(Readers, aku mau kasih peringatan untuk memastikan dulu bahwa kamu sudah cukup umur untuk membaca konten dewasa ya, karena dalam bab ini mengandung unsur eksplisit 21+)
oke? Let's go...
-Adeline.-
Hubunganku dan Jaden memang semakin dekat, meski sekarang seringkali muncul rasa canggung diantara kami, tapi pandanganku padanya tidak lagi sama, dia bukan lagi bocah laki-laki playboy bagiku, beberapa kali aku merasa jantungku berdebar kencang karenanya.
Namun aneh rasanya jika aku menjalin hubungan dengan Jaden yang selama ini ku anggap sebagai adik, ditambah lagi ia adalah adik dari Trevor. Karena itu aku masih saja mempertahankan prinsip ku untuk beberapa alasan lain juga.
Jika dulu hubunganku dengan Trevor ditentang oleh orang tua Trevor, lalu apa bedanya dengan Jaden, bisa dipastikan kami akan mengalami hal yang sama juga, pikirku.
"Aku mendapat tawaran untuk bekerja sama dengan GD Entertainment," ucap Jaden, ia mengajakku pergi ke pantai untuk membicarakan hal ini, "Aku akan kembali ke Amerika selama tiga tahun."
Aku menoleh, tentu saja aku terkejut, aku senang sekaligus sedih, namun aku masih mendengarkan.
"Aku memikirkanmu segera setelah mendapat tawaran itu, aku bertanya-tanya apa yang harus kulakukan." sambung Jaden.
Aku masih saja diam, sesaat aku menundukan kepalaku, berpikir tentang apa yang harus ku lakukan, "Bagus sekali," ucapku kemudian. "Kau akan semakin terkenal."
Jaden memandang nanar pada ku, "Aku akan pergi selama tiga tahun, aku tidak akan bisa pulang selama itu jika aku menandatangani kontrak dengan mereka."
"Aku tahu," ucap ku. "Awalnya mungkin agak sulit, tapi kau orang yang supel, kau akan dengan mudah bergaul dengan mereka."
"Aku tidak membahas tentang itu." suara Jaden meninggi. Aku tahu kemana arah pembicaraan nya. Tapi aku tidak ingin menanggapi.
"Kau tahu? Perasaan cinta bisa hilang karena jarak, semakin jauh."Aku berspekulasi.
"Semudah itu?"
"Iya, perasaan manusia bisa cepat sekali berubah." Lanjutku, "Ada begitu banyak hal yang perlu dipikirkan sebelum aku sempat memikirkan tentang cinta."
"Jadi cinta tidak penting untukmu?" tanya Jaden berusaha tetap terlihat tenang dan stabil.
"Benar," jawabku, "aku tidak bisa membuang-buang waktuku hanya karena urusan cinta."
Kemudian kami hanya saling tatap.
"Maaf.." ucap ku ketika melihat kesedihan terlihat di mata Jaden.
Selama beberapa detik Jaden masih diam memandang wajahku, "Tidak," ucapnya sambil tersenyum meski aku tahu itu dipaksakan, "Kau memberi ku kepastian, dengan begitu aku bisa pergi tanpa beban apapun." katanya.
"Semoga kau sukses ya, aku mendoakan mu." ucapku menepuk bahunya.
"Semoga kau juga sukses, kuharap kau benar-benar mendapatkan apapun yang kau inginkan, karena jika tidak, maka aku akan sangat marah." katanya masih menatapku, aku tahu dia kesal, tapi tidak ada yang bisa ku lakukan, jika aku memintanya untuk tinggal dan dia menyerah pada cita-citanya, mungkin saja suatu hari itu akan jadi penyesalan terbesar dalam hidupnya.
Aku mengangguk. "Aku akan mendapatkan apa yang kuinginkan."
"Bagus." katanya tersenyum namun air mata menggenang di pelupuk matanya.
* * *
-Jaden.-
Aku sungguh berharap Adeline melarangku untuk pergi, aku ingin dia bilang ingin aku tetap disini, tapi kenyataannya sangat bertolak belakang dengan harapan ku.
Hati Adeline seakan terbuat dari batu, sekeras apapun aku memohon, dan sebanyak apapun aku meminta, ia tidak akan pernah membukakan pintu hatinya untukku.
"Kalau begitu aku akan pergi besok." kata ku, kami sudah berada dalam perjalanan pulang dari pantai.
"Besok?" Adeline menoleh padaku. "Kenapa secepat itu?"
"Secepatnya akan lebih baik kan? Dengan begitu aku bisa lebih cepat mencapai kesuksesan ku." Aku menyindirnya.
"Benar." katanya sambil mengangguk-angguk. Setelah itu ia hanya dia duduk di kursi penumpang.
"Apa yang akan kau rencanakan untuk mencapai tujuanmu?" tanyaku.
"Tentu saja membuat naskah dan cerita yang bagus." katanya.
Aku juga hanya mengangguk.
"Tapi kenapa kau pergi secepat itu?" Adeline bertanya lagi.
"Sebenarnya tiket itu sudah dibooking sejak satu minggu yang lalu, aku hanya masih belum yakin untuk pergi, karena itu aku bertanya tentang pendapat mu." jawabku.
"Bagaimana jika kubilang kau jangan pergi?"
Berani sumpah aku menjadi goyah lagi, aku berharap lagi bahwa ia akan menahan ku disini, tapi segera ku hempas harapan itu jauh-jauh. "Aku mungkin akan membatalkan nya." jawabku lagi.
Adeline tertawa. "Kau lucu."
Aku ikut tertawa, meski sebenarnya aku kesal.
"Besok berangkat jam berapa?" Adeline bertanya lagi.
"Jam sembilan pagi." jawabku, aku menghela napas, sudah malas sekali menanggapi nya.
"Kau sudah packing?"
"Belum." aku menjawab sekedarnya.
"Mau ku bantu?" Adeline menawarkan bantuan.
"Bantu apa? Aku tidak akan membawa banyak barang." jawabku mungkin agak sedikit ketus.
"Ya sudah." ucapnya lalu diam.
Selama perjalanan, kami hanya diam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Kenapa kesini?" tanya Adeline saat aku memarkirkan mobil di basemen apartemen ku.
"Katanya ingin membantu."
"Oh." ucapnya, hanya itu dan kami naik ke lantai tujuh, ke rumahku.
"Kau tunggu saja aku disini." Aku akan mandi dan berkemas sendiri.
"Lalu apa gunanya aku kesini kalau kau berkemas sendiri?" tanya Adeline.
"Kau lebih berguna kalau diam." kataku.
"Anak kurang ajar!" serunya lalu menjatuhkan diri di sofa.
Aku mandi dan berkemas, hanya membawa beberapa pakaian dan barang yang kurasa mungkin akan ku rindukan, karena pada dasarnya sejak awal aku juga memang tinggal di Amerika, jadi barang-barangku banyak berada di sana.
"Sudah?" tanya Adeline setelah ia menungguku sekitar tiga puluh menit.
"Sudah." jawabku.
"Aku memasak mie. Aku membuatkan untukmu juga." katanya, kulihat ada dua mangkuk mie instan di meja.
"Apa kau sedang menggodaku?" tanyaku.
"Apa?"
"Pacar-pacar ku dulu pernah bilang bahwa jika seseorang menghidangkan mie di rumah pada lawan jenis maka itu pertanda bahwa ia sedang berusaha merayunya dan akan melakukan aktivitas lain setelahnya." kataku. Aku benar-benar pernah mendengar itu.
"Aktivitas apa?" Kulihat wajah Adeline memerah.
"Kalau tidak ya sudah, kenapa malu?" ucapku lalu aku duduk di meja makan dan menyuap mie ku.
"Biar aku yang bereskan." kata Adeline ketika aku akan menaruh piring kotor di dapur.
"Ada apa ini?" Aku memandangnya curiga.
"Tidak ada, kau kan akan pergi jauh dan lama sekali, aku hanya ingin meninggalkan kesan yang baik untukmu." katanya.
"Oke." ucapku lalu aku mengambil gitar dan pergi ke balkon.
Aku mulai memperbaiki tuning gitar ku agar terdengar lebih baik.
"Kalau dipikir-pikir aku belum pernah melihat bakat entertainment dalam dirimu." Adeline berbicara di belakangku.
Saat aku menoleh ia sedang bersandar di pintu. "Ketampanan ku saja sudah melambangkan semuanya." ucapku sombong.
Adeline tertawa, lalu berjalan dan duduk di sampingku. "Kau itu akan menjadi aktor atau penyanyi?"
"Aku mendapat tawaran untuk bermain film, sekaligus menyanyikan soundtrack nya." jawabku.
"Peran utama?"
"Ya."
"Jangan berbohong." Adeline tertawa. "Mana mungkin langsung mendapatkan peran utama."
"Aku kan memang sudah terkenal lewat media sosial, tidak ada yang aneh jika aku langsung mendapatkan peran utama." ucapku semakin sombong. "Dan kurasa mereka memang hebat dalam mengenali bakat artis-artisnya."
"Sombong sekali." Adeline mencibir ku.
"Aku akan menyanyikan lagu yang ku ajukan pada agensi." kataku. "Mau dengar?"
Adeline mengangguk penuh semangat.
Aku mulai menyanyikan laguku.
Jika aku akan menjalani hidupku tanpa kau di sampingku. Mungkin hariku akan terasa hampa dan malam-malam ku akan sangat panjang.
Aku pernah menyukai, tapi tak sesuka ini. Kau seharusnya tahu betapa aku sangat mencintaimu, tak ada yang bisa mengubah rasaku padamu.
Dunia mungkin akan mengubah diriku seluruhnya, tapi tidak akan mengubah cintaku padamu, dan ku berharap kau menggenggam tanganku sekarang.
Meski kucoba, aku tak pernah bisa menjelaskan, bagaimana sentuhan tanganmu seakan mengatakan kau akan menopangku kapanpun aku terjatuh.
Aku tahu cinta ini salah, tapi sekuat apapun ku mencoba aku tak kan pernah bisa melawan rasa yang terlanjur ada.
Adeline hanya terdiam menatapku selama lebih dari satu menit setelah aku selesai bernyanyi, dan aku membiarkannya.
Aku membayangkan bahwa mungkin saja ia akan menci*mku, dan diiringi dengan bayangan-bayangan lain yang membuatku semakin gelisah.
Khayalanku karena tatapannya menjadi semakin liar dan aku jadi panik sendiri karena tidak tahu apa yang dia pikirkan saat melihatku. Hingga tanpa sadar aku meletakkan gitarku dan menci*mnya.
Adeline tampak terkejut tapi ia tidak mendorongku menjauh, jadi ku lanjutkan saja. Aku menginginkan dia sekarang lebih dari sebelumnya.
Aku tahu bahwa aku bisa membuatnya datang kurang dari satu menit hanya dengan menggunakan lidahku, tetapi aku tidak akan melakukannya. Aku menarik diri dan berdiri lalu membimbingnya ke kamar, tetap berci*man, sambil melepaskan pakaiannya satu persatu dan ia benar-benar telanj*ng sekarang.
Kulitnya yang halus mengelilingiku, membuatku menarik celana pendek ku ke pergelangan kaki hanya dengan satu tangan. Aku menekan tubuhku ke tubuhnya, dan aku menariknya ke kasur empuk bersamaku.
Adeline membalas ciuma*n ku. Lidahnya menjalar di bibirku begitu lambat sehingga aku tidak ragu-ragu untuk menekankan diriku kepadanya.
Dia begitu halus dan basah kuyup terhadapku, dengan satu gerakan kecil, dan aku akhirnya akan berada di dalam dirinya.
Lalu aku tersadar. "Aku tidak punya pelindung di sini," aku mengutuk dan mengubur wajahku di bahunya.
Dia mengeluarkan erangan frustrasi tetapi menekan kukunya ke arahku, menarikku lebih dekat.
"Aku menginginkan mu," erangnya, menjentikkan lidahnya ke mulutku.
Aku menekan daging yang hangat dan basah kuyup dan perlahan mengisinya.
"Tapi. ." Aku mulai mencoba mengingatkannya akan risiko, tetapi matanya bergetar, dan sensasi membanjiri ku ketika aku melenturkan pinggul ku untuk semakin dalam, sedalam mungkin di dalam dirinya.
Aku mengerang. Aku tidak bisa melukiskan betapa hangat dan lembutnya dia. Semua akal sehatku telah terhapus, semua peringatan yang kuberikan pada diriku dan dia telah lenyap. Aku hanya perlu beberapa detik, beberapa dorongan lagi ke dalam tubuhnya yang menunggu dengan penuh semangat, dan aku akan berhenti.
Aku mengangkat diri dengan merentangkan tangan di bawahku, meluruskannya untuk mendapatkan kekuatan. Aku ingin melihatnya saat aku keluar masuk. Kepalanya terangkat dari kasur yang empuk, dan dia menatap tempat di mana tubuh kami yang terhubung.
Aku akan berhenti setelah tiga lagi. . . oke empat. Mau tidak mau aku terus bergerak ketika dia
juga bergerak.
Jari-jarinya menekan bagian bawah tulang punggungku, menarikku lebih dekat, lebih dalam, dan berc*nta, aku harus berhenti sekarang, aku mengingatkan diri ketika merasakan tekanan membangun dari bagian bawah tulang punggungku ke pangkal paha.
Aku harus berhenti. . .
Perlahan-lahan aku menarik keluar darinya, membiarkan kami berdua menikmati saat kesenangan yang tersisa. Rengekannya dengan cepat dipotong ketika jari-jariku meluncur ke dalamnya dengan mudah. "Aku akan membuatmu datang sekarang," aku berjanji padanya, dan dia tersenyum linglung, memperhatikanku.
Aku suka suara-suara yang dia keluarkan , cara dia merintih memanggil ku. Dalam hitungan detik, aku merasakannya mengencang di jariku. Aku menggigit dan mengis*p ujung saraf di atas pintu masuknya, dan dia menarik-narik rambutku, terus melihatku menidur*nya dengan jari-jariku sampai dia datang, terengah-engah dan memanggil namaku berulang kali.
Mulutku meninggalkan jejak kelembapan di perut dan sepanjang dad*nya sebelum akhirnya aku mencium lembut pelipisnya.
Aku berbaring di sebelahnya, berusaha mengatur napas dan menghidupkan kembali peristiwa-
peristiwa menjelang momen ini. Nanti aku sangat ingin memiliki percakapan serius tentang ini.
Adeline bersandar ke siku dan menatapku. "Aku ingin membalas." katanya.
"Harus." Aku menyeringai, bibirnya dilapisi dengan kelembaban ku.
Adeline bergerak cepat, membawaku ke mulutnya sebelum dia menarik napas. "Brengs*k," aku mengerang karena terkejut dengan sentuhannya. Itu membuatku mundur sedikit dan membuat milikku menyelinap keluar, melintasi lid*h nya.
Mulut Adeline menemukan milikku lagi , dan menekan diriku ke dalam mulutnya lagi.
"Tolong, Del," pintaku.
Aku nyaris tidak memperhatikan wajahnya saat dia melakukan itu padaku.
"Aku tidak. . . si*l, aku tidak akan bertahan lama," Aku mengutuk diriku sendiri, terengah-engah, dan dia mempercepat gerakannya. Terlalu cepat hingga aku nyaris menarik rambutnya.
Aku bisa merasakan milikku menegang, kakiku menjadi kaku saat aku semakin dekat dan akhirnya dia membuatku datang dengan cukup cepat. Lalu ia berbaring disamping ku untuk menstabilkan napasnya.
Dan sangat tengah malam ketika Adeline telah terlelap. Aku memandangi Adeline yang tidur meringkuk di sampingku. Tidak pernah terpikirkan olehku akan melakukan ini bersamanya, pikiranku kalut lagi, aku bingung tentang apa yang ada dalam pikirannya.
Yang kami lakukan malam ini adalah karena dia mencintaiku atau besok aku akan mendengar penjelasan dari wanita yang sok dewasa tentang teori hubungan fisik tidak berarti apa-apa. Dan tidak ada hubungannya dengan perasaan? Pikiranku bergumam tentang banyak hal.
Jadi ku putuskan untuk membicarakan ini lagi dengannya besok.