-Adeline.-
Semalaman Aku tidak bisa tidur karena memikirkan kata-kata Jaden beberapa hari yang lalu, sejak hari itu, kami belum bertemu lagi, dan sampai hari ini pun Jaden belum menghubungiku. Kupikir tidak sulit baginya untuk mendapatkan nomor teleponku, tapi sampai sekarang aku belum menerima telepon ataupun pesan darinya.
Pagi ini aku sengaja berolahraga, lari pagi di sekitaran kompleks dekat apartemen Jaden.
Aku menunggu sekitar dua puluh menit hingga Jaden datang, rupanya pria itu juga sedang berolah raga, tentu dengan topi yang hampir menutupi wajahnya, meski begitu aku tetap bisa dengan mudah mengenalinya.
"Boleh aku minta tanda tangan?" Aku menepuk bahu Jaden.
Jaden terlonjak kaget, ia benar-benar mengira bahwa ada yang mengenalinya.
"Jangan bersikap mencolok," kata Jaden, "aku akan kesulitan jika ada yang mengenaliku."
"Beraninya kau keluar rumah sendirian." Aku mencibir, "kita harus bicara, pembicaraan kita waktu itu terputus."
"Lebih baik ke rumahku saja," ajak Jaden.
Aku mengikuti langkah Jaden kemanapun pria itu pergi.
"Kenapa mengikuti ku?" tanya Jaden, saat pria itu berada dikamarnya.
"Kau yang mengajakku ke rumahmu." jawabku.
"Tapi tidak ke kamarku," kata Jaden. "Aku akan mandi."
Aku melihat sekeliling, aku benar-benar sudah berada di kamar Jaden dan ingatan tentang terakhir kali aku berada di kamar ini terlintas di benakku. "Ups.." aku bergidik, lalu bergegas pergi keluar.
Aku melihat-lihat foto yang terpajang di dinding selagi menunggu Jaden selesai mandi. Tak lama, Jaden keluar sambil mengelap rambut basahnya dengan handuk kecil, pesonanya bertambah seratus kali lipat.
"Kau memasang banyak foto padahal baru saja pindah." kataku masih melihat-lihat.
"Ya, agar orang sepertimu tidak bosan saat menunggu." jawab Jaden. "Dan aku baru saja kembali. Bukan pindah."
Sesaat aku terdiam, mengumpulkan tekad untuk kembali membahas masalah antara kami, "Apa maksudmu kemarin tentang aku sudah mempunyai seorang kekasih yang hebat?"
"Tidak ada maksud apapun, aku hanya mengatakan sesuatu yang kudengar dari seseorang." jawab Jaden lagi, ia duduk di sofa dengan santai.
"Siapa yang berbohong seperti itu?" tanyaku dengan nada kesal.
Kulihat Jaden menyeringai.
"Kenapa kau mempercayai kebohongan seperti itu? Seharusnya kau tanyakan langsung padaku agar tidak salah paham." Aku ikut duduk di sofa yang bersebelahan dengannya.
"Apa kau sudah sarapan?" tanya Jaden, "kau tidak boleh melewatkan sarapan agar lambung mu tidak terganggu."
"Jangan perhatian seperti itu, aku tidak suka." ucapku dengan wajah masam, aku merasa semakin menyukai Jaden.
Jaden menyeringai, "Kau masih saja aneh."
"Aku tidak punya pacar." ulangku.
"Kau sudah mengatakannya tadi." katanya.
"Apa kau sudah mengerti?"
"iya."
"Apa kau punya pacar?" tanyaku lagi.
"Kau tidak mendengar berita nya?" tanya Jaden, membahas tentang gosip yang beredar tentang kedekatannya dengan artis wanita lawan mainnya dalam film Secret of love.
"Aku tahu, aku hanya ingin mendengarnya langsung darimu." kataku, mungkin terlihat jelas bahwa aku kecewa.
Jaden diam sejenak sambil menatapku, "Itu tidak benar," jawabnya, "aku tidak punya pacar."
"Kenapa?"
"Apa aku butuh alasan?"
"Apa kau marah karena aku menolak mu dulu?" Aku mulai bisa merasakan kaki ku lemas, gemetar karena kenekatan ku, juga begitu malu untuk membahas tentang ini.
"Tentu saja aku marah." tidak kusangka Jaden akan berterus terang, "aku sangat sakit hati dan kecewa saat itu."
"Maaf.." ucapku lirih.
"Bagaimana kau bisa berada disini?" tanya Jaden, "kau berolahraga sangat jauh dari rumahmu."
"Aku datang karena berharap bisa berpapasan denganmu." jawabku, juga berterus terang. "Kau tahu, semua impianku sudah menjadi nyata, tapi hatiku malah begitu hancur, aku menyesal, aku terluka. Demi obsesi ku, aku melepaskan banyak hal, aku membiarkanmu pergi, menolak mu dengan begitu kejam, aku sangat menyesalinya."
Jaden mendengarkan tanpa mengatakan apapun, ia benar-benar menyimak semua kata-kataku,
"Aku minta maaf," sambungku. "Mengungkapkan perasaan pada seseorang ternyata sangat tidak mudah."
"Jangan dipikirkan," kata Jaden lalu mengambil remote dan menghidupkan televisi, ia mengecilkan volumenya hingga nyaris tidak ada suara, "jangan merasa bersalah pada masa lalu, masa kini jauh lebih penting, kita harus fokus pada hidup kita masing-masing."
"Hidup masing-masing?" ulangku, "aku jauh-jauh datang kesini bukan untuk membahas kehidupan masing-masing, aku bilang aku menyesal, kau paham maksudku?"
"Aku bilang tidak perlu memikirkan masa lalu, kau paham maksudku?" balas Jaden.
"Kau menolak ku?" tanyaku untuk memastikan.
"Iya, aku menolak." jawab Jaden ia terlihat tanpa ragu.
"Apa?"
"Kau tidak menyangka aku akan menolak kan?" Jaden tersenyum sinis, "apa dengan berkata kau menyesal, maka semuanya akan selesai? Bisakah kita mengembalikan waktu, bisakah kau mengembalikan setiap hariku yang muram karena mu? Kau kira selama ini aku baik-baik saja?" Jaden meluapkan semua kekesalannya selama bertahun-tahun dalam sekejap padaku.
"Kau menyimpan dendam?" Aku tidak menyangka dengan perubahan sikap Jaden saat ini.
"Kau terlalu terlambat." bentak Jaden, kudengar napasnya menderu mungkin karena terlalu kesal, "mengungkapkan perasaan kepada seseorang bukan hal mudah, jadi sekarang kau sudah mengerti?"
Aku masih saja membeku karena shock.
"Aku yang sekarang adalah pria yang realistis, jadi jangan berharap aku akan merengek padamu seperti dulu." ucap Jaden kini sudah kembali rileks.
"Bagaimana cara memperlakukan pria yang realistis?" Aku juga kembali tenang, tetap berusaha mendekati Jaden lagi. Dengan tak tahu malu.
"Jalani hidupmu seperti seharusnya, sesuai seperti pilihanmu dulu." jawab Jaden dengan senyum lembutnya.
Aku kembali ternganga, merasa tertolak lagi, "Kau benar-benar menyimpan dendam padaku."
Jaden menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajah sedihnya, "makanya saat aku berkata cinta dan memohon padamu, harusnya kau terima." ucapnya lirih.
"Kau tidak terlalu banyak memohon." protesku.
"Jika aku melakukannya lebih dari itu maka aku akan seperti penguntit, aku terus menempel padamu, tapi kau selalu mendorongku untuk menjauh." katanya.
Aku mendengus, "Sudahlah, lupakan saja." ucapku putus asa, merebahkan diri bersandar di bahu sofa.
"Benar, lupakan saja." balas Jaden, "Ayo kita sarapan, aku akan membuatkan mu makanan."
"Tidak perlu," Aku menolak, "Kalau kau menolakku, maka lakukan dengan benar, tidak perlu perhatian dan membuatku bingung."
"Kau yakin?" Jaden kali ini pandangannya terasa hangat .
"Tidak." jawabku masih berwajah masam.
Jaden menyeringai.
"Ya sudah, sebaiknya aku pulang, badan ku berkeringat, aku harus mandi dan kembali berkhayal tentang pria-pria manis dan tak pernah berkata kasar." Aku menekankan kalimat terakhirnya padanya.
Jaden kembali tertawa.
"Aku pamit ya." kataku sambil melambaikan tangan lalu berjalan, setengah berlari dengan langkah riang.
"Hati-hati tersandung, kalau kau melompat seperti itu nanti terlihat ceria." protes Jaden.
"Aku memang ceria, lalu apa kau berharap aku muram setelah kau menolak ku?" Aku kembali setelah melewati pintu, "Jangan bermimpi, nanti aku akan berusaha lagi untuk merayu mu, jadi bersiaplah." ucapku lalu benar-benar pergi.
* * *
-Jaden.-
Aku menyeringai, masih memandangi pintu yang dilewati Adeline. Hatiku bahagia sekaligus terluka lagi, aku senang tapi juga marah.
Ingin sekali memeluk Adeline, tapi hatiku begitu terluka karena sikapnya dulu yang sangat menyia-nyiakan aku.
Adeline adalah wanita yang benar-benar langka, padahal aku ingin balas dendam dengan berkata kasar padanya. Aku ingin ia tahu bagaimana sakitnya penolakan, tapi ia tidak terlihat goyah, sebaliknya malah sangat riang dan tidak tersinggung sama sekali.
"Aduh." aku menepuk dahi pelan, aku lupa untuk meminta nomor ponselnya. Aku juga sangat penasaran kenapa sampai hari ini Adeline belum menghubungi ku sama sekali.
"Ada apa?" tanya Bagas yang datang dengan membawa banyak kantong belanjaan. "Tadi aku bertemu dengan Adeline di lobby, apa dia habis dari sini?"
"Iya." Aku menjawab sambil membongkar kantong belanjaan Bagas, untuk memeriksa apakah ia membelikan semua pesanan ku.
"Kau mencari apa?" tanya Bagas saat aku memang tidak fokus memeriksa, hanya mengacak-acak kantong belanjaan nya. "Kalau cari nomor ponsel Adeline adanya di sini." ia meletakkan ponselnya di meja, di sana tertulis nomor ponsel dengan nama Adeline.
"Kau dapat darimana?" cepat-cepat ku kirim nomornya ke ponselku.
"Tadi saat bertemu, aku menyapanya, dan aku meminta nomor ponselnya untuk berjaga-jaga kalau saja kau belum memintanya."
"Pintar sekali." aku memukul lengannya pelan.
"Apa kau akan menelepon?" tanya Bagas.
"Tidak." jawabku.
"Lalu untuk apa kau simpan nomornya?"
"Apa kau selalu saja ikut campur?" tanyaku kesal.
Bagas mencibir lagi. Lalu memindahkan bahan makanan yang ia beli ke dalam kulkas.