-Jaden.-
Aku terus menghubungi Deborah selagi bisa untuk menanyakan kabar terbaru tentang Trevor, dan selama delapan jam dalam perjalanan menuju Amerika, aku sama sekali tidak bisa tertidur, kaki dan tanganku terus gemetar dan seberapa kuat pun aku mencoba menenangkan diri, aku tetap saja panik.
Dari bandara aku langsung menuju rumah sakit.
"Dimana Trevor?" aku bertanya pada Deborah yang ku jumpai di lorong rumah sakit.
"Sudah di pindahkan ke kamar, namun dokter sedang memantau perkembangannya." jawab Deborah, hanya dia yang ada disini.
"Sudah lebih dari dua belas jam, apa kakak ku sudah sadar?" aku berteriak panik.
"Belum tuan." jawab Deborah, aku tahu bahwa ia juga sedih.
Aku tidak mengatakan apapun, hanya menyapu rambut dari kening ku dengan jari dan terduduk lemas di kursi.
"Tenanglah tuan, kita hanya bisa berdoa." Deborah berusaha menenangkan ku namun aku malah semakin marah ketika menyadari bahwa ayah dan ibu tidak ada disana.
"Dimana ayah dan ibu?" tanyaku.
"Tuan David sedang berada di Jakarta untuk shooting iklan, sedangkan Nyonya Amber berada di Singapore karena Road show." jawab Deborah. "Tapi saya sudah mengabarkan pada asisten mereka masing-masing, dan para asisten memastikan bahwa mereka akan memberitahu Tuan dan Nyonya."
"Asisten?" aku berdecak tidak percaya, sesulit itukah menghubungi orangtuaku?, jujur saja selama ini aku nyaris tidak pernah menghubungi mereka, kami bertukar kabar hanya jika ayah atau ibu yang menghubungiku lebih dulu, dalam hidupku, aku hanya menganggap bahwa Trevor lah satu-satunya keluarga yang ku punya.
"Maaf, saya hanya bisa menghubungi Tuan dan Nyonya melalui para asisten." ucap Deborah.
"Tidak apa." jawabku, aku mengeluarkan ponsel dari saku dan mencoba menghubungi ayah dan ibuku.
"Ayah." sapaku begitu seseorang mengangkat telepon.
"Maaf tuan Jaden, ini saya, Jeremy." Asisten ayahku menjawab.
"Apa ayah sudah tahu bahwa kakakku sedang kritis?" aku benar-benar menangis, sangat sedih karena rasanya mereka tidak peduli pada kakak ku.
"Setelah acara selesai kami akan langsung berangkat menuju Amerika." jawab Jeremy. "Maaf kami tidak bisa membatalkan jadwal Tuan David."
Aku hanya menutup telepon tanpa mengatakan apapun. Ku putuskan untuk menelepon ibu. Butuh waktu lebih dari satu menit hingga seseorang mengangkat telepon.
"Ibu."
"Ini Ana Tuan Jaden." jawab asisten ibuku.
"Sudahlah." kataku lalu menutup telepon lagi.
Tak lama ku lihat seorang dokter keluar dari ruangan tempat Trevor terbaring yang sebelumnya terkunci.
"Dokter." aku menghampiri pria berjubah putih itu dengan panik.
"Keluarga dari Tuan Trevor?" Dokter bertanya.
"Aku adiknya." jawabku.
"Begini, Kami sudah melakukan yang terbaik yang kami bisa, namun Tuan Trevor mengalami Pneumothoraks atau Hemathoraks. Yaitu kondisi ketika ada akumulasi atau penumpukan darah di bagian lubang pleura, karena itu yang bisa kita lakukan saat ini hanyalah berdoa untuk kesembuhan pasien." kata Dokter sambil berusaha menenangkan ku. "Anda boleh masuk namun berusahalah untuk tetap tenang."
Aku tak mampu menahan kepedihan yang tiba-tiba menohok hatiku, tapi aku berusaha menyembunyikannya dari wajahku. Aku pasti bisa menyembunyikannya untuk Trevor.
Aku mengangguk, aku toh tidak bisa mengatakan apapun saat ini, aku hanya bisa menangis dan d**a ku terasa sangat nyeri.
Aku memasuki kamar dengan hati-hati . Ku lihat kakakku terbaring tak berdaya dengan selang dimana-mana.
"Trevor," panggilku. "Kakak."
Dan aku menangis lagi, membenamkan kepalaku ke antara kedua tangan yang memegang kerangka tempat tidurnya.
"Kakak maafkan aku." Aku berucap sangat lirih dan tercekat karena tangis, mata dan hidungku terasa sangat panas karena terlalu lama menangis.
Ku lihat jari Trevor bergerak.
"Kakak," aku memanggil.
Trevor perlahan membuka mata dan mengerjap-ngerjap, sekilas ia memandangku, dari matanya aku tahu bahwa ia tersenyum. Namun senyum yang ku rindukan itu hanya bertahan beberapa detik lalu berubah menjadi ekspresi yang merubah hidupku selamanya.
Trevor mengerang kesakitan yang menegakkan bulu roma. Suaranya mengerikan, terputus seperti orang tersedak cairan, dan mata Trevor membeliak ke atas. Tubuhnya kejang-kejang, melengkung. Kemudian ia menyemburkan darah dari mulutnya. Setelah itu wajahnya kosong, tak sadarkan diri.
"Dokter." aku berteriak panik, namun kakiku tidak bisa bergerak, aku berdiri mematung dan gemetar.
Teriakan ku rupanya terdengar oleh Deborah dan ia langsung masuk ke kamar lalu saat ia dengan cepat memahami situasi ini, Deborah segera berlari memanggil siapapun yang bisa menolong kakakku.
Para Dokter dan Perawat berlari dengan panik dan menghampiri kakakku, aku mundur beberapa langkah dengan lemah untuk memberi tempat bagi mereka yang mungkin saja bisa menolong Trevor.
"Kita harus membawanya ke ruang operasi." kata seseorang, aku tidak memperhatikan siapa yang berbicara, dalam jubah putih, aku melihat mereka semua sama.
Mereka mendorong ranjang Trevor dengan tergesa-gesa, dan aku berlari mengikuti di belakang hingga ikut masuk ke dalam.
Aku bisa mendengar jantung Trevor dari alat pendeteksi. Jantungnya berdetak tak beraturan. Teruslah berdetak, pikirku panik padanya, Kau sudah berjanji selalu ada untukku.
"Maaf, anda harus keluar." kata seseorang sambil mendorongku dengan pelan, namun aku tidak bergeming. Tubuhku bergerak mundur dengan terpaksa namun aku tidak menyadarinya.
Namun belum juga aku keluar melewati pintu, terdengar suara alat pendeteksi jantung menunjukkan bahwa jantung Trevor melemah, terputus-putus dan terdiam. Alat pendeteksi jantung itu berdenging. Suara itu seakan menjadi suara paling mengerikan yang pernah ku dengar seumur hidupku.
"Defibrillator." teriak seorang Dokter, setelah jantung Trevor tak berdetak selama setengah detik, kedua tangan Dokter menengadah, menunggu alat pacu jantung yang telah di beri gel elektrolit.
Dokter langsung menekankan alat itu di dad* kakakku yang terbuka. Dokter menghitung sambil berusaha menjaga agar ritmenya tetap terjaga.
Aku tidak bisa melihat lagi. Mataku basah dan kabur. Jantung Trevor tak mau bereaksi di bawah tekanan tangan alat pacu jantung yang menuntut, dan saat ini aku seperti terkurung dalam sebuah ruangan, aku tak bisa mendengar apapun kecuali suara detak jantungku sendiri.
Aku melihat para Dokter berusaha melakukan tindakan lagi, tapi tak ada reaksi apa-apa. Hanya dad* Trevor yang terangkat naik tak bernyawa.
Mereka mengerahkan segenap upaya untuk membangunkan Trevor lagi. Semua sudah dikerahkan... Tapi tidak ada apa-apa di sana, hanya ada aku yang bersandar lemah di pintu, melihat para Dokter yang berusaha membangunkan mayat. Karena hanya itulah yang tertinggal dari orang yang sangat ku sayangi. Para Dokter tidak bisa membangunkan Trevor lagi.
Saat ku lihat para Dokter itu menyerah dan salah satu dari mereka menghampiri ku, aku tidak tahu apa yang ia katakan, yang jelas ia memintaku mengikhlaskan kepergian kakakku.
Aku berjalan lambat-lambat keluar. Aku tak sanggup menggerakkan kakiku lebih cepat. Inilah samudera kepedihan paling menyakitkan bagiku. Aku tak bisa membayangkan,apalagi melihat kakakku saat ini.
Aku merasa hampa, karena sekarang aku telah kehilangan tujuanku. Bahagia bersama Trevor adalah sesuatu yang telah kuperjuangkan sekian lama. Namun semua sudah berakhir.
Aku bergidik saat terhuyung-huyung masuk ke toilet rumah sakit, entah kenapa aku mendatangi tempat sempit itu untuk menangis di dalamnya.
Entah bagaimana caranya, ingin benar rasanya aku menuangkan cairan pemutih ke kepalaku dan membiarkannya menggosongkan otakku. Membakar habis semua kenangan akan saat-saat terakhir Trevor. Aku lebih suka otakku rusak agar bisa menyingkirkan semua kenangan itu.
Aku menangis sejadi-jadinya sambil menutup wajahku dengan kedua tangan, dan saat aku memperhatikan ruangan sempit tempatku bersembunyi, dad* ku terasa sesak dan pandanganku semakin kabur, aku bisa merasakan kepalaku tiba-tiba membentur sesuatu yang keras dan semuanya menjadi gelap.