Bryan melihat Markus mondar-mandir melakukan hal-hal tidak jelas. Mengambil barang-barang, keluar masuk toilet, dan naik turun ranjang sesukanya. Walau dia harus meloncat-loncat dengan sebelah kakinya, Bryan tidak mau repot membantu. Dia tahu Markus juga tidak mungkin mau dibantu. Markus adalah lelaki angkuh yang bisa melakukan segalanya sendiri. Percuma Bryan menawarkan bantuan kalau pada akhirnya ditolak. Lebih baik dia duduk diam di sofa.
Dipikir-pikir, tidak ada gunanya dia ditugaskan untuk menjaga Markus. Selama ini tidak ada ancaman apa pun terhadap Markus. Jangankan penjahat, nyamuk saja tidak berani masuk ruang rawatnya. Keberadaan Bryan jadi tidak berguna. Tahu begini, dari awal saja dia minta dialihkan tugas. Dia bosan datang pagi pulang malam cuma untuk bersama Markus. Sekarang terlambat untuk mengeluh, dia sudah terikat kontrak bernilai sejuta dolar dengan Markus. Sudah begitu ada tugas atas nama kepolisian yang ditanggungnya pula. Bryan hanya bisa mendecakkan lidah sambil menggeleng berkali-kali dalam hati.
“Kapten Bay sudah memberitahumu?” Markus meloncat-loncat menghampiri Bryan, kemudian duduk di sebelahnya. “Kukatakan padanya, aku pergi dari negara ini kalau tak diizinkan berpacaran denganmu.”
“Sudah.” Bryan merengut sedikit. “Kapten mengumpankanku padamu.”
“Seperti perkiraanku.”
“Kapten juga menyuruhku membujuk keluargamu,” Markus pasti tahu alasannya, Bryan tidak perlu menutup-nutupi apa yang dikatakan Kapten Bay tadi. “... agar keluargamu tak mengusik negara kita.”
“Tentang itu ...,”
Benar kan Markus tahu? Bryan sudah menduganya.
“Kapten Bay hanya takut,” terangnya. Tidak meyakinkan. “Keluargaku tak sejahat yang dia pikirkan.”
“Tentang …?” tanya Bryan ingin tahu lebih jelas.
“Itu cuma rumor, tidak benar!”
Bryan penasaran, rumor apa yang membuat Kaptennya takut?
“Kau tak usah cari tahu, tak akan pernah ditemukan kebenarannya.”
Bryan bukan tak ambil pusing, dia cuma mau diam untuk sementara. Cepat atau lambat dia juga pasti tahu dari Luo. Atau mungkin tidak, mengingat baru saja dia mematahkan hati Luo gara-gara dapat perintah memacari Markus. Jangan salahkan Bryan, tawaran dari Markus cukup menggiurkan dan perintah langsung dari Kapten Bay tidak mungkin dia tolak. Salah Luo sendiri, dia punya sikap yang tidak cukup membuat Markus tertarik menjadikannya kekasih.
Eh, ngomong-ngomong Bryan juga yang mencegah Markus menawarkan kontrak sejuta dolar itu pada Luo.
Markus menaikkan sebelah kakinya ke atas meja rendah di depannya dengan kedua tangannya. Dia kesakitan di bagian yang baru dioperasi itu. Walaupun operasinya sudah beberapa hari yang lalu dan sekarang kakinya sudah dililit kuat-kuat, tapi masih terasa nyeri. Itu yang namanya fase penyembuhan. Markus mengabaikan rasa sakitnya sejenak. Dia mendorong tubuh Bryan menyandar ke sofa, melebarkan tangan Bryan dan meletakkan kepalanya sendiri di bahu itu.
“Kau perlu memperlakukanku seperti seorang kekasih,” begitu dalih Markus.
“Tumben sekali kau …?”
“Karena aku tahu seseorang akan datang.”
Bryan menajamkan pendengarannya sambil menoleh ke pintu. Sebagai seorang detektif dia merasakan akan kehadiran beberapa orang, mereka sedang berjalan ke ruangan. Bryan bisa tahu karena dia pernah dilatih, tapi bagaimana dengan Markus?
“Bagaimana kau bisa tahu kalau akan ada orang yang datang kemari?”
“Sttt!” Markus mengisyaratkan untuk diam dan ternyata muncul dua orang dari luar kamarnya.
“Mark!”
Tadinya Dennis senang Markus bisa cepat keluar dari rumah sakit, setelah melihat kelakuan temannya itu bersama Bryan, dia langsung mengerutkan keningnya. Antara heran dan aneh.
“Hi, Den!”
Dennis kesulitan berkata-kata. Untung yang datang bersamanya bukan Andrew, bisa jadi akan ada drama rebutan Markus di rumah sakit ini. Dennis heran melihat Markus merebahkan kepala di bahu Bryan. Bagaimana bisa teman sekaligus rekan kerjanya itu melakukannya?
“Den, sekarang aku berpacaran dengan Bryan,” kata Markus to the point. “Aku menyukainya, begitu juga dia. Benar, kan?” Dia menepuk d**a Bryan pelan.
Dennis berteman cukup lama dengan Markus, dia banyak tahu apa yang disukai dan yang tidak oleh temannya itu. Soal cinta, Markus tidak pernah menampakkan gejala jatuh cinta. Markus mencintai pekerjaan dan hidupnya sendiri daripada mencintai orang lain. Kalau hari ini dia memutuskan menyukai Bryan, Dennis belum bisa percaya.
Bryan merasa tidak enak pada Dennis, tapi terpaksa mengangguk demi satu juta dolar dan bonus dari atasannya. Dia juga terpaksa mengikuti alur tangan Markus yang membimbing tangannya untuk saling mengelus.
“Selama keselamatanku ditanggung polisi, Bryan akan tinggal di rumahku.”
“Benarkah?” Dennis terkejut.
“Tentu saja. Selain untuk melindungiku sampai kasus ini terpecahkan, Bryan adalah kekasihku. Rumahku adalah rumahnya juga.”
“Oh,” tanggapan Dennis terdengar agak kurang ikhlas. “Mobilmu sudah siap kalau kau mau pulang sekarang,” katanya mengalihkan topik pembicaraan. Dia canggung membicarakan hubungan Markus dengan Bryan. Tumben-tumbennya Markus bisa dekat dan tertarik dengan orang yang cuma punya profesi sebagai detektif pemerintah. “Kuambilkan kursi roda untukmu.” Dia menawarkan sekalian menghindar dari dua sejoli yang sedang dimabuk asmara itu.
Dennis pergi tepat setelah Markus menyatukan bibirnya dengan Bryan. Dia tidak kuat melihat adegan yang demikian. Bukan Dennis cemburu atau apa, masalahnya hubungan temannya itu agak di luar batas. Dia memaklumi kalau yang ada di sebelah Markus saat ini adalah Andrew, tapi karena Bryan yang ada di sana, Dennis sedikit merinding.
“Jack,” panggil Markus pada sopir keluarga yang ditinggalkan Dennis di ruangan itu. Lelaki itu menunduk hormat. “Kenalkan, ini Bryan, kekasihku. Dia seorang detektif. Dia juga yang melindungiku.”
Jack mengangguk, sementara Bryan mengulurkan tangannya meminta salaman. Dengan canggung Jack menjabat tangan itu. Dia merasakan derajatnya terlalu rendah untuk menyambut uluran tangan kekasih majikannya.
“Aku memang kekasih majikanmu, tapi jangan anggap aku majikanmu juga.” Bryan menggoyang jabatan tangan mereka, lalu cepat dilepaskan.
“Jack, Bryan akan tinggal dengan kita. Kau bisa berteman dengannya.” Jack mengangguk lagi. “Ya sudah, kau angkat saja barangku. Perawat sudah mengepaknya tadi pagi.”
“Baik, Tuan!”
Bryan tidak duduk semobil dengan Markus, dia membawa mobilnya sendiri. Tujuannya sekarang hanya untuk mengantarkan Markus pulang, mengecek dan mengenali sampai sudut rumah, lalu menemui Luo di kantor. Ada Dennis, pembantu rumah, serta dua polisi yang ditempatkan di sana. Bryan bisa meninggalkan Markus tanpa khawatir ada orang jahat menyambanginya.
Awalnya Bryan tidak paham ketika Markus tidak segera turun dari mobil, dia baru tahu ketika menangkap kode lirikan. Markus ingin diangkat dan ditempatkan di kursi roda oleh Bryan. Padahal saat naik, dia bisa melakukannya sendiri. Tapi Bryan tidak protes, dia mengangkat dan menurunkan kekasih barunya itu di kursi roda, juga mendorongnya ke rumah. Dennis berjalan di sampingnya, sedangkan Jack sibuk memarkir mobil.
“Ini rumahku, Brey.”
Rumahnya berkali-kali lipat lebih besar dari rumah Bryan. Tidak salah kalau Markus termasuk orang kaya raya di negara ini. Di mata Bryan, ini hampir seperti istana. Markus pernah bilang ada dua pembantu wanita dan dua pembantu pria, ditambah Markus, cuma ada lima orang. Rumah besar seperti yang sekarang ini masih akan terasa sepi kalau cuma dihuni lima orang. Toh, Bryan juga tidak yakin kalau pembantu Markus tinggal di bangunan utama. Biasanya orang kaya menempatkan pembantunya di bagian paling belakang rumah mereka. Ruang-ruang kecil yang berada di sudut dapur rumah. Bisa jadi Markus tipe orang kaya yang seperti itu?
“Cuma ada lima orang tinggal di sini?”
“Akan tambah kau,” jawab Markus.
“Serta sepupunya Mark,” tambah Dennis. “Dia akan datang akhir minggu ini.”
“Aku tak suka kedatangannya,” eluh Markus. “Dia akan melakukan segala cara agar aku bisa ikut dengannya.”
“Kuharap kau tak terpancing perkataannya.”
Dua polisi yang sedang berjaga hormat pada Bryan. Salah satunya membukakan pintu, lalu mempersilakan mereka masuk. Ada seorang pembantu yang menyambut kedatangan mereka. Pembantu itu langsung mengambil alih tugas Bryan, mendorong kursi roda Markus dan menggiring mereka ke ruang makan.
“Seperti perintah Tuan, kami sudah menyiapkan menu makan siang.” Pembantu itu menempatkan kursi roda Markus di sebelah kursi makan. Dia juga membantu Markus pindah ke kursi.
”Silakan Tuan Dennis,” katanya mengarahkan Dennis pada kursi lain. “Silakan Tuan,” dan mempersilakan Bryan duduk.
Bryan menolak untuk duduk. Dia punya agenda lain di rumah ini. Yang harus dilakukannya adalah mengecek rumah, kemudian menemui partner kerjanya.
“Brey ....”
“Aku tak bisa ikut makan. Aku akan menemui polisi di depan dan memintanya untuk memanduku menyisir rumah ini.”
“Kan bisa nanti.”
Bryan menggeleng. “Karena aku harus menemui Luo setelahnya.”
“Kau bisa makan dulu lalu menemui Detektif Luo. Untuk mengecek rumah bisa kau lakukan lain kali.” Markus agak tidak senang. Seharusnya supaya terlihat benar-benar sebagai sepasang kekasih, Bryan ikut makan dengannya. “Makan dulu!” perintahnya.
“Mark, mungkin ada benarnya Bryan mengecek rumahmu. Kalau ada sesuatu yang tidak beres, dia akan segera tahu. Itu sudah jadi tugasnya.” Dennis bukan bermaksud benar-benar membela Bryan, dia sebenarnya juga tidak nyaman kalau harus makan semeja dengan seorang detektif. “Kalau cuma untuk makan bersama, nanti kau juga bisa makan dengannya.”
Markus memberikan tanda pengusiran dengan tangannya. Bryan dengan segera menyingkir dari Markus dan Dennis yang memulai acara makan mereka dengan berisik. Sementara Bryan berkeliling rumah dengan polisi yang ditugaskan, Dennis mulai mengutarakan keberatannya soal hubungan Markus dan Bryan.
“Mark ...”
“Aku tahu kau mau bilang apa,” potong Markus. “Kau terkejut dengan hubunganku dan Bryan?” Dennis membenarkan tebakannya. “Aku juga tidak tahu kenapa bisa begini. Aku pernah sangat yakin lebih mencintai pekerjaan dibanding yang lainnya. Kalaupun aku ingin memiliki kekasih, Bryan tidak masuk dalam kriteriaku. Tapi ... hatiku berubah saat pertama kali melihatnya masuk ke ruang rawatku.”
“Ini seperti bukan kau. Kau bisa menyukainya, tapi untuk mengambil keputusan berpacaran dengannya itu terlalu terburu-buru,” tutur Dennis. “Dia seorang detektif, Las.”
“Bukankah itu bagus. Dia tak mungkin ikut campur pekerjaanku.” Setelah minum dan meletakkan gelas, Markus menambahkan, “Aku juga bisa mendapat perlindungan darinya.”
“Justru karena dia seorang detektif, kau jadi tak aman. Kesehariannya bergelut dengan tindak kriminal. Pasti banyak penjahat di luar sana yang dendam padanya. Kalau tahu kau adalah kekasih Bryan, kau bisa jadi sasaran balas dendam mereka.”
Markus tersenyum sinis. “Jadi kekasihnya atau tidak, nyatanya banyak orang yang mendendam dan ingin mencelakakanku. Setidaknya dengan adanya Bryan, penjahat akan berpikir ulang.”
“Mereka akan mengira kau dijaga khusus oleh kepolisian?” tebak Dennis dan Markus mengiyakan. “Kau tidak sedang memanfaatkan Bryan, kan?”
“Tidak juga.”
Dennis meninggalkan makanannya. Dia memilih mengerutkan dahi menanggapi pernyataan ambigu sahabatnya.
“Aku benar-benar menyukainya,” katanya sambil kembali tersenyum sinis.
Dennis tidak yakin Markus mencintai Bryan. Dia malah beranggapan itu akal-akalan Markus agar dapat perhatian langsung dari kepolisian. Markus akan merasa tenang kalau terus ada detektif polisi berada di sekitarnya. Mengingat banyak orang menginginkan nyawanya, entah itu karena persaingan bisnis, musuh keluarga, atau suruhan keluarganya sendiri, punya kekasih seorang detektif itu bagus. Intinya, Markus yang tidak pernah aman tinggal di negara sendiri bisa sedikit bernapas lega kalau jaminan keselamatannya adalah kekasih sendiri.
“Yah, kalau kau benar-benar menyukainya apa boleh buat. Rasa suka itu memang sering datang tiba-tiba.”
Dennis membiarkan Markus melakukan apa maunya. Dia yakin Markus selalu berfikir jauh sebelum bertindak. Karena Markus satu dari sekian banyak manusia jenius dan licik yang pernah dikenalnya, Dennis tidak bisa mendebatnya lagi.
Saat pembantu mengemasi meja makan, Bryan kembali dengan petugas jaga. Dia mau berpamitan untuk menemui Luo. Ini penting, dia harus datang secepatnya. Bryan perlu tahu informasi apa yang sudah didapat Luo. Dia tidak bisa diam sedangkan kawan-kawannya sudah beraksi di luar sana. Kalau tugasnya sekarang memang untuk menjagai korban, setidaknya dia tahu perkembangan kasusnya.
“Jam berapa kau akan kembali?”
Bryan membantu Markus kembali ke kursi roda. “Sebelum jam petugas jaga habis.”
“Apa aku perlu tinggal di sini sampai kau kembali, Detektif?” Dennis menyela.
“Kalau tidak keberatan,” jawab Bryan. “Kau harus membiasakan diri memanggil namaku. Kita akan sering bertemu setelah ini, kan?”
“Kau benar, Bryan.” Dia sudah bisa menerima Bryan sebagai kekasih Markus dengan anggapan Markus cuma memanfaatkannya. “Baiklah, aku akan di sini sampai kau kembali. Kuharap ada banyak informasi yang bisa kau dapat dari Detektif Luo”
Bryan mengangguk. Dennis sudah sedikit akrab dengannya. Entah apa yang membuatnya seperti itu, Bryan tidak peduli. Yang penting hubungannya dengan Markus bisa diterima oleh semua pihak. Demi Markus, tepatnya uang yang ditawarkan lelaki itu padanya.
Markus juga mempersilakan Bryan pergi setelah satu kecupan ditinggalkan lelaki itu di dahinya. Sebenarnya Markus mengisyaratkan di bibirnya, tapi Bryan tidak menggubris. Dia masih punya rasa malu di hadapan Dennis. Belum terbiasa. Mungkin nanti, kalau dia sudah menjiwai perannya memiliki kekasih ganda. Dia bisa berbagi ciuman bersama Ren dan Markus.