Setelah mengantar Sandy pada temannya, Bryan bergabung dengan Luo dan Tax di ruangan Kapten Bay. Mereka tengah diinterogasi atasannya itu. Kapten Bay sedang mondar-mandir di hadapan mereka, mukanya garang, memerah dan marah. Baru saja berhasil menangkap penjahat, sekarang mereka kehilangan dua orang sekaligus. Bukan penjahatnya, tapi korbannya. Yaitu Maxim dan Markus. Seperti keterangan Luo tadi, Maxim hilang saat dia dan Tax ditugaskan berkunjung ke rumah sakit.
Ketika Maxim diajak berjalan-jalan di taman belakang rumah sakit oleh perawat, Luo dan Tax datang kemudian meminta waktu berbincang dengan Maxim. Sayangnya apa pun yang mereka katakan, Maxim tidak menanggapinya. Maxim hanya diam seperti patung. Sampai-sampai Luo berkelakar, mengatakan saraf-saraf otak Maxim belum tersambung dengan benar, lalu dia akan komplain pada dokter rumah sakit yang menangani Maxim supaya saraf-saraf itu segera disambungkan. Spontan sebenarnya, Tax yang mendengarnya saja sampai mencibir tindakan Luo. Tapi dari kalimat spontan itu, Maxim tergeragap seperti baru tersadar dari tidur panjang. Matanya mengedip-ngedip seakan memberitahukan ingatannya mulai kembali. Maxim mendadak berdiri, tapi jatuh. Merangkak-rangkak, berpegangan pada apa pun untuk berusaha berdiri lagi, tapi masih tidak sanggup. Terkejut dengan reaksi Maxim, Luo segera membantu, menggendong dan mendudukkannya ke kursi roda. Takut terjadi apa-apa dengannya, mereka membawanya menemui dokter.
Dua jam setelah Maxim diberi obat tidur, dia hilang.
“Kami sedang mencarinya, Kapten,” bela Tax.
“Mencari dari tadi siang dan hampir malam begini kalian belum menemukannya?” bentak Kapten Bay. “Kau juga!” tudingnya pada Bryan. “Kau juga mencarinya dari tadi siang, kan? Mana? Mana Markus?”
Maxim hilang, dugaan awal dia mengalami delusi. Dia sedang mencari potongan-potongan memorinya yang tercecer. Maxim bisa berada di mana saja, tergantung apa yang diingatnya saat itu. Sulit menemukan orang yang sedang mengalami proses kembalinya ingatan, kecuali tahu betul tentang kegiatan dan tempat-tempat khusus bagi Maxim. Kapten Bay khawatir kalau Maxim bertemu dengan salah satu penjahat yang pernah menghajarnya, dia bisa dibunuh. Selain tugas melindungi Maxim gagal, informasi pun tidak mereka dapat kalau lelaki itu mati.
Markus juga sama. Dia hilang ketika pergi ke toilet. Polisi dan pihak keamanan apartemen sudah mencoba mencari sampai area terjauh dari gedung, tapi nihil. CCTV juga sudah dicek, tidak ada gambar Markus sama sekali kecuali terakhir kali dia berjalan ke arah toilet. Polisi cuma menemukan tumpahan obat bius di sebelah pintu kamar mandi. Pelakunya terkesan amatiran. Tapi dari situ dapat ditarik kesimpulan bahwa Markus diculik.
“Kenapa dia bisa berjalan sendirian ke toilet?”
Bryan diam ketika Kapten Bay menudingkan telunjuk ke mukanya.
“Apartemen itu tidak se-privat rumahmu, Bryan!” bentaknya sambil mengibaskan lengannya kemudian kembali mondar-mandir. “Aku benar-benar tak habis pikir, agen hebat sepertimu bisa seceroboh ini. Sudah berapa kali kau kutegur agar tak meninggalkan Markus, ha? Lebih dari dua kali dan kau tetap melakukannya!”
Bryan tidak bermaksud begitu. Dia sudah menawarkan diri mengantar Markus, bahkan memaksa untuk ikut serta ke toilet. Tadi siang memang sedikit tidak mengenakkan, kalau dia tetap menggandeng Markus dan mengabaikan permintaan Sandy untuk tinggal di parkiran, dia tidak akan kehilangan Markus.
Saat Markus tidak kembali dalam sepuluh menit, Bryan berfirasat buruk. Bryan segera berlari ke toilet untuk memastikan keberadaan Markus. Tidak mendapati kekasihnya ada di sana, itu menjawab firasat buruk yang dirasakannya. Bryan terserang sesak napas mendadak saat itu, pikirannya menciut merasakan kehilangan. Dia sudah berlari ke sana kemari sebelum melapor ke pihak keamanan, tetap tidak mendapati Markus di mana pun. Dan setelah polisi serta pihak keamanan turut mencari dengan hasil sama gagalnya, Bryan merasakan kehilangan yang lebih besar lagi. Pada akhirnya dadanya terasa nyeri saat penyidik mengatakan Markus diculik, dan nyawanya bisa jadi terancam.
Bryan menyesal, sumpah demi apa pun dia menyesal telah mengabaikan Markus.
“Sebelum ada berita kematian dari keduanya, berarti kita masih punya kesempatan,” kata Kapten sambil memijat pangkal hidungnya. “Kita batasi pencarian ini. Kalian punya waktu tiga hari untuk menemukan mereka sebelum Inspektur J datang kemari minggu depan.”
“Inspektur akan datang?” tanya Luo menjadi wakil pembicara dari ketiganya.
“Ya,” jawab Kapten Bay tidak mau berteriak lagi. Beliau sangat pusing, lebih pusing dari ketika harus memilih antara mematuhi perintah Presiden atau keluarga besar Liem. “Kalian tentu tak mau Inspektur J menghadiahi predikat terburuk untuk devisi kita.” Ketiganya setuju. Kedatangan Inspektur jadi berita buruk setelah mereka kehilangan Maxim sebagai salah satu saksi kunci serta Markus sebagai korban.
“Kapten,” potong Tax. “Izinkan kita mencari kembali, kita janji akan menemukan mereka secepatnya.”
Luo dan Bryan mengangguk untuk meyakinkan atasannya.
Kapten Bay setuju. Tidak ada pilihan lain selain mengerahkan seluruh agennya untuk menyelesaikan masalah ini. Kapten menyerahkan semua pada bawahannya, informan-informan sudah dihubungi, bahkan penjahat-penjahat yang ada di bawah kendali mereka ditawari sejumlah uang demi menuntaskan masalah ini. Sebelum Inspektur J datang, semuanya harus selesai.
Kapten melempar map lumayan tebal ke hadapan tiga bawahannya. Beliau menyuruh ketiganya mempelajari informasi di dalamnya. Informasi sama dengan yang dibagikan pada semua detektif yang terlibat dalam kasus ini.
Pintu ruang Kapten Bay diketuk.
“Masuk!” Kapten Bay berteriak.
“Kapten,” sapa petugas itu sambil hormat.
“Ada apa?”
“Tiga tersangka kita mengaku. Kami butuh Anda di ruang interogasi,” lapornya cepat.
“Aku akan ke sana.”
Petugas itu hormat lagi sebelum meninggalkan tempat. Tepat setelah petugas tadi keluar, petugas lain datang. Dia hormat juga pada Kapten Bay, mengabaikan keberadaan Bryan dan teman-temannya. Kemudian mulai memberi informasi.
“Kapten,” kata detektif itu sambil melirik sebentar ke arah teman-teman detektifnya. “Berita sedikit buruk.”
“Kau kemari bawa berita buruk tapi kau tak tampak takut.”
Detektif Chang Kee, seangkatan dengan Bryan, tapi kemampuannya hampir menyamai Luo. Dia detektif yang mencintai pekerjaannya lebih dari apa pun, tapi tidak begitu suka dengan yang namanya hormat-menghormati sesama. Dia detektif kedua yang sering kena marah setelah Luo.
“Inspektur J akan datang lebih cepat. Tiga hari lagi,” katanya santai.
“Apa?” teriak Kapten Bay. “Kau jangan main-main, Chang!”
“Tidak.” Chang melirik ke arah tiga temannya, semuanya memiliki ekspresi sama terkejut seperti Kapten Bay. “Tadi aku juga sama takutnya mendengar berita ini,” terangnya.
“Siapa yang memberitahumu?” Kapten tidak percaya. Kalau sampai Chang membuat berita palsu dia perlu dihajar saat ini.
“Bagian informasi baru menerima telepon dari Inspektur J, Beliau bilang akan datang lebih cepat untuk membantu menyelesaikan masalah ini.”
Demi apa Inspektur J mengatakan hal barusan? Bekerja dengan Inspektur J sama dengan masalah besar. Takutnya kesalahan kecil yang mereka buat bisa berujung pemecatan.
“Bagian informasi akan menyampaikan laporan lengkapnya nanti.”
“Sialan!” umpat Kapten.
Chang memulai lagi. “Seorang informan menemukan baju rumah sakit dengan logo rumah sakit tempat Maxim dirawat. Segala perban yang melekat di tubuhnya juga ditemukan di tempat yang sama,” lapornya. “Di jalanan perumahan elite dekat rumah lelaki itu.”
“Sudah ada yang pergi ke sana?” Chang mengangguk. “Segera laksanakan tugas kalian. Temukan Maxim dan Markus secepatnya!” perintah Kapten Bay.
“Siap!” jawab Bryan, Luo dan Tax. Mereka keluar sesegera mungkin, tapi tidak dengan Chang.
“Kau juga, Chang!” bentak Kapten. “Mau kusuruh kau menyalin seluruh laporan ke bentuk tulisan tangan?” Chang menggeleng cepat. Dia sama dengan detektif lainnya, lebih suka berkeliaran di luar daripada berurusan dengan kertas-kertas di kantor. “Cepat pergi!”
“Siap!” Chang menyusul teman-temannya.
***
“San, aku sudah menelepon Jack. Dia akan menjemputmu dan mengantarmu ke rumahku.”
“Lalu kau mau ke mana?”
“Mencari Mark.”
“Aku ikut.”
“Tidak.” Sandy tidak boleh ikut, apa pun alasannya. “Kau tinggal di rumah saja. Jangan pergi ke mana pun karena bisa jadi kau akan mengalami hal sama seperti Mark.”
Sandy menggeleng. Alisnya mengerut tajam, agaknya dia juga khawatir dengan sepupunya.
“Di rumah ada banyak orang, ada dua polisi juga yang akan menjagamu.”
“Aku merasa lebih aman bila bersamamu.”
Bryan kali ini menggeleng. Selain dia tidak bisa fokus mencari sambil menjaga Sandy, ada kemungkinan kalau dia juga akan tergoda lagi oleh sepupu Markus ini. Lebih baik dia tidak bersama Sandy kali ini.
“Kau harus berada di rumah. Aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu!” Bryan terpaksa bilang begitu. Padahal dia lebih tidak mau terjadi apa-apa dengan Markus.
“Tapi kau akan kabari aku kalau Mark ketemu, kan?”
“Tentu.”
Rela atau tidak, Bryan tetap pergi meninggalkan Sandy. Teman-temannya telah menunggunya. Mereka akan bagi tugas, Luo tetap ber-partner dengan Tax sedangkan Bryan dengan Chang. Namun, Chang punya agenda tersendiri. Dia diminta menangani masalah lain hingga Bryan harus pergi sendiri. Bryan memulai dari titik awal Markus hilang. Di sana ada banyak petugas yang bisa membantunya mencari Markus.
“Pak Bryan, Nona Megan ingin bertemu anda,” lapor seorang petugas.
“Aku sedang bertugas.”
“Dia punya informasi tentang obat bius itu.”
Bryan tertarik. “Di mana dia sekarang?”
“Di lab-nya.”
“Terima kasih.”
Bryan sampai di laboratorium Megan lima belas menit lebih cepat dari perkiraan perjalanan. Dia ngebut demi secuil informasi yang akan wanita itu berikan padanya.
“Meg, Kau punya informasi apa?” Bryan menyerbu masuk, serasa ada badai menyerbu ruangan saking tergesa-gesanya.
“Oh, kekasih Markus Liem. Kau terburu-buru rupanya.”
“Sangat. Kekasihku hilang dan aku harus menemukannya.”
“Aku sudah dengar kecerobohanmu itu.”
Bryan mendengus, bukan pada wanita di depannya, tapi untuk dirinya sendiri. Dia merasa gagal menjaga Markus.
Megan bersikap hati-hati. Dia mengabaikan Bryan hanya untuk menguji sebuah sample yang entah dari mana dia dapat. Ditaruh dibawah mikroskop dan dilihatnya secara teliti.
“Mengenai obat bius tadi ...,” kata Megan. “... jenisnya banyak beredar di pasaran. Namun, punya sedikit perbedaan dari obat lainnya.” Megan menunjukkan tiga sample berbeda. “Dua di kanan ini komposisinya sama walau mereknya berbeda, tapi yang ini,” tunjuknya pada sample kecil di sebelah kiri. “Ini berbeda. Obat bius ini punya ciri tersendiri walau khasiatnya sama. Dan hanya Kian Farma yang memproduksinya.”
“Kian Pharmacy?”
Megan mengangguk. “Perusahaan farmasi terbesar di negara kita. Mereka memproduksi segala jenis obat dan peralatan kedokteran. Hasil produksinya hampir menyebar ke seluruh dunia.”
Itu tidak membantu. Bryan tidak tahu menahu soal obat-obatan, tapi dia bersabar karena yakin bahwa Megan punya informasi penting.
“Kau sudah baca berkas ketika Mark keracunan atau sengaja diracuni sepupunya?”
“Cassey?”
Megan menggerak-gerakkan telunjuknya membenarkan.
“Dia meracuni Markus untuk dimanipulasi otaknya. Agar bisa diajak keluar dari negara ini.”
“Ya, tapi sebenarnya itu bukan benar-benar racun. Obat itu melumpuhkan syaraf otak untuk sementara. Setelah lumpuh, otak bisa dimanipulasi. Tentu dengan resep tersendiri.” Megan menerangkan. “Obat ilegal, cuma pihak militer yang punya izin penggunaannya. Digunakan untuk melumpuhkan penjahat kelas Internasional untuk memanipulasi otaknya. Diperah informasinya atau dijadikan sekutu.” Megan semakin bersemangat menerangkan, apalagi Bryan lumayan antusias. “Obat itu tak bisa diprediksi reaksinya karena seluruh percobaan gagal bahkan sebelum mereka sempat memanipulasi penggunanya.”
“Dan obat seperti itu diberikan pada Mark?” Bryan miris mendengarnya.
“Itu salah satu contoh gagalnya. Mark tak benar-benar sekarat otaknya, tapi makin jenius. Tidak semua percobaan menjadi orang jenius, dia sedang untung saja.”
Baiklah, kali ini Bryan bernapas lega.
“Tetap saja itu disebut produk gagal. Dan kau tahu siapa produksennya?”
“Kian Farma,” tebak Bryan.
“Tepat,” kata Megan. “Sekarang, apakah orang pertama yang memberikan produk dari Kian Farma itu sama dengan orang kedua yang membius Mark?”
“Cassey?” Bryan merasa sedikit tidak percaya. Apakah lelaki itu ada di negara ini sekarang? “Aku akan menyuruh orang menyelidikinya!” Bryan ingin segera pergi, Markus sedang dalam pencariannya sekarang. Kekasihnya itu prioritas utama dalam tugas. “Terima kasih infonya.”
“Kau juga perlu menyuruh orang untuk menyelidiki Kian Farma? Kudengar pemiliknya punya moyang yang sama dengan Markus.”
“Benarkah?”
Megan mengedikkan bahu, tak yakin.
“Akan kulakukan!” kata Bryan mantap.