
Ares mengambil kartu dari dalam sakunya dan memberikan ke Quila tanpa mengatakan apapun. Quila mengambil kartu itu dan segera berlari keluar dari kamar itu.
Ketika mendengar suara pintu tertutup Ares membuka matanya dan meremas rambutnya frustasi. Pengaruh Quila terhadap tubuhnya sangat besar.
Jika saja Ares tidak teringat Quila adalah adik temannya mungkin saja Ares akan menerjang gadis itu dan mengikatnya.
Quila hanya untuk dirinya. Tidak ada yang boleh memiliki gadis itu kecuali dirinya. Itu janjinya
*_*_*
Quila menumpuk beberapa kertas yang merupakan hasil kerjanya. Sudah sebulan Quila kerja di sini. Kerja satu ruangan dengan pria yang saat ini sibuk dengan beberapa berkas besar di mejanya.
Yup Quila satu ruangan dengan Ares. Setelah kembali dari perjalanan itu Ares tiba-tiba memberikan perintah kepada Hugh untuk menyediakan meja kerja untuk Quila.
Dari sekian banyak perusahaan yang pernah di dengar Quila tidak ada satupun pemilik perusahaan minta satu ruangan dengan bawahannya.
Ketika Quila ingin mengambil minumannya tiba-tiba ponselnya berdering begitu nyaring. Quila mengambil ponselnya dan nama Eldo muncul di sana.
Quila merasakan jika sepasang mata tengah menatapnya. Benar saja Ares sedang menatapnya dengan pandangan bertanya.
"Boleh aku angkat ?" ucap Quila ragu karena ini masih jam kerja. Tapi kurang setengah jam lagi jam istirahat tidak apa bukan ?
Ares menganggukkan kepalanya kecil sebelum kembali fokus ke berkas yang dipegangnya. Quila menekan tombol hijau dan menaruhnya di telinga.
"Ada apa ? Ini masih jam kerja, El ?" ucap Quila langsung
"...."
"Kau bisa mengirimiku pesan tidak perlu menelfon" gumam Quila kesal
"...."
"Baiklah, aku kirimkan alamatnya. Kau tunggu di Lobby saja nanti aku ke sana"
"...."
"Ya ya ya, baiklah. Hati-hati di jalan"
Quila menaruh ponselnya dan segera mengetikkan sesuatu di komputer. Sebelum makan siang Quila selalu membuat note di komputernya apa saja yang harus dilakukannya setelah makan siang.
Itu cara Quila agar tidak lupa apa yang belum dikerjakannya. Kurang sebentar lagi jam makan siang jadi Quila berusaha menyicil apa yang bisa dicicil.
Ketukan pintu membuat Quila menoleh dan mendengar suara Ares mengijinkan si pengetuk masuk. Awalnya Quila pikir itu adalah Hugh tapi ternyata seorang perempuan anggun masuk ke dalam ruangan Ares.
Perempuan itu masuk dan langsung berhambur ke pelukan Ares. Sedangkan Ares hanya diam saja seakan tak terganggu dengan perlakukan perempuan centil itu.
"Ares, kau lama sekali tidak ke apartemenku ? Kenapa ?" tanya perempuan itu dengan suara lembutnya.
"Ada banyak tugas, Claire" ucap Ares sambil menanda tangani sesuatu.
"Kau tidak ingin menciumku ?" ucap perempuan itu lagi dengan suara yang tiba-tiba terdengar menggelikan di telinga Quila.
"Jaga sikapmu, tidak hanya ada aku saja di ruangan ini"
Tatapan mata perempuan itu langsung teralihkan dan menatap Quila yang memang sejak tadi menatap mereka berdua. Perempuan itu terlihat terkejut dan menegakkan tubuhnya.
"Dia siapa ? Bawahan kamu ? Kok di sini ?" Ucap perempuan itu yang tiba-tiba terdengar sinis.
"Duduklah. Dia bukan tandinganmu jadi diamlah" ucap Ares yang kembali menyelesaikan tugasnya.
Sedangkan hati Quila memanas mendengar ucapan Ares. Sialan! Bukan tandingan perempuan itu lalu kenapa pria itu selalu menciumnya dulu.
Sialan! Sialan! Sialan!
Quila memilih diam dan segera menyelesaikan tugasnya. Namun ucapan Ares seakan tertanam jauh di dalam otaknya. Entah kenapa Quila merasa tak terima.
Ingin sekali Quila balas dendam ke pria itu. Perasaan yang ditentang Quila dulu sekarang sudah berbeda. Quila menyadari jika perasaan itu, perasaan menggelikan kepada pria yang lebih tua dari kakaknya,
"Quila, bawakan hasil rancangan terbaru Al Company" ucap Ares
Quila yang sedang merencanakan balas dendam di otaknya kaget. Ares menatapnya dengan tatapan menunggu. Quila langsung beranjak dan mengambilkan hasil rancangan yang diinginkan Ares.
Quila berjalan ke meja Ares sambil membawa map. Kemudian Quila berdiri di samping Ares dan menaruhnya di atas meja pria itu.
Ares sama sekali tidak menatapnya dan memilih melanjutkan kerjaannya. Quila kesal karena merasa diabaikan oleh pria itu. Hingga ide gila muncul di pikirannya.
"Bukan tandingan kekasihmu ya. Bagaimana jika aku mengatakan kau pernah menciumku" bisik Quila dengan sangat berani ke Ares.
Quila melirik perempuan yang duduk di sofa ruangan sambil bermain ponselnya. Ares menghadapkan kursi ke arah Quila dan sebuah senyuman terpampang.
"Kau pikir aku takut ?" balas Ares yang membuat Quila awalnya percaya diri seketika menciut. Sialan! Kenapa pria itu memiliki daya tarik yang besar.
"Aku hanya becanda" Quila menegakkan tubuhnya. Ditatap seperti itu oleh Ares bisa-bisa membuat tubuh Quila lemas dan luruh. Jadi Quila memilih mundur saja.
"Aku orang yang serius, Quila"
Ares menarik tubuh Quila dan mencium bibir Quila dengan lembut. Awalnya Quila begitu terkejut dengan apa yang dilakukan Ares. Apalagi hal itu lakukan di depan orang lain.
Namun buaian Ares membuat tubuh Quila yang awalnya berontak menjadi lemas dan meluruhkan tubuhnya. Seketika Quila lupa daratan karena cumbuan Ares.
Tanpa disadari Quila sebenarnya Ares memberikan kode untuk perempuan itu keluar dari ruangannya. Bahkan perempuan itu sampai melepaskan sepatu untuk mengendap-endap keluar dari ruangan.
Ares memperdalam ciumannya. Quila sudah jatuh kepada pesonanya setidaknya harus dimanfaatkan dengan baik. Ini peluangnya