Suara mereka sayup, namun aku masih dapat mendengarnya “...apa maksudmu?” “kita akan menginap beberapa hari lagi di sini, tubuhnya tidak akan kuat bila kita berangkat besok”.
Sayup-sayup kudengar percakapan Rason dan Cassandra dalam tidurku “tapi aku telah memberinya obat, dan kurasa tubuhnya akan membaik besok” itulah yang kudengar dari mulut Cassandra “Cassandra, aku tidak mau ada yang terluka dan aku juga tidak akan mengambil konsekuensi yang besar, kita akan menginap beberapa hari lagi hingga ia benar-benar pulih dan kita akan kembali setelahnya, paham?!”kini suara Rason mendominasi di sana “di sini terlalu berbahaya, Rason! Peluru kita sudah tidak cukup bila kita terlalu lama tinggal di sini” kali ini Cassandra berucap dengan suara yang khawatir “tenanglah, kita bisa melewatinya” dan itulah yang kudengar selanjutnya.Tubuhku masih terasa lemas saat ini, dan aku juga ingin beristirahat lebih… tapi Cassandra benar, kita tak akan bisa bertahan lebih lama karena persediaan peluru menipis begitu banyak.
Rasa sesal dalam diriku masih menghantuiku dan kian membesar, hingga pada akhirnya aku memaksakan tubuhku untuk bangun di pagi buta dan meminta mereka untuk kembali memulai perjalanan pulang ke Serenus. “apa kau yakin?” pertanyaan Rason terkesan seperti mengintimidasi diriku yang kini menganggukkan kepala “aku yakin aku sudah baik-baik saja” terangku padanya, dan akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan di waktu subuh.
…
Kami masih melangkahkan kaki meski terik mentari semakin menyengat dan terasa seperti membakar punggung serta kepalaku, langkahku limbung dan aku nyaris terjatuh bila Cassandra saat itu tidak menahanku dengan kedua tangannya “kau baik?” tanya Cassandra, kuanggukan kepalaku dan kembali berdiri dengan normal “yeah” jawabku seadanya, tenggorokanku terasa amat kering saat ini “sepertinya kita harus beristi..-
Ucapan Rason menggantung ketika kami mendengar suara-suara dari arah utara, hal itu membuat kami segera saling berdekatan dan menyiapkan senjata kami.
Srak!!
Kami menoleh dan menodongkan senjata kearah yang sama, ke arah seseorang yang kini sama-sama terperanjat dan menodongkan senjatanya juga pada kami. Kedua mataku terbelalak menatapnya, ya… seseorang yang tidak asing bagiku. Seseorang yang selama ini ku khawatirkan.
“Minor” panggilku dengan suara seadanya,ya.. dia kini menoleh kearahku dan terperanjat melihatku sebelum akhirnya tersenyum dengan lembut. Senyuman itu, ya… itu adalah senyuman yang selalu kurindukan. “Adrea?!” kedua mataku kini beralih menatap seorang wanita yang juga kukenali saat itu “Julia” panggilku padanya, tak ada yang berubah selain rambut julia yang semakin panjang “kau mengenal mereka?” tanya Rason yang menatapku, segera ia turunkan senjata itu ketika kuanggukan kepalaku.
Kutatap Minor yang kini berjalan dengan segera kearahku dan memelukku dengan sangat erat “bodoh! Selama ini kemana kau? Aku benar-benar khawatir, kau membuatku mati saat itu. Kau tau?!” bisiknya padaku, aku menganguk dan membalas pelukan itu dengan kuat, berulangkali aku mengucap rasa syukur di dalam hati karena mereka masih berada di sini dan aku masih dipertemukan oleh mereka kembali. Aku menangis bahagia sekaligus sedih, emosiku tercampur ketika aku merasakan pelukan darinya. “syukurlah kau selamat” pandangku beralih pada Julia yang tersenyum di sana, kembali kuanggukan kepalaku.
Cukup lama Minor memelukku dan ia melepaskan pelukan kami, kini kedua matanya menoleh menatap Rason dan Cassandra, menyadari bahwa aku harus mengenalkan mereka dan akhirnya aku segera berucap “ah! Mereka adalah orang yang menyelamatkanku, Rason dan Cassandra” jelasku pada mereka yang kini tersenyum, Minor menjabat tangan Rason “terima kasih karena telah menyelamatkannya” kutatap Rason mengangguk di sana, ada yang berbeda dengan tatapannya saat itu.
Jelas sekali maksud dari tatapan yang ia pasang di sana, tatapan curiga serta was-was yang ia perlihatkan saat itu membuatku menyenggol lengannya “mereka teman baikku” jelasku padanya yang kini akhirnya mengangguk mengerti dan tersenyum tipis.
“apa yang kalian lakukan di sini?” pertanyaan Julia saat itu membuatku menatapnya dan memasang raut yang cukup sedih “mereka mengantarku untuk pulang ke rumah dan ketika sampai… itu sangat mengerikan, apakah tak ada lagi yang selamat selain kalian??” aku menoleh menatap mereka berdua yang kini saling bertatapan “tidak banyak dari kami yang selamat Adrea, hanya aku Minor, Mark dan Albert” penjelasan Julia membuat perasaanku tidak karuan, namun ketika Minor mengusap bahuku dengan lembut, sebisa mungkin aku tersenyum menatap mereka berdua “setidaknya aku bersyukur, kalian selamat” kutatap ia yang mengangguk dan tersenyum padaku “eum… bolehkan aku bertanya? Kenapa hanya kalian yang bisa lolos dari Malea? Dan kenapa jasad-jasad di gedung itu kalian biarkan begitu saja?” sebuah pertanyaan yang terlontar dari Rason membuatku menoleh menatapnya dan berpikir bahwa ada benarnya juga pertanyaan itu, kenapa mereka tidak memberikan setidaknya ‘pemakaman’ yang baik untuk mereka, melainkan pergi begitu saja.
Kulirik mereka yang kini saling bertatapan sebelum akhirnya Minor berucap “setelah kau jatuh, aku mengalami banyak kendala saat menyelamatkan Julia dan Mark, teman-teman kita juga di serang dalam gedung pada saat yang bersamaan. Setelah aku berhasil menyelamatkan julia, kami segera berlari menyelamatkan diri, menyadari bahwa peluru yang kugunakan sudah habis untuk menembaki malea yang datang setelah kau membunuh salah satu malea yang hampir menyerangku saat itu. Kami tidak membersihkan jasadnya karena…. karena kami terlalu takut untuk kembali ke sana” jelas Minor, aku merasa bersalah karenanya. Ia terlihat begitu tertekan dengan kejadian tersebut hingga akhirnya kugelengkan kepalaku dan mengusap bahunya “itu bukan salahmu Minor, tak apa… kami sudah membersihkannya untuk kalian. Benarkan, Rason?” kualihkan pandangku pada Rason yang kini menatap kami dengan tatapan sulit diartikan, namun ia dengan diam mengangguk setuju di sana.
Cukup sedih, namun aku bersyukur setidaknya mereka selamat dari para monster itu. “dimana kalian tinggal saat ini?” kutatap Rason yang kini bertanya pada Minor dan Julia “tidak jauh dari sini” jawab Julia, aku tersenyum lega mendengarnya, setidaknya mereka mendapatkan tempat berlindung yang aman “hari ini sudah hampir gelap, bagaimana kalau kalian beristirahat di tempat kami?” tawaran Julia saat itu membuatku mengangguk dan beralih menatap Rason dan Cassandra “Julia benar, ini sudah hampir sore… kurasa kalian harus beristirahat sebelum pulang” kutatap Rason yang kini beralih menatapku, dengan jelas kutatap salah satu alisnya terangkat seraya menatapku “kalian??” tanyanya, kuanggukan kepalaku menanggapinya “jadi kau akan menetap di sini??” tanyanya lagi, entah ada apa dengan suaranya yang kini sedikit melengking di sana. Yang kurasa bahwa suara itu menandakan ketidak setujuannya dengan kalimat ‘kalian’ yang diartikan hanya Rason dan Cassandra yang pulang.
Kuhela nafasku dan kuanggukan kepalaku seraya menjelaskan lebih jelas padanya “aku sudah menemukan mereka, setidaknya hanya mereka yang kupunya saat ini” kutatap ia dan Cassandra yang kini menatapku dengan tatapan yang sedikit aneh bagiku, seolah mereka tidak menginginkan kata itu dariku “jadi aku akan tinggal di sini, Rason” sambungku, kini Cassandra yang menatap Rason bergantian menatapku dengan ragu “kau serius?” tanya Cassandra dan kini kuanggukan kepalaku seraya tersenyum padanya “baiklah kalau begitu, kami akan menginap satu malam dan kami akan pulang besok pagi” pandanganku kini beralih menatap Rason yang menatapku dengan lekat, aku tersenyum dan menganggukan kepalaku, pada akhirnya kamipun bersama-sama pergi menuju ke kediaman Minor dan Julia.
Kami melangkah cukup jauh dari tempat awal kami bertemu, menelusuri beberapa semak berduri hingga akhirnya kami melewati dua buah pohon besar yang berdiri kokoh dimasing-masing sisi layaknya sebuah gapura yang amat besar, sebelum akhirnya kami melihat beberapa gubuk besar terbuat dari jerami dan batang kayu jati yang besarnya bukan main, yang kemudian di sususn sedemikian rupa.
Sepi, untuk ukuran banyak sekali gubuk di sini. terlalu sepi bila hanya empat orang yang menempati tempat ini, kabut tipis juga sedikit menggangguk penglihatan kami “apakah benar ini tempatnya, Minor?” tanyaku pada Minor yang saat itu mengangguk dan tersenyum “ya, ini tempatnya… dan secara kebetulan juga kami bertemu dengan orang-orang di sini” kulirik pandangku pada Minor yang baru saja menjelaskannya “kalian bertemu dengan yang lainnya?” tanyaku padanya yang kini mengangguk di sana “mereka cukup ramah dan baik pada kami” kini pandangku beralih pada Julia yang tersenyum di sana, aku bersyukur.. sangat bersyukur setidaknya mereka juga menemukan orang baru di wilayah ini. “adrea?!” sebuah panggilan membuatku menoleh menatap kearah lelaki bertubuh tinggi namun kecil itu, memiliki paras asia yang dianugerahkan hidung mancung sempurna, kulit kuning serta sorot mata tajam berwarna hitam pekat yang amat kukenali “Mark!” panggilku padanya yang kini segera berlari dan memelukku dengan erat “ah, aku pikir kau … bukankah… oh… apakah ini mimpi, Julia?!” aku, Minor dan Julia terkekeh mendengar ucapan Mark saat itu, pandangku teralih menatap Rason yang kini menatap kami dengan penuh rasa kecemasan di sana, namun ketika pandang kami bertemu aku berusaha semanis mungkin untuk tersenyum padanya dan menggumam bahwa ini baik-baik saja sehingga ia mengangguk pelan di belakang sana.
Siang itu terasa amat panjang, aku bertemu dengan Albert… temanku, lelaki berkulit hitam dengan otot yang memenuhi tubuhnya di sana amat terkejut kala melihatku berdiri tepat dihadapannya yang kala itu tengah membawa semacam wadah yang terbuat dari kaleng tua besar yang ia isi dengan air dari danau yang katanya tidak jauh ada di sekitar sana, dia sempat memelukku dengan amat erat sebelum akhirnya kami berpisah karena dia harus segera membawa air itu ke penampungan.
Aku berjalan beriringan dengan Minor dengan Rason dan Cassandra yang selalu mengikuti langkah kami, awalnya Minor menawarkan Rason untuk beristirahat di salah satu gubuk yang ada di sana, namun ia segera menolaknya dan berkata bahwa ia juga akan sangat senang jika berkeliling bersama dengan kami.
Kini, kami berdiri tepat di samping danau yang sempat Minor ceritakan padaku. Tempat sumber air satu-satunya yang mereka andalkan saat ini, langit yang kala ini lembayung memperindah pemandangan danau hari itu “Adrea, aku sangat bersyukur karena kau ada di sini” kutatap Minor yang kini tersenyum padaku “aku juga…” jelasku padanya, kudapati pandangnya kini beralih menatap ke arah Rason yang saat itu tengah berdiri jauh disana bersama dengan Cassandra yangtengah membasuh tangannya dan mengisi botol yang ia bawa untuk persediaan air nantinya “aku juga beryukur karena mereka menemukan dan menyelamatkanmu, setidaknya mereka disini akan membuat yang lain menerima dirimu juga… kau ingin ikut bersamakukan?” sedikit tidak memahami apa yang ia katakan membuatku mengerenyit dan kemudian tersenyum mengangguk menyetujui ucapannya saat itu “tentu, aku ingin ikut bersama dengamu” jelasku.
“Minor!” sebuah panggilan membuat kami semua menoleh ke arah seorang lelaki muda tampan yang berdiri diatas batu sana.