Chang baru saja mengamuk.
Hari itu dia sampai di Negeri Pizza, hari itu juga dia harus kembali.
Sesaat setelah mengaktifkan ponsel, seorang petugas yang ada di dalam negeri menghubunginya, mengatakan bahwa Cassey baru saja tiba. Chang langsung menukar tiketnya untuk penerbangan kembali. Sampai di tempat, dia dikejutkan dengan pembebasan tiga pembisnis tawanannya. Jelas dia mengamuk, pasalnya tidak ada yang mengaku saat dia menanyakan siapa yang membebaskan ketiganya. Teman-temannya menyingkir dan tidak ada yang mau menjawab pertanyaannya. Kalau Kapten Bay tidak datang saat itu, Chang sudah pasti menghancurkan seisi kantor.
Tax dan Luo pergi ke Negeri Singa dan kembali hari itu juga.
Mereka berhasil menyelidiki hubungan Maxim dan Bobby. Bobby adalah sepupu Maxim yang tinggal di Negeri Singa. Dia datang waktu itu untuk melihat keadaan Maxim. Dia bermaksud membawa dan merawat sepupunya itu di sana, tapi karena dokter tidak mengizinkan Maxim dibawa bepergian untuk saat ini, Bobby pulang sendirian. Luo dan Tax tidak memeriksa lebih dulu apakah Maxim benar-benar ikut ke sana, jadinya salah informasi. Mereka memang berhasil menanyai Bobby, tapi tidak berhasil menemukan Maxim.
“Maaf, Tuan Andrew, keberadaan Tuan Liem tidak bisa kami beritahukan kepada Anda. Setelah kejadian ledakan itu, kami dari pihak kepolisian menyembunyikan dan mengawal ketat Tuan Liem,” jawab Fai, mencoba ramah meski sebenarnya jengkel setengah mati. “Tentu, untuk saat ini kami berani jamin keadaan Tuan Liem baik-baik saja. Sangat baik malahan. Setelah kami berhasil mengusut kasus tabrakan dan ledakan rumah itu, Tuan Liem pasti bisa ditemui lagi. Mohon pengertiannya, ini demi kebaikan Tuan Liem.” Dia berbohong.
Ini ketiga belas kalinya Andrew menelepon kepolisian untuk menanyakan keadaan Markus. Karena dia tidak tahu sama sekali soal ledakan dan kepindahan Markus ke rumah Bryan, dia mulai mencari Markus. Tidak menemukan Markus di mana pun, lalu menelepon ke kantor polisi. Tiga belas kali menelepon dan tiga belas kali pula dia menerima jawaban yang sama. Kepolisian tidak mau ada yang tahu bahwa Markus diculik atau publik akan menganggap kinerja mereka buruk.
Sekarang Bryan dan kawan-kawan sedang mencari Markus. Mereka harus diberi waktu dan keleluasaan agar bisa menjalankan tugas dengan baik.
“Begini saja, bila keadaan benar-benar memungkinkan, pihak kami akan mengizinkan Tuan Liem untuk menelepon Anda.” Fai mendengarkan Andrew bicara, lalu dia mengiyakan semua perkataan itu. “Tentu, kami berjanji soal itu. Terima kasih atas kepercayaannya, Pak.” Tanpa menunggu lama dia menutup telepon.
Sedikit penasaran, Harry bertanya, “Siapa?”
“Biasa, orang yang akhir-akhir ini menelepon menanyakan keadaan Mark,” jawabnya santai. "Ngomong-ngomong apa hubungan Andrew dengan Mark? Bukankah mereka cuma rekan kerja?”
“Memangnya rekan kerja tak boleh saling mengkhawatirkan satu sama lain?”
Mengkhawatirkan rekan berlaku juga di kepolisian. Tapi agaknya ada beberapa yang tidak melakukannya. Malahan, satu dua di antara mereka suka mengumpankan partner-nya demi menarik penjahat keluar dari persembunyian agar mereka bisa menangkapnya.
“Mungkin dia punya perasaan khusus untuk Mark.”
“Apa dia belum tahu kalau Mark jadi kekasih Bryan?”
“Mungkin saja. Semoga dia tak menjadikan Bryan sebagai rival kalau tahu soal itu,” kata Harry sambil memeriksa email masuk.
Fai mencoba membandingkan. “Bryan kalah tampan dari Andrew.”
“Bukan hanya itu. Dia juga kalah kaya dan kalah pintar.”
Fai setuju dengan Harry, tapi sebelum dia menimpali, orang yang mereka bicarakan melangkah masuk kantor. Bryan bertanya karena merasa ada yang menyebut namanya. Untungnya Bryan tidak mendengar dengan jelas pembicaraan mereka, hingga kedua petugas itu bisa leluasa mengangkat bahu.
Bryan lusuh, kotor, dan berantakan. Saat berangkat hingga sekarang dia belum mandi. Pengejaran yang dia lakukan sampai ke Kota Kapa, gagal total. Tidak begitu gagal sebenarnya. Hanya salah target. Fokusnya adalah menemukan Markus, untuk itu dia mengejar tiga orang yang salah satunya mirip Markus di stasiun. Sampai di kota Kapa, dia dibantu oleh polisi lokal. Mereka sudah menemukan lalu menangkapnya. Namun, ketiga orang itu mengaku tidak tahu menahu soal Markus. Mereka cuma gadis-gadis pelancong yang berniat liburan ke kota Kapa ketika tiba-tiba seseorang datang lalu menawarkan uang agar mau menggunakan kostum dan bergaya seperti yang diminta orang itu. Mereka juga tidak ingat sama sekali muka orang yang menyuruhnya.
“Brey, kusarankan kau segera mandi sebelum Kapten Bay mengomel untuk ketiga kalinya pagi ini.” Chang, Luo, dan Tax sudah kena omel, lalu Bryan akan menyusul kena omel kalau tidak menuruti sarannya. “Kau bau, amat sangat bau,” katanya sambil mengibaskan telapak tangan di depan hidung dan mulutnya
Bryan mengendus bajunya sendiri, merasa tidak mendapati apa yang dikatakan si petugas, dia beralih ke ketiaknya. Bryan akhirnya mengernyit. “Cuma sedikit,” dalihnya.
Pantas dari tadi Narita duduk jauh-jauh darinya. Malah sekarang pulang duluan sebelum melapor ke kantor.
“Aku masih belum menemukan Mark, kau paham!”
“Apa hubungannya kau tidak mandi dengan belum menemukan Mark?” tanya Fai sambil mengernyit, benci. “Aku tahu dia kekasihmu, tapi coba kau pikirkan, saat menemukannya tapi kau dalam keadaan bau, apa yang akan dikatakan Mark padamu?”
“Dia akan berterima kasih lalu akan bilang, ‘Aku mencintaimu, Brey!’” jawab Bryan lumayan percaya diri. “Cinta tak peduli dengan bau badan.”
“Lalu dia akan memelukmu dan menciumu?” tanya Fai sambil mencebik jijik.
Bryan mengangguk mantap.
“Mimpi saja kau! Aku berani bertaruh dia akan memutuskanmu sehari setelahnya.”
Bryan kepikiran, bisa jadi Markus akan memutuskannya sehari setelahnya persis seperti omongan temannya itu. Markus tipe lelaki yang gila kebersihan. Bau badan sepertinya tidak bisa ditolerirnya.
“Dan kau bilang apa tadi? Cinta?” Fai mencibirnya. “Kau tahu, secinta-cintanya Mark padamu, dia akan lebih memilih orang lain yang lebih bersih dan tak bau.”
“Biasanya aku juga tak bau.” Dia membuat pembelaan ringan.
“Maka dari itu mandi sekarang juga!”
Fai benar, tidak ada cinta yang bisa dihubungkan dengan bau badan. Fai juga benar, sehari setelah semua berakhir, Markus pasti akan meninggalkannya sesuai perjanjian mereka. Tapi Bryan bertekad saat menemukan Markus nanti, dia ingin dapat ucapan terima kasih serta pelukan hangat dari kekasihnya itu. Meski minus kata cinta dan ciuman, yang penting dapat sesuatu sebelum mereka benar-benar berpisah.
“Aku akan mandi.” Dia langsung melenggang ke arah kamar mandi kantor.
“Baguslah. Kudoakan Mark mempertahankanmu setelah ini!” ujar Fai tidak serius.
Bryan berdecak kesal, tapi dia terus berjalan.
“Brey,” panggil Harry yang baru saja menerima email lumayan penting. “Mandi yang cepat, aku dapat informasi bagus untukmu!”
Bryan hendak berhenti, tapi mengurungkan niat ketika jelas-jelas karena bau badannya, dia tidak diterima di lingkungan kantor. Dia mengangguk, lalu segera pergi.
***
“Kapten, Cassey Liem bersedia menemui kita siang ini. Di restoran Frans seberang J.O apartemen. Jam setengah dua belas …” petugas itu melihat jam tangannya. “... satu setengah jam dari sekarang.”
“Bagus, kau bisa menemuinya nanti!”
“Siap, Kapten!”
“Tidak, tidak, tidak!” tolak Chang. “Cassey Liem itu bagianku. Aku yang harus menemuinya nanti, kau urus masalah lain saja!”
“Hah, tidak bisa Chang. Dia bagianku,” protes si petugas.
“Kau tahu apa soal interogasi? Aku detektif hebat di sini, aku yang pantas menemuinya.”
“Ini bukan interogasi penjahat. Kita menemui Cassey Liem cuma untuk mengajukan pertanyaan biasa. Kalau kau yang datang, salah-salah kejadian memenjarakan tiga pembisnis itu akan terulang.”
“Terserah, tapi aku mau menemui Cassey Liem siang ini. Menghalangi jalanku, mati saja kau!”
Yang lain malas ikut bicara, kalau Chang sudah adu mulut, dialah yang harus menang. Semua dikumpulkan untuk menerima tugas baru dari Kapten Bay, bukan menyerobot tugas orang lain. Tapi entah kenapa Chang terobsesi ingin menemui Cassey.
“Ribut di sini, kalian berdua yang mati!” potong Kapten Bay dengan suara menggelegar dalam ruangan. Chang dan petugas tadi seketika diam. “Nama-nama kalian sudah kucatat di sini.” Kapten Bay marah sambil menepuk tumpukan kertas yang dipegangnya. “Semua punya tugas masing-masing, termasuk kau!” tunjuknya pada Chang.
Cassey datang ke negara ini, Maxim tidak ikut ke Negeri Singa, dan Markus juga tidak ada beritanya keluar dari kota Delta, bisa dikatakan semua orang itu masih ada di kota. Kapten Bay telah menyusun agenda baru dan membagi-bagi tugas pada anak buahnya. Kali ini tidak salah lagi, sebelum Inspektur J datang, mereka akan menemukan titik terang.
Kemarin kepolisian banyak mendapatkan keterangan soal kasus Markus Liem, tentang Kian Farma, serta hubungan pencurian mobil dan tabrakan disengaja itu. Komunitas pembalap liar yang tempo hari sempat ditangkap, perwakilan mereka datang dan menjelaskan bahwa ada beberapa anggota tidak resmi yang dicurigai terlibat tindak kekerasan terhadap Maxim. Sebagai rasa terima kasih kepada pihak kepolisian karena mereka tidak dipenjara, tapi diberlakukan sebagai tahanan luar, kelompok itu mengadakan penyelidikan sendiri terhadap anggota. Mereka menemukan beberapa kecurangan yang dilakukan lima orang. Agar tahu lebih dalam, nama-nama mereka telah diserahkan pada polisi beserta bukti-bukti sementara.
Hanya butuh sehari bagi kepolisian untuk melengkapi bukti. Lima orang yang dilaporkan itu memang terlibat penganiayaan terhadap Maxim. Mereka adalah agen ganda, selain ikut komunitas pembalap liar, mereka juga bekerja pada Maxim. Mengingat kelimanya adalah anggota tidak tetap di kelompok pembalap, juga pekerja paruh waktu di tempat Maxim, bisa jadi mereka ikut kelompok lain lagi. Orang seperti mereka adalah tipe penjahat yang lebih tertarik dengan uang tanpa peduli soal loyalitas. Siapa yang bisa menawarkan uang lebih banyak, dialah bosnya. Dan kemungkinan ada orang yang menawari mereka uang untuk membunuh Maxim.
Mengenai Kian Pharmacy, pemiliknya memang benar punya moyang yang sama dengan Markus. Pemilik Kian Farma satu kakek buyut dengan ayah Markus. Pemiliknya meninggal empat bulan yang lalu setelah sakit lebih dari enam bulan sebelumnya, menjadikan harta warisan dan seluruh asetnya jatuh ke anak-anaknya. Soal peredaran obat yang dilarang itu, tentu berkaitan dengan perpindahan tampu kekuasaan. Tanpa sepengetahuan pemilik baru, seseorang telah mengeluarkan obat perusak otak, atau memang salah satu anak itu sengaja memberikan izin pengeluarannya secara bebas.
Dua hal itulah yang akan diselidiki oleh para detektif. Terlepas dari Chang, Tax, Luo, dan Bryan yang tidak mendapatkan apa pun dalam kasus ini, mereka akan dapat tugas itu nantinya.
“Chang, kau pimpin sepasukan polisi ke distrik tiga. Ada pergerakan pembalap jalanan di sana. Bagaimanapun caranya temukan lima berandal itu.”
“Siap, Kapten!” jawab Chang.
Tentu Chang siap, dia dapat tugas yang lebih memacu adrenalin daripada menginterogasi Cassey.
Kapten Bay beralih ke tugas berikutnya. “Kau, kau dan kau,” tunjuk Kapten Bay pada Tax, Luo dan seorang petugas. “Pergi ke St. 71 Blok 701, ada beberapa petugas yang sudah menunggu kalian di sana. Geledah semua rumah dan seluruh ruangan di gedung itu!” perintah Kapten Bay.
“Ada kemungkinan Maxim di sana, Kapten?” Luo mengajukan pertanyaan.
“Kamera pengintai di jalanan menunjukkan sosok mirip Maxim berjalan masuk ke blok 701.”
Maxim pernah beberapa kali datang ke blok itu sebelumnya. Memang tidak pasti apa yang dikunjungi Maxim di sana. Mengingat di sana pernah tinggal sekelompok pembunuh bayaran, mereka perlu waspada. Bukan berarti dengan diketahuinya tempat tinggal pembunuh bayaran, lalu pembunuhnya tidak pernah datang ke sana lagi. Bisa saja, tiba-tiba mereka kembali ke sana tanpa diketahui pihak polisi. Namanya juga pembunuh, apalagi buron, bisa berada di mana pun asal tidak tertangkap. Karena itu, ada kemungkinan Maxim terlibat sesuatu hal berkaitan dengan pembunuhan.
“Waspada di lantai 3 rumah no. 2, pernah tinggal pembunuh-pembunuh bayaran. Bisa saja mereka kembali ke sana tiba-tiba."
“Siap, Kapten!"
Kapten Bay mengangguk, lalu kembali dengan tugas berikutnya. Hampir seluruh detektif dan petugas polisi dapat tugas, mulai hal paling mudah hingga tersulit. Giliran Bryan, dia cuma dapat perintah untuk melihat keadaan sepupu Markus di rumahnya, kemudian kembali ke jalanan untuk mencari Markus. Kapten Bay tidak mau tahu, sebelum Inspektur J datang, Bryan harus mengetahui keberadaan Markus. Kalau tidak, Bryan dilarangnya datang ke kantor selamanya.
“Laksanakan tugas masing-masing!”
“Siap!” jawab serentak petugas-petugas itu.
Sebagian kembali ke meja kerjanya, sebagian lagi berkemas untuk menyergapan. Chang sendiri sudah keluar paling awal. Beda dengan Bryan yang penampilannya sudah lebih baik daripada saat dia datang, tapi gesture malasnya tetap sama.
“Brey,” panggil Harry.
“Apa?” jawabnya malas.
“Aku punya data pembicaraan telepon rumah Mark, baru saja dikirim oleh operator ke emailku.” Dia berkutat dengan komputernya, lalu meng-klik gambar print untuk mencetak kiriman data itu. “Tunggu sebentar!” Tiga lembar cetakan selesai, segera diambil dan diserahkan pada Bryan.
Bryan memeriksanya. “Apa yang janggal di sini?”
“Lembar pertama intensitas telepon masih sama, dari keluarga, dua teman Mark, dan beberapa klien. Hampir semuanya panggilan masuk diangkat oleh pembantu Markus. Lihat di lembar kedua dan ketiga. Ada beberapa nomor asing masuk.”
“Bagaimana dengan Sandy Liem?”
“Sepupu Mark yang baru datang itu?” Harry menggeleng pelan. “Tidak, panggilan itu dilakukan sebelum sepupunya datang.”
“Kau sudah mengecek nomor-nomor ini?”
“Tentu,” jawabnya. “Pembantu-pembantu Mark memang sering melakukan panggilan keluar, semua nomor telah didata. Untuk tiga nomor itu, mereka menyangkal. Pasti Mark yang melakukan panggilan,” terangnya. “Sudah kucek, ketiga nomor terdaftar dengan nama pemilik fiktif. Dan sekarang nomor-nomor itu tidak aktif.”
Bryan menerima lembaran lain dari petugas itu. “Ini posisi terakhir nomornya aktif?”
Harry mengangguk.
“Aku akan menyisir tempat-tempat itu,” Bryan memutuskan. “Tapi bisakah kau minta isi percakapan ini?”
“Tidak,” jawabnya sambil menggeleng kuat. “Pihak operator tidak menyediakan layanan itu.”
“Baiklah, aku berangkat sekarang.”
Harry bergumam lirih, “Semoga kekasihmu cepat ketemu!”