-Jaden.-
Saat aku membuka mata, Adeline sudah tidak ada di sampingku, kupikir mungkin dia sedang berada di dapur atau di kamar mandi, namun pesan yang tergeletak di meja makan bersama penekuk yang dia buatkan untukku membuatku semakin yakin ternyata Adeline benar-benar pergi tanpa membangunkanku.
(Selamat pagi, kau tidur terlalu nyenyak dan kupikir kau juga butuh istirahat lebih banyak agar bugar selama dalam perjalanan menuju Amerika, mungkin ini sarapan terakhir yang bisa ku buatkan untukmu, semoga sukses.) itu kata-kata yang Adeline tulis dalam sticky note yang ia letakkan di meja. Adeline sama sekali tidak membahas tentang semalam, tidak juga bilang bahwa aku harus menghubunginya selama di Amerika.
"Lalu aku harus bagaimana?" aku bergumam sendirian. Kuambil ponsel dan mencoba menelepon nya, tapi tidak aktif.
Mungkin ponselnya kehabisan baterai. pikirku mengingat pengalaman Trevor dulu. Ku lirik jam yang masih menunjukan pukul tujuh pagi. Itu artinya aku masih punya waktu sekitar dua jam untuk memastikan bahwa aku harus pergi atau tidak. Jadi aku bergegas untuk mendatanginya.
Aku mengemudi dengan cukup kencang untuk mengejar waktu, setidaknya jika Adeline bilang mau menungguku, itu saja sudah cukup bagiku.
Begitu sampai dirumahnya, ku ketuk pintunya dan ku panggil berkali-kali pun tidak ada yang menjawab, Adeline sepertinya tidak ada di rumah juga.
Dia sengaja menghindari ku? pikiran negatif berkelebat di benakku.
Jadi ku hubungi Laura dan ternyata Laura tidak tahu apa-apa. Kemana lagi aku harus mencarinya? aku gusar dan semakin panik karena waktu terus berjalan. Jadi segera kucari Adeline ke tempat yang mungkin saja dia datangi, termasuk rumah Elis. Dan Adeline tetap tidak ditemukan. Aku berteriak kesal hingga memukul kemudi mobil.
Ponsel yang ku letakan di kursi penumpang berdering, segera ku ambil karena kupikir Adeline yang menelepon. Tapi ternyata nama William yang tertulis di sana.
"Good morning Mr.Jaden," sapa nya, saat aku mengangkat telepon. " Are you ready to go? just a reminder, that your plane will take off in thirty minutes." kata pria yang akan menjadi manager ku di Amerika.
"Yes, i know, i will go now." jawabku. Aku kehabisan waktu, tidak ada harapan lagi untukku berbicara dengan Adeline.
* * *
-Adeline.-
Tadi pagi kulihat Jaden tidur begitu nyenyak bagai bayi, wajahnya menggemaskan, meski aku merasa g*la karena melakukan itu dengannya, tapi aku bahagia dan aku tidak menyesalinya.
Ku tinggalkan pesan setelah membuatnya sarapan, kupikir aku akan menghubunginya nanti saat aku sudah berada di rumah dan bersiap untuk mengantarnya ke bandara. Paling tidak aku harus berganti pakaian dan berdandan yang cantik agar meninggalkan kesan yang baik saat terakhir ia melihatku.
Tapi sebelum itu, ibuku menelepon, bahwa ayahku sakit keras dan telah mengalami masa kritis, aku tidak mungkin memilih Jaden dibanding ayahku yang sedang meregang nyawa, jadi aku segera pergi ke stasiun dan pulang ke kampung untuk menemui orang tuaku, dan saat aku ingin menelepon Jaden, ponselku tidak ada, bahkan dompetku pun tidak ada di dalam tas yang kubawa, seseorang telah mencuri dengan merobek tas yang ku selempangkan di lenganku, mungkin itu terjadi saat aku mengantri untuk masuk ke dalam kereta.
Rupanya takdir pun melarang ku untuk menerima Jaden. pikirku. Jadi ku ikuti jawaban yang ditunjukkan takdir untukku. Kubiarkan Jaden pergi.
* * *
-Adeline.-
SATU MINGGU aku berada di kampung orang tuaku, Ayahku tidak terselamatkan, dan ibuku memilih untuk tetap berada disini. Tapi aku tidak bisa, aku harus kembali ke Jakarta untuk mendapat pekerjaan, dan kupikir di sana juga aku bisa lebih mudah untuk sukses.
Sesampainya di Jakarta aku menemui Kent, kupikir tidak apa-apa jika aku sedikit memohon padanya untuk memberikan ku pekerjaan, aku toh memang sangat membutuhkannya, aku harus membantu menunjang hidup ibuku, karena sudah tidak ada ayah.
Aku datang menemui Kent di tempat yang telah kami janjikan. Sebelumnya aku telah menelepon terlebih dulu dan Kent setuju untuk bertemu denganku di sebuah restoran.
"Selamat malam Pak Kent." Aku menyapa pria bertubuh tinggi yang memakai kemeja putih dan celana dasar berwarna hitam, dilihat dari dua kancing bagian atas terbuka, kurasa ia baru saja selesai bekerja dan belum pulang ke rumah.
"Apaan sih." Kent tertawa. "Jangan canggung seperti itu, kita kan teman." katanya.
Aku meringis. Benar, Kent adalah sahabat Trevor, dulu kami juga memang sangat dekat, tapi semua menjadi canggung setelah bertahun-tahun kami tidak bertemu, dan posisiku sekarang adalah sebagai pelamar pekerjaan. Jadi rasanya sangat tidak sopan jika aku bersikap santai padanya.
"Silahkan duduk." Kent menunjuk kursi di depannya saat melihat aku masih saja berdiri dan memegang tas dengan kedua tanganku di depan. "Maaf karena meminta mu jauh-jauh datang kemari." ucapnya.
"Tidak apa-apa." Aku duduk di kursi yang berhadapan dengannya. "Aku harus datang karena memang aku membutuhkanmu. Eh maksudku aku ingin meminta bantuan mu."
Kent tertawa lagi, ia duduk bersandar di kursinya. "Sudah kubilang jangan canggung." katanya.
Aku bergeser ke kanan dan ke kiri, mencari posisi duduk paling nyaman. "Oke." aku merilekskan punggung.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Kent.
"Aku akan menerima apa yang kau tawarkan sebelumnya." kataku, terlalu sombong sepertinya. Karena seharusnya aku bilang bahwa apakah tawaran Kent tentang pekerjaan yang akan dia berikan padaku masih berlaku?
"Menerbitkan novel mu atau bekerja di kantorku?" tanyanya.
"Dua duanya." jawabku. "Kalau tawaran itu masih berlaku."
"Baiklah, kau bisa bekerja mulai besok." Kent segera memutuskan.
"Baik." ucapku senang.
"Aku akan memesankan makanan untukmu?" kata Kent.
"Tidak perlu, aku sudah makan." Aku berdusta, aku lapar, tentu saja aku lapar karena butuh waktu sekitar lima jam dalam perjalanan dari kampung ke Jakarta dan aku langsung menemuinya disini, tidak ada waktu untuk makan.
"Walau begitu kau harus tetap makan."
Aku mengangkat alis. Bingung.
"Kau harus mengerjakan apa yang bos mu perintahkan, seperti itulah bekerja, walau kau tidak suka, kau harus melakukannya." Kent menjelaskan.
"Baik, kalau begitu." Aku pura-pura terpaksa. Tapi aku merasa Kent sekarang benar-benar seperti CEO brengs*k yang suka menindas. Kuperhatikan lagi wajahnya, ia memiliki rahang dan bentuk wajah yang proporsional, gaya maskulin dan uang yang banyak, seratus persen pria mapan idaman kaum hawa.
"Kenapa?" tanya Kent saat melihatku menatapnya.
"Tidak." Aku menggeleng lalu tertawa.
"Apa yang kau pikirkan?" tanyanya. "Kalau bos sedang bertanya karyawan juga harus menjawab. Jujur."
"Kupikir kau sekarang seperti CEO brengs*k." kataku lalu menutup mulut, rasanya ingin ku tampar mulut ini karena terlalu banyak bicara.
Kent ternganga lalu tertawa.
"Maaf," ucapku.
"Tidak apa-apa. Aku memang begitu, kau akan tahu setelah mulai bekerja, aku sangat suka memerintah dan berkuasa." katanya.
"Wahh.. kau sangat suka kekuasaan."
Kent tersenyum sinis. "Ya, aku suka."
Makanan ku datang.
"Kobe Strip Steak pesanan anda." kata sang pramusaji saat meletakan piring makananku.
"Apa?" aku langsung menoleh pada pramusaji itu.
"Kobe Strip Steak anda." ulangnya.
Makanan inI terlalu mahal jika Kent menempatkan dirinya sebagai bos padaku. Jadi aku menyimpulkan bahwa ia sedang memposisikan dirinya sebagai teman lama.
"Apa kau sedang mengaktifkan mode teman?" tanyaku.
Kent mengangkat alis. "Apa maksudnya?"
"Makanan ini terlalu mahal untuk mentraktir seorang karyawan." kataku. "Ini steak sapi yang sapinya mendapatkan perawatan dan dipijat-pijat sebelum dipotong kan?"
Kent semakin tertawa. "Kau benar." katanya. "Aku memesankan itu untuk pamer, agar kau tahu bos mu ini sangat kaya."
"Kalau mau pamer, boleh sekalian beri tahu harganya?" Aku berbisik.
"Lima juta untuk satu porsi." Kent ikut berbisik.
Aku menahan napas dan bersandar di kursi. Andai saja ia memberikan dalam bentuk uang. Jiwa miskin ku meronta-ronta.
"Kau harus menghabiskannya, aku tidak mau rugi." Perintah Kent.
"Tentu, tentu." Aku mengambil pisau dan garpu lalu mulai makan.
"Dan kenapa kau hanya makan nasi goreng?" tanyaku saat melihat piringnya.
"Karena aku merindukan ibuku." jawabnya dengan wajah sedih.
"Kalau rindu kenapa tidak temui saja." kataku sambil melahap daging steak mahalku.
Kent menoleh dengan mengerutkan kening.
"Apa aku salah bicara?" tanyaku dengan sangat berhati-hati.
Kent mengangguk lalu menghela napas.
"Ya ampun maafkan aku." ucapku. "Kapan ibumu meninggal?" aku benar-benar tidak menyangka ibunya pergi secepat itu, hal terakhir yang kuingat dari ibu Kent adalah ia wanita berpendidikan dan sangat ramah.
"Ibuku masih hidup." Kent membelalak dan menoleh padaku lagi.
Aku ternganga. "Tapi kenapa ekspresi mu sangat memprihatinkan tadi?" aku malah marah, padahal aku sudah kaget dan merasa iba tadi.
"Memangnya aku tidak boleh rindu?" katanya, "Ibu berada di Amerika, bagaimana aku bisa menemuinya, terlalu jauh hanya untuk melepaskan rindu."
"Kan jaman sekarang tekhnologi sudah canggih, kau bisa video call atau minimal menelepon." Aku malah berteriak padanya. "Kau membuatku kaget dan salah paham."
Kent jadi tertawa. "Kau masih tetap bodoh." katanya. "Bagaimana bisa jadi penulis."
Aku mencibir. "Lihat saja, besok aku akan meletakkan naskahku di meja kerjamu." kataku penuh percaya diri.