Detektif Luo sudah hampir dua jam berinteraksi dengan korban tabrak lari. Selama itu juga, dia tidak melihat temannya yang ditugaskan jadi pengawal Markus. Luo sekali lagi menjelaskan pada Markus dan kedua temannya bahwa Bryan ditugaskan untuk mengawalnya, sedangkan Luo yang ditugaskan untuk mengurus masalah di lapangan.
Selama bersama Markus dan kedua sahabatnya, Luo mendapat tanggapan baik.
Luo pernah bilang kalau dia tidak tertarik dengan sesama jenis walau lelaki itu pintar dan kaya. Pernyataan itu dicabutnya sendiri setelah melihat Markus. Markus adalah lelaki muda yang tampan. Dia jauh lebih menarik daripada semua wanita yang pernah dikencaninya. Melihat muka Markus, Luo seakan disadarkan bahwa kekasihnya yang baru sebulan dipacari, tidak ada apa-apanya dibanding Markus.
Ah, Luo harus segera memutuskan kekasihnya itu.
“Masih ingat wanita yang kau jadikan rebutan dengan Maxim?”
“Kita tidak pernah berebut wanita!” Markus hampir membeci Luo sama seperti dirinya membenci Bryan karena menganggapnya berebut wanita dengan Maxim. Markus tidak mau martabatnya jatuh hanya gara-gara wanita. “Perseteruanku dengan Maxim itu murni masalah bisnis.”
“Maxim suka wanita itu, tapi wanita itu suka dengan Mark,” terang Dennis.
“Mark tak menyukainya,” lanjut Andrew. Andrew bangga mengatakannya, seakan wanita itu memang tidak pantas disukai Markus. Yang pantas disukai Markus adalah dirinya.
“Bukankah kalian bersedia untuk diam tadi!” tegur Luo pada Dennis dan Andrew. Itu perjanjiannya. Kalau mereka mau tetap di dalam ruangan, mereka tak boleh bicara sedikit pun. “Atau kalian mau keluar sekarang!”
“Maaf. Maaf, Detektif,” ucap Dennis dan Andrew hampir bersamaan. “Kami akan diam,” lanjut Andrew.
Luo kembali pada Markus. Dia menantikan keterangan langsung dari mulut lelaki itu. Sementara fokus dengan jawaban yang akan dilontarkan Markus, dia juga fokus memandangi wajah dan tubuh Markus tanpa mengubah ekspresi wajahnya, tanpa menggerakkan bola matanya. Markus dan kedua temannya tidak akan tahu dia mengagumi wajah tampan itu. Dia detektif hebat, poker face sudah jadi makanannya sehari-hari.
“Namanya Jessy Loren. Dia tinggal di Mars apartemen.”
“Kau pernah ke sana?”
“Tidak. Dia yang menyebutkan alamatnya sendiri padaku,” terang Markus. “Aku tidak benar-benar dekat dengannya. Dia tipe wanita yang tak kusukai.”
“Bisa kau katakan kenapa?”
Karena Markus punya alasan yang tidak bisa dia katakan pada sembarang orang, termasuk detektif itu. “Dia wanita penggoda.”
Andrew menepuk pundak Dennis dan tersenyum senang mendengar jawaban Markus. Sedangkan Dennis memelototinya karena merasakan sakit dari tepukan itu.
Luo tersenyum, membenarkan tindakan Markus. Seorang penggoda tidak pantas untuk disukai. Luo langsung tersadar kalau kekasihnya kemungkinan adalah jenis w*************a juga. Wanita itu ditemukannya di sebuah pesta, titelnya sebagai wanita baik-baik agak meragukan. Daripada bingung, dia akan putuskan wanita itu secepatnya. Kalau perlu, keluar dari sini langsung menemui wanita itu dan memutuskannya.
“Kami akan menyelidikinya,” kata Luo, lalu menghirup udara sedalam dalamnya. Dia mengembuskan napasnya sambil menegakkan punggungnya dari kursi. “Kau tahu kalau informasi sekecil apa pun bisa menjadi jalan untuk menangkap pelaku tabrak lari yang menimpamu ini?”
Markus mengangguk.
“Kalau kau teringat sesuatu, apa pun itu, kau bisa ceritakan pada Bryan dan dia akan meneruskannya padaku. Atau langsung menghubungiku.”
Luo menarik selembar kartu nama dari saku dalam jas-nya, lalu menyerahkannya pada Markus.
“Waktumu tersita terlalu banyak, aku harus menyudahi tanya jawab ini sekarang. Terima kasih sudah bekerja sama.”
“Sama-sama.” Markus menjabat tangan yang diulurkan Luo. Dia juga segera menariknya setelah detektif itu seakan enggan untuk melepaskan tautan tangan mereka. “Ngomong-ngomong, Bryan tidak datang hari ini?”
“Aku meminta waktu khusus denganmu. Dia akan datang setelah aku pergi.” Padahal Luo sendiri tidak tahu di mana rekannya itu berada. Dari tadi pagi ponselnya tidak aktif. Setahu Luo, kalau ponsel Bryan tidak aktif, tidak ada orang yang tahu keberadaan lelaki itu kecuali Ren, kekasih kecil temannya itu. “Aku pergi sekarang!”
Setelah berada di luar ruangan Markus, dia segera mengambil ponsel di saku, lalu menghubungi nomor Ren. Luo hampir yakin kalau Bryan ada di sana. Dia sering menyarankan Bryan untuk meninggalkan remaja kuliahan itu, tapi mereka masih saja berhubungan. Bukan Luo iri dengan hubungan mereka. Ren masih muda, terlalu baik, terlalu naif, tidak cocok untuk lelaki seukuran Bryan.
Dulu remaja itu polos, sekarang kepolosannya sudah rusak gara-gara Bryan. Belum lagi identitas Bryan sebagai detektif polisi, terlalu dekat dengan tindak kriminalitas, takutnya Ren jadi sasaran balas dendam kriminal yang pernah ditangkap Bryan.
“Detektif Luo,” sapa Ren masih dengan suara seraknya. Dia baru bangun. “Mencari Bryan?”
Luo melihat arlojinya. Pukul sepuluh. Luo menghela napas. Dia tahu apa yang dilakukan Bryan pada Ren sampai jam segini mereka baru bangun. Bryan itu benar-benar biadab. Dia m***m dan suka memanfaatkan Ren. Sebenarnya semua detektif hampir sama biadabnya dengan Bryan, termasuk Luo sendiri, tapi Luo masih tahu diri. Dia tak mungkin bertindak m***m pada anak kecil. Anggap saja begitu, karena Ren selalu tampak seperti anak-anak di mata Luo. Itu juga yang jadi alasannya menyuruh Bryan memutuskan Ren.
“Bangunkan dia. Katakan Kapten Bay menunggunya di rumah sakit.”
“Kapten Bay?” Ren terdengar panik. Bryan akan dimarahi kalau tidak segera datang. “Iya, akan kubangunkan.” Ren memanggil-manggil Bryan. Setelah mengatakan kalau Kapten Bay menunggunya di rumah sakit, Bryan mengumpat beberapa kali.
“Kau bisa usir Kapten Bay dari sana?” pinta Bryan yang berhasil mengambil alih ponsel Ren.
“Oh, Kapten Bay tidak ada di sini. Aku cuma ingin kau bangun dan pergi ke rumah sakit sekarang. Mark butuh kau lindungi!” Bryan mendecih di seberang telepon karena telah dibohongi. “Aku tidak yakin ini benar atau tidak, tapi firasatku mengatakan orang yang menginginkan kematiannya tak akan berhenti sebelum dia benar-benar mati.”
“Firasatmu bagus.”
“Mark tidak boleh terluka. Dia terlalu tampan untuk mendapat luka lagi.”
“Kenapa kau jadi melow seperti itu? Mengkhawatirkan Mark pula?”
“Karena aku berubah pikiran.” Luo menebak Bryan akan tertawa setelah dia mengatakan kalau Markus itu menarik, tapi dia tidak peduli. “Dia lelaki yang menarik.”
Tawa Bryan benar-benar pecah. Namun, entah kenapa tawa itu menghilang begitu saja.
“Aku mau tertawa lebih panjang, tapi Ren membungkam mulutku.”
Sekarang giliran Luo yang tertawa. Luo tahu Bryan menginap di kamar Ren tanpa diketahui orang tua kekasihnya itu. Kalau Bryan membuat gaduh, mereka pasti akan ketahuan.
“Jadi itu yang membuatmu berubah pikiran?”
“Seperti yang kau bilang, tubuhnya bagus. Aku sempat membayangkan halus kulitnya sebelum mendapatkan luka-luka itu.”
Bryan tertawa lagi, tapi tawanya hilang lagi.
“Dia tampan, pintar, kaya, dan tubuhnya bagus. Aku berharap dia mau jadi kekasihku setelah kasus ini selesai.”
“Kau bukan penyuka sesama jenis.”
“Siapa yang bilang?”
“Kau sendiri!”
“Aku?” Luo pura-pura lupa. “Aku tidak pernah mengatakan seperti itu,” elaknya.
“Dia yang tak akan mau jadi kekasihmu. Apa kau tak bisa lihat kalau kau bukan tipenya?”
“Siapa tahu setelah aku berhasil menemukan pelakunya, dia akan merasa hutang budi padaku, lalu membayarnya dengan setuju jadi kekasihku.”
“Sepertinya kau sedang bermimpi. Aku tak mau membahas mimpimu yang ketinggian itu. Aku akan segera datang. Kau akan di sana sampai aku datang, kan?”
“Aku akan pergi. Teman Mark ada di sini sampai kau datang. Oh ya, jangan lupa mandi sebelum datang kemari. Aku tak mau Mark mencium bau busukmu!”
“Akan kulakukan!”