Kedua pandangku kini terus memerhatikan garis hitam panjang bergelombang dengan beberapa tikungan tajam layaknya garis abstrak yang pastinya memiliki makna di setiap tikungan yang berbeda itu “apakah ini sungai?” “ya, kami menyebutnya sebagai Valles karena terhimpit tebing panjang dikedua sisinya” kutatap dia dengan tatapan tidak percaya, bibirku praktis terangkat dan menyeringai memperlihatkan gigi-gigiku yang rapih “lembah? Khkh… kau menamai tebing yang dibawahnya terdapat aliran air deras itu sebagai lembah?” dia mengangguk dan aku tertawa, tubuhku praktis sedikit melengkung ke belakang karena ulahku yang tertawa terlalu berlebihan.
“hahaha, hei… asal kau tau saja aku terjatuh dari jurang, bukan bukit.” kuputar kedua bola mataku dan menggeleng, kadang kala aku tidak mengerti dengan jalan pikirannya. ya.. meski aku baru saja mengenalnya, sekitar eum… 2 setengah hari dari sadarku, namun tetap dia adalah orang yang aneh malah terlewat aneh bagiku.
Tawaku seketika terbungkam saat ia menjelaskan kenapa wilayah itu ia sebut dengan lembah, dia mengatakan bahwa ketika musim dingin tiga belas tahun lalu, tempat itu memanglah sebuah lembah yang dihimpit dua bukit yang setelahnya mengalami perubahan drastis akibat datangnya Malea di wilayah itu. Itu dulunya adalah tempat tinggal mereka para pengungsi, yang lebih tepatnya adalah tempat yang aman, namun wilayah itu hancur oleh sesuatu yang tidak dapat di prediksi dan berakhirlah dengan jurang gelap yang menakutkan.
Aku praktis tertegun melihat Rason yang tersenyum getir di hadapanku seraya kembali berucap “itu adalah masa sulit ketika aku harus merelakan beberapa hal yang sangat berharga bagiku, dan aku tidak mau mengingatnya meski itu selalu terngiang di kepalaku” kutelan salivaku dan tenggorokanku terasa begitu tercekat, aku merasa malu dengan sikapku tadi… aku mengambil kesimpulan dengan begitu cepat tanpa bertanya terlebih dahulu mengenai mengapa nama itu diberikan, tidak dapat kugambarkan apa yang terjadi jika aku yang melihatnya secara langsung, kediaman Rason saat ini membuatku yakin bahwa korban yang berjatuhan tidaklah sedikit.
“m..maaf” kata itu praktis kulontarkan dan membuatnya menggelengkan kepala “tidak, itu adalah hal yang tidak perlu disesali… jadi, kiranya dimana kau terjatuh?” aku menganggukan kepala dan kembali terfokus pada peta itu ketika Rason kembali memusatkan topik pembicaraan kami, sebelum akhirnya aku memfokuskan kepada sebuah wilayah “kemungkinan aku terjatuh di sepanjang Valles ini” “jadi kau akan mulai mencari mereka dari ujung Valles ini? Ke sisi lainnya?” kutatap dia yang kini menatapku sebelum akhirnya kuanggukan kepalaku dengan mantap “ya, aku akan menghintari lembah ini.” kutatap dia yang kini nampak seperti berfikir “umm, kira-kira butuh berapa hari aku sampai ke tempat ini?” kulirik ia yang kini tersadar dari dunianya dan kini membalas menatapku “tujuh atau sembilan hari, tergantung jalur yang akan dilalui” kuanggukan kepalaku, perkiraan satu minggu dan aku akan sampai. Aku tersenyum dan yakin bahwa aku dapat melakukannya. “oke, kalau begitu aku akan pergi kesana!” jelasku penuh dengan antusias.
Entah apa yang kurasakan, namun aku merasakan begitu berenergi seolah petualanganku baru saja akan dimulai. Atau lebih tepatnya perjalananku untuk kembali ke rumah baru saja dimulai.
“baiklah, kita akan pergi ketika fajar datang” Kedua pandangku praktis menoleh padanya yang baru saja menggulung peta dan memasukannnya ke dalam sebuah ransel, ku telengkan kepalaku “ maaf, tapi apa yang kau maksud dengan kata kita??” pertanyaanku mendapat anggukan darinya “ya, aku, kamu dan Cassandra. Kita akan pergi mengantarmu”.
Mataku praktis terbelalak dengan lebar, separuh mendengus dan menggeram mendengar penjelasannya, tidak… aku adalah orang yang tidak ingin melibatkan banyak orang di dalam urusanku. Selagi aku dapat melakukannya sendirian, aku tidak membutuhkan bantuan siapapun. Kutatap ia yang kini menatapku “ada apa? Ayo bersiap!” kugelengkan kepalaku dan berlari menghentikan langkahnya dengan berdiri tepat di hadapannya dan mengangkat kedua telapak tanganku sejajar dengan dadaku.
“tidak … tunggu, kau tidak harus ikut... Kalian tidak harus ikut” jelasku lagi, pandangku dapat melihat keningnya yang kini berkerut tidak suka di sana “eum, maksudku… aku bisa melakukannya sendiri. Lagipula aku tidak suka membebani orang la…in” suaraku praktis mengecil ketika ia melangkah maju mendekatiku dengan tatapan tajamnya yang praktis membuatku seketika melangkah mundur untuk menjauhinya yang kini berucap “dengarkan, Adrea Hunt! Tidak akan menjadi masalah bila kau benar-benar bertemu dengan kawan-kawanmu dan itu akan menjadi masalah jika ternyata kau bertemu dengan hal lainnya.”
Aku yang sempat menahan nafasku kala itu, kini menghembuskannya dengan pelan, bersiap hendak berucap dan memikirkan segala macam alasan serta bersiap untuk melakukan semacam ‘argumen’ yang selalu kulakukan pada Minor ketika aku tidak setuju dengan pendapatnya, namun terbungkam begitu saja ketika ia menyela dan bertanya “katakan padaku, apa yang akan kau lakukan jika Malea lah yang kau temui??” diam, kulirik kanan dan kiri untuk mencari sebuah jawaban sebelum akhirnya kutatap ia dan menjawab “menghabisi mereka tentunya!” nadaku melengking saat ini, itu menandakan bahwa aku panik atau bahkan resah… beruntung dia bukanlah Minor dan Julia yang memahami diriku dan kebiasaanku tersebut “bahkan senjata pun kau tidak memilikinya” aku kembali menahan nafasku ketika merasa bahwa dia memukul keras jawabanku yang terbilang main-main itu.
“setidaknya kau pasti meminjamkan satu untukku!” “dengar! aku akan mengantar sampai ke tujuanmu dan memastikan bahwa kau kembali dengan keadaan baik-baik saja. Karena jika kau tidak mengidzinkanku untuk ikut dan kau bertemu dengan Malea di hutan sana, maka aku akan sangat menyesal karena telah memperlihatkan peta ini padamu” kutelan ludahku dan sedikit berjengit mendengar ucapannya, tatapannya yang sempat nyalang padaku kini menghilang bersamaan dengan dirinya yang meninggalkanku di gubuk itu.
Sedikit sebal karena dia begitu keras kepala dengan keputusannya untuk ikut mengantarku, namun apa boleh buat… yang dia ucapkan ada benarnya. Yang kutahu aku memang tidak akan sanggup menghadapi malea dengan tanganku sendiri. Terlebih lagi aku tidak mengetahui rute yang baik menuju Valles tersebut.
…
Aku duduk di antara banyak sekali barang yang berserakan, teralas daun yang tersusun rapih di atas tanah dalam gubuk itu. Ku masukan dan kususun barang-barang itu ke dalam kantung yang sempat Cassandra berikan beberapa saat yang lalu padaku. Kedua mataku bertemu pandang dengannya yang baru saja datang dengan beberapa perabotan lainnya seperti belati, pisau lipat dan sebuah Hand Gun.
“gunakan ini untuk melindungi dirimu” kutatap Hand Gun yang baru saja ia berikan padaku “maaf, aku merepotkan kalian” kutatap ia dengan penuh penyesalan, ya… sebenarnya tidak masalah bila Rason memaksa untuk ikut tapi bila Cassandra juga ikut atas perintah Rason, aku rasa itu kurang adil.
Aku seperti membebani anak ini. “ tidak, tidak… kami tulus membantumu” suaranya terdengar lembut ketika menyangkal ucapanku disertai dengan senyuman manis yang selalu ia perlihatkan untukku, membuatku ikut tersenyum karenanya.
“terima kasih, sebenarnya aku juga tidak begitu mengerti rute yang baik menuju Valles” ucapku sedikit merasa malu padanya yang kini mengangguk mengiakan “oh, apakah kita akan memanjat jurang itu, nantinya?” itulah satu hal yang menjadi tanda tanya besar di kepalaku sedari tadi, dan kekhawatiranku itu menjadi sirna ketika ia menggelengkan kepala dan menjawab “Rason mengatakan bahwa kita akan menghintari dan melewati rute lain untuk menuju ke atasnya” jelasnya, ya… mana mungkin kita memanjat jurang yang tingginya bukan main tersebut. Setelah kupikir-pikir kembali, aku cukup bodoh karena memikirkan jalur itu (memanjat jurang).
Suara dentangan dari lonceng yang berbunyi cukup keras saat itu mampu membuatku terperanjat dan menatap Cassandra dengan kagetnya “suara apa itu?” cicitku dengan pelan. Malam yang biasanya sunyi kini terasa amat menekanku setelah suara lonceng yang berdentang berkali-kali di wilayah tersebut dan ribuan mata yang tertuju padaku.