Bryan kembali ke kantor untuk membantu penyelidikan malah diusir oleh Kapten Bay. Dia telah dikeluarkan dari tim, sekarang kena penalti tidak jelas begini. Bukannya disuruh mengusut dan menangani kasus tabrak lari, malah disuruh mengawasi korban. Dilarang ikut campur di lapangan dengan alasan sudah ada anggota yang menanganinya. Sudah begitu dia dimarahi Kapten Bay pula.
Demi Tuhan, Bryan jadi membenci Markus. Dalam keadaan seperti ini dia masih diharuskan kembali ke rumah sakit untuk menjaga Markus.
Bryan mendapat telepon sebelum masuk ruang rawat Markus. Dari Luo, yang dilimpahi kasusnya Markus.
“Ada apa meneleponku? Mau mengejekku?”
“Aku turut prihatin padamu, tapi bukan itu alasanku menelepon.”
Bryan mendesah lesu mendengar suara temannya yang antusias.
“Mobil yang diceritakan Markus itu memang salah satu dari koleksi Maxim. Tepatnya Maxim punya lima mobil sport, tapi kelima mobilnya hilang beserta pemiliknya semenjak tiga hari yang lalu. Garasi di rumah itu juga dibuka paksa sampai rolling dor-nya bengkok.”
“Bisa jadi bukan Maxim pelakunya?” tebak Bryan. Luo membenarkan dari balik telepon. “Kenapa tidak dia saja pelakunya? Lebih mudah mencarinya, lalu menjebloskannya ke penjara.”
Aparat negara sebetulnya tidak baik berkata seperti itu. Sebelum ini Bryan tidak pernah bertindak semacam ini. Tapi karena sedang tidak merasa cocok dengan tugas barunya, dia menganggap sah-sah saja mengatakannya. Toh, tidak ada yang mendengarnya kecuali Luo.
Luo tertawa di seberang telepon. “Setelah kasus Markus selesai, aku yakin kau akan dikembalikan ke posisi semula,” katanya, sekadar membesarkan hati Bryan. “Eh, jangan sampai Kapten Bay tahu aku memberitahumu soal perkembangan kasus ini. Bisa-bisa aku juga turun pangkat jadi pengawal sepertimu.”
“Akan kuusahakan,” jawab Bryan dongkol. Bryan ditarik dari kasus besar, Luo juga. Tapi yang membuatnya kecewa adalah statusnya sekarang ini. Jadi detektif pengawal bukanlah impian Bryan. “Ngomong-ngomong kau mau titip salam untuk Nona Liem tidak, aku akan ke kamarnya sekarang ini?” Bryan mencoba memprovokasi.
“Untuk apa?”
“Bukankah dia cantik, pintar, dan kaya. Siapa tahu tiba-tiba dia menyukaimu?”
“Tidak, terima kasih!” Luo merasa diledek. Dia menyesal pernah mengira korban tabrak lari kemarin sebagai wanita muda yang cantik. “Aku bukan penyuka sesama jenis.”
“Tapi dia kaya raya,” tambah Bryan
“Untukmu saja!” Luo mematikan telepon sepihak.
Walau hati sedang kesal, setidaknya Bryan sedikit terhibur bisa mengejek rekan kerjanya itu.
Perawat selesai membantu Markus makan saat Bryan masuk. Markus akan mengupas jeruk saat pandangannya bertabrakan dengan Bryan. Dia menatap Bryan tajam dan mendengus keras. Dia tidak suka melihat Bryan ada di hadapannya.
Markus melempar jeruknya ke arah Bryan, tapi lelaki itu dengan mudah menghindar. Bryan masih seorang detektif yang sangat cekatan kalau orang lain mau tahu.
Markus memekik dan memegangi bahu kanannya. Dia lupa lengan kanannya itu harus dibatasi pergerakannya karena tulangnya masih sakit efek kecelakaan kemarin.
Perawat panik. Menjauhkan apa pun dari hadapannya dan langsung menangani Markus.
“Kenapa kau ke sini lagi?” Markus marah. “Aku tak ingin melihat mukamu!”
“Kalau begitu tutup saja matamu biar kau tak perlu melihat mukaku,” jawab Bryan acuh tak acuh.
“Kurang ajar! Aku akan lapor polisi supaya kau dipenjara atas tuduhan percobaan pembunuhan.”
“Oh ya?” Bryan malah mendudukkan diri di sofa dengan santai. “Tidak ada bukti aku melakukan percobaan pembunuhan padamu.”
Penyebabnya adalah kejadian tadi siang. Ketika perawat hendak membersihkan badan Markus, perawat itu minta bantuan Bryan. Markus menolak dan Bryan juga menolak, tapi dalam penolakan Bryan, dia menyisipkan kalimat yang memancing emosi Markus. Bryan mengatakan bahwa dia lebih suka menyentuh mayat daripada menyentuh tubuh Markus.
Bryan benar, karena Markus terus mengaduh saat perawat menyentuh badannya. Kalau sampai Bryan membantu, bisa jadi Markus teriak-teriak seperti disiksa.
Saat perawat keluar hendak mengambil sesuatu, Markus dan Bryan bertengkar. Markus hampir-hampir melompat turun dari ranjangnya untuk memukul Bryan agar detektif kurang ajar itu tidak meremehkannya. Pada akhirnya Markus melupakan rasa sakit di kakinya yang baru dioperasi, tapi berakhir jatuh dari ranjang. Jarum suntiknya sampai terlepas dan darah dari bekas tusukan di lengannya pun terus keluar, lalu dia pingsan.
Beberapa detik melihat Markus tidak bergerak di lantai, Bryan jadi panik. Dia berlari keluar untuk memanggil perawat, meneriaki dokter, meminta pertolongan, sementara Markus masih tergeletak di lantai. Itulah kenapa Markus dioperasi ulang oleh dokter.
“Tolong panggilkan polisi untuk menangkapnya!”
Perawat itu bingung, kemudian memilih menuruti kemauan Markus. Dia mengemasi barangnya dan bergegas pergi. Sebelum menghilang di balik pintu, Bryan mengatakan akan menyelesaikan ini baik-baik. Perawat itu mengangguk lalu pergi secepatnya.
Bryan panik ketika Markus dibawa ke ruang operasi. Perawat itu datang dan menenangkan Bryan karena masih menyangka kalau Bryan kekasihnya Markus. Setelah operasi selesai, perawat itu baru tahu kalau Bryan dan Markus bukanlah sepasang kekasih. Markus adalah korban tabrak lari dan Bryan adalah polisi yang menangani kasusnya. Perawat itu keliru menafsirkan interaksi mereka.
“Kalau kau berhenti berteriak, aku akan memberitahumu sebuah kabar gembira?”
“Tidak perlu, aku sedang tidak gembira sekarang ini!” tolak Markus kasar.
“Ini tentang tabrakanmu itu.”
Markus diam, mempertimbangkan.
“Berita baik dan berita buruk. Aku akan mulai dari berita baiknya.” Padahal Markus belum mengiyakan. Tapi ... sudahlah. Berita baik, tidak boleh ditolak. “Kasusmu ini masuk kriminalitas tingkat menengah. Memang benar, ada orang yang ingin membunuhmu.”
“Apa itu kabar baiknya?”
Bryan mengangguk.
Markus telah mengalami percobaan pembunuhan dan Bryan bilang itu berita baik. Bagaimana dia bisa menerima berita semacam itu?
“Baik dari mananya kalau aku mau dibunuh orang?”
“Tentu saja baik dari mata polisi. Polisi punya pekerjaan yang lebih menantang dari sekadar kasus tabrak lari.”
Seandainya Markus punya jeruk lagi, dia rela lengan kanannya sakit demi bisa menimpuk muka Bryan.
“Kami juga sudah mengetahui pemilik mobil yang menabrakmu itu.”
“Siapa dia?”
“Maxim, orang yang pernah berseteru denganmu masalah wanita.”
Berseteru dengan Maxim memang iya. Markus hanya tak setuju kalau dia dikatakan berseteru dengan Maxim hanya karena seorang wanita. Dia menanggapi tantangan Maxim karena lelaki itu sering merebut tender darinya. Markus menyayangi pekerjaannya melebihi dirinya sendiri, itulah yang membuatnya terkadang sebal terhadap Maxim.
“Berita buruknya, dia menghilang sejak tiga hari yang lalu bersama seluruh mobil mahalnya.”
Markus menggumamkan kalimat ‘Masak sih? Tidak mungkin!’ lirih sekali sampai Bryan tak bisa menangkapnya. “Lelaki kurang ajar itu ternyata. Pasti akan kubalas nanti!” Tetapi perkataannya tidak terdengar meyakinkan.
Bryan hanya menggeleng. Kebanyakan orang kaya sangat pendendam. Pantas polisi selalu punya kasus yang menumpuk sepanjang tahun. Itu karena orang-orang itu suka membalas dengan tangan mereka sendiri.
Untuk sementara hanya itu yang Bryan bisa katakan pada Markus. Tentang benar atau tidaknya Maxim dalang dari tabrak lari, Bryan belum yakin.