-Jaden.-
Ketika aku membuka mata, aku melihat ke sekeliling dan menyadari bahwa aku sedang berbaring di kamar lama ku dengan selang infus.
Aku merasakan perasaan sangat sedih dan menyakitkan, sejenak ku kira bahwa aku mengalami mimpi buruk. Kenangan-kenangan yang telah terjadi beberapa tahun terakhir menjadi sangat samar.
Aku terduduk sambil memegangi kepala, setelah melepas jarum infus dari tanganku, kepalaku sakit dan pikiranku seolah kosong tanpa memory yang jelas. Aku menatap kaca di hadapanku, aku seorang laki-laki dewasa, aku bukan Jaden anak SMA yang tinggal sendirian di rumah ini.
Dengan panik ku coba mengingat semuanya, mulai dari saat aku pergi dari rumah ini dengan diam-diam untuk tinggal di Jakarta, bertemu dengan Trevor dan Adeline, lalu pindah ke Inggris dan. . . kakakku meninggal? dia meninggal? aku menjadi sangat panik ketika aku tidak bisa memastikan bahwa bayangan mengerikan tentang saat-saat terakhir kakakku di rumah sakit itu adalah mimpi atau kenyataan.
Badan ku gemetar lagi, aku berkeringat namun tubuhku membeku dan dingin. "Trevor?" ucapku memanggil nama kakakku, kenangan buruk itu terlihat semakin nyata, dimana kakakku terlihat tak berdaya di ruang UGD dengan alat pendeteksi jantung yang berdenging menunjukan garis lurus.
"Arghhhh..." Aku berteriak sekuat tenaga dan meringkuk hingga ke sudut kamar, aku menarik rambutku dengan kedua tangan, aku sangat ingin mengusir semua pikiran atau kenangan yang mengerikan itu. Aku masih berteriak-teriak seperti orang g*la.
"Tuan Jaden." Deborah masuk ke kamar dan mencari-cari dimana aku berada saat ia tidak melihatku di atas tempat tidur.
Saat aku mengerang, Deborah menghampiriku yang sedang bersembunyi di samping nakas. "Tuan Jaden, tenanglah."
"Deborah?" aku memandangi wajah asisten rumah tangga, wanita paruh baya itu berwajah sendu, tidak seperti kenangan terakhirku tentang nya saat aku pergi ke Jakarta.
Kenangan tentang Deborah yang menangis di rumah sakit muncul di benakku, ia menangis dengan panik saat dokter memberitahu bahwa kakakku sudah meninggal dunia.
Aku mulai berkeringat dan gemetar lagi. Aku panik dan berteriak pagi, semakin bersembunyi ke sudut.
"Tuan, kumohon, kuat lah." Deborah menangis.
Melihatnya menangis, aku sedikit kembali normal, insting untuk menenangkan seorang wanita yang sedang menangis muncul di dalam diriku, aku mengusap air matanya.
"Kakakku?" aku masih berharap bahwa kenangan buruk itu hanya mimpi.
"Anda sudah pingsan selama tiga hari." ucap Deborah.
"Kenapa? aku mabuk? apa aku berkelahi dengan seseorang?" aku mengatakan kemungkinan-kemungkinan yang biasa ku lakukan dulu yang bisa menyebabkan aku untuk jatuh pingsan.
Deborah menggeleng dan menangis.
"Tahun berapa ini?" aku merasa sangat bodoh dengan pertanyaan itu, tapi aku ingin memastikan, karena rasanya semua ingatan masih samar.
"Dua ribu dua puluh satu tuan." jawab Deborah.
"Seharusnya aku berada di Inggris kan?" aku bertanya lagi.
Deborah mengangguk.
"Lalu kenapa aku ada disini?" aku bertanya dan aku benar-benar takut mendengar jawabannya.
"Jaden." ibuku memanggil dan masuk dengan kasar seolah ia mendobrak pintu. Ku lihat ayahku berjalan di belakang ibu.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya ibu.
Aku tidak menjawab, hanya memperhatikan wajah kedua orang tuaku. Ibu memelukku. Namun kenangan saat aku mencoba menelpon mereka untuk mengabarkan bahwa Trevor sedang kritis muncul di kepalaku, aku mendorong ibu dan mundur.
"Trevor?" kataku, aku baru benar-benar yakin bahwa kakakku sudah tiada. "Tidak." aku berlari keluar untuk melihat keadaan rumah ini, apakah sedang ramai dikunjungi orang yang datang untuk berbela sungkawa. Tapi tidak ada orang yang datang, rumah dalam keadaan sepi.
"Dimana Trevor?" kataku pada ibu yang mengikuti ku dari belakang. "Apa masih di rumah sakit?" aku menanyakan jenazah kakakku.
"Trevor sudah dimakamkan kemarin nak." jawab Ibu.
Aku terjatuh lagi, kakiku tak bertenaga untuk menopang tubuhku. Aku yang menyebabkan kakakku meninggal dunia, tapi sebesar itukah kesalahanku? hingga aku tidak diberi kesempatan untuk mengucapkan sesuatu dan melihatnya untuk terakhir kali?
"Jaden. Bangun." ayah menarik lenganku.
Aku mencoba berdiri dan berpegangan, namun kepalaku terasa berputar-putar lalu semuanya gelap lagi.
* * *
"Jaden.." ku dengar suara ibu memanggil dari kejauhan.
Tapi ada teriakan lain yang terdengar begitu menyakitkan dan mengerikan, teriakan itu begitu dekat hingga membuatku sangat takut.
"Jaden." ibuku memanggil lagi, kali ini suaranya terdengar lebih jelas.
Aku membuka mata dengan tubuh berkeringat dan terengah-engah. Aku langsung menyadari bahwa teriakan yang ku dengar tadi berasal dari diriku sendiri. Aku berteriak dalam tidurku.
Ini pertama kalinya aku merasakan mimpi buruk yang begitu nyata, aku tidak ingat itu mimpi yang seperti apa, aku hanya bisa merasakan ketakutan yang mencengkeram ku begitu kuat.
"Kau baik-baik saja?" tanya ibuku dengan cemas. Ini pertama kalinya aku melihatnya mencemaskan aku.
Aku menutup wajahku dengan tangan sambil menunduk. Aku sadar ada yang tidak beres dengan diriku saat ini, terutama pada otakku. Aku bahkan sangat takut jika seseorang membahas tentang kakakku, aku tidak ingin mengingatnya.
Kenangan indah tentang Trevor pun kini terasa begitu menyakitkan. Aku putus asa dan marah pada diriku sendiri, mungkin karena perasaan bersalah mendalam yang muncul di benak ku.
Andai saja aku tidak memintanya datang, andai saja aku tidak merengek seperti anak kecil untuk memintanya menemaniku, mungkin saat ini Trevor masih hidup, dia anak sempurna kebanggaan keluarga, pria tampan penuh wibawa juga cerdas. Tidak seperti aku yang hanya bisa bermain-main dan berfoya-foya. Ada begitu banyak protes dan pinta yang ingin ku katakan pada Tuhan.
Aku tidak marah pada Tuhan mengapa Dia 'mengambil' kakakku. Tapi aku marah mengapa Dia tidak 'mengambil' ku juga? atau mungkin ini hukuman yang harus ku jalani karena dosaku?
"Sudah berapa lama aku tertidur?" aku bertanya pada ibu, saat aku bisa sedikit menenangkan diri.
"Hanya beberapa jam. Turunlah, kurasa kau harus memakan sesuatu." kata ibu.
Aku tidak ingin makan, tapi aku merasa cukup lapar, mungkin saja jika aku memakan sesuatu maka tubuhku akan membaik, mungkin aku bisa memiliki sedikit tenaga dan tidak gemetar lagi.
Jadi ku ikuti ibuku untuk turun dan bergabung dengannya di meja makan.
"Dimana ayah?" aku bertanya.
"Sedang ada proyek iklan yang harus diselesaikan nya."jawab ibu.
Aku tidak mengatakan apapun lagi, aku sungguh tidak tertarik dengan apa yang dilakukan ayah, bahkan ibuku. Aku hanya bertanya karena ku pikir ayahku masih dalam keadaan berkabung disini.
"Selamat makan." Seorang pelayan yang belum ku kenal meletakkan sepiring Fajitas di hadapanku. Aku menoleh padanya lalu melirik piringku. Potongan daging sapi yang dihidangkan dengan Taco dan Tortila itu kelihatan cukup enak.
Lama sekali ku pandangi makananku, tidak ada yang ku pikirkan, kepala ku terasa kosong, sangat kosong sehingga rasanya otakku tidak bisa memerintahkan tanganku untuk bergerak mengambil sendok.
"Makanlah." Kata ibu, setelah cukup lama aku melamun.
Aku menoleh padanya dengan mata sayu ku. Lalu mengambil sendok dan garpu dengan sangat perlahan.
Satu suapan pertama, harum aroma daging bercampur dengan bawang bombay yang seharusnya menggugah selera itu kini malah membuatku mual. Aku berhenti mengunyah selama beberapa detik.
Lalu ku coba suapan kedua, dan kali ini tidak bisa ku tahan lagi, aku berlari mencari wastafel terdekat dan memuntahkan semua nya. Dan secara tiba-tiba aku merasakan nyeri seakan otot-otot perutku mengencang dan mencengkeram semua organ dalam di perutku.
"Ada apa?" tanya ibuku.
Aku menggeleng.
"Apa anda baik-baik saja?" tanya Deborah, saat aku menoleh, aku melihat kecemasan di wajahnya.
"Perutku kram." kataku lalu meraih lengan Deborah, aku merasa Deborah lebih bisa membuatku tenang ketimbang ibu.
"Perlu ku panggilkan dokter?" tanya Deborah lagi sambil memapah ku.
"Tidak, aku hanya butuh istirahat."
"Benar, kau harus diperiksa." Rupanya ibu mengikutiku di belakang. "Besok aku akan memanggil dokter untuk memeriksamu." katanya.
Aku tidak menjawab.
"Besok ibu sudah harus pergi, Deborah akan menjagamu disini, aku akan menyuruh seseorang untuk mengajukan cuti untuk kuliahmu, oke?" ibuku berbicara cukup lembut, mungkin ini pertama kalinya aku merasa dia cukup mengkhawatirkan aku.
"Terserah saja." kataku. Lalu aku berbaring dan meringkuk di balik selimut.