Chang benar-benar kalap, dia menangkap orang sesukanya. Shaun Wine, Mikey Jordan dan Matthew. Dia mau menangkap lebih banyak lagi, tapi orang yang diinginkannya tidak ditemukan. Hanya tiga orang itu yang akhirnya dipenjarakan tanpa bukti apa pun. Chang melarang siapa pun membukakan pintu sel mereka bertiga tanpa izinnya. Bahkan dia mengancam akan menembak kalau ada yang berani meski itu Kapten Bay sendiri. Dia tidak punya bukti memang, tapi instingnya menyuruh demikian.
“Aku baru saja melakukan video call dengan Cassey Liem, dia benar-benar ada di Negeri Pizza sekarang ini. Dia lelaki yang tampan, seksi, dan kaya,” puji Narita dengan muka muram. Diam-diam iri oleh seluruh keturunan Liem yang mempunyai banyak kelebihan. Kenapa dia tidak lahir di keluarga itu juga? “Wajahnya mengingatkanku pada seseorang.”
“Siapa?”
“Model dan artis Internasional, Rei Ferdinand,” jawabnya. “Aku pernah menghadiri fans meeting-nya.”
“Tangkap dia!” perintah Chang.
“Kau gila. Atas dasar apa dia harus ditangkap? Karena dia punya pekerjaan yang sama dengan Cassey Liem?” cibir Narita.
“Kau benar, aku gila,” eluhnya sendiri.
“Bagus kau sadar. Sekarang lepaskan tiga pembisnis yang kau penjarakan itu!”
“Tidak tidak! Itu lain soal. Mereka ada hubungan dengan kasus ini. Instingku bilang begitu.”
“Hanya modal insting? Sinting kau!” maki Narita. “Tunggu Kapten Bay tahu dan kau yang akan menggantikan ketiga orang itu dalam sel.”
“Daripada kau mengoceh terus, carikan aku tiket PP ke Negeri Pizza yang terbang besok.” Chang mulai beranjak. “Aku akan kembali tengah malam nanti.”
“Aku menolak!” kata Narita cepat.
“Lalu tenggorokanmu berlubang karena peluruku?”
“b*****t kau!” makinya sekali lagi. Chang sudah jauh, bahkan sudah menghilang ditelan belokan lorong kantor saat Narita mulai mengomel.
“Ada apa denganmu?” Tax mengagetkan Narita. Tiba-tiba berada tepat di belakangnya, lalu mengeluarkan suara keras-keras. “Mengomel tak baik untuk kesehatan.”
“Karena Chang dengan seenak jidatnya menyuruhku mencari tiket ke Negeri Pizza untuk besok. Maskapai mana yang terbang ke sana di awal pekan?” eluhnya. “Kenapa kau ada di sini, harusnya kau menemani Luo mencari Maxim.”
“Justru aku ke sini karena ingin mencari Maxim.”
“Maxim tak sedang main ke sini,” jawabnya ketus.
“Aku mau kau carikan tiket untukku dan Luo ke Negeri Singa hari ini. Kalau tak ada, besok juga boleh.”
Narita menggiling gigi-giginya. Tadi geram dengan Chang, sekarang dengan Tax.
“Maxim terdaftar di salah satu pesawat yang terbang ke Negeri Singa. Dia bersama seseorang bernama Bobby.”
“Aku tidak kenal Bobby!”
“Demikian juga aku.”
“Aku bukan petugas pencari tiket!”
“Kalau begitu suruh orang mencarikannya untuk kami.” Narita mau menolak, tapi Tax segera menambahkan. “Kekasihmu dalam pengawasanku, kalau kau menolak dia akan masuk penjara bersama kawanannya.”
Sialan dua kali lipat. Tax adalah detektif yang menangkap bisnis gelap kekasih Narita. Dia tidak menangkap lelaki itu karena Tax mau bertukar dengannya. Tax dapat informasi dan kekasih Narita dapat jaminan kebebasan. Tapi Narita tidak menyangka kalau Tax akan mengancamnya dengan memenjarakan kekasihnya itu.
“Kau sama brengseknya dengan Chang!”
“Kami satu devisi,” jawab Tax sambil melenggang pergi.
***
“Siapa mereka berdua?”
Seseorang bertubuh ceking menggandeng lelaki mirip Markus di stasiun kereta. Di sampingnya ada orang lain yang menyeret koper kecil. Lelaki mirip Markus itu tidak berontak, sepertinya sedang teler oleh obat.
“Siapa mereka berdua?” ulang Bryan lebih kepada dirinya sendiri.
Bryan sedang bersama petugas pengamat CCTV. Mereka mengamati rekaman yang diberikan salah seorang polisi, diambil dari stasiun kereta cepat jurusan Kota Delta ke kota Kapa. CCTV menunjukkan kejadian itu tepat tiga jam Markus hilang.
Dua orang yang menggiring Markus berpenampilan lelaki, tapi Bryan curiga kalau mereka menyamar. Seorang yang tubuhnya ceking jalannya terseok-seok walau tidak menopang Markus di lengannya. Yang kecil, tubuhnya terlalu seksi, gaya jalannya saja melambai seperti wanita. Wajah mereka tidak banyak terlihat. Giliran terekspos dengan jelas, muka itu tampak palsu. Pasti telah ditempel sesuatu di muka mereka.
“Siapa mereka?” tanya Bryan untuk ketiga kalinya.
“Mereka memakai muka palsu. Kumis dan segala aksesoris di wajah itu tempelan.”
“Bisa kau cari tahu siapa mereka berdua?”
“Tentu saja. Celah kecil bisa kumanfaatkan untuk membuka kedok mereka.”
“Bagus. Telepon aku kalau kau sudah tahu!” perintah Bryan. “Aku akan ke kota Kapa untuk mengambil Mark kembali.”
“Masalahnya, Pak …,” potong petugas itu. “... kalau dua orang yang ada di sana memakai muka palsu, kemungkinan lelaki mirip Tuan Liem itu juga palsu.”
“Kau yakin mereka bertiga palsu?”
“Tidak juga. Aku akan mencoba mencari tahu, tapi butuh waktu.”
“Mark hilang dari tadi siang, kalau benar yang ada di CCTV itu dia, berarti mereka hampir sampai di Kota Kapa. Bisa jadi mereka berpindah lebih jauh.”
Petugas itu menggeleng. “Kota Kapa adalah tempat paling bagus untuk menyembunyikan diri. Mereka tak akan berpindah setidaknya untuk dua tiga hari ke depan.”
“Semoga kau benar,” ucap Bryan. “Kalau begitu aku harus bergegas ke sana. Berjanjiah meneleponku kalau kau berhasil mengetahui siapa mereka!”
“Pasti, Pak.”
Bryan pergi lagi. Seakan tiada lelah, dia berkendara ke pusat kota menuju stasiun kereta cepat saat itu juga. Bryan tidak bisa pergi sendiri, dia menelepon kantor dan meminta seseorang untuk menemaninya ke Kota Kapa. Sambil menunggu, dia menyempatkan diri menelepon ke nomor Markus meski akhirnya kecewa tidak mendapat jawaban. Dia memutuskan duduk di bangku tunggu, menyandarkan punggungnya dan memejamkan mata sejenak.
Markus ...
Ya, Markus. Kekasihnya itu sekarang sedang diculik. Entah di mana dia berada, Bryan sangat mencemaskannya. Kemarin, di jam yang sama seperti sekarang Markus sudah tidur. Bryan yang menemaninya, dia juga yang memeluknya. Sekarang, lelaki yang dipeluknya semalam itu telah ada di tangan penjahat. Bryan takut seandainya Markus diperlakukan buruk, apalagi sampai mau dibunuh. Sumpah demi apa pun Bryan belum siap untuk menerima berita kematian Markus. Dia belum mau berpisah dengan Markus. Bukan sejuta dolar sebagai alasan, tapi sesuatu tidak terdefinisikan yang membuatnya nyaman bersama Markus. Meski dia dianggap sebagai kekasih bayaran, disuruh-suruh, bahkan dimarah-marahi, Bryan rela asal itu Markus.
Bryan rindu lelaki itu.
“Brey!” panggil Narita, tergopoh-gopoh berjalan ke arah Bryan.
“Kenapa kau terlambat?” sambut Bryan dengan muka kesal.
“Kenapa katamu? Kau yang berada di sini lebih dulu tapi kau menyuruhku mengantre tiket. Sekarang kau tanyai aku kenapa terlambat? Orang macam apa kau ini?”
“Orang yang mencemaskan kekasihnya yang sedang diculik,” jawab Bryan malas.
“Mark diculik itu gara-gara kau. Kalau dia ketemu nanti, akan kusarankan untuk mencari kekasih lain.”
“Kenapa kau jahat sekali padaku?”
“Hari ini sudah ada dua orang menjahatiku dan sekarang tambah kau. Aku tak bisa diam saja dijahati,” protes Narita. “Chang mau melubangi tenggorokanku kalau tak mencarikannya tiket ke Negeri Pizza. Tax akan memenjarakan kekasihku kalau tak mencarikannya tiket ke Negeri Singa. Dan sekarang kau mau mengancamku apa agar aku membelikan tiket ke Kota Kapa?”
“Aku tidak akan mengancammu. Lagipula kau sudah membeli tiketnya.”
Narita mendesah panjang. “Kau benar,” celetuknya, lalu berdecak sebal.
Dia melupakannya dengan cepat, segera menyerahkan satu tiket untuk Bryan dan mencari tempat duduk mereka.
Dalam kereta, Narita memandangi Bryan lekat-lekat di perjalanan dari kota Delta ke kota Kapa. Raut wajahnya seperti berkabung, tapi sesungguhnya dia sedang simpati pada Bryan.
“Kenapa memandangiku?”
Wajah nelangsa Bryan yang membuatnya memandangi lelaki itu. “Kau tidak apa-apa?”
“Memangnya aku kenapa?”
Narita mengulurkan tangannya, memegang tangan Bryan dan menepuk-nepuknya. “Kau tak perlu sungkan untuk bercerita padaku. Aku ini pendengar yang baik.”
“Kau ini bicara apa?”
“Brey, aku tahu bagaimana rasanya kehilangan kekasih karena perpisahan. Tapi aku tak tahu rasanya kehilangan kekasih karena penculikan. Kau pasti sangat mencemaskan Mark, kan?”
“Apa aku terlihat mencemaskannya?”
“Sangat,” jawabnya. “Aku tahu kau mencintainya, maka dari itu aku bersedia menemanimu ke Kota Kapa meski jam kerjaku telah habis.”
“Aku tidak mencintainya!” sangkal Bryan.
“Kau memang akan kuat kalau terus menyangkal, tapi akan lebih baik kalau kau mengakuinya. Detektif juga manusia. Juga bisa sedih,” katanya meng-copy kalimat yang sering diucapkan Luo. Detektif satu itu punya banyak alasan yang bisa di-copy teman-temannya.
“Jangan campuri urusanku, wanita sialan!”
Sudah mati-matian menahan diri, kalau Narita terus mendesaknya dengan kata-kata melow begitu, nantinya Bryan tidak bisa menahan kesedihannya lagi. Memang dia tidak mungkin bisa menangis, tapi dia bisa jadi sangat sedih kalau sampai kehilangan orang yang disukainya. Demikianlah alasannya terus menyangkal.
“Terserah! Tapi percayalah, kalau kau mencintai Mark dan sebaliknya Mark mencintaimu, dia akan bertahan demi kau.”
Bryan mendengus. “Memangnya ada kemungkinan dia hidup lebih lama karena cinta?”
“Tentu. Cinta selalu menunjukkan jalan untuk bertahan,” terang Narita. “Kalaupun Mark akan dibunuh, dia pasti bisa mengulur waktu demi bisa kau temukan.”
“Aku mencintainya!” kata Bryan spontan. “Apa aku bisa menemukannya dengan kalimat itu?”
“Tidak!” Karena Bryan merengut, merasa dibohongi, Narita segera menambahkan, “... tapi kau akan menemukan jalan untuknya.”
“Aku tidak mengerti maksudmu.”
Sejujurnya cinta tidak bisa melakukan apa pun. Hanya saja, karena mencintai Markus, Bryan rela sibuk ke sana kemari. Karena mencintai Markus, Bryan segera cari cara untuk menemukannya. Dan karena mencintai Markus pula, dia menutupi kegalauannya demi terlihat tegar di depan orang lain. Itu arti bahwa cinta menunjukkannya jalan untuk menemukan Markus.
“Kau akan tahu kalau sudah menemukannya,” kata Narita sambil menepuk tangan Bryan beberapa kali lagi.