-Jaden.-
Malam itu, aku dan Laura gagal menemui Adeline karena mantan calon kakak ipar ku itu sedang bekerja di tempat yang kami tidak tahu dimana.
Pagi ini aku terbangun karena mimpiku lagi, dan sekarang aku duduk sendirian di rumahku, atau lebih tepatnya apartemen kakakku, Deborah tidak bisa ikut ke Jakarta karena ia akan menikah bulan depan. Wanita itu sudah cukup dewasa untuk menjalani hidup sebagai seorang istri dari pria yang baik.
Perutku lapar tapi rasanya semua makanan di kulkas tidak membuatku berselera, dan aku takut kalau aku akan memuntahkan makanan itu lagi.
Ting.. Tong..
Bel di pintu berbunyi.
Entah kenapa hatiku sangat senang ketika melihat wajah Adeline yang terlihat di monitor pintu. Cepat-cepat ku tekan tombol open. Lalu ku tunggu ia masuk di depan pintu.
"Hai." sapa Adeline dengan langsung memelukku erat-erat. "Bagaimana kabarmu?"
"Baik." jawabku. "Kau sendirian?" kataku lalu mempersilahkan dia masuk.
"Ya, Laura memberitahu ku bahwa kau ada di Jakarta dan semalam kalian mencari ku kan?" ia bertanya sambil memperhatikan wajahku. Jujur saja aku malu ia melihatku seperti ini.
"Ya, tapi kami gagal menemukanmu." Aku mengabaikan rasa malu itu.
"Apa yang kau lakukan dengan ini?" tanya Adeline saat melihat tumpukan roti yang sudah ku oles dengan berbagai selai. Tapi tidak ada satupun yang ku makan. Mereka semua berantakan di meja.
"Aku berencana untuk sarapan." kataku lalu duduk dan menggigit roti. "Kau mau?"
"Tidak. Itu terlihat berantakan." katanya lalu duduk sambil menatapku lagi.
Aku mulai merasa mual, aku bahkan belum menelan separuh dari roti itu dan sekarang sepertinya aku akan muntah.
"Ada apa?" tanya Adeline saat melihat aku mengunyah sambil mengernyit.
Aku menggeleng. Masih terus memakan roti.
"Kalau tidak enak jangan dimakan." katanya saat melihat aku semakin tidak nyaman.
Aku tidak tahan lagi dan langsung berlari mencari wastafel, hal yang biasa ku lakukan setiap kali aku makan.
"Sudah ku bilang makanan itu terlihat tidak enak." katanya sambil menepuk-nepuk punggung ku.
"Menjauhlah." aku menepis tangannya dengan pelan saat ia menyeka rambutku yang jatuh ke dahi. Aku benar-benar tidak ingin ia melihatku seperti ini.
"Kenapa?" ia bertanya, masih membantuku meredakan mual.
"Ini menjijikan." ucapku risi.
"Apa kau tidak tahu aku selalu berfantasi untuk menjadi seorang perawat?" katanya.
Aku mendengus sambil menatapnya setelah mencuci mulutku. "Kau masih saja keras kepala."
"Dan kau banyak berubah." katanya sambil mengelap pipiku yang basah dengan tissue.
Aku tahu Adeline melakukan ini dengan menganggap bahwa aku adalah adiknya, tapi anehnya aku merasa tidak nyaman,wanita ini terlalu sembrono untuk melakukan kontak fisik padaku, meski aku lebih muda, tapi aku tetap saja seorang pria.
"Ini sudah jam sebelas siang, bukan lagi waktu nya untuk sarapan." Adeline menarik ku untuk duduk di sofa. "Bersandarlah." katanya sambil mendorongku pelan untuk bersandar di kursi.
Aku menurut saja.
"Saat kau merasa mual, maka lakukan ini." katanya sambil menekan titik pergelangan tangan bagian dalam ku dengan gerakan memutar. "Tarik nafas dalam-dalam."
Aku menarik nafas dalam-dalam.
"Tunggu selama tiga puluh menit baru hembuskan." katanya dan ia membuatku tertawa.
"Kau ingin membun*hku?" kataku sambil tertawa namun aku langsung teringat lagi bahwa aku membun*h kakakku. Tak bisa ku hindari untuk kembali muram.
"Bagaimana kalau aku memasak sesuatu untukmu?"
"Apa? tidak ada apapun yang bisa dimasak disini." kataku. Kulkasku memang belum terisi sama sekali.
"Kau punya banyak uang kan?" Ia bertanya.
Aku mengangguk.
"Kalau begitu ayo kita belanja." Adeline meraih tanganku dan mengajakku pergi.
* * *
"Kau ingin makan apa?" Adeline bertanya sambil melihat-lihat sayuran segar di swalayan.
"Terserah kau saja." kataku, aku mendorong troli di belakangnya.
"Kalau begitu aku masak..." ia menggerak-gerakkan jari telunjuknya di dagu sambil memilih bahan makanan. "Ayam lada hitam saja." katanya lalu mengambil daging ayam yang sudah di filet, bawang bombay, parika dan cabai hijau. "Aku yang beli, tugasmu hanyalah membayar."
Aku ternganga dan tertawa, apa wanita selalu seperti itu?
"Bisa bantu aku memotong bawang." katanya lalu meletakan bawang, pisau dan alas potong setelah kami kembali ke rumah.
Selagi ia mencuci daging ayam dan menyiapkan bahan lain aku memotong bawang hingga mataku perih.
"Kalau tidak suka bilang saja." katanya lalu mengambil sisa bawang yang belum ku iris,"Baru disuruh iris bawang sudah menangis."
Aku tidak bisa melihat, mataku berair dan perih, semakin aku menyeka mata dengan tangan semakin mataku perih.
"Kemari." katanya menarik tanganku dan menuntunku menuju wastafel. "Jangan di kucek, tanganmu kan kena air bawang, jadi tambah perih. " Ia membasahi tangannya dengan air dan membersihkan mataku.
"Del, tanganmu kena bawang juga tidak?" aku merasa tangannya bau bawang.
"Kenapa panggil aku seperti itu?" ia menepuk dahiku dengan tangannya. "Aku lebih tua darimu."
"Hmmm.. diskriminasi umur," ucapku. "Lagipula kau cuma lebih tua tiga tahun dariku, tubuhku lebih tinggi, kita terlihat sama."
"Cuci tanganmu," katanya."Kau tunggu saja, biar aku yang kerjakan semua."
DALAM LIMA BELAS MENIT, MAKANAN SUDAH SIAP.
"Mari makan." katanya sambil membawa piring berisi ayam dengan tergesa-gesa. "Aduhh.. panas."
Aku hanya menatap makanan yang terlihat lezat itu, aku berpikir jika nanti aku memuntahkannya lagi, apakah Adeline akan merasa tersinggung?
"Kenapa melamun?" tegurnya."Ayo makan."
"Kau bekerja dimana?" tanyaku sambil mencoba memakan makanan ku.
"Toko bakery, tapi hari ini aku libur." jawabnya. Aku melihatnya makan dengan lahap, dan itu berhasil membuatku merasa kelaparan."Dan kau? Apa yang akan kau lakukan disini?"
"Kurasa aku akan kuliah lagi."
"Di Jakarta?"
"Ya, tidak ada bedanya, kuliah dimana pun sama selama banyak wanita cantik." kataku, dalam satu tahun terakhir, ini pertama kalinya aku membicarakan tentang minat pada wanita cantik.
"Dasar mata keranjang!" serunya.
"Bagaimana denganmu? Apa kau sudah punya pacar baru? Sejak berpisah dengan kakakku." sejak tadi aku benar-benar penasaran tentang kehidupan asmaranya.
Adeline tertawa. "Ayolah.. Yang benar saja, itu sudah bertahun-tahun yang lalu."
"Jadi sudah berapa kali berganti pacar?"
"Belum sama sekali." jawabnya dengan wajah masam.
Berani sumpah, aku hampir tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi bodohnya. "Kukira tadi kau akan menyombongkan diri."
"Sayangnya tidak ada yang bisa ku sombongkan." ucapnya ketus. "Selama ini aku hanya fokus pada karirku. Aku tidak ingin memikirkan tentang pria atau pasangan hidup dan sejenisnya."
"Bekerja di bakery adalah karir?"
"Tentu saja tidak." Ia menjawab dengan serius masih sambil menyuap makanannya. Jika saja ia bukan Adeline maka pasti aku akan marah, aku tidak suka melihat seseorang makan sambil bicara, itu menjijikkan. Tapi Adeline tidak terlihat begitu. "Aku berencana untuk menjadi seorang penulis, sekarang aku sedang berusaha mengajukan naskah ku pada beberapa penerbit."
"Benarkah?" tanyaku. "Cerita seperti apa?"
"Rahasia."
Aku mencibir, dan saat aku melihat piringku, piring itu kosong. "Kapan aku menghabiskan semuanya?" aku terheran-heran.
"Dari tadi kau mengunyah sambil bicara, bawel sekali. Lain kali kalau mau makan jangan lupa berdoa dan fokus. Makanan sudah habis malah tidak sadar." gerutunya lalu mengambil piring kotor di meja dan membawanya ke tempat cuci piring.
Aku memeriksa perutku lalu memegang d**a dan tenggorokan ku, aku tidak merasa ingin muntah, memang ada perasaan sedikit mual, tapi kurasa aku bisa mengatasinya.
"Sini ku bantu." kataku menghampirinya lalu mengambil lap untuk mengeringkan piring yang ia cuci.
"Apa kau kenyang?"
"Ya, sangat kenyang." kataku sambil tersenyum, aku ingin sekali tertawa saking senangnya, hari ini aku tidak memuntahkan makananku, karena itu mungkin aku tidak perlu minum suplemen.
"Kenapa tidak punya pacar?" aku bertanya sekali lagi.
"Sudah ku bilang aku ingin fokus pada karirku." ia juga menegaskan sekali lagi.
"Bukan karena kau jelek?" ucapku sambil mencibir di sampingnya.
"Hei, Aduh!" Serunya saat dahinya membentur hidungku. Ia mengusap-usap dahi dengan jari. Rupanya tadi ia ingin membenturkan kepalanya untuk menumbuk leganku, tapi sepertinya saat mencibir, wajahku terlalu dekat hingga dahinya mengenai hidungku.
Aku tertegun, jujur saja aku merasa berdebar. "Rasanya seperti sebongkah batu melayang di hidungku. Kepalamu keras sekali." gumamku untuk mencairkan suasana, atau mencairkan hatiku lebih tepatnya.
"Apa?" Adeline menepuk mulutku dengan kasar.
"Aduh!"
"Bilang sekali lagi." katanya mencoba menepuk lagi, namun aku menghindar.
"Kepalamu seperti batu." teriakku lalu mundur satu langkah menjauhinya.
"Sini kau." Adeline mengangkat tangan sambil mengejar ku. "Jangan sampai tertangkap olehku ya."
Aku berlari menghindarinya dengan tertawa dan akhirnya jatuh karena tersandung kaki kursi.
"Anak kurang ajar!" Serunya sambil memukul-mukul bahuku.
Aku masih tertawa dan membungkuk di bawah penyiksaannya.