Semak serta dahan yang rindang kami lalui dengan mudah. Aku berjalan beriringan bersama Cassandra sementara Rason berjalan mendahului kami, menebas dahan dan semak yang menghalangi jalananya sehingga mempermudah kami berdua untuk berjalan saat itu, yang kemudian kami sama-sama menyisiri jalananan setapak yang ternyata sebelumnya telah terbentuk oleh mereka para penjelajah, atau kita sebut saja dengan orang yang bergantian bertugas memantau keamanan Serenus.
Melangkah, melangkah dan terus melangkah hingga akhirnya kami kembali menembus semak dan dahan rindang setelah sebelumnya berpisah dengan jalan setapak yang terlihat berbelok kearah lain dan kuyakini jalanan tersebut berputar arah kembali ke desa Serenus.
Sraakkk…. Sraaakkk…Sraaakkk…
Terdengar dengan jelas suara tebasan dari pisau yang dilakukan Rason pada ranting serta dedaunan di sekitar sana yang menghalangi jalan kami. Kutatap mentari yang akan tenggelam di langit yang mulai meremang, tak kusadari awal perjalanan kami tak terasa hingga hari mulai terbenam di sana “kita sudah melangkah lebih dari setengah hari, sebentar lagi akan gelap dan pandangan kita juga akan terbatas” ucapku menatap Rason yang saat itu berbalik menatapku yang bergantian menatap Cassandra.
Ini sudah lebih dari kedua kalinya aku meminta untuk beristirahat sehingga maklum saja kudapati Rason menghela nafasnya dengan cukup berat, karena mungkin ia merasa sebal denganku. Namun ini juga bukan sepenuhnya salahku, aku memang tidak terbiasa berjalan begitu lamanya… terlebih, aku sempat kembali tertidur panjang hingga satu tahun dan kurasa dia harus mengerti akan kondisi tubuhku ini, tapi ketika melihatnya seperti itu, kuyakin ini akan menjadi hal yang akan diperdebatkan.
“baiklah, kita bermalam di sini” separuh tidak mempercayai dengan ucapannya, ekspektasiku tidak sesuai dengan yang kudengar dan kulihat. Aku berpikir bahwa mungkin saja dia akan mengatakan bahwa kami akan beristirahat sebentar dan melanjutkan perjalanan, hingga aku sempat menyiapkan banyak sekali kata untuk mendebatnya jika-jika perdebatan tidak terelakan nantinya, namun pada kenyataannya dia mengatakan bahwa kita akan bermalam di sini. Aku tidak menyangka reaksinya akan seperti itu mengingat dia adalah tipe pemimpin yang otoriter, seperti perostiwa malam di desa Serenus.
“kalau begitu, kita cari tempat yang aman untuk beristirahat” pandangku kini menoleh Cassandra yang mengedarkan pandangnya ke arah sekitar “tempat seperti apa yang aman untuk kita beristirahat?” tanyaku seraya kuedarkan pandangan yang kini menelusuri sekitar kami, berusaha untuk mencari tempat yang sekiranya nyaman untuk kita tempati satu malam ini. “itu!” Seruan Cassandra membawa pandanganku yang kini tertuju pada telunjuk Cassandra yang saat itu tengah menunjuk sebuah pohon yang amat besar, tinggi dan kokoh.
Dahiku dengan spontan berkerut, merasa tidak paham dengan maksud dari telunjuknya yang menunjuk pada pohon besar tersebut, dalam hati aku terkekeh, apakah kita harus menebangnya dan membuat sebuah gubuk mini disana? Ataukah ia menyuruh Rason untuk melubangi dasar pohon tersebut agar kita dapat berlindung didalamnya?? tak mendapati jawaban yang pasti dalam pikiranku sendiri, membuatku kembali terkekeh seraya berucap “kau bercanda?” kutatap ia yang menggelengkan kepalanya dan mengeluarkan tali tambang yang cukup panjang yang kemudian ia berikan pada Rason untuk kemudian digulung di lengannya.
“itu tempat yang cukup aman, ayo!” kini pandangku beralih pada Rason yang berucap serta berjalan menghampiri pohon itu, setelah sebelumnya ia meletakan gulungan tali tambang itu di bahu kanannya yang disusul dengan Cassandra yang berjalan menghampirinya. Diantara dua orang ini, entahlah… apakah aku yang tidak dapat berpikir logis, ataukah mereka yang terlewat aneh?. Pikiranku semakin bingung ketika Rason mulai memanjat pohon itu “he..hei! Kenapa kau memanjat?!” tanyaku seraya menengadah menatapnya yang begitu lihai memanjat hingga sampai pada cabang pohon yang tebal di atas sana “tentu kita harus, karena kita akan tidur di atas, Kau pikir di mana lagi kita akan tidur bila tidak di atas?” jelas Cassandra yang saat ini bersiap-siap dan mulai memanjat pohon tersebut, kuhela nafasku merasa bodoh karena pemikiran awalku yang menyangka bahwa mereka akan menebang atau mungkin melubangi pohon tersebut, namun pada kenyataannya adalah menaiki pohon untuk berlindung dan akhirnya bermalam diatas dahan tebal dari pohon itu, logis… kuakui kali ini alasan Cassandra memilih pohon besar itu cukup logis. Namun yang masih kudebatkan kali ini adalah bagaimana caranya kita tertidur disana?! dan bagaimana caranya memanjat pohon ini?. perasaan khawatir menggerayangi diriku, karena ini adalah kali pertamanya aku memanjat pohon yang amat besar.
“kau ikut apa tidak?” lamunanku tersadar ketika Rason bertanya dari atas sana, ku anggukan kepalaku dan rengan ragu, ku mulai mencengkram erat batang pohon besar ini, perlahan aku menaiki pohon tersebut dengan amat hati-hati, cukup tinggi ku naiki pohon tersebut dan akhirnya kurasakan tanganku mulai bergetar dan begitu pun dengan kedua kakiku. Powerless, mungkin itulah diriku “hei, you okay?” pertanyaan yang dilontarkan Rason sama sekali tak dapat kujawab, aku tak dapat melakukan apapun saat ini selain terdiam dan perlahan memeluk dengan erat batang pohon tersebut, hanya itu yang dapat kulakukan. Kurasakan tubuhku mulai bergetar hingga membuatku takut akan terjatuh dari ketinggian dan bagiku bergerak sedikitpun tidak ingin ku lakukan.
Jantungku berdegub dengan kencang, meski kuakui tanganku bergetar saat ini namun aku tidak mau sedikitpun melepaskan cengkramanku pada batang pohon tersebut.
Srakk
Seutas tali tambang yang tersimpul kini muncul dan menggantung di sampingku, kedua mataku melirik ke atas menatap Rason juga Cassandra yang melilitkan tali tersebut pada batang pohon itu.
“hh…hhh…. hhh….” Panik, aku mulai merasa panik ketika suhu di sana mulai menurun hingga nafasku mulai memburu “raih talinya, kami akan menarikmu!” terdengar suara Cassandra yang membuatku berusaha untuk meraih tali tambang itu, tanganku terulur ke samping, mencoba meraihnya namun kembali kupeluk batang pohon itu karena tubuhku mulai merosot dari sana.
Syuhhhh…
Angin dingin kurasakan serta suhu di sana yang mulai berubah, perlahan kayu yang kupeluk membeku dan mulai menjadi licin “cepat raih talinya!” titah Rason terdengar menyentakku
“Krrrrrr…”
Kudengar geraman yang berasal dari bawah sana membuatku yakin di sana terdapat banyak Malea saat ini “hh… hh… hh…” nafasku semakin memburu, uap nafas yang kuhasilkan sangat banyak dan cukup menggangguku “Adrea!!” Rason memanggilku cukup kencang, membuatku menganggukkan kepala dan menatap tali itu, memberanikan diri untuk meraihnya.
Kutarik nafasku dengan dalam secara berulang, hingga saat keyakinanku muncul, akupun memberanikan diri untuk melompat dan meraih tali itu yang ternyata berhasil, kupegangi tali itu sekuat yang kubisa dengan kedua tanganku.
“Tarik!” terdengar Cassandra memberikan aba-aba dan tubuhku perlahan terangkat menuju ke atas mendekati mereka yang tengah menarik tali itu dengan kuat. Tanganku meraih lengan Cassandra yang terulur, nafasku kembali memburu dan kali ini aku benar-benar merasa lega karena dapat berada di tempat yang aman bersama dengan mereka berdua.
“jika kau tidak bisa memanjat pohon, seharusnya kau katakan saja sejak awal agar aku bisa menggendongmu ke atas!”ucapan Rason saat itu tidak kutanggapi, aku berusaha untuk menstabilkan nafasku dan menenangkan diri seraya menggenggam kedua lengan Cassandra yang terduduk dihadapanku dengan cukup erat.
Malam ini adalah malam yang bagitu memacu adrenalinku, jantungku berdebar dengan amat kencang dan pikiranku terus saja melayang, berpikir bahwa akan jadi apa diriku jika saja aku tidak dapat meraih tali tersebut… mungkin saja aku mati seketika karena jatuh dari ketinggian atau mungkin saja aku akan terjatuh dan bertemu dengan Malea yang senantiasa mencari kami di bawah sana. Namun pada kenyataanya aku berhasil meraih tali itu dan aku bersyukur karenanya, karena keberanianku melompat dan meraih tali itu, aku terselamatkan dari dua hal itu malam ini.