“Mana Sandy?”
Markus mengabaikan Bryan, memilih fokus memutar-mutar pergelangan kaki sesuai arahan petugas fisioterapi.
“Mark!” panggil Bryan.
Melirik sejenak, kemudian menjawab dengan acuh. “Semalam dia keluar.”
“Sandy akan segera pulang atau tidak?” tanya Bryan lagi sambil mondar-mandir di kamarnya.
Bukan Bryan merindukan Sandy, tapi temannya ingin menginterogasi lelaki itu. Bagaimanapun Sandy tinggal di rumah Markus dan menghilang saat ledakan terjadi. Kalau Sandy tidak bisa dimintai keterangan, dia bisa jadi tersangka ledakan itu.
“Mana kutahu!” Markus masih fokus dengan terapi engsel kakinya. “Mungkin dia menemui partner-nya yang kemarin malam atau mencari partner baru,” sambungnya syarat akan ejekan.
Petugas terapi mengoleskan krim perangsang agar otot pergelangan kaki Markus lentur dan segera bisa berjalan normal. Dia meratakan krim, memijat sebentar sebelum mengaba Markus untuk mencoba gerakan putar-putar lagi.
“Bisa kau berikan nomor teleponnya padaku!”
Markus hampir curiga kalau Bryan bukan benar-benar menginginkan Sandy kembali untuk diinterogasi temannya, tapi diinterogasinya sendiri.
“Ini penting. Kalau tak punya alibi, dia bisa jadi tersangka.”
“Mungkin memang dia tersangkanya. Dia tak ada di rumah saat ledakan itu terjadi,” kata Markus seenak jidatnya. “Tangkap saja dia!”
“Kau ini bicara apa? Dia sepupumu, tidak mungkin melakukan hal demikian.”
Bryan memang sudah dibutakan oleh pesona Sandy. Dia bisa tahan berhadapan dengan sepupu Markus itu, tapi entah untuk waktu yang berapa lama. Mungkin kalau Markus tidak ada ketika Bryan dan Sandy sedang ngobrol berdua, saat itulah pertahanan Bryan akan runtuh. Bryan percaya kata-kata Markus kalau Sandy punya pesona demikian kuat, tapi Bryan tidak bisa mencegah dirinya untuk tidak tergoda. Seperti kata Luo, detektif juga manusia, mereka punya batasan untuk tidak tergoda wanita cantik atau dalam kasus Bryan adalah tergoda lelaki tampan.
“Dia biasa pulang sore, dan pergi lagi malam harinya. Kalau kau mau mencegahnya pergi, tawarkan tubuhmu padanya,” kata Markus tidak acuh. “Dia pasti akan tinggal malam ini.”
“Kau ini bicara apa?” ulang Bryan. “Aku tak mungkin melakukan hal senista itu. Kau yang kekasihku kenapa aku harus menawarkan tubuhku pada orang lain?”
“Mukamu mengatakan demikian. Tidak percaya? Tanya saja petugas terapi ini!” Petugas langsung menunduk, pura-pura tidak mendengar pertengkaran Markus dan Bryan. “Kalau aku tak bersamamu, sudah pasti kau akan berbuat macam-macam dengannya!” lanjutnya kasar.
“Mark …!” protes Bryan. Dia malu. Ada orang lain di situ, tapi Markus berkata seolah semuanya benar. “... kau terdengar seperti pencemburu.”
“Kalau sudah tahu, kau tak akan memanas-manasiku dengan adegan mengobrol intim dengan sepupuku.”
Melihat Bryan memijat pelipisnya sambil mondar-mandir, petugas terapi merasa tidak enak. Dia menangkap aura pertengkaran besar akan terjadi di antara keduanya. Markus yang cemburuan, sedangkan Bryan tidak memberi respon yang baik. Petugas melirik lingkar tangannya, jam di sana menunjukkan pukul sepuluh kurang. Lima belas menit lagi terapinya selesai, tapi kalau dia harus bertahan di antara sepasang kekasih yang menebar kemarahan satu sama lain, dia tidak tahan.
“Terapi hari ini selesai.” Keputusannya mengejutkan Markus. “Sering gerakkan kakimu, tapi jangan terlalu dipaksa!” Namun Markus mengiyakan. “Aku akan kembali besok pagi,” pamitnya sambil mengemasi alat-alat terapi.
“Terima kasih.”
Bryan menyela, “Telepon Sandy, tanya dia ada di mana. Bilang padanya aku akan menjemputnya sekarang!” perintahnya, tidak mau ambil pusing kalau suasana menjadi tidak mengenakkan bagi terapis itu. “Kau akan kembali ke rumah sakit?” tanya Bryan beralih pada petugas terapi.
“Iya.”
“Butuh tumpangan?”
“Tidak, terima kasih. Aku membawa mobil dinas.” Sedikit demi sedikit dia berjalan keluar kamar. Ketika Bryan menawarkan untuk mengantarnya ke pintu, dia menolak. “Aku tahu jalan keluar,” jawabnya sambil tersenyum canggung. “Aku pergi sekarang,” pamitnya sekali lagi.
Petugas sudah keluar kamar, tapi belum jauh ketika Bryan ngotot ingin Markus menelepon sepupunya. Bryan mau bertemu Sandy, itu intinya. Alasannya untuk dibawa menemui teman detektif yang akan menginterogasinya, tapi Markus tidak percaya.
“Sandy harus diinterogasi secepatnya, kau paham atau tidak?” kata Bryan jengkel. “Untuk mengusut masalahmu yang makin berlarut-larut, dia harus segera diperiksa. Ini demi kebaikanmu juga,” lanjutnya diikuti dengusan kasar kepada Markus.
“Demi kebaikanku atau demi kebaikannya?” Markus masih santai menanggapi Bryan. Dia tahu kekasihnya itu mulai lupa dengan iming-iming sejuta dolar darinya. Sandy mulai menggantikan fokus Bryan rupanya.
“Dua-duanya,” jawab Bryan marah. “Yang terancam nyawanya adalah kau, tapi kalau Sandy tak segera menemui tim penyidik, dia bisa disangka pelakunya.”
“Dia memang pelakunya!” pancing Markus.
“Demi apa kau menuduh sepupumu sendiri?” tanya Bryan makin naik pitam.
“Demi kekasihku yang mulai membelot,” jawab Markus masih santai. “Demi sejuta dolar serta tubuhku yang kuberikan secara cuma-cuma.” Markus mendengus sambil bergumam, “Sia-sia!”
“Mark!” Bryan geram, tapi dengan cepat menurunkan emosinya. “Jangan bicara seperti itu lagi. Tidak ada yang sia-sia di sini. Aku akan tetap menjagamu sampai masalah ini selesai, dan selama itu aku tetap kekasihmu.”
Sampai masalah ini selesai kata Bryan? Itu kalimat menyedihkan yang pernah didengar Markus. Lebih menyedihkan dari saat asetnya ditukar ke luar negeri, ataupun saat dia kehilangan ingatannya sejenak setelah menegak minuman berisi obat dari sepupunya. Memang dia yang memulai kontrak bernilai setuja dolar itu, tapi Markus berharap diperlakukan layaknya kekasih meski waktunya terbatas. Markus menyukai Bryan, itu masalahnya. Dia menyukai detektif itu karena tempo hari mencuri ciumannya waktu di rumah sakit. Namun, sepertinya Markus telah melakukan kesalahan dengan menawarkan kontrak pada lelaki itu.
“Aku tak pernah meneleponnya, dia yang selalu meneleponku,” jawab Markus mencoba mengurai masalahnya sendiri. Melupakan perasaannya akan jadi pilihan sebelum berlarut-larut lalu Markus sakit sendiri. “Aku tak bisa beritahukan nomornya. Kalau kau mau, minta saja pada pembantuku.”
Bryan meninggalkan Markus, bergegas menemui salah satu pembantunya. Di saat Markus berharap Bryan mengurungkan niat untuk mencari Sandy, lalu menemaninya di rumah seperti yang ditugaskan Kapten Bay, Bryan memang kembali lagi padanya. Bukan untuk menemaninya, tapi untuk membawanya serta dalam mencari sepupunya.
“Aku tak bisa meninggalkanmu. Cepat pakai baju hangat dan bawa jaketmu!” perintah Bryan yang kemudian pergi lagi.
***
Bryan menghentikan mobilnya di depan gerbang apartemen. Apartemen mewah dan baru. Sekitar enam bulan lalu launching dengan harga terendah satu setengah juta. Bryan menanyai Markus tentang siapa yang dikunjungi Sandy di dalam sana, tapi Markus menjawabnya ketus. Dia bilang, partner bercinta Sandy. Maka dari itu, Bryan marah dan tidak bicara lagi padanya. Bryan segera menjalankan mobilnya, menunjukkan tanda pengenal pada penjaga agar diberi akses masuk lalu membawa mobilnya ke basement untuk diparkir. Dia juga menyeret Markus untuk ikut ke dalam gedung, walau menolak.
“Lantai 17 nomor kamar 32,” kata Bryan sambil melihat nomor-nomor di dalam lift. “Bryan memencet nomor lantai. Lift tertutup kemudian terangkat.
“Kenapa tak menelepon dan menyuruhnya keluar saja?”
“Aku ingin tahu siapa yang bersamanya sekarang. Bersama siapa dan di mana dia, bisa jadi alasan tepat untuk diajukan ke tim penyidik.”
“Kukira kau cuma ingin membuktikan perkataanku. Dia benar-benar dengan partner bercintanya atau tidak, iya kan?”
Bryan tidak menanggapi Markus. Baginya, Markus sudah sangat keterlaluan. Tidak peduli nasib sepupu, bahkan berani menuduhnya segala. Yang paling Bryan tidak suka adalah sikap sok cemburu yang diperlihatkan terhadap Sandy. Bryan hanya berusaha menolong Markus dan sepupunya, tidak ada niat lainnya, apalagi menyelingkuhi Markus. Walau statusnya pacar bayaran, Bryan tetap berusaha menjadi kekasih setia.
Setelah keluar lift, Bryan menggandeng Markus. Dia membawa kekasihnya itu menyusuri lorong apartemen, mencari nomor 1732 di pintunya. Kamar nomor 32 ada di deret kanan. Markus yang menemukannya duluan, sedangkan Bryan kehilangan kesabaran karena ingin segera menemui dan menyampaikan maksud kepada Sandy. Bryan memencet bel, tidak lama kemudian Sandy membuka pintu. Lelaki itu sudah rapi, kelihatan sedang menunggu Bryan menjemputnya.
“Oh, kau ikut juga?” celetuknya ketika melihat Markus digandeng Bryan. “Kau sedang sakit, seharusnya istirahat saja di rumah,” kata Sandy sambil memberikan jalan keduanya untuk masuk.
“Mauku juga begitu, tapi Bryan memaksaku ikut.”
“Kalian tunggu di sini, aku akan mengemas pakaianku semalam.”
Bryan menyuruh Markus duduk, sedangkan dia sendiri mengedarkan pandangannya ke segala arah. Mata detektifnya digunakan untuk menangkap semua informasi di rumah ini, menganalisa lalu menyimpulkan. Sayangnya dari yang dia lihat, tidak ada kesimpulan tentang pemilik asli apartemen ini. Bryan mau melangkah ke dalam, tapi Sandy cepat keluar dengan tas jinjingnya.
“Kau mencari siapa?” tanya Sandy yang melihat Bryan celingukan ke dalam. “Temanku baru saja keluar. Sebenarnya hari ini dia bekerja agak siang, ingin kukenalkan dia pada kalian, tapi kalian datang terlambat.”
“Jam berapa dia akan pulang.”
Sandy mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan barusan.
“Temanmu. Jam berapa dia pulang kerja?” ulang Bryan.
“Malam, sekitar jam sembilan. Memangnya kenapa? Kau ingin mengenalnya?”
Bryan ingin kenal orang itu. Mengenal dengan artian menyelidikinya, tapi dia tidak bisa terang-terangan mengatakannya di hadapan Sandy.
“Lain kali saja kalau dia libur kerja.”
“Baiklah, kita berangkat sekarang saja.”
Entah karena ada Sandy atau ada alasan lain, Bryan tidak lagi menggandeng Markus saat turun dari lantai atas. Mereka jalan sendiri-sendiri, Bryan memimpin jalan dan Markus serta Sandy mengikutinya. Dua saudara sepupu itu tampak tidak akrab. Saling bicara memang, tapi tanya jawab mereka syarat akan sindiran. Bertanya dengan nada angkuh dan menjawab dengan sinis. Begitu terus sampai di parkiran. Baru setelah Markus minta izin ke toilet semuanya berakhir.
Markus pergi ke toilet, tidak mau diantar Bryan. Bryan sudah memaksa, tapi Sandy berhasil membuatnya tinggal. Tidak benar-benar ingin ke toilet sebenarnya, Markus datang kemudian memutuskan mencuci tangan dan membasuh muka untuk menghilangkan kepenatan yang mulai dirasakannya pagi ini.
“Kupikir kau sudah mati,” kata seseorang yang baru saja keluar dari salah satu bilik toilet.
Markus melirik lewat kaca di depannya. Dia melihat orang yang tidak ingin dilihatnya sekarang.
“Kupikir kau yang mati.”
“Nyatanya kita sama-sama hidup dan urusan kita akan segera berlanjut.”
“Tidak,” tolak Markus. Dia mengusap wajahnya sekadar menghilangkan tetesan air yang menghalangi penglihatan.
“Tidak kenapa?”
“Ada detektif sedang menungguku di luar, kau tak akan bisa menggangguku.”
Seseorang itu menggeleng. “Dia terlalu jauh. Kalau kuselesaikan sekarang, dia tak akan tahu.”
Markus menyesal menolak Bryan tadi. Harusnya dia memprediksi kejadian seperti ini akan terjadi kalau tidak ada Bryan. Persetan dengan orang yang ada di depannya, dia bisa lari dan sampai di depan Bryan sebelum tertangkap.
Orang itu menarik tangan Markus ketika hendak pergi. Sebelum terjadi perlawanan lebih keras, seorang lain datang, membekapnya dengan sapu tangan berbau menyerat. Dalam kawalan orang itu, Markus meronta-ronta. Sebentar kemudian badannya melemas, matanya memberat, lalu ambruk lebih cepat sebelum melihat siapa yang membiusnya barusan.
“Ini rencana B-nya,” kata orang itu sambil mengantongi sapu tangannya.
“Kau tahu dia akan menolak?”
“Orang seperti dia, tidak mungkin tidak menolak.”