Markus memang tidak berkeliling di rumah Bryan, tapi melihat tidak ada yang menyapa ketika mereka datang tadi, dia mengasumsikan kalau kekasih Bryan sedang tidak ada di sini.
Dia memperhatikan Bryan yang tengah memakai kaos oblong yang baru diambilnya dari dalam lemari setelah selesai mandi. Lelaki itu tidak memiliki wajah yang menarik, tapi tubuhnya menarik. Badan besarnya berwarna kecokelatan, kontras dengan warna kulit Markus yang putih pucat. Kulitnya kasar, bahkan telapak tangannya kapalan. Markus tidak suka melihat telapak tangan lelaki itu, tapi entah kenapa ketika malam kemarin kulit kapalan itu menyentuh kulitnya, Markus suka.
Mungkin waktu itu efek malam panas. Setelah kembali normal, dia masih tidak suka melihat telapak tangan kapalan itu.
“Mana kekasihmu?” Markus membuka pembicaraan ketika Bryan sudah berjalan ke arahnya.
“Di rumahnya sendiri,” jawab Bryan sambil masuk ke dalam selimut.
“Kalian tidak tinggal bersama?”
“Mauku juga begitu, tapi mengingat aku jarang di rumah, dia tak bisa kuajak tinggal bersama.”
Markus juga tidak pernah tinggal dengan siapa pun. Selama punya pasangan, dia tidak pernah serius. Jangankan mengajak tinggal bersama dan dikenalkan teman-temannya, diajak kencan saja hampir tidak pernah. Mereka akan berkencan kalau Markus sedang butuh. Sedangkan dengan Bryan, ini adalah malam kedua mereka tinggal bersama walau di tempat yang berbeda. Rasanya nyaman, ada yang bisa diajak bicara walau sekadar tanya jawab biasa.
“Lagipula orang tuanya tak akan memperbolehkan kami tinggal bersama sebelum dia lulus kuliah.”
“Anak kuliahan?” Markus mencebikkan bibirnya, meremehkan. “Kau suka yang masih muda ternyata.”
“Tidak juga. Aku pernah berkencan dengan seorang akuntan yang usianya tujuh tahun lebih tua dariku.”
Masa kencan kilat antara Bryan dan si akuntan terjadi dengan proses mirip hubungannya dengan Markus sekarang. Si akuntan yang telah lama berpisah, bertemu kembali dengan mantan kekasihnya. Mantannya ingin mereka berpacaran lagi, tapi si akuntan bilang sudah punya kekasih. Karena saat itu Bryan tidak sengaja berdiri di dekat situ, dialah yang diakuinya sebagai kekasih.
“Dia sangat baik. Aku hampir-hampir meninggalkan kekasihku untuk memilihnya.”
Karena si akuntan sangat baik, sabar, penyayang, Bryan betah dengannya. Bryan suka rela membantunya jadi kekasih bohongan, tapi ketika dia mengutarakan maksud untuk terus bersama, Bryan ditolak. Alasannya, karena si akuntan tidak ingin menyakiti hati kekasih Bryan. Dia sangat berterima kasih sudah ditolong, tapi tidak mungkin merebut Bryan dari tangan kekasihnya.
“Sampai sekarang aku tak tahu nama lengkapnya,” sesalnya.
“Kau bisa mengontaknya atau datangi rumahnya.”
Bryan menggeleng. “Aku tak punya nomor telepon atau alamat rumahnya. Dia benar-benar niat untuk tak melanjutkan hubungan denganku.”
“Dia lelaki yang baik,” celetuk Markus. Markus sendiri tidak bisa seperti itu. Kalau dia nyaman dengan sesuatu, tentu akan berusaha mendapatkannya. Dia tipe lelaki yang tidak mau menyerah. Kadang kala malah egois. “Semoga dia mendapatkan kekasih yang baik juga.” Dia mendoakan, bukan berarti tak ada maksud. Markus bersyukur, kalau Bryan telah bersama si akuntan tentu tidak mungkin bisa bersamanya sekarang ini.
Kalau Markus bisa nyaman dengan Bryan, bisa jadi dia akan merebut Bryan dari kekasihnya. Dia punya segala hal dan Bryan butuh hal-hal yang hanya bisa diberikan olehnya. Uang contohnya, kebebasan, dan juga kepuasan di bidang apa pun. Bryan baru saja bilang kalau hatinya bisa goyah dengan orang lain, bukan tidak mungkin hatinya goyah juga pada Markus. Tidak sekarang, tapi nanti atau sebentar lagi.
“Ngomong-ngomong di mana sepupumu itu?”
“Sansi?”
“Sansi?” Bryan bingung. “Kemarin kau tak memanggilnya begitu.”
“Sandy Liem nama aslinya, dia sering dipanggil Sansi.”
Bryan ber 'Oh' pendek.
“Sandy Seksi, dia menjuluki dirinya sendiri seperti itu. Bagiku Sansi sama dengan Sandy Sialan.” Markus mau membicarakan Sandy. Dia mulai menurunkan tubuhnya, merebah tepat di samping Bryan. “Walau dia jelek, dia penggoda nomor satu di keluargaku.”
“Kau baru saja mengatakan kalau dia adalah lelaki penggoda?”
Markus tertawa sarkas. “Memang, tapi sayangnya bukan. Bukan penggoda sembarangan maksudnya.” Seperti yang kemarin malam contohnya. Dalam tidurnya saja, Bryan tertarik padanya, apalagi kalau Sandy sampai menggodanya dalam keadaan sadar. “Dia menggoda tapi yang digoda malah menempatkan diri seperti lelaki murahan. Kemarin malam contohnya. Sudah tahu dia yang datang padamu, tapi kau yang merengek untuk tidur dengannya.”
Duh, mulut Markus tidak ada remnya. Sepupu sendiri dihina-hina.
“Aku tidak merengek.”
“Menyangkal saja sesukamu!”
“Kuakui aku butuh, tapi aku tidak merengek!” bantah Bryan lagi. “Aku hanya sedang mimpi erotis, rasanya seperti nyata. Kalau kau tak datang mungkin aku tak menyadari keberadaan sepupumu,” terangnya sebagai wujud pembelaan diri. “Dia sepertinya hebat di atas ranjang.”
Tapi Bryan tidak menyesal Markus datang malam kemarin. Meski dia tidak jadi tidur dengan sepupu Markus, setidaknya dia bisa tidur dengan Markus. Betapa beruntungnya dia, sebentar lagi dapat sejuta dolar, bonus berlimpah dari atasan, dan bisa meniduri Markus pula. Bryan sudah bertekat, kalau Markus yang minta, dia bersedia melayaninya. Persetan dengan larangan Kapten Bay tempo hari.
“Semua orang juga bilang begitu.”
“Lalu di mana dia sekarang?”
Markus mengedikkan bahu. “Dia keluar setelah tak berhasil tidur denganmu. Mungkin mencari pelampiasan. Dan selama tak menghubungiku, aku tak tahu dia berada di mana.”
Tepat selesai mengucapkan kalimatnya, ponsel Markus berdering. Saat dicek, itu dari sepupunya.
“Panjang umur!” kata Markus sebelum menjawab panggilan itu.
“Mark, rumahmu hancur, kupikir kau ikut hancur di dalam sana,” kata Sandy seenak lidahnya mengucap. "Pasti kekasih tampanmu itu yang menyelamatkanmu. Di mana kalian sekarang?” tanyanya tidak terdengar kalau dia benar-benar khawatir.
“Di rumah kekasihku.”
“Beri aku alamatnya, aku akan ke sana!”
“Untuk apa? Kau mau ikut menginap di sini? Tidak bisa, tak ada tempat untukmu tidur.”
“Aku bisa tidur dengan siapa pun, berdua atau bertiga. Berikan alamatnya cepat!” paksa Sandy. "Sejujurnya aku khawatir padamu, juga dengan kekasihmu itu. Kalau dia butuh bantuan, aku bisa ....”
Markus mematikan sambungan lalu mematikan ponselnya. Dia tidak percaya pada Sandy. Kekhawatiran apa yang ditawarkan sepupunya kalau ujung-ujungnya membicarakan soal Bryan? Markus tidak suka berbagi dalam hal ini.
“Dia bilang apa?”
Bryan benar-benar ingin mendengar kabar sepupu Markus itu. Sampai-sampai nadanya ketika bertanya pada Markus seperti orang kasmaran. Markus meliriknya tajam, tapi Bryan tidak peka.
“Menanyakan keadaanku lalu memberitahukan kalau dia telah dapat tempat tinggal untuk sementara. Partner-nya sekarang sangat memuaskan, dia tak bisa meninggalkannya terlalu cepat.” Markus berbohong dengan lancar.
Markus berharap Bryan menganggap Sandy sebagai lelaki binal yang tidak pantas didekati, tapi nyatanya Bryan berpikiran lain. Dia menganggap Sandy sebagai lelaki unik, pasti bisa memuaskan pasangan dengan baik.
“Kenapa tak memberikan alamatku? Dia bisa ke sini besok-besok.”
“Dia tak akan tertarik untuk datang kemari.” Markus menarik selimutnya bersiap tidur, tapi ketika melihat bekas luka di lengan, dia mengurungkan niatnya. “Dokter menyarankanku untuk memakai Bio Oil agar luka-lukaku cepat kering, lalu menghilang bersama bekas-bekasnya.”
“Kau tak suka bekas luka? Rekan kerja wanita di kantorku hampir semua menyukai bekas luka. Mereka bilang itu keren.”
“Kalau luka-lukaku, apa ini keren?”
Bryan jelas menggeleng. Tubuh Markus lebih cocok mulus tanpa bekas luka. Bekas gigitan bolehlah, apalagi kalau dia yang membuatnya akan terlihat makin seksi.
“Belikan Bio Oil kalau kau keluar rumah besok!”
“Baiklah.”
“Hm, aku mau tidur. Aku sangat mengantuk setelah meminum obat tadi.”
Bryan membiarkan Markus tidur, sedangkan dia sendiri belum bisa tidur. Sedang berpikir keras, apa yang akan didapatkannya besok ketika berhadapan dengan Kapten Bay? Semoga dia tidak diliburkan mendadak.