Untuk kesekian kalinya ponsel di meja terus bergetar. Pemiliknya yang dari tadi mencoba untuk mengabaikkan, sekarang merasa amat terganggu. Ini lewat tengah malam, siapa orang yang tega mengganggu tidur seorang remaja tampan seantero kota ini?
Pemilik ponsel itu menyerah. Dengan terus menggerutu, diulurkan tangannya untuk meraih ponsel di atas nakas. Setelah meraba-raba sejenak, dia mendapatkan telepon genggam itu. Dia menggeser tanda angkat di layar sentuh tanpa melihat nama makhluk terkutuk mana yang berani mengganggunya. Dia akan memarahinya, atau kalau tega, dia akan membiarkan telepon itu terangkat lalu meletakkannya di meja tanpa repot-repot mendengarkan perkataan penelepon.
“Hallo!” jawabnya dengan suara malas campur marah.
“Ren!” Suara itu langsung mengenyahkan semua pemikiran buruknya. Kantuknya pun hilang dalam sekejap. "Kau bisa buka jendelamu, aku ada di luar sekarang!"
Ren segera bangkit dari kasurnya. Dia tahu siapa yang sedang menelepon. Itu Bryan, kekasih tercintanya. Lima bulan yang lalu mereka bertemu. Dan itu adalah pertemuan terhebat menurut Ren. Seperti kisah yang ada di TV-TV. Seorang mahasiswa bertemu pujaan hatinya di area kampus. Pujaan hatinya adalah seniornya. Ini klise sekali.
Tetapi kisah cinta Ren dan Bryan tidak cuma seperti itu. Bryan bukan mahasiswa, itu kenyataannya. Ketika bertemu Ren di kampus, dia sedang menyamar. Bryan sedang menyelidiki pola penyebaran narkoba di kalangan anak sekolah. Dari kampus itulah Bryan dan teman-temannya menangkap pengedar narkoba kelas menengah. Ren hampir saja menjadi korban benda haram itu kalau Bryan tak segera datang mencegahnya. Pertemuan pertama itulah yang membuat mereka saling jatuh cinta, lalu memutuskan berpacaran setelahnya.
“Brey, kenapa tengah malam begini kau datang kemari?”
“Aku butuh tempat menginap.”
“Kau mau menginap di sini?” Ren tergesa-gesa memakai sandal bulunya, lalu bergegas ke jendela kamarnya. “Kenapa dengan rumahmu?”
“Kunci rumahku tertinggal di kantor. Aku baru sadar saat sudah di tengah jalan. Daripada kembali ke kantor, kuputuskan untuk numpang tidur di rumahmu saja.”
Rumah Bryan dan Ren berlawanan arah dari kantor polisi tempat Bryan bertugas. Kalau Bryan bilang lebih memilih menginap di rumah Ren daripada kembali ke kantor untuk mengambil kunci rumah, siapa juga yang akan percaya? Bryan jelas sengaja ingin menginap di rumah Ren.
Ren membuka jendela kamarnya. Di luar memang ada Bryan yang segera menoleh ke atas. Bryan melambaikan tangannya, tapi Ren menanggapinya dengan senyum kecut. Ren meminta Bryan segera naik dan menyuruhnya berhati-hati agar tidak menimbulkan suara saat memanjat ke kamarnya.
Kedatangan Bryan memang bukan hal asing di rumah ini, tapi soal menginap, tentu saja orang tua Ren tidak akan mengizinkan. Maka dari itu, tiap kali Bryan ingin menginap, dia akan memanjat dinding belakang kamar Ren yang ada di lantai dua. Bryan akan datang setelah keluarga Ren sudah mulai tidur. Dia masuk lewat jendela dan keluar pagi-pagi sekali sebelum keluarga Ren bangun.
Bryan mengawasi sekitar, kalau ada orang lewat ketika dia memanjat dinding bisa-bisa dia dianggap pencuri. Setelah menurutnya aman, dia segera mengambil ancang-ancang, kemudian melompat ke papan kayu yang sengaja dibuat Ren di bawah jendela kamarnya agar memudahkan Bryan masuk. Bryan harus berdiri di papan itu. Setelah itu, dia hanya perlu meraih tepian jendela, mengangkat tubuhnya, lalu masuk ke kamar. Ren menutup kembali jendela kamarnya dan menguncinya rapat. Dia juga menutup gorden jendela itu.
“Brey, ada apa sampai harus datang kemari malam-malam begini?”
“Sudah kubilang aku mau menginap.” Bryan mengantongi ponselnya ke saku jaket setelah mematikannya. Dia melepas jaket itu dan melemparkannya ke kursi kayu. “Kunci rumahku tertinggal di kantor, tadi sudah kukatakan padamu, kan?”
Bryan mendekat pada Ren, tapi remaja kuliahan itu segera beranjak ke tepian tempat tidurnya. Dia mematikan lampu kecil di atas nakas. Ren harus memastikan keberadaan Bryan di rumah ini tidak diketahui. Dengan adanya cahaya, siluetnya dan Bryan bisa saja ditangkap oleh orang di luar kamar. Ren tidak mau ketahuan sering menyembunyikan Bryan di kamarnya.
Setelah mematikan lampu, dia kembali mendekat pada Bryan.
"Kunci rumahmu tertinggal di kantor?” Ren mencebikkan bibirnya. “Aku tidak percaya. Lagipula kau selalu meletakkan kunci cadangan rumahmu di dalam pot tanaman"
Bryan berhasil meraih pinggul Ren. Dia membawa Ren menempel padanya. “Baiklah. Akan kukatakan yang sebenarnya.” Dia memandang wajah Ren antusias. “Aku merindukanmu!”
Ren meringis lucu mendengar Bryan menggombal.
“Terakhir aku menginap di sini itu sebulan yang lalu. Aku merindukan ranjang empuk dan selimut hangatmu.”
Bryan punya rumah yang bisa dibilang bagus. Dia membayar orang untuk membersihkannya seminggu sekali, tapi nyatanya dia sendiri jarang di rumah. Ranjangnya tidak mewah, tapi sangat besar. Namun, karena Bryan jarang tidur di situ, ranjang itu jadi terkesan dingin. Beda dengan ranjang di kamar kekasihnya. Walau tidak sebesar punyanya, milik Ren hangat dan nyaman. Bryan suka tidur di situ, apalagi kalau tidurnya dengan si empunya ranjang.
“Tapi kenapa malam sekali kau kemari? Kau mengganggu tidurku!”
“Maafkan aku kalau begitu!” Bryan menyatukan bibir-bibir mereka untuk beberapa saat. “Aku ada pekerjaan baru yang sangat menyita waktuku. Aku lelah sekali dan cuma dengan melihatmu lelahku akan hilang.”
Meski Bryan adalah detektif yang kaku, dia suka menggombal. Buktinya Ren selalu digombalinya. Bryan senang sekali mengumbar cinta di hadapan kekasih kecilnya itu, berbanding terbalik kalau sudah di lapangan. Mulutnya itu lebih sering mencaci daripada berkata baik.
“Ren, katakan padaku kau memaafkanku?”
“Lagipula kau sudah di sini.”
“Akan kutebus kesalahanku ini nanti.”
“Dengan apa?” Ren membalas dengan mengalungkan lengannya ke leher Bryan.
“Dengan mengajakmu liburan mungkin. Seperti yang kau inginkan selama ini. Kau ingin berlarian, bermain pasir, dan berenang di pantai kan?”
“Ya ampun, Brey. Kau menggambarkan keinginanku seperti aku ini anak kecil saja.”
“Kau memang anak kecil bagiku. Anak kecil yang sudah mencuri hatiku.”
Ren menghela napasnya, mengabaikan gombalan Bryan.
Bryan mengangkat tubuh kekasihnya. Dia membawanya ke ranjang dan menjatuhkannya di atas kasur. Bryan sendiri segera melepas sepatunya, melepas celana panjangnya, lalu menyusul Ren setelah menendang celananya di lantai. Bryan menarik selimut untuk menyelimuti tubuhnya dan Ren, kemudian memeluk tubuh kekasihnya itu posesif.
“Begini baru nyaman,” celetuk Bryan sambil mengeratkan pelukannya ke tubuh Ren.
Selang beberapa menit setelahnya, Ren mulai berkata, “Brey.”
“Hm?”
“Aku tahu kau mencintai pekerjaanmu. Aku juga suka kau punya pekerjaan seperti itu, tapi kau harus janji untuk terus berhati-hati. Janji, jangan sampai terluka sedikit pun!”
“Memangnya kenapa? Kau tak percaya padaku? Sudah kukatakan aku ini detektif hebat, tak akan terjadi apa-apa denganku.”
“Kau selalu sombong, Brey.”
“Aku tidak sombong, ini namanya optimis. Selama kau jadi kekasihku, kapan kau tak berdoa untuk keselamatanku? Tak pernah, kan? Maka dari itu aku akan selalu baik-baik saja.”
“Tapi aku yang selalu khawatir.”
Bryan tahu pekerjaannya berisiko. Bryan tahu keluarganya sama khawatirnya seperti Ren, tapi ini pekerjaan Bryan. Dia suka jadi detektif. Dia suka menantang bahaya. Dia juga lebih suka suara berondongan peluru daripada suara musik. Jadi detektif itu adalah hidupnya. Kalau semua orang mengkhawatirkannya, dia cukup menjaga agar dirinya tetap hidup tiap kali selesai tugas.
“Kau tahu kan kalau jadi detektif itu sudah jadi cita-citaku sejak kecil?”
“Kau tak mungkin meninggalkannya?” Ren bergumam agak keras. Kepalan tangannya dipukulkan ringan ke d**a Bryan. “Aku tahu itu. Tapi kau harus berjanji akan tetap hidup untukku.”
“Pasti akan kulakukan segala cara untuk tetap hidup, tapi kau harus membantuku juga.” Bryan melonggarkan pelukannya. Dia memundurkan posisi kepala Ren cuma untuk menyematkan ciuman di keningnya. “Beberapa hari ini dingin sekali dan tadi aku harus berdiri di luar rumahmu hampir setengah jam untuk memastikan keadaan aman. Kau sudah lihat sendiri setengah badanku membeku,” tutur Bryan.
“Ya, bahkan aku merasa seperti memeluk balok es,” lanjut Ren. “Tapi aku tahu ke arah mana kau bicara.”
“Kalau kau tak menolongku, aku akan mati membeku.”
Ren hampir-hampir menjauhkan diri dari Bryan. “Kau bisa mandi air panas.”
“Ada yang lebih ampuh dari air panas.”
Bahasa detektifnya adalah misi yang hanya bisa dipecahkan dengan kerja tim. Jadi perlu lebih dari satu orang untuk melakukan pekerjaan itu. Bryan sudah menetapkan Ren sebagai partner-nya malam ini, mereka harus saling bantu. Sekarang Bryan setengah membeku, Ren sebagai partner harusnya membantu mencairkannya.
“Bagaimana? Kau setuju, tidak?”
Ren mendengus, tapi dia tidak pernah menolak.
“Kau ada kuliah pagi, besok?”
“Tidak.”
“Aku beruntung malam ini.” Bryan menggulingkan Ren hingga telentang. Dia sendiri menyibakkan selimut lalu merangkak naik ke atas tubuh Ren. “Aku selalu suka menginap di sini.”
Bryan menundukkan wajahnya, dia menelusupkan kepalanya di sekitaran leher Ren. Sedang mencari celah, kulit Ren yang mana tidak tertutup piyama, itulah yang diciumnya.
“Aku tidak pernah bilang iya, Brey,” protes Ren, walau dirinya sendiri sudah menggeliat-geliat kegelian.
“Tapi kau juga tak bilang tidak,” kata Bryan di sela ciuman-ciumannya.
Bryan menangkup muka Ren dengan kedua telapak tangannya. Dia sempatkan tersenyum pada kekasih kecilnya itu sebelum menghujani mukanya dengan ciuman.