Malam itu kudengar dentangan lonceng berbunyi begitu kerasnya, membuatku terperanjat dan menoleh menatap Cassandra yang tengah memasukkan seikat tali tambang ke dalam salah datu tas kami “suara apa itu?” tanyaku menatapnya yang kini sempat menoleh ke arahku dan beralih menatap tirai gubuk itu.
“itu panggilan untuk kita berkumpul, kurasa kak Rason akan memberi informasi mengenai kepergian kita pada yang lainnya malam ini, Ayo!” aku terbawa olehnya yang menarik lenganku untuk bangkit dan kini kami melangkah meninggalkan gubuk itu, berjalan menuju lapangan yang sudah dipenuhi oleh orang-orang di sana, mungkin sekitar 50-60 orang dewasa serta remaja yang hadir di sini.
Malam yang tenang memperlihatkan rembulan yang bersinar dengan terang, pandangku kini teralih menatap Rason yang berjalan menuju sebuah gundukkan kayu yang kuyakini sebagai mimbar atau semacamnya. Setelah sebelumnya ia menaiki gundukkan kayu itu, kedua matanya kini bergerak menatap satu persatu orang yang ada di sana dan akhirnya memberikan sebuah pernyataan.
“aku dan Cassandra akan berkelana mengantar saudara kita untuk kembali bersama dengan keluarganya. untuk itu kepemimpinanku sementara akan di ambil alih oleh Yevan Kent” kurasakan suasana di lapang itu seketika berubah, keheningan tergantikan oleh keluhan serta bisikan-bisikan tidak setuju terhadap apa yang di ucapkan oleh Rason.
Jujur, aku sama sekali merasa tidak nyaman dengan hal ini. Begitu jelas kulihat mereka semua amat bergantung pada Rason, dia adalah seorang pemimpin yang mereka butuhkan saat ini. Perasaan tidak nyaman ini membuatku memutuskan untuk menundukan kepalaku, menatap tanah yang telah mengering dari basahnya hujan deras kemarin sore, aku melakukannya tidak semata-mata hanya ingin menatapnya, namun karena perasaan tidak nyaman pada mereka-mereka yang tidak setuju dengan pernyataan Rason mengenai misinya untuk mengantarku pulang.
Pandangku kini beralih segera menatap Rason yang dengan lantang mengucapkan “Dengar! Bukankah kita memiliki prinsip untuk saling membantu dan menolong sesama? Itulah yang dilakukan oleh para pemimpin kita sebelumnya dan kini aku juga akan melakukan hal yang serupa. Terima atau tidak kalian harus menerimanya!” sebuah keputusan mutlak dari Rason membuat mereka-mereka yang berkumpul di lapang itu terbungkam. Tak ada satu pun suara atau bisikan mengenai penolakan yang terdengar, mereka semua tidak dapat melakukannya lagi. Seperti seorang pemimpin yang bertindak otoriter, yang memaksa para warganya untuk menerima apapun keputusan dan tindakan yang Ia lakukan.
“tenanglah, kami akan segera kembali setelah kami menemukan keluarganya” suara lembut serta kata-kata menenangkan hati terucap dari bibir Cassandra yang saat itu berada tepat di sampingku, kutatap kedua matanya kini menatapku serta menganggukkan kepalanya membuatku menghembuskan nafas dengan dalam dan ikut tersenyum di hadapannya meski sebenarnya aku masih merasa tertekan karena mengetahui bahwa sesungguhnya mereka tidak perlu melakukannya sampai sejauh ini.
…
…
Kudapati diriku terduduk disebuah tempat yang kuyakini adalah dapur, ya.. banyak sekali alat-alat canggih disini, seperti kulkas, mesin kopi, oven dan yang lainnya.
“jadi apakah kau ingin memotong kuenya sekarang?” kulirik lelaki bermata biru yang selalu kuimpikan itu kini mengenakan baju semacam kaos oblong putih serta celana pendek hitam sebatas lutut yang kini berlalu menuju kulkas demi mendapati sebuah botol minuman disana. Aku menggeleng menjawabnya “kita tunggu Irene, dia berjanji padaku untuk datang!” terdengar seperti merajuk bagiku saat itu dan hal itu membuat lelaki bermata biru terkekeh dan mengangguk dihadapanku. Kami menunggu dan terus menunggu, hingga
BRAKKK!!!
Sebuah suara pintu yang terbuka amat keras mengejutkanku, sampai-sampai aku tak sadar sedikit melompat karenanya. Kulirik pada seorang wanita yang memiliki paras wajah kecil, bermata bulat dengan sorot mata lembut berwarna hazel, hidung yang kecil mancung serta bibir yang tipis berwarna pink, tidak lupa dengan pipi yang dihiasi frekless membuatnya terkesan seperti peri imut yang lucu. Seperti yang sudah dikatakan olehku bahwa ia adalah peri yang imut, maka badannya juga begitu mungil dengan bentuk tubuh S line yang tinggi hanya berkisar 156 CM. Dia amat cantik, namun kecantikannya saat itu hilang entah kemana ketika wanita mungil yang kini berdiri diambang pintu itu, menatapku dengan mata yang terbelalak, aku sempat terkejut karena ia lah pelaku pembukaan secara kasar pintu dapur tersebut “Irene?””ini gawat! Adrea cepat kemasi barangmu!”
Suaranya nyaring ditelingaku, hingga akhirnya aku membuka kedua mataku karena suara itu sangatlah nyata dan masih terngiang di telingaku, kudapati tak ada siapapun di dalam gubuk itu selain diriku. Nafasku sedikit memburu, teringat dengan raut wanita mungil itu… tidak marah, dan tidak pula senang… tapi, raut itu menandakan bahwa ia amat ketakutan saat itu. Terlihat jelas dari parasnya yang nampak pucat, keringat dingin serta kedua tangan yang bergetar. Ingatanku terus menggambarkan wanita mungil itu, dia yang menatapku dengan amat khawatir “siapa wanita itu?” gumamku, namun detik kemudian aku mengingat namanya “Irene…” bisikku di sana, itu adalah wanita yang kutunggu-tunggu di malam ulang tahunku saat itu. Dia memang datang, namun… ada sesuatu hal yang amat buruk hingga aku merasakan bahwa tubuhku panik tanpa sebab saat ini, “apa yang terjadi pada kami saat itu?” gumamku dalam kesendirian di waktu yang amat sunyi, di malam yang kala itu sudah hampir digantikan oleh waktu pagi.
…
Langkah demi langkah kutelusuri jalanan setapak yang samar terlihat, menembus kabut yang tidak begitu tebal namun terasa amat dingin hingga menusuk kulitmu, pandangku kini teralih kala kutatap semacam sebuah menara yang terbuat dari batang pohon yang besar yang di desain sedemikian rupa hingga menyerupai rumah pohon nan tinggi, yang mereka pergunakan untuk memantau sekaligus membatasi area ini. Berjalan beriringan dengan Rason dan Cassandra yang sempat menungguku di luar gubuk tadi pagi, mereka menunggu kesiapanku saat itu tanpa memberitahukan bahwa mereka sudah siap untuk pergi.
Langkahku terhenti menatap mereka semua tengah berdiri menunggu kami tepat di samping menara itu. Ketika mendapati kami, beberapa pemuda dan pemudi itu kini berbaris secara memanjang kesamping dengan seorang pemuda yang berdiri dua langkah didepan mereka, ia menatap kami dengan seksama. Seorang pemuda berambut ikal panjang yang ia ikat seperti gaya orang kulit hitam yang kurasa itu terkesan sangat keren baginya, dibekali tubuhnya yang berotot menambahkan kesan yang hebat di sana, ia memiliki kulit coklat dengan kedua mata bulat lebar dan hidung yang mancung serta bibir tebal yang kini berjalan menghampiri kami bertiga seraya memberikan sebuah tali tambang yang cukup besar dan panjang pada Rason.
“segeralah kembali setelah kau menemukan keluarganya” ucapan itu terlontar darinya yang kini menjabat tangan dan memeluk Rason cukup erat, kedua pandangku kini tertuju pada Rason yang tersenyum serta menganggukkan kepalanya “ aku titipkan Serenus padamu, Yevan ” itulah ucapan yang dilontarkan Rason setelah pelukan itu terlepas.
Pagi ini aku mendapatkan dua informasi yang cukup berharga dan mesti kuingat sepanjang hidupku. informasi yang pertama adalah nama dari wilayah ini atau dapat kusebut dengan desa ini, mereka memberikan nama Serenus yang berarti tentram. Informasi kedua adalah lelaki yang kini tersenyum padaku adalah Yevan, atau lebih tepatnya Yevan Kent.. lelaki tegap dengan kulit coklat ini adalah pemimpin sementara di Serenus “good luck, semoga kau bisa bertemu dengan keluargamu di sana… Adrea Hunt” aku tersenyum dan menjabat tangannya setelah ia memberikan semacam do’a padaku “terima kasih” balasku padanya yang kini menepuk bahuku dan melepas jabatan kami.
“ayo!” kutolehkan pandangku menatap Rason yang baru saja mengajakku dan Cassandra untuk segera meninggalkan tempat ini, ia berdiri di depan kami dan berjalan mendahului kami berdua. Kami meninggalkan perbatasan Serenus dan masuk ke dalam hutan yang kurasa cukup berbahaya.
Pagi itu, kutatap mentari yang muncul dengan begitu indahnya, memberikan kehangatan yang kentara terasa ketika ia dengan perlahan mengusir kabut dingin yang sempat menyelimuti kami semua.
Perjalanan yang pastinya akan banyak memakan waktu sudah terhampar dengan luas di depan mata, seperti liku-liku labirin yang mampu menjebak kami kapanpun itu, kami harus siap untuk menghadapinya. Aku sempat menolehkan pandanganku ke belakang, menatap mereka yang kini menatap kami dengan raut beribu kecemasan dan kekhawatiran, itu tergambar dengan jelas dari sorot mata mereka, seolah enggan untuk melepas kepergian kami pagi itu.