-Adeline-
"Kenapa kau banyak sekali minum?" Laura mengambil gelas kelima ku.
"Hei. Aku sudah dewasa." ucap ku, hatiku terasa sangat sakit hari ini, berada dekat dengan Jaden membuatku mengingat Trevor. Pria itu dengan bodohnya pergi tanpa mengucapkan kata perpisahan apapun padaku.
"Dewasa tapi tidak perlu seperti ini." katanya lalu ku lihat dia menelepon seseorang.
"Hidup itu, kenapa begitu rumit?" aku bergumam sambil menundukkan kepala.
"Hidupmu masih panjang, asalkan tidak mabuk-mabukan seperti ini." Laura mengomel lagi.
"Aku juga bukannya mabuk setiap hari, hanya saja beban ku terasa sangat berat, aku ingin melakukan hal keren seperti di film-film saat sedang mendapat masalah." kataku.
Laura tertawa. "Kau ini kalau mabuk suka aneh-aneh."
"Hidupku penuh dengan masalah." ucapku lagi. "Ditinggalkan, kecewa, mencoba mengumpulkan semangat kemudian frustasi lagi. Semua masalah hati ini seakan tidak cukup membebaniku, aku masih harus berjuang bekerja dan mencapai cita-cita."
"Baiklah, silahkan minum sepuasnya malam ini, tapi lupakan semuanya besok ya sayang." ucap Laura sambil menyeka rambutku yang berantakan menutupi wajah.
Aku mengangguk-angguk membuat rambutku berjatuhan lagi.
"Nah ini dia!" seru Laura saat seseorang datang.
Aku mendongak, Jaden berjalan mendekat dengan sweeter berwarna cokelat.
"Ada acara apa ini?" Jaden duduk di sebelahku dengan kedua tangan di dalam saku sweeter nya.
"Dia sedang galau." bisik Laura pada Jaden.
"Boleh ku minta satu gelas?" Jaden meraih gelas namun Laura menepuknya.
"Kau tidak boleh mabuk juga, antar dia pulang, karena aku masih ada urusan." bisik Laura lagi. Padahal aku bisa mendengar meski aku bersandar di kursi dan memejamkan mata.
"Kau mau kemana?" tanya Jaden.
"Ayahku memanggil." jawab Laura.
"Oke." Jaden ikut berbisik.
"Del, aku pulang duluan ya, tapi sebaiknya kau juga pulang, Jaden akan mengantarmu." Laura menepuk tanganku beberapa kali.
Aku membuka mata dan mengangguk.
"Ayo." Jaden memegang lenganku dan membantuku berdiri, kepalaku terasa sangat berat dan aku mengantuk.
"Hati-hati berkendara." ucap Laura ketika aku dan Jaden sudah berada di dalam mobil.
"Iya ibu." jawab Jaden.
"Aku serius." Laura memukul bahu Jaden. "Aku pergi dulu ya sayang, besok pagi aku akan menjengukmu."
"Baik sayang, hati-hati di jalan." ucapku sambil melambaikan tangan padanya.
Dalam perjalanan, aku hanya diam. Keheningan membuatku sangat ingin menangis. Hari ini aku sangat merindukan Trevor, apalagi dengan duplikatnya berada di sampingku. Jaden benar-benar terlihat seperti Trevor saat pertama kali aku mengenalnya.
"Kenapa menangis?" tanya Jaden saat tanpa sadar aku terisak.
Aku menggeleng. Tak lama aku merasakan mobil berhenti melaju.
"Ada apa?" tanya Jaden lagi. Rupanya ia menepikan mobilnya. "Setiap kali aku punya masalah aku kan selalu cerita padamu, itu membuatku lebih baik belakangan ini. Jangan sampai kau jadi seperti aku juga."
Jadi seperti dia? rasanya akan lebih baik jika aku jadi lebih parah darinya,aku lebih suka kehilangan ingatanku dan menjadi g*la, semua ini terasa sangat berat tapi anehnya aku masih tetap waras.
* * *
-Jaden.-
"Aku merindukanmu." gumam Adeline sambil menunduk.
"Apa?"
"Kau pergi tanpa mengucapkan apapun padaku, ku kira suatu hari kau akan datang dan memperbaiki semuanya, tapi kenapa malah pergi selamanya?" katanya malah semakin terisak. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Aku tertegun, rupanya selama ini Adeline juga terluka, wanita yang ku kira sangat tegar dan sudah merelakan semuanya itu ternyata juga tertekan.
"Maafkan aku." ucap ku. Maksudku adalah maaf karena membuat Trevor pergi untuk selamanya. Aku masih merasa semua itu adalah salahku.
"Kalau begitu perbaiki semuanya." Adeline mengangkat kepala dan menatapku.
"Bagaimana?" Aku masih tidak mengerti perkataan wanita yang sedang mabuk ini, aku bingung antara ia bergumam sendiri atau sedang berbicara denganku.
"Aku merindukanmu." ucapnya lalu memelukku. Aku baru mengerti bahwa ia tanpa sadar menganggap ku sebagai Trevor.
"Aku yakin kakakku juga merindukanmu." ucapku lirih. "Maafkan aku."
Tak ku sangka Adeline malah naik ke pangkuanku, dengan posisi duduk menghadap padaku dan tanganku otomatis memegang tombol pengatur jok hingga kursi ku mundur.
"Kenapa wajahmu tidak berubah?" ucapnya. Kedua tangannya memegang pipiku.
Ini bukan pertama kalinya seorang wanita duduk di pangkuanku, tapi kali ini aku merasa kakiku gemetar.
"Aku semakin tua kenapa kau tidak berubah sama sekali?" Ia merengek.
"Adeline kau salah orang, turunlah." kata ku, aku merasa wajar saja wanita mabuk ini mengira bahwa aku adalah Trevor, karena kenyataannya wajahku dengan wajah kakakku nyaris sama persis.
"Bagaimana kabarmu?" ia menatapku, wajahnya begitu dekat hingga aku bisa mencium bau alkohol dari napasnya.
"Baik. Dan sebaiknya kau turun dulu." ku putuskan untuk menanggapi wanita mabuk ini.
"Katakan, apa kau merindukanku?" Adeline melingkarkan tangannya di leherku. Wajahnya semakin dekat sekarang.
"Kau salah orang Adel." aku mengingatkan nya sekali lagi. Dan aku tersentak saat bibirnya menyentuh bibirku. Aku kembali merasakan alkohol pada napasnya ketika dia melakukan itu . Aku mematung, benar-benar mematung karena shock.
"Adel." Aku mencoba melepaskan diri darinya dan berpura-pura seakan jantungku tidak berdebar karenanya.
"Kau tidak merindukanku?" ia bergumam lagi, wajah sendunya terlihat begitu menyakitkan untukku.
"Seandainya aku adalah Trevor, aku tidak akan berpikir dua kali untuk menyambutmu." kata ku.
Dan Adeline menyentuhkan bibirnya ke bibirku lagi. Dulu aku sering melakukan ini dengan banyak wanita, tapi kali ini rasanya berbeda, ciumannya cukup lembut untuk membuatku menginginkan lebih.
Aku sudah mengabaikan logika saat bibirku terbuka, dan dia mengambil keuntungan penuh, menarik rambutku sekali lagi, mencelupkan lidahnya ke mulutku, dan menarikku sedekat mungkin dengan tubuhnya. Aku menutup mata, menikmati perasaan aneh ini, perasaan saat bibirnya melumat bibirku dengan lembut.
Aku tidak bisa seperti ini, biasanya aku cenderung aktif daripada pasrah, tapi ini adalah Adeline, sejenak aku berpikir tentang apa yang harus ku lakukan saat kami berciuman.
Beberapa detik kemudian aku membalas ciumannya, gantian aku yang menyerangnya, memeluk pinggangnya hingga tubuh kami tak berjarak sedikitpun.
Aku tidak bisa membentuk pemikiran yang kuat, apalagi membuat kalimat untuk menurunkan nya dari pangkuanku.Saat ini kami malah berada pada situasi ciuman panas penuh gairah. Kalau saja dia pacarku, atau paling tidak andai saja dia bukan Adeline, atau jika saja dia bukan sosok kakak bagiku. Pasti aku sudah membawanya ke suatu tempat agar kami bisa melakukan hal yang lebih dari ini.
"Hentikan." Aku kembali mewaraskan diri dan meraih tangannya saat ia meraba ku lebih jauh.
Matanya berkedip, dan dia menjatuhkan tangannya ke samping.
"Ini aku." Aku mengingatnya lagi. Aku berharap dia segera sadar dan turun dari pangkuanku, karena jika tidak, aku mungkin akan menyambutnya lagi.
Adeline tertawa. "Baiklah cukup untuk malam ini." katanya lalu turun dari pangkuanku. Sepertinya dia belum sadar dengan apa yang ia lakukan. "Antar aku pulang."
Antara kecewa dan tidak. Aku mengantarnya pulang dengan selamat sampai di rumah. Selamat dari khilafku sebagai pria tak bermoral yang mau saja b******u dengan wanita yang sudah seperti kakakku sendiri.