-Adeline.-
TIGA TAHUN BERLALU..
Meski awalnya semua terasa sangat sulit, tapi dengan bantuan Kent, aku sudah menjadi penulis novel, sesuai seperti yang impian ku, bahkan beberapa cerita dari novel ku sudah diangkat ke layar lebar.
Orang-orang mengenalku dengan nama pena Flechazo, yang artinya terkena panah cinta.
Aku seringkali melihat Jaden di televisi, melalui film dan lagu-lagunya, bahkan beberapa temanku menjadi penggemar beratnya. Tidak bisa dipungkiri aku merindukannya. Bukan salahnya jika Jaden tidak pernah menghubungiku, ia tidak tahu nomor ponsel baruku dan kurasa ia juga tidak bertanya pada Laura.
Dulu aku tidak tahu bahwa aku mencintainya, kenapa sulit sekali bagiku memahami bahwa aku sedang jatuh cinta. pikirku, ketika sedang melamun setelah acara meet and great bersama Flechazo, hatiku begitu sakit karena merindukan pria yang sebelumnya hanya ku anggap anak kecil.
Saat ini aku juga sudah menandatangani kontrak baru untuk mengangkat salah satu cerita novel ku ke layar lebar lagi.
"Kabarnya hari ini aktor yang akan memerankan Aron akan tiba di Jakarta, sutradara meminta kita untuk mengunjunginya." kata Alice, gadis ini adalah seorang asisten penulis, yang saat ini sedang bekerja sama denganku.
"Benarkah? Siapa aktor nya?" tanyaku.
"Aku tidak tahu, kalau begitu ayo kita pergi saja." ajak Alice, "Pertemuannya di meeting room hotel ini juga."
Aku dan Alice sudah tiba di meeting room, bersama dengan sutradara dan asisten sutradara, mereka sedang menunggu sang aktor datang.
Tak lama aktor yang ditunggu-tunggu datang bersama team nya, aku sempat terkejut karena ternyata Jaden lah yang akan menjadi peran utama pria dalam film yang diangkat dari cerita novel ku.
Jaden terlihat begitu tenang, seperti dia biasanya, ia tidak terkejut sama sekali, sikapnya ramah, sopan dan charming.
Percakapan berjalan begitu lancar selama hampir satu jam, sutradara dan yang lain mohon undur diri terlebih dahulu karena Jaden meminta untuk berbicara empat mata dengan penulisnya. Denganku.
"Apa kabar?" sapa Jaden lebih dulu. Ia duduk bersandar di kursi dengan rileks.
"Baik." jawabku singkat, tangan kananku mengepal tangan kiri dan ku sembunyikan di bawah meja.
"Kenapa kau begitu canggung?" tanya Jaden lagi.
"Aku tidak canggung," Aku mengatur nafas agar tidak terlihat gugup.
"Sejak tadi kau jelas-jelas terlihat ingin menghindari ku." kata Jaden, "apa aku berbuat salah padamu?"
"Aku tidak bilang begitu," Aku menyangkal. "Situasinya tidak begitu bagus, aku hanya terkejut karena bertemu denganmu setelah begitu lama kita berpisah."
"Kau bicara seperti itu seolah-olah kita sangat dekat." protes Jaden, ia bersikap sinis.
Aku ternganga, dan sedikit tersinggung, tidak ku sangka ia akan bersikap seperti ini padaku. "Aku tidak bermaksud seperti itu." Baiklah, seseorang bisa berubah karena telah populer.
"Lalu apa maksudmu?"
"Sudahlah, aku memang selalu kehabisan kata-kata jika berbicara denganmu." ucapku kesal.
"Kau bicara seperti itu lagi, apa kita benar-benar dekat?" kali ini Jaden menyeringai, "aku hanya bercanda." katanya, membuatku ikut menyeringai.
"Selamat." ucapku, "Kau sudah menjadi aktor dan penyanyi terkenal, kini kau adalah seorang Super Star."
Jaden mengangguk, "Selamat juga untukmu, sudah menjadi penulis terkenal."
"Aku tidak seterkenal itu." kataku, mengingat nama seorang penulis hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan cover sebuah buku dan hanya berada di bagian awal atau akhir sebuah film.
"Masih terlalu dini juga untukku menerima ucapan selamat." balas Jaden, "aku masih harus melalui banyak hal untuk benar-benar menjadi Super Star."
Aku terkekeh, "Kau sudah semakin dewasa."
"Itu berarti kau semakin tua." balas Jaden lagi.
"Kata-kata itu menusuk hatiku." aku menggerutu dengan wajah cemberut.
"Kau masih terikat dengan usiamu bukan?" sindir Jaden, "masih memandang orang berdasarkan usianya?"
Aku memandang Jaden dengan wajah masam, aku sadar bahwa Jaden sedang menyerangku, "Kau tumbuh menjadi lebih menyebalkan, bukan?" aku menyipitkan mata.
"Tumbuh adalah hal yang baik." kata Jaden kembali bersikap sinis.
"Kenapa kau melakukan ini padaku?" tanyaku. "Kau pergi dengan kemauanmu sendiri tapi kenapa kau seolah-olah bersikap aku telah mengusirmu?"
"Kau lupa bahwa kau yang memintaku pergi?" tanya Jaden dengan nada yang masih stabil.
"Bagaimana aku bisa lupa," jawabku. "Bertahun-tahun aku menyesalinya, dan itu membuat hatiku sakit."
"Kenapa itu menyakitkan?" tanya Jaden, "kau sudah memiliki kekasih yang hebat, karir yang bagus, semua mimpimu sudah tercapai, lalu kenapa kau menyesal?"
Aku ingin menangis mengingat betapa menyakitkannya beberapa tahun ini, setiap hari aku merindukan Jaden tanpa bisa menghubunginya.
Ponsel Jaden berdering, ia hanya menatap layar ponselnya.
"Kenapa tidak diangkat?" tanyaku.
"Itu asistenku, aku harus segera menghadiri acara lain." jawabnya, lalu menjawab telepon nya.
Aku hanya diam saja sambil memperhatikan perubahan yang banyak terjadi pada penampilannya.
"Aku harus pergi, sampai bertemu lagi lain kali." katanya padaku lalu bergegas pergi.
Aku menatapnya saat ia berjalan menjauh dariku hingga ia melewati pintu.
"Kau terlihat sangat keren." aku bergumam. "Dasar jahat."
Aku bahkan sering melihat berita tentangnya yang terlibat cinta lokasi dengan para lawan mainnya. Jaden melakukan adegan mesra dengan sangat baik. Brengs*k hidung belang.
* * *
-Jaden.-
Aku marah padanya, dan sangat kecewa karena ia sangat meremehkan perasaanku. Hubungan fisik antara kami tidak berarti apa-apa baginya sedangkan bagiku itu adalah segalanya.
Rasanya menyakitkan karena untuk pertama kalinya aku menyukai seseorang, dalam arti aku sangat mencintainya sedangkan cintaku bertepuk sebelah tangan. Tapi kucoba untuk berpikir bahwa mungkin saja ini adalah karma yang kudapatkan karena dulu terlalu banyak mempermainkan wanita.
"Kau bertemu dengan Adeline?" tanya Bagas, dia asisten sekaligus sahabatku sekarang. Ia berasal dari Bogor, sengaja ku pilih asisten yang berasal dari Indonesia agar bisa lebih nyaman. Aku menceritakan segalanya pada Bagas, termasuk betapa sialnya perasaanku pada Adeline.
Aku mengangguk, muram sambil duduk bersandar di sofa, memandang gemerlap kota dari jendela hotel.
"Lalu?" tanya Bagas lagi.
Aku mengangkat bahu tanpa menoleh padanya.
"Ayolah, aku benar-benar penasaran apa yang kalian bicarakan setelah hampir empat tahun kalian berpisah." Bagas seakan merengek duduk di sampingku.
"Tidak ada yang kami bicarakan, dia sepertinya tidak gembira atau apapun saat bertemu denganku, ekspresinya datar, DATAR, sudahlah, jangan membahasnya lagi." Ucapku kesal lalu berdiri. "Kau tahu alamat rumahku kan? kirim orang untuk mengecek, kalau perlu bersihkan lagi, aku ingin pulang saja." perintahku.
"Oke, aku akan bilang pada Manager dulu." Bagas mengambil ponselnya untuk menelepon William.
"Biar aku yang memberitahunya, kau kerjakan saja apa yang ku katakan tadi." kataku sambil berjalan menuju kamar mandi.
"Iya." Jawab Bagas dengan kesal. "Orang patah hati memang selalu emosian." gerutunya, dan itu terdengar olehku.
Aku hanya mendengus dan mengabaikannya, lalu membuka kran untuk mandi, menyegarkan diri dan kepalaku