Bryan kembali ke rumah Markus seperti janjinya. Dia datang sebelum jam jaga polisi habis. Setelah menerima sedikit arahan dari polisi jaga, Bryan mempersilakan mereka pulang. Selepas makan malam Dennis juga berpamitan. Markus menyibukkan diri dengan berkas-berkas perusahaan yang tadi ditinggalkan Dennis, sedangkan Bryan berkeliling lagi di area luar rumah.
“Oh, Pak detektif,” sapa penjaga rumah yang saat itu juga berada di luar rumah. “Anda ingin berkeliling, bagaimana kalau saya temani?”
“Boleh juga.” Bryan ikut lelaki itu melangkah menuju gerbang depan sekadar mengecek pagarnya. “Rumah sebesar seperti ini selalu jadi target perampokan. Bagaimana kalian mengatasinya?”
“Sudah dipasang alat keamanan yang disambungkan kabel-kabel terpendam di sekeliling rumah, Pak. Kalau ada yang masuk tanpa prosedur, alarm akan berbunyi. Lima menit kemudian polisi akan sampai di sini,” terang lelaki itu bangga.
Tugasnya tiap sore adalah mengecek sekeliling pagar, lalu malamnya mengecek sekeliling rumah. Jika semua dalam keadaan baik, dia bisa segera istirahat. Walau hanya dengan prosedur seperti itu, rumah Markus aman-aman saja.
“Penjahat sekarang sudah sangat canggih, jangankan cuma membobol rumah dengan keamaan seperti ini, membobol dunia maya dengan keamanan lebih canggih saja mereka mampu.”
Kalau itu di luar kemampuan penjaga rumah. Baginya pengamanan di rumah ini sudah sangat canggih.
“Bagaimana Mark keluar dan masuk rumah kalau dia pulang malam?”
“Tuan membawa remot pembuka gerbang dan kunci rumah sendiri.” Bukan sesuatu yang asing di telinga Bryan. Rumahnya juga punya sistem yang sama, tapi baginya masih terlalu rawan untuk ukuran rumah mewah seperti ini. “Selama ini belum pernah ada orang asing yang berusaha masuk kemari.”
Bryan masih mengikuti lelaki itu sampai berbelok ke bagian kiri bangunan. Di atas mereka ada balkon sebuah kamar. Lampu kamar itu menyala dan kebetulan Markus pemilik kamarnya. Markus keluar, melongok ke bawah lewat balkon saat percakapan Bryan dan penjaga rumah terdengar olehnya.
“Brey ...,” Keduanya mendongak. “Setelah selesai, pergilah ke sini!” Bryan mengangguk dan Markus menghilang dari balkon.
Tinggal bagian belakang rumah. Penjaga rumah secepat mungkin mengajak Bryan ke sana.
“Siapa saja yang bisa dengan mudah keluar masuk rumah ini selain kalian berlima?”
“Tuan Dennis dan Tuan Andrew,” jawabnya. “Juga seluruh keluarga Liem. Sebenarnya, Pak, rumah ini adalah rumah kelurga, bukan hanya milik Tuan Mark saja.”
Bryan menyipitkan matanya. Itu artinya memang ada saudara Markus yang sering datang. Mungkin yang namanya Cassey itu. Kalau Cassey benar memiliki sifat seperti yang diterangkan Luo, bisa jadi dialah sumber ancaman Markus. Bryan akan tanyakan itu besok kepada seluruh pekerja di rumah ini. Sekarang dia harus mengizinkan penjaga rumah pergi istirahat dan dia sendiri perlu menemui si empunya rumah.
“Cepat selesaikan pekerjaanmu dan segera istirahat. Aku akan menemui Mark!”
“Baik, Pak.”
Bryan melenggang ke dalam rumah. Sudah sangat hafal dengan seluk beluknya. Dia segera melangkah ke lantai atas dan masuk kamar tidur Markus.
Masih dengan terpincang-pincang Markus mendekati Bryan untuk menyerahkan sebuah kertas padanya.
“Apa ini?”
“Kau bisa baca, kan?”
Sebuah kertas, cek lebih tepatnya. Cek bernilai 100.000 ribu dolar yang sudah ditanda tangani Markus, tapi nama penerimanya masih kosong.
“Kenapa memberikan uang sekarang, pekerjaanku belum selesai?”
“Tulis saja nama salah satu anggota keluarga kekasihmu dan biarkan dia yang memilikinya!”
Markus bercanda, kah? Uang sebanyak itu diambil dari bagiannya lalu diberikan secara cuma-cuma untuk Ren? Sesayang-sayangnya Bryan pada Ren, dia tidak mungkin memberikan uang sebegitu banyak pada kekasihnya. Dia sendiri juga yakin kalau Ren tidak akan mau menerima. Lagipula, Ren sedang tidak membutuhkan uang.
“Ini uang muka?”
“Bukan,” sangkal Markus. “Bayar jasa karena aku telah meminjammu,” katanya setelah kembali duduk di ranjangnya.
Ren punya bayaran sendiri? Bryan heran, royal sekali lelaki di depannya ini. Mengeluarkan banyak uang seakan mencari uang tidaklah sulit.
“Kau sudah tahu di mana kamarmu?”
Bryan mengangguk.
“Kalau begitu kau boleh pergi sekarang!”
Bryan jadi seperti bawahan di rumah ini. Dia detektif polisi, posisinya lebih tinggi daripada Markus yang hanya warga sipil. Seharusnya dialah yang memerintah, bukan sebaliknya. Tapi mengingat Markus adalah pemilik rumah, dia klien yang harus dijaga, serta dialah orang kaya yang akan memberinya uang satu juta dolar, Bryan ikut saja. Disuruh tidur bukan berarti dia diperintah, kan?
“Jika butuh bantuanku, kau boleh bangunkan aku kapan pun!”
Markus hanya mengangguk.
***
Yang Bryan ingat, dia tengah tidur di ranjang empuk di rumah Markus. Menggunakan selimut tebal dan dalam ruangan yang hangat. Tapi saat ini dia merasa kedinginan sampai membuatnya menggigil. Perasaan kedinginan itu baru berkurang saat satu tubuh hangat merayap ke atas tubuhnya, dua pasang tangan melingkar di pinggangnya, dan kepala dengan rambut yang begitu harum merebah ke dadanya. Tubuh mereka menempel, kulit mereka bergesek, kehangatan pun mulai menyebar.
Siang tadi Bryan memang terlibat pembicaraan dengan Luo soal urusan ranjang, tidak disangka saat ini dia memimpikan hal yang demikian.
Tubuh itu duduk di perutnya. Tangan halusnya meraba d**a, membentuk tarian erotis, menimbulkan gesekan yang membuat desahan demi desahan lolos dari bibirnya. Napas-napas hangat disusul kecupan-kecupan ringan menghujaninya. Bryan ingin balas melumat bibir itu, tapi sebelum keinginannya kesampaian, bibir itu sudah beralih ke rahangnya. Pindah ke leher, bahu, d**a, lalu membuat deretan kecupan di sepanjang iganya.
Mimpinya indah sekali. Bryan suka karena rasanya seperti nyata, sampai tidak mau membuka mata barang sejenak. Dia bisa merasakan tubuh di atasnya menegang. Bryan ingin menyentuhnya di titik paling sensitif. Membuatnya melayang hingga terlepas bersama jeritan kenikmatan. Bryan melakukannya, mencoba mengulurkan tangan dan menemukan kulit halus teraba tangannya. Entah bagian tubuh mana, yang jelas Bryan tidak mau berhenti menggerakkan tangannya.
Awalnya Bryan mendengar desahan dan rintihan syarat kenikmatan, kemudian suara pintu yang ditendang paksa muncul sebagai background. Beberapa detik berikutnya tubuh hangat di atasnya menghilang, disusul suara jeritan dan makian.
Bryan masih berharap tubuh hangat itu kembali, tapi ...
“Brey, bangun!” Markus penempeleng Bryan hingga si empunya kepala kaget dan terbangun dengan nyawa berserakan. “Tidak bersama semalam saja kau sudah berniat meniduri sepupuku!”
Bryan masih linglung. Yang ditangkap matanya sekarang adalah Markus tengah melotot ke arahnya. Ada satu lelaki asing berdiri dari lantai dengan wajah kesal dan bawaannya ingin marah. Meski begitu lelaki itu segera tersenyum kepadanya. Bryan masih diliputi euforia kenikmatan hingga daerah selangkangannya menegang tanpa bisa dikontrol. Itu efek mimpi erotis, tidak ada sangkut pautnya dengan tuduhan yang dilayangkan Markus padanya.
“Kau merusak acaraku!” kecam lelaki itu dengan wajah yang terlihat tenang.
“Kau yang merusak acaraku!” tuding Markus, garang. Ekspresinya berbanding terbalik dengan lelaki satunya. “Bryan kekasihku. Enak saja kau sentuh-sentuh dia. Kau mulai berani cari gara-gara denganku, ya!”
“Memang kapan aku tidak berani mencari gara-gara denganmu?” Lelaki itu menyeringai, “Kalau kau tak datang kita sudah melakukannya tadi,” katanya masih tidak ada takut. Pembawaannya sarat akan ejekan. “Begini saja, kupinjam dia malam ini dan kau bisa minta apa pun dariku.”
“Jangan harap!” Markus mengode Bryan untuk beranjak dari ranjang.
Bryan menurut. Dia turun dari ranjang, mengambil baju dan sepatu yang sebelum tidur dia letakkan di depan meja rias, kemudian memakainya.
“Kau tak memperbolehkan aku menyentuh kekasihmu, tapi kau meninggalkannya di sini, Mark.” Lelaki asing itu memperhatikan Bryan yang tengah mengenakan celananya. Dia menyeringai ketika mendapati Bryan meringis kecil. “Kau pasti tak bisa memuaskan kekasihmu,” tuturnya. “Aku bisa lebih hebat darimu.”
Markus mengabaikan tuduhan sepupunya. Dia menuding sekali lagi. “Bagaimana bisa kau ada di sini, ha?”
“Harusnya kau berterima kasih karena aku yang ada di sini, bukan Cassey.”
“Kau datang lebih cepat?”
“Surprise!” ucapnya riang. “Tapi ternyata aku yang malah mendapat kejutan,” lanjutnya sambil mengerling ke arah Bryan.
Markus geram. Berdecak kesal. “Brey, tidur di kamarku!”
Markus menarik paksa Bryan keluar kamar walau belum selesai memakai kemejanya. Sepupunya sempat menyindir, yang ditanggapi Markus dengan dengusan. Kemudian lelaki itu tertawa keras-keras ketika Markus dan Bryan sudah keluar dari kamar.
“Em ... siapa dia?”
Markus melirik Bryan tajam seperti hendak menguliti. Dia menjawab singkat. “Sandy.”
Bryan pernah membaca nama Sandy di daftar nama keluarga Liem. Dia hanya tidak tahu bagaimana rupanya, dan tidak tahu kalau lelaki itu akan datang hari ini.
“Bagaimana dia bisa berada di kamar itu?”
“Tentu saja dia bisa. Dia sepupuku.” Markus memasang wajah bengis, meski pada Bryan ekspresi seperti itu tidak mempan. “Dia perayu ulung. Awas saja kau sampai tertarik padanya!”
Sandy punya akses masuk rumah, sama seperti keluarga Liem lainnya. Lelaki itu sebenarnya baik, cuma kadang-kadang usil sampai membuat orang lain jadi sebal padanya. Hal barusan contohnya. Untungnya selama ini Sandy tidak ikut-ikutan memaksa Markus untuk pindah ke luar negeri. Jadi, Markus membiarkan dia berbuat semaunya di sini.
“Sial!” umpat Bryan. Markus yang sudah mulai berjalan sambil sedikit meloncat-loncat kecil, berhenti hanya untuk menoleh padanya. “Kupikir aku tadi bermimpi.”
Mendapati Bryan kesulitan dengan selangkangannya, Markus buru-buru balik badan. Dia tidak mau tahu masalah Bryan. Salah sendiri, mimpi tidak tahu tempat. Mimpi bersama Sandy pula. Markus tidak sudi membantunya.
Markus kembali berjalan, masih sedikit meloncat-loncat. Dia menggapai kenop pintu kamarnya. Membukanya dan menarik Bryan masuk.
“Ini tak bisa kuselesaikan sendiri. Aku tak terbiasa.”
Setelah menutup pintu kamar, Markus menarik Bryan ke pintu satunya, pintu menuju kamar mandi. Mendorongnya ke dalam secara kasar. “Terbiasa atau tidak, kau tak punya pilihan. Kau kekasihku sekarang. Jadi jangan ada hubungan dengan siapa pun termasuk sepupuku!” perintah Markus sambil bersiap menutup pintu kamar mandi.
“Ya, kau memang kekasihku ...,” sindir Bryan. Dia merebut gagang pintu, lalu menutupnya sendiri. “... kekasih yang tak punya belas kasihan,” tambahnya lebih kepada diri sendiri.
Coba kalau saat ini Bryan bersama Ren, hal seperti ini tidak akan terjadi. Selalu ada yang menyambutnya di saat Bryan butuh pelukan. Dapat servis terbaik dari kekasihnya itu atas dasar cinta. Semua yang dipinta Bryan akan jadi kenyataan kalau yang berada di sampingnya adalah kekasih kecilnya. Membandingkan Markus dengan Ren, Bryan jadi ngilu sendiri. Bukan, bukan Bryan yang ngilu, tapi Bryan kecil dalam celananya.
Belum selesai meratapi nasib, tiba-tiba pintu dibuka, menampilkan sosok Markus yang langsung melipat tangannya di d**a.
“Keluar dari sana!” perintahnya.
Bryan bergeming. Pasang muka heran.
“Keluar dari sana, cepat!”
“Aku harus menyelesaikan di sini, kau bilang!”
“Memang, tapi itu tadi. Aku bukannya orang yang tega melihatmu seperti ini. Sekarang keluar dari sana!”
Bryan hanya menggaruk kepalanya. Tidak yakin kenapa Markus bisa begitu plin-plan saat ini.
“Kau tak perlu tidur dengan orang lain, kau bisa tidur denganku.”
Bryan mengernyit, walau dia masih dalam keadaan tegang, dia tidak berniat meniduri Markus. Ingat betul kalimat terakhir yang disarankan Kapten Bay, tapi ...
“Cepat keluar dari sana dan naiklah ke ranjang!”
Walau tidak berniat tidur dengan Markus, dia menurut. Kalau dia tidak bisa puas untuk malam ini, setidaknya ada yang membantunya lepas. Untuk urusan kepuasan, dia bisa mendatangi Ren besok. Pelan-pelan dia meninggalkan kamar mandi, berjalan ke ranjang dengan perasaan campur aduk.
“Kau yakin mau tidur denganku?” tanya Bryan ketika Markus menelanjangi tubuhnya sendiri. Ada banyak bekas luka dan memar ungu kecokelatan di tubuh itu yang bisa dilihat Bryan dengan jelas. Dia meringis kasihan. Namun, Bryan tidak memungkiri bentuk tubuh Markus yang bagus. Matang sempurna melebihi tubuh kekasih kecilnya. “Kau membayarku cuma untuk jadi kekasihmu.”
“Ini satu paket,” jawab Markus sambil mengobrak-abrik lemarinya. Tak menemukan yang dicari, dia menggeledah laci. Mengambil barang dari laci itu, lalu menghampiri Bryan di ranjang. “Anggap saja reward.”
Reward? Bryan geleng kepala dengan kelakuan lelaki itu.
Suka-suka Markus mau bilang apa. Dia Bos-nya di sini. Lagipula Bryan telanjur tergoda tubuh seksi kekasih barunya meski beberapa luka di tubuh itu agak tidak enak dilihat.
Markus menarik ujung kemeja Bryan untuk mengelap bibir kekasihnya itu dengan cara yang tidak normal. “Kau pasti sudah mencium sepupuku!” Itu tuduhannya, makanya Markus menggosok bibir Bryan secara brutal. “Menjijikkan! Awas saja kau sampai melakukannya lagi!” Lalu menyatukan bibir-bibir mereka.
Kata Luo, Cassey adalah lelaki penggoda dari keluarga Liem. Kata Markus, Sandy adalah penggoda dari keluarganya. Tetapi Bryan mendapati Markus sendiri punya aura penggoda itu juga. Kesimpulan yang bisa Bryan tarik, keluarga Liem kemungkinan punya aura penggoda secara turun-temurun.
Ah, bahas itu lain kali saja. Dia tidak patut menyibukkan diri dengan sifat turunan keluarga Liem karena sekarang dia harus fokus pada Markus.
Bryan melingkarkan lengannya ke pinggang Markus, lalu membalas ciuman lelaki itu.