Perawat berbalik setelah melihat Markus tertidur. Tidak tega membangunkan lelaki itu untuk makan siang. Ketika perawat hendak pergi, Bryan telah ada di belakangnya. Memperhatikan bukan hanya perawat, tetapi makanan yang dibawanya juga.
“Makanan untuk Mark?”
Perawat itu mengangguk. “Tuan Liem sedang tidur.”
“Berikan padaku. Aku tahu dia akan segera bangun. Nanti kuberikan makanan itu padanya.”
Perawat tidak curiga. Diserahkannya nampan itu pada Bryan. Isi dalam nampan itu adalah makanan lengkap dan lezat, minuman manis, dan buah segar. Terlalu mewah untuk ukuran makanan pasien. Menurut Bryan, makanan untuk pasien rumah sakit harusnya bubur saja cukup.
Bryan membawanya masuk setelah perawat itu pergi. Bukan meletakkanya di meja dekat ranjang Markus, tapi membawanya ke sofa. Sambil duduk di sofa, dia memakannya. Meski tadinya Bryan sudah makan di rumah Ren, dia masih lapar. Soalnya makan di sana cuma sepiring berdua.
Markus bangun satu jam kemudian. Saat matanya terbuka, pemandangan yang ada di hadapannya adalah muka Bryan. Markus menyesal membuka matanya terlalu cepat. Dia mau tidur lagi lebih lama atau paling tidak sampai Bryan pergi, sayangnya dia sudah tidak mengantuk.
“Kudengar kau mau rawat jalan. Kenapa?”
“Bukan urusanmu!”
“Aku ditugaskan untuk melindungimu, jelas itu jadi urusanku.”
”Aku tak menyukai rumah sakit.”
“Memangnya dokter mengizinkanmu pergi? Kau luka parah dan baru saja menjalani operasi. Ini masih hari kedua kau berada di sini.”
“Aku akan pergi dari sini secepatnya!”
“Apa kau tahu kalau kau keluar dari sini aku akan mengikutimu?”
Markus tidak menjawab, tapi dia tahu.
“Kalau kau pulang, berarti aku akan tinggal di rumahmu juga. Memangnya kau rela aku tinggal di sana? Kalau ada barang berharga yang kucuri, bagaimana?”
“Kalau kau mencuri sesuatu di rumahku, aku bisa beli yang baru,” kata Markus, congkak. Dia memang kaya, pantas kalau mengatakan itu. “Jangan coba-coba mencegahku keluar dari rumah sakit!”
Bryan tidak akan mencegahnya. Dia tahu dengan uangnya, Markus bisa melakukan apa pun, termasuk untuk keluar dari rumah sakit lebih cepat. Kalau perlu, lelaki itu bisa memindahkan rumah sakit beserta alat-alatnya ke rumahnya. Bryan tidak khawatir. Toh, walau Bryan sering bolak balik datang ke berbagai rumah sakit demi pekerjaannya, dia tetap tidak suka hawa-hawa magis dari rumah sakit. Dia lebih tertarik dengan suasana yang nyaman dan hangat, contohnya seperti kamarnya Ren.
Diam-diam dia berharap rumah Markus juga senyaman itu.
“Kapan kau akan pulang?”
“Tiga hari lagi.”
Brian menyeringai, itu tandanya dokter telah mengelabuhinya. Tiga hari lagi luka Markus sudah mulai mengering. Kaki bekas operasinya juga sudah bisa digerakkan walau belum bisa berjalan. Sudah pantas kalau Markus diberikan izin rawat jalan. Lelaki itu pintar, tapi tidak benar-benar pintar.
“Aku punya rumah yang besar. Punya banyak kamar, kau bisa tidur di salah satunya.”
“Oh,” Pendapatnya tentang rumah besar sangat negatif. Sunyi, sepi, dan mencekam, seperti rumah neneknya di kampung halaman yang ada di kota kecil jauh dari sini. “Semua keluargamu ada di luar negeri, kau tinggal dengan siapa di rumah?”
“Aku punya dua pembantu, penjaga rumah dan sopir keluarga. Rumahku tidak sesepi yang kau bayangkan.”
“Kukira kau salah satu orang kaya yang tak dianggap oleh keluarga. Keluargamu tak satu pun tinggal di sini. Setelah mereka dikabari keadaanmu, tak seorang pun datang untuk melihatmu.”
Markus tersenyum simpul untuk menyangkal pendapat Bryan.
“Riwayat keluargamu bagus, semua jadi orang kaya di luar negeri. Tapi kenapa mereka tidak kembali ke sini kalau sudah sukses di luar sana?”
Markus sendiri selalu dibujuk untuk tinggal di luar negeri oleh keluarganya, tapi dia keukeuh untuk tinggal di negara sendiri. Markus mau membuktikan kalau dengan tinggal di sini, dia juga bisa menjadi pembisnis kelas atas. Keluarga Markus turun temurun punya jiwa bisnis yang kental. Mulai kakek buyutnya, kakeknya, ayah, dan paman-pamannya. Sepupunya dan Markus sendiri, semuanya sukses dengan bisnis masing-masing. Keluarga Markus punya peruntungan tersendiri di dunia bisnis, dan itu cuma terjadi bila mereka keluar dari negara ini. Hampir seperti kutukan. Di luar negeri mereka menduduki list orang-orang kaya dunia, di dalam negeri mereka merugi terus. Maka dari itu, Markus mau membuktikan kalau kutukan itu tidak benar.
“Mereka lebih suka begitu,” jawab Markus santai. “Sepupuku akan datang seminggu lagi. Itu tandanya keberadaanku selalu dianggap oleh keluarga.” Sekaligus memberitahu Bryan kalau dia disayangi.
Perut Markus berbunyi, tapi diabaikan..
Markus lapar. Tadi pagi dia makan sangat sedikit karena harus bertemu Luo. Setelah Luo pergi, dia tidur lama sekali. Sekarang perutnya meminta jatah makanan.
Perut Markus berbunyi sekali lagi. Setelah Markus dan Bryan mengabaikannya tadi, sekarang tidak bisa lagi.
“Kau mau makan sesuatu?”
“Aku akan panggil perawat. Mereka sudah terlambat dua jam untuk memberikan makan siangku.”
“Sebenarnya perawat sudah kemari. Dia meninggalkan makanan untukmu, tapi karena kau tidur terlalu lama, aku memakannya. Kupikir kau tak akan mau memakan makanan dingin,” terang Bryan sambil menunjuk meja di depan sofa. Di sana ada piring bekas makanan yang dimaksud. Markus sempat melihat ke sana, lalu mengeluarkan ekspresi tertekan. “Jangan cemberut begitu. Aku akan mengganti makananmu!”
“Aku tidak sedang cemberut!” sangkal Markus. Dia sedang pasang muka marah dan Bryan menganggapnya cemberut. Bryan memang rabun. Atau begitu pikir Markus. “Sudahlah, aku bisa beli makanan sendiri.”
“Kau tak bisa pergi kemana-mana.”
Memang Markus tidak bisa pergi kemana-mana, tapi dia bisa menelepon. Markus mengeluarkan ponsel dari balik bantalnya. Dia mendial nomor dan meletakkan telepon itu di telinganya.
“Kau tak perlu menelepon, aku bisa keluar sebentar untuk membelikanmu makanan,” kata Bryan, kalang kabut. Dia cemas kalau Markus menyebut namanya sebagai orang kurang ajar yang mencuri makan siang pasien. Kalau berita seperti itu sampai ke telinga atasannya, dia bisa kena marah lagi. “Aku benar-benar ingin menggantinya.”
“Tidak perlu!” tolak Markus yang teleponnya masih belum tersambung. “Aku bisa membeli makanan lain. Seperti yang kau tahu, aku punya banyak uang kalau hanya untuk membeli makanan.”
Bryan mendengar nada-nada kesombongan dari Markus. Lelaki itu sedang pamer kekayaan atau cuma perasaan Bryan saja?
Setelah menunggu untuk beberapa detik, telepon Markus tersambung
“And, aku lapar sekali. Aku telat makan dua jam dan jatah makan siangku dimakan seseorang yang tak dikenal.” Markus berhenti sejenak mendengarkan Andrew bicara dari seberang telepon. Andrew menyebutkan beberapa jenis makanan yang ingin dibelikan untuk Markus, dan semuanya memang makanan kesukaan Markus. “Iya, kau tahu saja makanan kesukaanku. Kutunggu di sini sekarang kalau begitu. Terima kasih, And.”
Telepon ditutup tanpa basa-basi.
“Kau memang kaya dan diperhatikan banyak orang,” celetuk Bryan agak tidak minat.
“Sekarang kau tahu itu!”
Markus menyeringai. Membuat dirinya superior di depan Bryan rasanya sangat menyenangkan. Sedangkan Bryan hanya bisa menahan napas, sebelum kemudian mengembuskannya diam-diam.
Tampan memang, sayangnya sombong dan pemarah, batin Bryan.