Kapten Bay menggebrak meja kerjanya.
“Apa lagi yang kau lakukan di sini? Kau meninggalkan Markus agar mati lebih cepat, ha?” bentak Kapten ketika Bryan menampakkan diri di ruangan atasannya itu. “Di mana kau meninggalkannya?”
“Di rumahku, Kapten.”
“Kau pikir tak ada orang yang tahu rumahmu sampai kau berani meninggalkan Markus di sana? Bagaimana kalau kejadian kemarin terulang? Kalau Markus mati, kau mau menukar nyawanya dengan apa?” bentak Kapten sekali lagi.
Bryan datang pagi-pagi untuk menemui detektif yang kemarin menyelidiki ledakan di rumah Markus. Ledakan yang diketahui berasal dari tabung gas bocor itu ternyata tidak demikian kenyataannya. Selang tabung gas memang bocor, menurut yang dikatakan penjaga rumah ada gas yang keluar dari lubang kecil di selang itu. Hasil penyelidikan, ditemukan bekas natrium di bak cuci piring. Diperkirakan jumlahnya banyak sebelum terjadi ledakan. Kemungkinan unsur yang digolongkan alkali tanah itu meledak setelah terkena tetesan air dari keran yang tak tertutup rapat, lalu gas yang tersebar dalam ruangan ikut menyumbang daya ledaknya. Pertanyaannya, siapa orang yang cukup tahu soal natrium yang bisa meledak kalau terkena air?
Belum lengkap Bryan menerima penjelasan dari temannya, Kapten Bay datang. Entah angin apa yang membawa atasan Bryan itu datang dua jam lebih cepat dari jamnya masuk kantor. Bryan jadi kena marah.
“Aku tak bisa menggantikanmu dengan orang lain. Jadi, kembali sekarang. Jaga Markus!” usir Kapten Bay keras dan tegas.
“Siap, Kapten!”
Bryan buru-buru keluar dari ruangan Kapten Bay. Dia tidak menghiraukan teman-teman yang memandanginya penuh ekspresi kasihan. Kapten Bay sering sekali marah pada bawahannya, apa lagi kalau pekerjaan mereka gagal. Maka dari itu, pandangan kasihan dari rekan kantor sudah jadi makanan sehari-hari. Malah pandangan kasihan seperti itu sering berubah jadi ejekan tanpa kata.
“Brey,” Luo menghentikan Bryan di depan kantor. “Kenapa buru-buru?”
“Kapten Bay mengusirku.”
“Kenapa?”
“Aku tak boleh meninggalkan Mark.”
“Bukankah dia baik-baik saja?” Iya, baik-baik saja dan aman. Luo saja tahu, kenapa Kapten Bay tidak? “Sudahlah, dia ada di rumahmu. Kau pulang sekarang atau nanti, Kapten Bay tak akan tahu. Bagaimana kalau kita sarapan dulu, kau belum makan, kan?”
“Aku akan makan di rumah.”
“Ayolah, aku yang traktir kali ini.”
Bryan keberatan, tapi dia setuju setelah Luo mengatakan akan menceritakan perihal penangkapan kemarin. Bryan benar-benar ingin tahu aksi heroik teman-temannya menangkap perampok mobil itu. Mereka pergi ke kedainya Alan, tempat biasa para polisi mengisi perutnya, memesan makanan untuk dinikmatinya sambil bercerita panjang lebar. Bryan menceritakan ledakan di rumah Markus sebatas sepengetahuannya, lalu Luo menceritakan soal penangkapan para pencuri mobil itu.
Sembilan orang ditangkap. Polisi memprediksi ada anggota perampok yang tidak datang malam itu. Perampok berhasil diinterogasi, sebagian besar dari mereka adalah pembalap jalanan. Pemimpinnya adalah mantan pembalap mobil profesional yang karirnya habis setelah mendapat kecelakaan. Setelah tidak mampu kembali ke dunia balap resmi, dia mengumpulkan orang-orang yang suka balapan untuk mengadakan balapan liar. Puncaknya, mereka melakukan pencurian mobil untuk dipakai balapan. Mereka tidak menjual atau memakai mobil curian itu selain untuk balapan. Aksi pencurian itu sudah berjalan sekitar dua tahun, sering berpindah dari kota satu ke kota lain. Namun, untuk urusan tabrak lari Markus Liem, mereka menyangkalnya. Prinsip mereka tidak sekalipun melukai orang lain dalam aksi perampokannya.
“Apa kelompok itu juga yang mencuri mobil Maxim?”
“Ya, mereka mencuri semua koleksi mobil Maxim, menyembunyikannya di gudang itu untuk digunakan balapan minggu depannya. Sebenarnya mereka akan memindahkan mobil-mobil itu, tapi tidak jadi karena polisi keburu menemukannya. Mereka juga mengaku tak tahu menahu soal hilangnya dua mobil Maxim dan tabrakan yang dialami Mark malam itu.”
“Apa ada kemungkinan mereka berbohong?”
“Tentu saja. Mereka kriminal, berbohong itu sudah satu paket dalam diri mereka.” Bryan menghentikan kegiatan makannya, dia berpusat pada penjelasan yang diutarakan Luo. “Tapi ada kemungkinan bahwa mereka mengatakan yang sebenarnya. Ada anggota mereka yang membelot lalu mengambil mobil itu lebih dulu. Atau memang ada orang lain yang mengambilnya, digunakan untuk percobaan pembunuhaan.”
“Kalau begitu, kejadiannya harus sangat kebetulan. Si pelaku yang berjumlah sedikitnya dua orang melihat kelompok itu menyembunyikan mobil di gudang, lalu terbesit ide mencuri untuk membunuh Mark,” tebak Bryan.
“Bisa jadi.” Luo manggut-manggut. “Tapi Bagaimana soal kekerasan yang menimpa Maxim dan anak buahnya di gudang itu?”
Bryan menggeleng tidak menemukan jawaban. Dia tidak ikut sedikit pun penyelidikan ini, jelas tidak tahu sama sekali jalan ceritanya.
“Kemungkinan lain, Maxim adalah satu dari orang-orang yang mengetahui kelompok itu menyembunyikan mobilnya di sana. Ketika Maxim dan anak buahnya ingin mengambil mobilnya kembali, terjadi keributan. Kemudian Maxim dan anak buahnya dianiaya sampai hampir mati.”
Kalau cerita itu benar, Maxim terlalu ceroboh sampai bertindak sendiri tanpa bantuan polisi. Mendapati dia dan anak buahnya yang berjumlah empat orang dianiaya sampai seperti itu, membuktikan kalau lawannya adalah orang-orang kuat. Namun itu hanya beberapa kemungkinan, masih ada banyak kemungkinan lainnya. Polisi perlu bekerja keras untuk mengungkap kasus perampokan dan penganiayaan yang punya hubungan dengan kasus tabrak lari dan percobaan pembunuhan itu.
“Apa dua mobil yang hilang itu sama dengan ciri-ciri mobil yang digunakan untuk menabrak Maxim?”
“Ciri-cirinya sama, identik malah. Kita sedang mencari keberadaan dua mobil itu sebelum terlalu lama hilang, lalu berakhir di tumpukan barang bekas yang telah didaur ulang.” Luo meneguk minumannya, menyamai gerakan Bryan yang juga minum untuk membasahi tenggorokan. “Pelakunya pasti mendapat perintah dari seseorang yang menginginkan kematian Mark.”
“Apa seluruh kandidat tersangka yang waktu itu sudah dimintai keterangan?”
“Ya, kecuali Maxim. Dia baru sadar kemarin sore, tapi keadaannya terlalu memprihatinkan. Dia tak bisa diajak bicara.”
Sebenarnya Bryan ingin melihat Maxim juga. Mengingat dia baru diusir Kapten Bay karena meninggalkan Markus, pasti kena marah lagi kalau tahu tidak segera pulang, malah pergi ke rumah sakit.
“Setelah kunjunganku ke rumah sakit untuk menemui Maxim, ternyata lelaki itu hampir sama tampannya dengan Mark.”
Bryan mengerutkan dahi. “Kau tidak sedang menargetkannya jadi kekasih juga, kan?”
“Kalau Mark dan Maxim sama-sama sudah sehat, aku akan menawari mereka untuk jadi kekasihku. Mark yang pertama, Maxim yang kedua.” Luo mengubah nada tegang ketika membicarakan kasus ke mode m***m setelah membicarakan lelaki incarannya. “Lalu kekasih ketigaku adalah lelaki tengah malam waktu itu.”
“Kau benar-benar maruk!”
Luo meringis senang. “Hah!” lalu menjentikkan jarinya setelah mendapat ide mendadak. “Bagaimana kalau Mark diungsikan di rumahku. Kujamin dia aman seribu persen!”
“Tidak, terima kasih!” balas Bryan. “Dia di rumahku saja. Lebih baik aku menanggung bosan dengan terus menempeli Mark daripada dia pindah ke rumahmu lalu aku dipukuli Kapten Bay.
“Tapi di rumahmu tidak aman.”
“Kata siapa?”
“Kataku.”
Dia berulang kali menerobos masuk rumah Bryan walau rumah itu sudah ditutup rapat semua celahnya. Bukan cuma rumah Bryan sebenarnya, dia juga bisa masuk tempat mana pun dengan mudah. Hasil pelatihan dari tim khusus dulu masih dikuasainya dengan baik. Untungnya Luo bekerja di kepolisian, kalau tidak, pasti dia bisa membobol semua tempat. Dia akan jadi maling terprofesional kalau sampai itu terjadi.
“Kau yang membuatnya tidak aman. Kalau sampai kau melakukan yang iya-iya dengannya, bagaimana?”
Bryan mendecih, menyangkal dengan tegas.
“Karena statusnya adalah kekasihmu sekarang ini, siapa tahu kau tiba-tiba khilaf.”
“Justru kalau dia di rumahmu, kau akan melakukan yang tidak-tidak padanya.”
“Tidak. Tentu saja aku akan melakukannya kalau Mark sendiri yang minta,” jawab Luo jujur. Sejujur dirinya mendambakan kejadian itu jadi kenyataan suatu hari nanti. “Atau aku tidur di rumahmu saja malam ini, biar kita bisa sama-sama menjaga Mark.”
“Tawaranmu kutolak. Ada dua pembantu Mark di sana, kedatanganmu akan menambah sesak rumahku.”
“Ooo, ada pembantu Mark juga,” Luo mengangguk-angguk ambigu. “Aku tak khawatir lagi sekarang,” katanya, lalu kembali meneguk minumannya. “Mereka bisa melindungi Mark lebih baik darimu. Kau juga tak mungkin melakukan yang iya-iya pada Mark kalau ada mereka, kan?” kata Luo sambil tertawa-tawa kecil.
“Ada atau tidak aku tetap tak mungkin melakukan yang tidak-tidak pada Mark. Aku bukan orang sepertimu!” protes Bryan. “Aku tak mau dimarahi lagi kalau Kapten Bay tahu aku masih di sini. Aku pergi sekarang!”
Bryan meninggalkan Luo yang terus terkekeh. Selain menertawakannya karena mengatakan tidak mungkin melakukan yang iya-iya pada Markus, temannya itu juga menertawakannya karena terus dimarahi Kapten Bay.
***
Seseorang yang pernah dibilang unik oleh Bryan, tengah membukakan pintu untuknya. Dia menggelayut di kusen pintu sambil tersenyum manis.
Seksi sekali.
“Hai, kekasihnya Mark!” sapanya.
“Hai, sepupunya Mark!” sapa balik Bryan
“Sandy Liem.” Sandy Mengulurkan tangan yang segera dijabat oleh Bryan. “Kau bisa memanggilku Sansi.”
“Sandy Seksi.”
“Dari mana kau tahu? Oh, pasti Mark yang memberitahukannya padamu.”
“Sebenarnya iya, tapi aku sudah menduga kalau Sansi adalah kependekan dari Sandy Seksi,” jawab Bryan sok tahu. Dia cari perhatian dari Sandy. “Bryan Trevor. Panggil aku Bryan!”
“Bry ... an?” panggil Sandy mengetes dengan suara seksinya. “Kau mau masuk sekarang atau terus berada di depan pintu?”
Bryan masuk setelah melepaskan jabatan tangannya dengan Sandy. Sama-sama berjalan ke dalam rumah sambil terus bercengkrama.
“Kupikir kau tak tahu Mark kubawa kemari.”
“Aku tahu, tapi tak tahu alamatmu. Sebagai sepupu, setelah mendengar ledakan itu tentu aku cemas, makanya aku berusaha mencari alamatmu lalu segera kemari,” kata Sandy terdengar seperti kebenaran di telinga Bryan. “Syukur semua baik-baik saja, termasuk kau.”
Bryan mendadak jadi senang sekali walau cuma bercakap-cakap dengan Sandy. Dari suaranya saja, Bryan langsung terpikat. Dia tiba-tiba ingin menyentuh Sandy, memeluknya paling tidak, atau menciumnya kalau bisa. Bryan menahan hasratnya. Dia punya kemampuan itu, kemampuan untuk menjaga harga diri dengan tetap berpegang teguh pada satu kekasih saja.
Bisa jadi keinginan Bryan itu efek dari keahlian menggoda yang dimiliki Sandy, seperti yang dikatakan Markus kemarin. Kalau memang benar, dia harus bertahan dari godaan sepupu Markus.
“Terima kasih telah mengkhawatirkanku juga.”
Sandy mengangguk lucu. “Jadi ...?” Bryan teralihkan perhatiannya. “Kau seorang detektif?”
“Eh hem.”
“Itu hebat sekali,” pujinya. “Aku selalu suka dengan cerita-cerita detektif, tapi belum pernah secara langsung melihat aksi heroiknya.”
“Aku dan timku biasa melakukannya.”
“Bisa kau ceritakan padaku!”
Bryan berfikir sejenak. Ingin, tapi belum bisa menceritakannya sekarang. Dan Sandy tahu itu.
“Tidak harus sekarang. Bisa lain waktu,” lanjutnya sambil pasang senyum manis, luar biasa manis.
Duh, Bryan tergoda dengan senyum itu.
“Tentu saja,” jawabnya tanpa ragu.
Sandy menawarkan makanan, Bryan hampir menggandeng lelaki itu dengan mesra ke ruang makan kalau Markus tidak berdehem menghentikan mereka. Bryan langsung tersadar setelah melihat muka garang kekasihnya itu.
“Detektif Trevor, kau tak melihat kekasihmu duduk di sini dari tadi?” tanya Markus yang memang sedang duduk di sofa. Dia memegang buku panduan menjadi detektif berkarakter milik Bryan. “Atau Si Sandy Sialan itu telah memerdayamu sampai kau lupa daratan?”
“Sandy Seksi, sepupuku sayang,” Sandy meralatnya.
“Maaf!” Bryan segera menghampiri Markus. Mencium kening kekasihnya itu sebelum duduk di sebelahnya. “Aku baru saja menemui Luo.”
“Siapa Luo? Apa dia juga detektif sepertimu?” sahut Sandy tidak mau kalah.
“Aku lebih suka bicara berdua. Kau bukan bagian dari itu.”
Sandy mengangkat kedua tangannya. Tidak marah.
“Kau punya pekerjaan katamu, selesaikan itu sekarang akan lebih baik daripada mengganggu sepasang kekasih yang akan bermesraan!”
“Kalian akan bermesraan?” tanyanya sok polos.
“Apa perlu kujelaskan?”
Markus meliriknya tajam. Tampaknya ada kode-kode yang cuma dipahami oleh keluarga Liem saja, yang keluar dari mata menuju mata. Sandy langsung pergi setelah kode-kodean itu berakhir, bahkan tanpa mengatakan apa pun.
“Ada berita apa lagi?” tanya Markus beralih ke Bryan.
“Penangkapan sebuah geng perampok mobil.”
“Apa itu ada hubungannya dengan kecelakaan yang kualami.”
“Sedikit banyak memang ada. Bahkan penangkapan ini jadi kunci kasus penganiayaan yang dialami Maxim.” Markus tertarik, bahkan sampai meninggalkan buku bagus yang sedang dipegangnya. “Maxim juga sudah sadar, tapi belum bisa dimintai keterangan.”
“Kau bisa meneruskannya nanti?” Bryan sedikit kecewa ceritanya harus dipotong. “Aku butuh obatku dulu sekarang ini.”
Bryan mengerutkan dahi, merasa ada yang janggal ketika Markus menyebut kata obat barusan.
“Kau tak lupa membelikanku Bio Oil, kan? Aku sudah sangat risih melihat bekas lukaku tak kunjung mengelupas dan hilang.”
Bryan bingung. “Bio Oil?” Markus pesan obat seperti itu padanya. Dia lupa. Ini gara-gara Kapten Bay yang marah-marah padanya tadi, juga Luo yang menahannya di kedai makan langganan mereka. “Aku lupa. Bagaimana kalau besok kuantar kau ke apotek untuk membelinya.”
Seketika Markus menampakkan ketidaksukaannya. “Beli sekarang atau kupotong uang sejuta dolarmu!” ancam Markus datar tapi sungguhan.
Markus ingin memuluskan tubuhnya lagi, demi siapa juga kalau bukan Bryan? Lagipula Markus membayarnya, jadi boleh sekali dua kali dia memerintah lelaki itu.