Markus terkantuk-kantuk, tapi tiap kali kesadarannya terenggut rasa kantuk, tiap kali itu juga matanya terjaga secara mendadak. Dia sedang sendirian sekarang. Kesepian di ruang rawat yang luas di rumah sakit.
Meski Markus sudah lama berdamai dengan kesendirian, dia tidak benar-benar sanggup mengatasi kesepiannya. Selama ini dia bersikeras untuk tinggal sendirian di negara ini, tapi nyatanya dia tidak mampu. Bukan karena tidak sanggup beradaptasi dengan kerasnya dunia kerja, tapi tidak sanggup jauh dari orang-orang yang dicintainya. Jauh dari keluarga, jauh dari teman, dan sekarang jauh dari pembantu, sopir, dan penjaga rumahnya. Dia sendirian.
Ngomong-ngomong soal sendirian, detektif yang katanya akan ada di sekitarnya sampai tengah malam, malah menghilang sebelum tengah malam. Mengingat lelaki itu, membuat rasa jengkel Markus tumbuh makin dalam. Ingin memukuli wajahnya sampai berdarah-darah. Ingin menempeleng kepalanya sampai gegar otak. Pokoknya ingin menganiaya Bryan sampai lelaki itu bersujud minta ampun padanya. Baru setelah itu memasukkannya dalam karung, lalu melemparkannya ke laut lepas.
Markus menghela napas berat. Kenapa dia memikirkan Bryan? Membuat pikirannya jadi tambah rumit saja.
Dia ingin tidur, tapi tiba-tiba kepikiran tentang tabrak lari yang dialaminya. Masak iya, Maxim yang melakukannya? Kelihatannya pemikiran itu tidaklah benar. Sedendam-dendamnya Maxim pada orang lain, untuk melakukan tindak kejahatan tidaklah mungkin. Maxim bukan tipe orang yang seperti itu.
Ketika dia sedang memikirkan siapa orang di balik tabrak lari itu, pintu ruang rawatnya didorong pelan. Dalam ruang rawat agak sedikit gelap. Lampu utama dimatikan, menyisakan lampu kecil untuk berjaga-jaga kalau pasien bangun dan ingin meninggalkan ranjang tanpa kesulitan.
Markus sudah menduga yang tidak-tidak mendapati kejadian ini. Jika memang benar ada orang yang ingin membunuhnya, tentunya orang itu tidak akan berhenti sebelum dia mati.
Mungkinkah pembunuh itu datang ke sini sekarang?
Markus langsung punya keinginan mengutuk Bryan. Detektif itu meninggalkannya sendirian di saat dirinya butuh dilindungi.
Saat Markus tidak bisa menggerakkan badannya, terutama kakinya. Hal yang dia lakukan untuk melindungi diri adalah meraih botol air dari meja sebelah ranjangnya. Menyembunyikannya dalam selimut, sementara dia pura-pura tidur.
Pintu didorong makin lebar, pelan-pelan dua orang masuk ke dalam ruangan. Satu berbisik, satu lainnya menimpali dengan bisikan juga. Satu mendebat dengan keras, dan satu lainnya mendesah dengan lemah. Bukan mencerminkan kelakuan penjahat sama sekali.
“Lihat, Mark tidur dengan baik sekarang ini!” kata seorang dari mereka yang tadinya mendesah lemah. Suara ringannya terdengar sedang jengkel. “Kalau kau berkeinginan menjaganya di sini, kenapa harus menyeretku juga? Aku punya pekerjaan penting pagi-pagi besok. Dengan kau seret ke sini, aku tidak jamin bisa menyelesaikan pekerjaanku tepat waktu!” eluhnya keras.
“Pekerjaan apa?” bantah suara lainnya. Suara lelaki yang lebih berat. “Ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan di kantor, kan?” Dia mendengus dengan keji. “Diam-diam kau punya pekerjaan sambilan. Pasti berkaitan dengan wanita yang berusaha kau dapatkan itu!”
“Diam kau!” pekik suara pertama.
“Ya ya ya!” Dia berkata dengan nada malas. “Kau selalu menang!” Lalu menambahkan, “Jangan bicara keras-keras, nanti Mark bangun!”
“Aku mau langsung tidur!” Katanya sambil berjalan pelan juga ke sofa terdekat. Menempatkan pantatnya dengan tepat di sofa, kemudian menata bantal sofa di tepi tempat duduk panjang itu. “Sementara aku tidur, jangan coba macam-macam dengan Mark!”
“Macam-macam apa? Aku tidak seperti yang kau pikirkan!”
Sementara dua tamu tak diundang itu melakukan interaksi yang tidak membahayakan, dengan suara-suara yang jelas dikenalnya dengan baik, Markus tentu tahu siapa keduanya. Andrew dan Dennis. Markus lega sekaligus bersyukur. Dalam keadaan sendirian, kedua temannya itu mau datang untuk menemaninya. Tiba-tiba dadanya terasa hangat. Kesepian karena jauh dari keluarga tidak lagi terasa begitu menyesakkan.
Markus berdehem untuk mengode teman-temannya bahwa dia mendengar percakapan mereka. Dennis memekik kaget. Andrew buru-buru menghampiri sakelar lampu dan menyalakan lampu utama.
“Ada yang masih berusaha menarik perhatian pekerja kantor sebelah!” celetuk Markus setelah lampu utama dinyalakan Andrew.
“Ah, kenapa kau tidak tidur saja!” eluh Dennis.
Dia cemberut. Menjadikan wajah tampannya tidak tampan lagi, terutama setelah mukanya ditekuk-tekuk seperti surat kabar lama.
Dennis menjadi penggemar manager pemasaran perusahaan yang bergerak di minuman kemasan. Kantornya ada di gedung sebelah kantor mereka. Sejak pertama kali bertemu, Dennis menyatakan tertarik dengan wanita itu. Sudah melakukan banyak cara, tapi entah kenapa lelaki itu sama sekali tidak menangkap sinyal cinta yang diberikan Dennis. Semua orang curiga wanita itu pura-pura tidak tahu kalau Dennis menyukainya. Meski begitu Dennis belum menyerah sampai saat ini. Ya, dia memang lelaki yang gigih, sekaligus agak-agak gila.
“Den ...”
“Tutup mulutmu. Aku mengantuk!” Dennis membungkam Markus bukan karena dia benar-benar mengantuk. Dia tidak mau dinasehati soal wanita dari kantor sebelah. “Aku mau tidur. Jangan bangunkan aku kecuali ada gempa bumi berkekuatan lebih dari 7 skala richter yang berpotensi tsunami!” Dia merebahkan diri di sofa. Memejamkan matanya seketika itu juga.
Markus dan Andrew tahu Dennis tidak akan tidur secepat itu. Tetapi mereka tidak akan mengganggu Dennis sekarang ini.
Andrew mematikan lampu utama lagi. Dia mendatangi ranjang Markus, menarik kursi dan duduk tepat di sebelah ranjang.
“Kenapa kau belum tidur?”
Markus mengeluarkan botol minum dari dalam selimut. Meletakkannya kembali di meja.
“Untuk apa kau memasukkan botol air dalam selimut?”
Markus meringis kecil. “Kukira kalian penyusup. Aku tidak bisa meraih apa pun kecuali botol air ini. Untuk berjaga-jaga saja,” katanya sambil tertawa garing.
“Kalau ada penyusup, kau pukul dengan botol air sekecil itu tidak akan mempan.” Andrew menopang dagunya dengan kedua tangannya, sementara pandangannya diarahkan pada Markus yang masih rebahan di ranjangnya. “Jadi, kenapa kau belum tidur lewat tengah malam begini?”
Markus mengantuk tadi, entah kenapa tidak bisa tidur sekarang.
Keberadaan Andrew agaknya akan jadi obat terbaik bagi penyakit tidak bisa tidur yang tiba-tiba menyerangnya. Markus bisa mengajak Andrew ngobrol sampai kantuknya datang kembali, kemudian bisa tidur dengan nyenyak.
“Aku terlalu banyak tidur siang tadi. Sekarang tidak bisa tidur. Beruntung kau datang ke sini. Kalau kau tidak mengantuk juga, temani aku ngobrol, ya!”
Andrew mengangguk.
“Jadi, kenapa kau datang ke sini malam-malam begini? Bukankah besok kau ada pekerjaan juga?” Markus tahu pertanyaannya akan membuat Andrew susah menjawabnya. Andrew kadang-kadang kesusahan berterus terang soal tindakan baiknya untuk Markus. Markus tidak memaksanya, hanya menambahkan kalimat, “Aku bukannya tidak bersyukur kau datang dan menemaniku. Hanya saja, kita butuh topik untuk dibahas.” Lalu berkata lagi. “Bagaimana kalau kau bercerita soal keponakanmu. Aku sudah lama tidak melihatnya. Tentunya dia sudah sangat besar sekarang!”
Andrew langsung menceritakan keponakannya. Anak dari kakaknya yang lahir setahun lalu. Dulu Markus dan Dennis memaksa ikut Andrew menjenguk anak itu hampir tiap bulan. Seiring banyaknya pekerjaan, mereka tidak pergi ke rumah kakaknya Andrew lagi.
Menemani Markus mengobrol adalah hal yang selalu disukai Andrew. Dia menyukai Markus sejak lama, bisa ngobrol selain yang berkaitan dengan pekerjaan, Andrew tidak mungkin akan menolak meski harus mengorbankan waktu istirahatnya sekalipun.