Kalau dibilang klien spesial memang bukan, tapi nyatanya Markus dapat kunjungan langsung dari Kapten Bay. Atasan Bryan itu sudi menyisihkan waktu untuk menjenguk korban tabrak lari yang kasusnya sedang diurus anak buahnya. Demi menghormati penyalur uang ke rekening kepolisiankah?
Bisa jadi.
Tapi ini lebih kepada telepon langsung dari pihak Markus yang menginginkan Kapten Bay datang mengunjunginya. Ada suatu hal yang ingin dikatakan Markus pada Kapten dan itu berkaitan dengan Bryan.
“Jadi?” tanya Luo setelah Kapten Bay keluar dari ruang rawat Markus.
“Tidak terjadi apa-apa,” jawab Kapten santai.
“Kapten, kau memberi perhatian spesial padanya.” Luo takut saingannya bertambah. Sudah ada temannya Markus, Bryan, dan sekarang kaptennya ikut serta. Dia pasti orang pertama yang akan tersingkir. “Itu bukan karena keluarganya, kan?"
“Dia memang spesial,” jawab Kapten Bay masih terlihat santai. “Utusan Presiden dan keluarga besar Liem yang membuat Markus spesial,” tambahnya, kali ini sudah tidak lagi menggunakan nada santai.
Kapten Bay duduk di deretan kursi tunggu. Mengeluarkan rokok dan korek api. Menyematkan rokok di bibir, lalu menyulut ujungnya dengan api. Kapten menyimpan koreknya, memulai proses merokok dan mengembuskan asapnya ke sekitar.
“Di sini ada larangan merokok?” tanyanya. Luo menganggukinya tanpa pikir panjang. “Sudah kukatakan pada istriku kalau aku berhenti merokok.”
“Ya, tapi mungkin ada pengecualian untukmu,” jawab Luo acuh tak acuh. “Kapten pimpinan kami, siapa yang berani memprotesmu. Istrimu juga tak akan melihatmu merokok kali ini.”
Kapten Bay mengembuskan asap rokoknya sekali lagi. Setelah terbatuk-batuk di hisapan kedua itu, dia mematikan rokok dan mengembalikan dalam wadahnya.
“Jangan bilang pada siapa pun kalau aku merokok di rumah sakit!” pintanya. “Ini berhubungan dengan kasus Markus Liem itu. Dia membuatku sakit kepala.” Kapten tidak mau berpura-pura lagi.
Dengan melihat Kapten Bay kembali merokok, Luo bisa menebak kemungkinan masalahnya bertambah pelik.
Kasus Markus Liem bukan makin jelas, malah makin rumit. Segala tindak kejahatan kasus itu telah ditangani dan berjalan pesat, tapi masalah keberadaan Markus di negara ini yang membuat Kapten Bay jadi bingung. Utusan Presiden menawarkan penghormatan tertinggi untuk Kapten Bay dan semua anak buahnya kalau berhasil membuat Markus bertahan. Namun, Beliau juga mengancamkan penurunan atau lebih kejam lagi pencopotan jabatan besar-besaran di devisi yang dia pimpin kalau perintah itu gagal dilaksanakan.
Di lain pihak, utusan keluarga Liem mendesak Kapten Bay segera memecahkan kasusnya. Baru-baru ini pihak itu menawarkan sejumlah uang lagi agar nantinya hasil penyelidikan dimanipulasi. Intinya keluarga Liem mau Markus keluar dari negaranya sendiri. Bagaimana Kapten Bay tidak pusing sekarang?
“Kau tahu, apa yang barusan dikatakan Markus padaku?”
Luo menggeleng cepat.
“Dia menyukai salah satu agenku.”
Luo hampir-hampir tersenyum. Pasti dirinya, siapa lagi agen terhebat di sini selain dia? pikirnya, terlalu percaya diri.
“Dia bilang menyukai Bryan. Dia minta padaku agar diizinkan berpacaran dengannya.” Kapten mendesah, demikian juga Luo. “Gila! Apa yang dilakukan berandal itu sampai Markus jatuh cinta padanya? Mana dia sekarang?”
Bryan tiba-tiba muncul.
“Aku di sini!” sahutnya. Baru datang langsung bergabung dengan teman serta atasannya. Dia pura-pura tidak tahu atas apa yang membuat atasannya itu terlihat stres di depannya. “Ada apa membicarakanku?”
Luo mendecih sebelum meneruskan kata-kata Kapten Bay. “Mark menyukaimu!” Nada-nadanya tak rela.
“Menyukaiku?” Dia tertawa kecil. Berlagak apa yang barusan didengarnya adalah berita lucu. “Biar saja, toh aku tak menyukainya.”
Ada peraturan yang melarang hubungan antara aparat polisi dengan semua orang yang berkaitan dengan kasus yang sedang ditangani. Bryan berpegang teguh pada peraturan itu. Setidaknya begitu lagaknya di depan Luo dan Kapten Bay.
“Kapten, kau sedang apa di sini?”
“Sedang duduk dan berfikir keras. Memang kau tak lihat?” suara Kapten Bay sinis.
“Maksudku, sedang apa di rumah sakit ini?”
“Salah satu agenku baru saja dilamar Markus. Itu kau!”
Bryan menunjuk dirinya sendiri.
“Iya kau! Markus menyukaimu dan meminta izinku untuk memacarimu.”
Bryan menampakkan gesture tidak sukanya. Mukanya dibuat sejijik mungkin agar dia terlihat tidak tahu menahu soal masalah ini.
“Dia tak mau kasusnya diteruskan dan mengancam segera pergi dari negara ini kalau kau tak mau jadi kekasihnya.”
“Biar saja dia pergi. Toh, keluarga besarnya menginginkan itu!”
“Lalu kau mau dimutilasi algojonya Presiden?” Luo menakut-nakuti.
“Aku sudah punya kekasih!” belanya.
Luo menepuk dadanya. “Begini saja, Kapten, mintalah Markus Liem agar menyukaiku. Aku bisa jadi kekasihnya. Akan kubujuk dia agar tetap tinggal di sini, se-simple itu memecahkan masalah ini,” tuturnya. “Aku janji akan mengubah sifatku jadi lebih baik dan jadi detektif yang hebat nantinya.”
Luo sudah hebat, tapi kelakuannya yang belum hebat.
“Kau juga punya kekasih!” tambah Bryan.
“Tidak juga. Aku baru memutuskannya kemarin.”
Kapten Bay tiba-tiba memutuskan untuk mematuhi perintah Presiden. Ini tentang kecintaannya pada negara sendiri. Soal uang dari keluarga besar Liem yang telah berhamburan, ditransfer ke segala pihak, dia bisa meminta bendahara negara untuk menggantinya. Kapten Bay cukup memikirkan bagaimana cara membuat Markus nyaman tinggal di negara ini, walau harus mengorbankan Bryan sekalipun.
Masalahnya, keluarga Liem itu bukan orang sembarangan. Mereka memang terkenal dengan sebutan konglomerat berhati baik, tapi selentingan yang beredar di kepolisian, keluarga Liem punya hubungan dengan mafia-mafia kelas dunia. Sering menyewa jasa-jasa pemraktik kejahatan demi kepuasan pribadi. Walau belum ada bukti yang pernah ditemukan, bisa jadi mereka pernah membunuh, memanipulasi, atau sebangsa kejahatan kelas dunia lainnya. Kapten Bay cuma takut akan hal itu.
“Bagus!” celetuk Kapten Bay pada Luo, tapi dia segera berpindah pada Bryan. “Kau setujui saja Markus jadi kekasihmu. Masalah kekasih lamamu, putuskan saja dia!”
“Kapten!” protes kedua anak buahnya. Kompak.
“Kubilang suruh Mark menyukaiku, jangan Bryan. Dia terlalu mencintai kekasihnya."
Bryan menyambung kata-kata Luo, “Aku tidak menyukai lelaki itu.”
“Tidak! Tidak begitu! Ini demi kebaikan kita semua.” Kapten Bay memutuskan untuk bercerita. Toh, di lorong ini tidak ada siapa pun yang mungkin mendengar pembicaraan mereka. “Begini, kita terancam diberhentikan secara tak terhormat kalau sampai Markus keluar dari negara ini. Seperti yang pernah kukatakan kemarin-kemarin bahwa Markus Liem itu membawa keberuntungan tersendiri untuk negara.”
“Lalu apa hubungannya dengan kekasih? Aku atau Bryan yang jadi kekasihnya tidak ada bedanya.”
Kapten Bay tidak mengerti cinta anak muda zaman sekarang. Sudah tahu anak buahnya tidak ada yang menarik, perilakunya ganjil, Markus malah menyukai salah satunya. Secara terang-terangan meminta padanya agar Bryan diperbolehkan jadi kekasihnya pula. Itu agak di luar logika. Dan sekarang, satu lagi anak buahnya berusaha jadi orang ketiga.
Masalah percintaan zaman sekarang lebih pelik daripada masalah politik
Kapten Bay menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Begitu kalau kau tak pernah jatuh cinta!” sindirnya pada Luo.
Cinta tidak bisa dipaksa, hanya itu hal pasti yang dikehatui Kapten Bay. Sedangkan Luo yang diketahuinya suka gonta-ganti pasangan, tentu tidak mengenal yang namanya cinta.
“Dia menyukaimu, Brey. Itu suatu keberuntungan untuk kita. Kalau kau memacarinya, lalu berhasil membujuknya untuk tetap tinggal di negara ini, status kita terselamatkan.”
Bryan mengangguk asal.
“Kalau kau juga bisa meminta padanya membujuk keluarga besarnya agar tak mengusik negara kita, itu akan lebih baik lagi.”
“Aku tidak mengerti,” ucap Luo. Begitu pun Bryan sama tidak mengertinya.
“Kujelaskan ini nanti di kantor. Untuk sementara, turuti dulu apa yang Markus minta darimu. Dia akan pulang hari ini, kan?”
Bryan mengiyakan dengan anggukan.
“Bagaimana pengecekan rumah Markus?” tanyanya berpindah pada Luo.
“Bersih. Aku sudah pastikan sendiri. Anak buahku akan ada di sana sampai Mark datang.”
“Bagaimana dengan kekasihku?” Bryan menyela.
“Putuskan saja dia!” Karena Bryan sepertinya keberatan, Kapten Bay buru-buru menambahkan, “Kalau kau terlalu mencintainya, jadikan dia selingkuhan. Tapi ingat, Markus harus jadi prioritas utama. Jangan sampai Markus tahu kau sudah punya kekasih.”
“Tapi jangan sentuh Mark!” ancam Luo. “Kalau semua ini sudah selesai, aku akan merebutnya darimu!”
Kapten Bay cepat berdiri dan memukul kepala Luo. “Sudah kubilang kalau kau tak pernah jatuh cinta jangan banyak berharap! Markus tak akan mau denganmu, dia sudah jatuh cinta pada Bryan!”
“Tapi aku jatuh cinta padanya, Kapten!”
“Jatuh cinta kepalamu!” maki Kapten Bay disambung dengan pukulan kedua ke kepala Luo. “Kembali ke kantor, aku belum menerima laporan darimu sejak dua hari lalu!” perintahnya pula.
Luo berpamitan pada Bryan, menyelipkan salam untuk Markus, kemudian meninggalkan tempat sambil menggerutu.
“Brey, walaupun tubuh Markus itu bagus, kusarankan kau memang tak menyentuhnya!” kata Kapten Bay sambil menepuk pundak detektif asuhannya. Karena Kapten Bay tahu kalau Bryan penyuka sesama jenis. Beliau juga tahu kalau pesona Markus susah ditolak. “Itu yang dinamakan barang bagus pembawa bencana. Kau paham maksudku?”
Bryan paham. Dia tidak akan menyentuh Markus.
“Bagus. Ingat saja tentang bonus besar yang akan kau terima di akhir pekerjaan ini. Jadi, kau bisa fokus.” Bryan menurut. “Aku akan kembali ke kantor.”