Aku pun sampai di restoran Jamayca, tempat dimana aku dan pak Edgar mengadakan janji temu. Aku memasuki restoran itu dengan sekretaris ku. Kami berjalan menuju meja yang sudah dipesankan.
Setelah sampai, kami pun duduk sembari menunggu kedatangan Pak Edgar. Menu pembuka sudah dihidangkan. Kami pun menikmati nya. 10 menit berlalu, terlihat Pak Edgar tengah berjalan menuju meja kami.
Aku pun berdiri memberi salam kepadanya.
"Selamat malam, Pak Edgar? Bagaimana sehat?" tanyaku basa-basi.
"Sehat dong. Jadi bagaimana kelanjutannya?" timpal pak Edgar senang.
Aku pun tertawa kemudian mengajak beliau duduk.
Kami berbincang tentang pekerjaan hingga pada akhirnya inti dari pertemuan ini pun di bahas.
"Siren, tolong tinggalkan kami berdua," ucapku kepada sekretaris.
"Baik, Pak." Sekretaris ku pun pergi. Aku tahu ini akan menjadi malam yang panjang. Ku suruh sekretaris ku mencatat jadwal pertemuan tadi dengan jam terakhir membahas pekerjaan sekitar pukul 08.00 malam. Aku suruh juga dia pulang dan membuat laporan di rumah. Besok pagi akan di lakukan pemberkasan kembali.
"Haha, Anda masih terlihat tampan.. Bagaimana? masih tertarik dengan petualangan mencari cinta?" Pak Edgar sangat antusias. Beliau adalah teman seperjalanan dengan Papa. Papa dulu sempat berkelana keliling dunia bersamanya. Namun takdir berkata lain, mereka tidak berjodoh sampai kiamat.
"Iya dong, kan masih muda, Pak.. hahaha," timpalku.
"Iya ya, aku yang pikun sudah tua.. hahaha."
"Boleh pesan minuman dingin?"
"Boleh, pesan saja. Aku juga mau tapi yang sedang saja, soalnya sudah tua, hahaha."
"Hahaha, Anda bisa saja, Pak. Istri masih aman kan, Pak?"
"Masih dong, masih seperti yang dulu tapi sudah agak pelupa, hahaha."
"Hahaha, mungkin nanti saya juga seleranya dingin yang sedang-sedang saja, hahaha."
"Oke lah, Hahaha."
Setelah memesan, kami kembali berbincang.
"Aku dengar Anda sudah beberapa kali dijodohkan, benar?"
"Benar sekali, Pak."
"Aku ada keponakan kalau mau aku kenalkan. Dia masih kuliah semester 5. Sebentar lagi lulus. Dia ingin menghabiskan 2 tahun saja."
"Hmmm, boleh.. muda sekali tidak masalah. Sedari dulu saya dijodohkan dengan yang sudah mapan, Pak.. Jadi mungkin agak banyak hal pertimbangan."
"Loh ngomongnya kok belepotan, hahaha."
"Hahaha.. "
Pesanan kami pun tiba. Aku juga memesan dessert orange cake watermelon. Terdengar segar bukan, seperti yang sedang aku bicarakan.
"Saya beri nomor ponselnya, nanti kalau hubung-hubungan ya."
"Wah, bagaimana dengan orang tuanya? apa tidak apa-apa anak gadisnya dekat dengan laki-laki?"
"Anaknya ceria jelas tidak mengapa, dia temannya banyak jadi tidak perlu khawatir untuk berkenalan. Katanya kalau cocok akan dikenalkan ke orang tua. Kalau tidak ya tidak usah dikenalkan."
"Hahaha, bisa saja dia."
"Oke, sudah ya. Aku mau jemput anakku baru pulang les sekolah. Les piano, dia senang sekali."
"Oke, Pak. terimakasih banyak ya."
"Ya. semoga berhasil."
"Ya ya. Berhasil tanpa hasil."
"Hahaha.. "
Pak Edgar pun pergi, tinggal diriku sendiri di restoran klasik ini. Semakin malam restoran ini semakin cantik. lampu-lampu bergantian menyala seperti bintang di langit. Rasanya aku ingin menginap saja disini.
Aku melirik ponselku. Aku cek kembali nomor yang tadi. Aku lihat foto di profilnya.
"Hmmm.. seperti kriteriaku. Wajahnya sangar, lebih terlihat dewasa dari umurnya. Tapi katanya dia ceria, seperti umurnya dong. Hmmm... "
Aku mencoba untuk menghubungi dia tetapi tiba-tiba ada notifikasi masuk. Aku pun terkejut.
"Hai, Om," kata pesan di ponselku.
Aku pun terkejut, aku dipanggil Om? siapa ini berani sekali. Apa keponakanku?
"Aku Tania, Om. Om mengenaliku tidak?"
"Hah?! Siapa sih!" pikirku.
"Aku keponakan Om Gagar," tambahnya.
"Om Gagar siapa?" aku pun semakin bingung.
Tidak butuh waktu lama aku yang penasaran langsung menghubungi nomor telepon itu.
"Halo?" ucapku.
"Hai.. "Sapanya. Melihat wajah itu sangatlah asing bagiku. aku tidak mengenali nya sebelum nya.
"Siapa kau?"
"Perkenalkan namaku Tania, keponakan Om Edgar."
"Oh, jadi dia yang dijomblangin sama aku," pikirku dalam hati. "Gercep juga dia, pantas Pak Edgar bilang dia anaknya ceria, memang supel dia ya. Wah peluang kenalan terbuka lebar nih, tapi apa dia pecicilan?" tambahku.
"Hai, Om. Namamu siapa?"
"Namaku Hanzel. Eh jangan panggil Om. Kakak saja lebih sopan."
"Oh oke."
"Kakak kerja dimana?"
"Aku tidak kerja. Aku CEO unlimited, hahaha."
"Sok cakep banget."
"Eh, kamu bilang apa tadi?"
"Jangan sok cakep, Kak. Pantas nggak laku."
"Eh, yang sopan kalau bicara."
"Oke maaf.. "
"Kau kuliah jurusan apa?"
"Aku kuliah seni. Keren bukan?"
"Oh, keren juga. Aku juga suka seni. Tetapi mengapa kamu suka seni?"
"Dari kecil aku suka melukis, Kak."
"Oh, Kau bisa melukisku?"
"Bisa dong."
"Oke, kapan kita bisa ketemu? aku sudah tidak sabar."
"Hmmm besok mungkin bisa."
"Oke, besok aku jemput di kampusmu."
"Eh, kok repot-repot, Kak."
"Tidak.. "
"Oke lah."
"Kau kabari saja kalau sudah selesai kuliah."
"Oke.. "
"Sampai jumpa besok."
"Iya, Kak."
Telepon pun berlalu. Mereka berdua masih merasa asing. Tiba-tiba saja sudah ada rencana bertemu.
"Wow, secepat itu ya. Lebih cepat dari perkiraan ku."
Oh ya, aku deskripsikan wajahnya tadi yang aku lihat sekilas. Dia berkulit putih bercahaya seperti orang cina. wajahnya agak kebulean. hidungnya lancip dan kecil. Senyumnya manis dan berambut panjang bergelombang. Cukup cantik dan terawat untuk anak seni. Dia sepertinya suka dandan. Dia terlihat feminim dan anggun. "Hmm semoga cepat berlalu dan segera bertemu esok pagi," gumamku.
Sedangkan dibalik layar Tania, dia terlihat diam. Dia melihat sekilas wajah Hanzel. Kemudian membandingkan dengan wajahnya di kaca. Dia seperti melihat seseorang kembali, namun dia lupa siapa.
"Aku seperti mengenal laki-laki itu tapi dimana ya?" gumam Tania.
****
Pagi pun menyingsing. Aku segera berangkat ke kantor dengan supir pribadiku. Setelah sampai di kantor, aku pun menjalankan rutinitas disana. Beberapa meeting dan pertemuan saat jam makan. Namun yang aku tunggu-tunggu tidak juga kunjung tiba, yaitu kabar dari Tania.
Setiap kegiatan, aku selalu melirik handphone tetapi belum ada tanda-tanda muncul notifikasi.
"Hari ini jadwal Anda sudah selesai, Pak. Akan saya buatkan laporan dan segera Anda tanda tangani. Permisi," ucap sekertaris ku.
"Ah iya, aku tunggu saja. Nanti langsung bawa kemari ya."
"Baik, Pak."
Sekretaris ku pun aku suruh untuk mengerjakan sekarang sembari menunggu Tania menghubungi ku.
Selang satu jam belum ada tanda-tanda. Sekretaris ku terlihat berjalan menuju ke mejaku. Kemudian dia menyodorkan berkas yang perlu ditanda tangani. Aku pun menandatanganinya.
"Terimakasih, ya," ucapku.
"Tugas saya adalah tanggung jawab, Pak."
"Kau baik sekali. Oh iya besok istirahat saja di kantor. Aku beri cuti sehari khusus untukmu. Tetapi gaji masih tetap tidak akan ada potongan."
"Wah, cuti, Pak."
"Iya, nikmati liburan mu."
"Baik, Pak."
Setelah sekretaris ku pulang, aku masih duduk disitu.
"Apa dia lupa? Coba aku telepon saja."