...
“tak ada waktu lagi, kalian harus segera pergi dari sini!” suara Irene terdengar jelas dikedua telingaku, hingga akhirnya kudapati ia berucap seraya mendorongku serta Santos untuk segera keluar dari rumah kami malam itu, “irene.. apa maksudmu?!” “mereka akan datang menangkapmu dan Adrea, kita melakukan sebuah kesalahan Santos! Makhluk itu terpanggil… kalian harus segera pergi sebelum aparat pemerintah menangkap kalian” nafasku jadi tak menentu setelah mendengarnya “apa?! apa yang telah kalian lakukan?!” tanyaku panik , namun mereka sama sekali tidak menggubrisku “lalu bagaimana dengan dirimu?” “aku akan diam di sini, menghalangi mereka mengejar kalian” aku terhentak kaget mendengar ucapannya “tidak! Irene, kau harus ikut dengan kami” ucapku seraya menggenggam lengannya dengan erat, kutatap ia yang kini menatapku seraya tersenyum dan menggeleng “pergilah, aku akan baik-baik saja di sini Adrea” tubuhku tertarik kebelakang karena Santos yang menyeretku segera menjauhi rumah kami ketika suara semacam sirine datang di kejauhan sana “tidak, irene!!” panggilku padanya karena genggamanku terlepas darinya yang masih tersenyum menatap kami yang masuk ke dalam mobil dan menjauh dari sana.
“selamat ulang tahun, Adrea… tetaplah hidup”
Itulah kata yang k****a dari pergerakan bibirnya malam itu, malam terakhir ketika aku bertemu dengannya… malam dimana aku dan Santos berpisah dengan Irene.
Hatiku sakit, amat sakit… merasakan bahwa ada sesuatu yang menusukku hingga kurasakan nafasku tersendat, sukar sekali bagiku untuk menghirup oksigen yang tersedia. Cahaya lampu yang terus melewati kami menerangi mobil ini kian kemari menjadi redup dan gelap.
Penglihatanku yang semula menghitam seketika menjadi rabun dan samar hingga akhirnya kembali menjadi jelas. Dengan nafas yang masih tersengal-sengal, aku bangkit dari sana dan dapat kulihat Rason yang berusaha menenangkanku yang ternyata masih tergeletak di pangkuannya. Aku terkejut bukan main ketika aku menatap tubuhku sendiri di sana tengah mengejang dengan cukup kuat. Kutatap Cassandra yang berlari menghampiri kami dengan raut panik. Kedua pandangku kini menatap wajahku yang saat itu pucat pasi, nafas yang semakin tak terkontrol dan kejangan yang dahsyat. Aku panik, amat sangat panik ketika kudapati diriku seperti itu, mata yang tertuju ke atas hingga tak kudapati pupil indah di sana, kedua tangan yang meremas tanah kering itu, serta kaki yang menendang secara gila-gilaan… aku merasakan bahwa ini adalah hal terburuk yang kualami.
Perasaan panikku kian kemari menjadi tak menentu, kala perlahan nafas sertan kejanganku menjadi pelan. Menyadari hal itu membuatku merasakan bahwa ini tidaklah baik, ya… aku mengetahuinya, aku mendapati diriku tengah sekarat saat ini dan aku seketika merasakan bahwa tubuhku ngilu dan sakit. Jantungku terasa begitu sakit ketika kejangan itu mulai menjadi pelan dan nafasku hampir habis hingga aku memiliki firasat bahwa inilah waktuku, hidupku sudah di ujung tanduk saat ini.
Aku menangis menatap diriku yang menyedihkan itu, namun ketika aku merasa lelah dan menyerah. Kudapati Rason yang mendekati tubuhku di sana dan mulai menciumku, ia memberikanku semacam pasokan oksigen dan berkali-kali memompa paru-paruku agar aku dapat kembali bernafas. Tidak lama aku merasa tubuhku tertarik oleh sebuah tarikan yang amat dahsyat menyakitkan ketika ia kembali memberiku oksigen di sana dan ketiga kalinya aku benar-benar terbangun dan terbatuk hingga aku kembali membuka kedua mataku, yang pada akhirnya diriku kini kembali berada dalam tubuhku dan berfanas tersenggal dan panik.
Aku terbatuk sambil menangis, menatap mereka yang kini menghela nafasnya lega karena berhasil menyadarkanku. ‘serangan jantung’ setidaknya itulah yang dikatakan Cassandra padaku, aku mengalami serangan jantung malam itu. Serangan jantung yang nyaris saja merenggut nyawaku. Aku tidak pernah menyangka serta menduga bahwa aku memiliki penyakit jantung, mengingat diriku masih terbilang muda.
“syukurlah… syukurlah…. hh… syukurlah…” kata itu berkali-kali terucap dari bibir manis Cassandra yang kini menggenggam tanganku dengan eratnya, enggan sekali melepasku meski saat itu Rason menggendongku dan membaringkanku di atas tumpukan jerami dalam gudang itu. Mataku bertemu pandang dengan Rason yang juga menatapku dengan beribu kekhawatiran serta perasaan syukur yang tersorot di sana “beristirahatlah” suaranya amat lembut padaku dan itu adalah nada suara yang ia ucapkan padaku sebelum akhirnya ia meninggalkanku bersama dengan Cassandra yang menjagaku malam itu, hingga aku terlelap karena lelah.
Dua hal yang kudapati meski aku tidak pernah menyangka bahwa aku mendapatkannya malam itu juga. Kematian yang mengejutkan berupa serangan janutng serta ciuman Rason yang membawaku kembali untuk hidup. Setidaknya aku berterimakasih dengan apa yang dilakukan oleh Rason malam itu padaku.
…
Pagi itu aku masih berbaring di atas tumpukkan jerami dalam gudang tempat kami beristirahat, pandangku teralih menatap Rason yang datang membawakan beberapa lembar dedaunan dan memberikannya pada Cassandra untuk kemudian ia racik.
Entah datang dari mana asalnya perasaan sesalku ketika menyadari bahwa perjalanan yang kami lakukan sia-sia dan hanya menyebabkan masalah yang baru, hingga aku membuat mereka kerepotan seperti saat ini “maafkan aku, seharusnya saat ini kita dalam perjalanan pulang “jelasku yang saat ini menghela nafas dan secara tidak sengaja aku bertemu pandang oleh Rason yang menatapku dengan tatapan yang sulit untuk k****a dan kini tatapanku teralih menatap Cassandra yang menggelengkan pelan “tidak… jangan pernah mengatakan hal seperti itu, kita akan pulang setelah kau pulih” senyuman darinya selalu terkembang di sana, membuat hatiku merasa tenang seperti biasa ketika aku menatapnya.
“jangan pernah lagi memikirkan hal yang membuatmu mengejang seperti malam tadi, Adrea” sebuah ucapan yang terdengar penuh dengan rasa kekhawatiran itu membuatku menoleh menatap Rason yang ternyata masih menatapku.
Saat itu Rason menatapku dengan sorot mata yang penuh dengan guratan rasa khawatir padaku, sorot mata khawatir yang persis kurasakan ketika Minor mengkhawatirkanku, sorot mata yang juga terpasang ketika Santos mengkhawatirkanku. Hingga aku sempat lupa dengan apa yang ia ucapkan padaku hingga akhirnya aku kembali bertanya “hah?” tanyaku “apa yang kau pikirkan malam itu?” tanyanya padaku, aku terdiam dan mengingat apa yang kupikirkan malam itu “kurasa dia hanya tertekan dengan peristiwa kemarin” Cassandra menimpalinya, namun Rason segera menggelengkan kepala dan menyangkalnya seraya berucap “yang tak kupahami adalah kau terlihat baik-baik saja ketika melihat jasad-jasad itu, eum… maksudku tidak sampai terkena serangan jantung, jadi kemungkinan ada hal lain yang membuatmu tertekan selain ini, apakah dugaanku benar?” kembali ia bertanya padaku dan tentu hal itu membuatku praktis diam membeku, ya itu juga menjadi hal yang aneh bagiku. Aku merasa bahwa jantungku baik, dan bahkan aku hanya merasakan sedih ketika melihat jasad-jasad mereka pada saat itu, lalu… kenapa aku merasa tertekan hingga terkena serangan jantung ketika memikirkan motremus? Kedua pandangku kini menatap Rason yang masih menatapku untuk meminta penjelasan dan aku hanya memilih untuk diam dalam seribu bahasa, tak menjawab pertanyaannya atau lebih tepatnya aku enggan untuk menjawabnya, hingga pada akhirnya ia mendesah di sana dan mengangguk dan berkata “tak apa, setidaknya kau kembali kemari … dan kuharap kau tidak menekan dirimu sendiri seperti malam tadi” itulah yang ia ucapkan, pandangan kami terputus ketika kedua mataku menatap sebuah cangkir yang disodorkan oleh Cassandra padaku.
Kutatap cairan hijau yang kental “apa ini?” tanyaku padanya dengan nada yang melengking yang membuatnya tersenyum dengan cerah seraya berucap “minumlah, ini obatmu” segera kututup hidungku ketika kuhirup aroma yang tidak mengenakkan dari dalam carian itu “apa ini??!” tanyaku lagi seraya menunjuk kearah titik-titik hitam yang muncul begitu saja diantara cairan hijau tersebut “kau tidak perlu tahu apa itu, minum saja dan kau akan segera pulih setelah menghabiskannya” kembali ia sodorkan cangkir itu padaku hingga kujengitkan kepalaku ke atas dan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan bau dari cairan hijau yang amat kental yang berada dalam cangkir yang terbuat dari tempurung kelapa itu. Keraguan saat meminum cairan itu datang, tanganku mulai bergetar. Otak serta tubuhku sinkron merasa tidak ingin meminumnya, namun kupaksakan untuk meminumnya hingga habis ketika tak sengaja pandangku bertemu dengan Cassandra yang saat itu menganggukkan kepalanya dalam upaya untuk membujukku.
Kalian akan mengetahui sensasi ketika cairan itu masuk ke dalam mulut dan mengalir dengan perlahan dalam tenggorokanmu. Rasanya pahit, sangat pahit dan baunya menusuk hingga kau mampu menciumnya dari dalam tubuhmu sendiri, rasanya bernafaspun tidak ingin kau lakukan karena bau itu akan ikut tercium juga. Kepalaku terasa seperti digerayangi oleh sesuatu yang sangat kecil dan banyak, itu menggelikan namun cukup mengganggu hingga kuputuskan aku sangat tidak suka dengan semua sensasi itu.
Aku menghela nafasku dengan lega ketika cangkir itu menghilang dari pandanganku dan tergantikan oleh secangkir air putih, dengan tidak sabar kuraih dan kuteguk seluruh air yang ada di dalamnya hingga tak bersisa. Merasa lega karena rasa pahit yang sempat menempel kini menghilang di mulutku, meski bau yang tak mengenakkan itu masih sedikit terasa namun setidaknya ini lebih baik dari yang semula.
“jangan pernah kau berikan cairan itu padaku, aku tidak menyukainya” jelasku padanya yang kini tertawa seraya berucap “kalau begitu kau harus tetap kuat dan tidak selemah ini”. ucapannya kala itu membuatku terdiam merasa malu dengan diriku, ya… tubuhku adalah yang paling lemah diantara teman-temanku, mungkin itu karena pengaruh tertidur begitu lama di dalam es. Kutatap Cassandra yang menepuk bahuku dan kembali berucap “beristirahatlah untuk beberapa jam, setelahnya tubuhmu pasti akan membaik” mau ataupun tidak aku memaksakan diriku untuk beristirahat, demi kebaikan kami semua. Agar kami dapat secepatnya pulang kembali ke serenus.
…
… …
Aku termenung dalam diamku, pikiranku kembali kepada memori mimpi yang teracak saat itu, awal aku mengetahui bahwa Motremus menginginkanku dan kakakku yang berusaha melindungiku adalah karena ia dan Irene pelakunya.
“...kita melakukan sebuah kesalahan Santos! Makhluk itu terpanggil…”
Ucapan Irene malam itu terus terngiang di kepalaku, jadi merekalah awal penyebab ini semua??? apa kesalahan yang mereka lakukan?!. pertanyaan-pertanyaan itu mengiang dikepalaku, namun sebuah suara akhirnya mampu membuatku mengesampingkan itu, ketika kembali kudengar sebuah percakapan antara Rason dan Cassandra di luar sana.
…