Markus memutus tautan bibir mereka. Mengambil jarak aman, beringsut menjauh, dan menghindari Bryan. Dia turun dari ranjangnya, menimbulkan tanda tanya besar di benak Bryan. Apakah Markus berubah pikiran?
“Tunggu!” Markus mengembuskan napas keras sekali. “Aku perlu menemui Sandy, ada yang ingin kukatakan padanya.”
Ada sebuah kekhawatiran ditangkap Bryan dari gelagatnya. Markus sedang mencemaskan sesuatu. Sebagai seorang detektif, insting Bryan mengatakan ini berkaitan dengan dirinya.
“Kau berubah pikiran?” tebak Bryan.
“Apa?” Markus balik bertanya. “Berubah pikiran untuk apa?”
“Tidur denganku,” pancing Bryan. “Kau sepertinya tak rela berbagi kehangatan denganku.”
Markus mengatakan tidak, tapi beda dengan yang dibaca Bryan di mukanya. Bisa dibilang Markus adalah salah satu orang yang sulit dibaca mimik mukanya, tapi khusus untuk malam ini kekhawatiran tampak jelas di wajahnya. Seperti rasa gamang untuk disentuh orang lain.
“Kalau kau memang tak mau, kita bisa berhenti di sini. Toh, kau akan tetap membayarku.”
“Sudah kukatakan ini satu paket. Kau dapat uang beserta aku.”
“Kau terdengar seperti jual diri.”
“Ya, tapi bukan aku yang jual diri. Kau yang kubeli.”
Bryan mendudukkan diri di ranjang. Dia mengerti soal pembelian atas dirinya, tapi tidak dengan Markus yang menyerahkan diri untuk ditiduri. Markus yang membayar tapi dia juga yang menyerahkan diri. Atau Markus mau meniduri Bryan? Hal itu mustahil terjadi.
“Aku akan menemui Sandy,” ulangnya.
Markus meraih kemeja Bryan, mengenakan dan mengancingkannya, lalu berjalan ke pintu. Sempat berhenti sejenak ketika memegang gagang pintu, tapi berhasil menguasai diri dengan secepat kilat keluar dari kamar.
Bryan menggelengkan kepala. Dia tidak paham apa yang terjadi dengan Markus, tapi pernah beberapa kali melihat kekasihnya bersikap demikian. Salah satunya adalah Ren. Pertama kali Bryan mengenalkan hubungan badan pada kekasihnya itu, Ren menampakkan reaksi yang sama dengan Markus barusan. Cemas yang berlebihan, ketakutan, dan menghindar sampai tiga kali dalam semalam. Walau akhirnya remaja kuliahan itu pasrah, butuh puluhan kali meyakinkannya. Mengatakan semuanya akan baik-baik saja, menjanjikan kenikmatan dunia yang tiada tara agar Ren percaya padanya. Apa Markus juga sedang mengalami fase itu? Kalaupun iya, Bryan tidak mungkin bilang semua akan baik-baik saja, cukup percaya padanya, lalu semua akan berubah jadi enak. Memang apa statusnya dengan Markus?
Berniat menyelesaikan semuanya sendiri, Bryan bangkit. Hampir sulit berjalan secara normal dengan benda di antara pahanya yang begitu keras, Bryan berjalan ke kamar mandi. Dia jarang melakukannya sendiri, tapi bukan berarti tidak pernah.
Lebih dari dua puluh menit di kamar mandi, Bryan keluar. Sudah selesai dengan kegiatan solonya, sudah mandi dan melilitkan handuk di lingkaran pinggulnya, tinggal memakai baju. Detik kemudian Bryan kaget melihat Markus berdiri di sebelah ranjang, menyambutnya dengan todongan pistol. Itu pistol milik Bryan yang ditinggalkan di kamar sebelah.
“Apa-apaan kau?” Markus tidak menjawab. Dia menarik pengaman pistol, menempatkan peluru di posisi siaga tembak, lalu menekankan telunjuknya di pelatuk. “Mark, itu berbahaya!” tegur Bryan. “Kau bisa melukaiku dengan pistol itu!”
“Aku ingin menembakmu.”
“Kenapa? Ada apa denganmu?” tanya Bryan waspada. Sekali Markus menekan pelatuknya, bisa saja kepala Bryan berlubang. Kalau meleset, badannya yang akan terluka. “Mark, berikan pistol itu padaku!”
“Tidak!” tolaknya.
“Berikan!”
“Tidak bisa!” tolaknya lagi.
Markus sedang marah. Bukan karena ada pertengkaran antara dia dan sepupunya. Ini masih soal yang sama seperti tadi. Markus marah atas sesuatu yang tidak bisa dia ungkapkan sendiri.
“Tenang dulu!” Bryan mendekat.
“Jangan mendekat atau kutarik pelatuknya!”
“Baiklah-baiklah, tapi kau harus tenang.”
“Apa aku kelihatan tidak tenang?” Markus sangat tenang walau dia sedang marah. “Aku bisa membidik tepat ke jantungmu dengan jarak seperti ini!” ancamnya. “Aku sedang tidak main-main!”
Bryan tidak benar-benar berjanji untuk berhenti, dia terus mendekat. Selangkah, selangkah lagi sambil mengalihkan perhatian Markus melalui percakapan. Walau tidak yakin Markus bisa menembak tepat seperti perkiraannya, Bryan patut waspada. Kalau seseorang bisa menarik pengaman pistol dan juga memegangnya dengan benar, kemungkinan dia bisa menembak juga.
“Aku pernah ikut kursus menembak, pernah jadi juara dua lomba tembak di tempat kursus. Meski tidak semahir kau, aku bisa melakukannya kalau hanya untuk membuatmu sekarat!” Bryan sekarang tahu kenapa Markus bisa sefasih itu memegang pistol. “Kau bisa mati di tanganku, Brey!”
“Apa alasanmu mau menembakku? Kau membayarku untuk jadi kekasihmu dan menyelamatkanmu dari kepungan keluarga. Jangan lupa, aku ini aparat negara!”
“Aku tahu, tapi apa yang kau lakukan barusan itu membuatku ingin menembakmu?”
“Barusan?” Memangnya dia baru melakukan apa? Bryan mengingat-ingat. “Menyelesaikan urusan yang kau tinggalkan, lalu mandi, apa itu jadi masalah untukmu?”
“Kau yang meninggalkanku. Itu masalah untukku.”
Bryan sudah sangat dekat tanpa Markus sadari, kemudian melakukan gerakan cepat untuk merebut paksa pistol di tangan Markus. Dia berhasil memelintir sebelah tangan kekasih barunya itu, memutarnya ke belakang dan mendorong tubuh Markus jatuh ke kasur. Bryan menindihnya kemudian. Sementara itu dia mengunci pistolnya kembali, lalu menjauhkan pistol itu dari jangkauan.
“Kau benar-benar kasar, Brey!” bentak Markus tanpa ada rasa takut sedikit pun. “Lepaskan aku!” perintahnya.
“Aku tahu, tapi tindakanmu itu membahayakan nyawa orang.”
Bryan melepaskannya, membiarkan Markus bangkit dan duduk di atas kasur bersamanya. Markus menghela napas menandakan lelah dengan keadaan. Mestinya ini tidak sesulit yang dipikirkan, nyatanya masalah yang dianggap sepele malah lebih sulit diatasinya. Markus mengkhawatirkan malam pertamanya, Bryan pasti menangkap persoalan itu.
“Katakan apa yang mengganggumu saat ini!” Dia telah menyembunyikan pistol dalam laci meja dekat ranjang. Kemudian beralih pada Markus yang mengalami depresi percintaan. “Aku mungkin bisa membantu.”
“Aku yakin kau sudah tahu masalahnya.”
“Kalau kau mengungkapkannya, aku akan lebih mengerti.”
Tadi Markus memang sengaja keluar. Masuk kamar sepupunya tanpa ada niat apa pun. Karena melihat pistol Bryan tergeletak di dekat ranjang, dia memutuskan mengambil pistol itu, lalu kembali ke kamarnya sendiri.
Markus cuma menguatkan diri. Dengan keluar sejenak, jantungnya yang tadi berdetak terlalu cepat bisa sedikit teratasi. Markus malu. Dia belum pernah berhubungan dengan lelaki sebelum ini. Dia menyukai sesama jenis, tapi belum pernah punya kekasih lelaki. Untuk memuaskan hasrat seksualnya, dia tidur dengan wanita, itu pun tidak bisa benar-benar memuaskannya. Giliran dia benar-benar punya kekasih, seks di depan mata, Markus malah grogi dan merasa tidak siap.
“Aku menginginkan tidur denganmu, tapi aku tak siap,” katanya pasrah.
Dia malu mengatakannya. Untung Bryan tidak mengoloknya, hanya mengangguk kecil.
“Aku sering melihat lelaki yang berkelakuan seperti kau pada pengalaman pertama mereka.”
“Jadi benar kau tahu aku belum pernah melakukannya?”
Bryan membenarkan.
“Aku belum pernah tidur dengan laki-laki, tapi terus terang aku tertarik dengan laki-laki.”
Itu kebalikan dari pengalaman percintaan Bryan.
“Aku belum pernah tidur dengan wanita.” Walau terdengar janggal, Bryan akui itu semua. Dia mau membuat Markus nyaman dengan bertukar cerita. “Mungkin karena aku pernah tertipu dulunya.”
Bryan tidak keberatan menceritakan kisah pertamanya meniduri lelaki. Saat itu Bryan menyukai anak tetangganya. Anak yang jarang sekali dilihatnya selama dia tinggal di perumahan. Bryan kira si cantik berbadan gemulai itu adalah gadis tomboy, hingga dia memutuskan mengejar anak tetangganya itu.
Masa kecilnya, Bryan adalah berandalan sekolah. Umurnya belum genap lima belas, tapi kelakuannya bak preman jalanan. Dia gigih mengejar gadis idamannya walau sering ditolak bahkan diusir oleh orang tua pujaan hatinya.
Suatu sore saat tetangganya belum pulang kerja, Bryan memanjat dinding dan meloncat masuk kamar si cantik itu lewat jendela. Menemukan gadis pujaannya tertidur pulas, Bryan berniat memperkosanya. Nyatanya gadis itu tahu kedatangan Bryan, tidak merasa terancam atau takut sedikit pun. Bryan mengurungkan niatannya untuk memperkosa. Toh, dia belum pernah melakukan perkosaan, kalaupun harus dilakukan jelas dia tidak tahu harus memulainya dari mana. Bryan kemudian berteman dengan si cantik, pertemanannya berkembang menjadi kekasih dan berakhir di suatu malam memutuskan untuk mencoba berhubungan badan pertama kali.
Bryan terkejut ketika kekasihnya mengatakan dia adalah lelaki. Namun menambahkan bahwa sebenarnya dia merasa terjebak di tubuh lelaki sedangkan hati dan jiwanya adalah wanita. Si cantik itu menyukai lelaki, menyukai Bryan, sampai rela melakukan apa pun demi dirinya.
Bryan tidak bisa menerima, tapi kekasihnya berhasil meyakinkan. Lelaki dengan lelaki juga bisa berhubungan intim. Ditunjukkannya video-video hubungan sesama jenis dan gambar-gambar yang bisa membuatnya terangsang. Awalnya tidak terjadi perubahan walau Bryan telah melihat video, gambar, atau mendengar kalimat-kalimat nakal yang dilontarkan kekasihnya, tapi setelah kekasihnya memohon, Bryan setuju untuk mencobanya.
Bryan berhasil melakukannya berulang kali walau kekasihnya menangis sampai menjerit-jerit. Keesokan harinya dan sampai seminggu berikutnya, Bryan dijauhi kekasihnya itu. Di hari ketujuh dia diterima kembali, di hari kedelapan dia meniduri kekasihnya lagi dan terus berulang 2-3 kali seminggu. Hingga suatu hari dengan sangat menyesal kekasihnya mengatakan bahwa dia diajak pindah orang tuanya ke luar negeri. Sejak saat itulah Bryan mulai dan terus tidur dengan lelaki.
“Lalu kau mengoleksi benda-benda seperti ini untuk apa kalau tak pernah melakukannya?" tanya Bryan sambil memutar-mutar botol pelicin yang tadi diambil Markus. “Kau tidak mempraktikkannya pada diri sendiri, kan?”
Markus menggeleng. “Aku pernah berniat menyewa gigolo.”
“Tapi tak jadi?”
“Dulu tak jadi, tapi sekarang kesampaian.”
Dalam keadaan seperti ini Markus masih tidak lupa untuk jadi angkuh.
Bryan berdecak kesal. Apa dirinya yang dipuja masyarakat sebagai salah satu perangkat negara terkemuka, mirip dengan gigolo? Jadi, maksud satu paket dalam perjanjian, Bryan dibeli karena jasanya sebagai kekasih merangkap gigolo, begitu?
“Kau dipercaya sebagai aparat negara, harusnya kau bisa dipercaya untuk urusan ini juga.”
Bryan tidak setuju. Urusan negara dengan urusan celana itu lain soal. Namun soal kepercayaan, semua orang bisa mengandalkannya.
“Aku bukan gigolo!” elak Bryan. “Aku kekasihmu!”
“Terserah kau mau disebut apa.”
“Kalau kau tak menyebutku gigolo, aku bisa memperlakukanmu dengan baik.” Meski tidak begitu suka, Markus menyetujui persyaratan itu. “Satu hal yang harus kau lakukan sebelum mulai. Kau harus benar-benar percaya padaku.”
“Aku sudah bilang kau bisa dipercaya.”
“Terkadang ada orang yang membelot di tengah perjalanan.”
“Ok. Aku percaya padamu!” Markus berjanji.
Bryan menarik lengan Markus, tapi Markus menepisnya. Setelah Bryan menanyakan pernyataan Markus soal kepercayaannya, dia baru mau disentuh Bryan. Sekali lagi Bryan menarik lengan Markus, membawa kekasihnya mendekat, lalu sesegera mungkin memereteli kemejanya.
“Kau tak perlu sok malu, bahkan kau sudah telanjang di depanku tadi.”
Tadi Markus dipenuhi nafsu, tapi sekarang dia melakukan atas nama lain. Suka mungkin, atau karena Bryan akan mengajarinya tentang hubungan badan. Jadi, dia agak malu.
“Kita coba dengan sentuhan,” katanya setelah melemparkan kemejanya ke lain tempat.
Sentuhannya bukan dengan tangan, tapi dengan mulut. Bryan menciumi dadanya yang langsung membuat Markus berjengit dan menghindar.
“Bisa kita lakukan yang lain dulu?” pinta Markus.
Sentuhan tadi menggelikan, terlalu spontan sampai seluruh tubuh Markus seperti disengat listrik jutaan volt.
Bryan melihat jam di dinding kamar Markus. Lebih dari jam satu pagi. “Kau butuh banyak istirahat. Jadi, lakukan saja dengan cepat.”
“Tidak! Kau janji memperlakukanku dengan baik.”
“Aku tetap akan memperlakukanmu dengan baik. Ini hanya memangkas satu dua hal saja,” terang Bryan. “Percaya padaku, disentuh dengan bibir lebih enak daripada dengan tangan. Aku ahli dalam hal ini.”
Markus mendecih tak percaya.
“Pada intinya tetap akan pelan-pelan. Atau kau mau kuperkosa sekalian!”
Markus mendecakkan lidahnya. “Mendengarmu bicara begitu, aku jadi tak yakin.” Meski begitu Markus menurut ketika Bryan menyuruhnya berbaring. “Kalau bukan untuk yang pertama kali, aku tak sudi kau perlakukan seperti ini!”
“Makanya coba dulu.”
Markus masih saja angkuh walau sekarang dialah yang diberi pengajaran. Bukan mencerminkan murid yang baik, tapi Bryan tidak menyerah.
Bryan menjatuhkan diri di samping Markus setelah membuang handuknya. Dia mengganti posisi agar berada di atas Markus. Membuka kedua paha kekasihnya untuk tengkurap di antaranya. Mendengar Markus mendengus, Bryan mendongakkan kepala. Dia memperhatikan ke arah dengusan itu berasal. Bibir Markus yang tipis bukan selera Bryan sama sekali, tapi dia telah terpesona dengan seluruh suara yang keluar dari sana.
Bryan ingin memanja Markus, memperlakukannya dengan baik seperti janjinya tadi. Namun untuk hubungan pertama kali, dia tidak bisa melakukan itu. Waktunya tidak banyak. Bisa meniduri Markus seronde saja cukup. Lalu biarkan dia istirahat, karena besok pagi Luo akan datang menemuinya. Bryan tidak mau Luo menceramahinya karena tahu soal ini.
“Aku pernah membayangkan kaki jenjang wanita melingkari tubuhku,” bisik Bryan. “Kenyataan berkata lain sekarang.” Entahlah, Markus dengar atau tidak karena dia tengah sibuk terpejam dan mendesis meski Bryan belum melakukan apa pun.
Bryan digelapkan hasrat menyentuh Markus. Tidak, tidak. Dia digelapkan hasrat segera menyetubuhi kekasihnya itu. Dia kembali terangsang karena Markus mengeluarkan suara-suara aneh yang tidak dia ketahui artinya. Matanya merah membara, semembara tubuhnya yang tengah bergesekan kulit dengan kulit.
“Kau tahu sekarang apa yang ingin kulakukan?”
Bryan menunjukkan pada Markus dengan tangan dan bibirnya. Dia menunduk untuk menghabisi bibir kekasihnya, membuat ciuman panas berisi lumatan, gigitan dan hisapan-hisapan. Bryan tahu di mana harus meletakkan tangannya, menyentuh tubuh Markus di titik-titik sensitif. Dia juga tahu seberapa keras harus menekan dan menariknya.
Markus jadi gelisah di bawah Bryan, tidak sabar untuk berpegangan erat di lengan besar Bryan dan menancapkan kuku-kuku tumpulnya di sana. Belaian dan ciumannya semakin lama semakin membuat resah, Markus terdesak hingga muncul permohonan untuk mengakhiri godaan dari Bryan itu.
“Brey, bisa kau pangkas bagian ini!!
“Kupikir kau tak akan berkata apa-apa soal ini.” Markus masih termasuk dalam daftar lelaki yang suka jual mahal. Dari tadi tidak ada kata-kata keluar dari mulutnya, kecuali dengusan, desisan, dan segala suara tidak jelas itu. “Kalau kau mau, kau bisa mengeluarkan segala racauan yang ada di benakmu. Itu akan jadi seru!”
Lidah Bryan membuat Markus gila. Hampir seluruh permukaan kulitnya telah basah oleh sapuan lidah yang meninggalkan jejak saliva. Sementara sebelah tangan Bryan mengelus kulit datar di bawah pusar, Markus mengeram gelisah. Jemari Bryan membelai bagian dalam paha Markus, menyusuri kulit halusnya. Rematannya lembut dan sensitif walau tangan Bryan sedikit kasar. Justru karena tangan kasar itu Markus menggelinjang, melengkungkan tubuh dan mengeluarkan suara lolongan serak dari pangkal tenggorokannya.
Markus belum pernah merasakan yang seperti ini. Dia memang sering bercinta, tapi sensasi memabukkan yang menjalar ke seluruh tubuhnya baru pertama kali ini dia dapat.
“God damnit, Brey!” umpatnya. “Kalau kau suruh aku melingkarkan kakiku di tubuhmu sekarang, akan kulakukan!” ungkapnya dengan artian dia ingin segera melakukan percintaan bersama Bryan.
“Tunggu sebentar!” Bryan mencari pengaman yang tadi dikeluarkan Markus. Setelah menemukan, dia menggunakannya. “Kalau sakit, nanti kau boleh menangis.” Pengalaman Bryan demikian. Pertama kali melakukannya, kekasihnya menangis. Setidaknya mengeluarkan air mata.
“Aku bukan lelaki ingusan seperti yang biasa kau tiduri. Kau ingin melihatku menangis?” Bryan tidak menjawab. “Mimpi saja!”
Bryan tidak ambil pusing kata-kata Markus. Dia hanya akan memberikan servis terbaik, kemudian dapat acungan jempol dari kekasihnya itu. Bryan menundukkan kepala, menyatukan bibir-bibir mereka untuk yang kesekian kalinya sebelum menuju ke babak selanjutnya.