Suara itu masih bergema di kepalanya—sebuah benturan keras, tumpah, dan menjeritnya logam yang membuat jantungnya seketika berhenti berdetak.
Tidak. Tidak. Tidak.
Stella (21 tahun) duduk kaku di balik kemudi mobil sedan silver mewahnya. Tangannya masih mencengkeram setir dengan kencang, knuckle-nya memutih. Tubuhnya bergetar hebat, seperti baru saja ditinggalkan badai. Napasnya terengah-engah, matanya terbuka leleh, menatap kosong ke arah kaca depan.
Di sana, beberapa meter di depannya, sebuah motor ninja tergeletak seperti mainan yang rusak. Dan tak jauh darinya, sebuah tubuh tak bergerak tergeletak di aspal.
"Ya, Tuhan..." desisnya lirih, suaranya parau oleh kepanikan. "Apa... apa yang baru saja kulakukan?"
Pikirannya berputar kencang, menolak realita mengerikan yang ada di depan matanya. Baru beberapa menit lalu dia terburu-buru, kesal karena hampir terlambat untuk kuliah kelas Manajemen Keuangannya. Sebagai anak tunggal dari keluarga berada, Stella terbiasa dimanja dan hampir selalu mendapatkan apa yang diinginkannya. Ayahnya yang pengusaha sukses memberinya mobil ini sebagai hadiah ulang tahun, sekaligus untuk memudahkannya bolak-balik kampus dan rumah mewah mereka di kawasan elit Surabaya.
Dia memang lumayan pintar, tapi juga manja dan seringkali gegabah. Tadi, karena dikejar waktu dan merasa jalannya sepi, dia memutuskan untuk menerobos dari jalan kecil tanpa memperhatikan benar arus lalu lintas di Jalan Ahmad Yani. Pikirannya hanya satu: dia tidak boleh terlambat. Kini, konsekuensi dari kemanjaan dan kecerobohannya itu terbaring tak berdaya di jalanan.
Klakson panjang dari mobil di belakangnya menyadarkannya dari stupor. Dunia di sekelilingnya mulai hidup kembali. Suara orang-orang berkerumun, langkah kaki yang terburu-buru mendekat.
"Kecelakaan!"
"Tolong, ada yang pingsan!"
"Cepat panggil ambulans!"
Setiap teriakan seperti pukulan baginya. Rasa bersalah yang amat sangat menyelimutinya, membuat dadanya sesak. Dengan gemetar, dia melepas sabuk pengamannya dan mendorong pintu mobil. Kaki nya hampir saja terpelintir saat menginjak aspal karena tubuhnya masih gemetaran.
Dia berjalan limbung mendekati pria malang yang ditabraknya. Semakin dekat, semakin jelas luka-luka di tubuh pria itu. Luka lecet yang dalam di lengannya, serpihan helm yang retak, dan darah yang mulai menggenang di dekat kepalanya. Wajahnya pucat, tak bernyawa.
"Tuan...?" panggil Stella dengan suara bergetar, berlutut di sampingnya tanpa peduli celana jeans putihnya terkena noda darah dan aspal. "Bangun... tolong bangun..." Dia tidak berani menyentuhnya, takut membuat lukanya bertambah parah.
Seorang wanita paruh baya yang berhenti untuk menolong memandangnya dengan mata penuh tuduhan. "Kamu yang nabrak, Nak?"
Stella hanya bisa mengangguk lemah, air matanya akhirnya tumpah, membasahi pipinya. "Saya... saya tidak sengaja. Dia tiba-tiba..."
Tapi alasan itu terasa hambar dan pengecut di mulutnya sendiri. Dia tahu ini salahnya. Sepenuhnya.
"Sudah, jangan digerakkan. Tunggu ambulans," kata pria lain dengan suara lebih tenang. "Coba tekan lukanya yang berdarah pakai kain ini."
Stella mengambil kain yang diberikan kepadanya dengan tangan gemetar. Saat jarinya hampir menyentuh luka di lengan pria itu, dia melihat sesuatu. Di antara sobekan jaketnya, terlihat otot lengan yang jelas terbentuk. Tubuh pria ini, bahkan dalam keadaan tak berdaya, mencerminkan disiplin dan kerja keras. Ini bukan tubuh seorang pemalas. Seorang gym holic, mungkin. Pria yang sangat mencintai hidupnya. Dan dia, Stella, mungkin telah merenggutnya.
Rasa bersalah itu berubah menjadi rasa ngeri yang mendalam.
Tak lama kemudian, suara sirene ambulans meraung mendekat. Petugas medis turun dengan cepat dan sigap mengambil alih. Stella terdorong ke pinggir, hanya bisa mematung menyaksikan mereka memeriksa, membalut, dan mengangkat pria itu ke atas tandu.
"Siapa yang menemaninya ke rumah sakit?" tanya seorang paramedis.
"Aku!" jawab Stella hampir bersamaan, dengan suara lantang yang mengejutkan dirinya sendiri. "Saya yang menabrak... Saya yang bertanggung jawab."
Dia mengambil tasnya dari mobil, mengunci pintunya dengan kunci remote yang gemetar di tangannya, lalu masuk ke dalam ambulans sebelum keberaniannya menghilang. Saat pintu ambulans tertutup, pandangannya tertuju pada wajah pria tak dikenal itu, yang kini terlihat rapuh di bawah oksigen yang menutupi hidungnya.
"Siapa namamu?" bisiknya dalam hati, sambil berharap-harap cemas.
Perjalanan ke rumah sakit terasa seperti mimpi buruk. Setiap hentakan ambulans mengingatkannya pada benturan tadi. Dia memandangi wajah pria itu, berdoa dalam diam. Ini bukan lagi tentang ketidakhadiran di kelas atau marahnya ayahnya nanti. Ini tentang sebuah nyawa yang kini bergantung pada pertolongan orang lain—sebuah nyawa yang hampir ia padamkan karena kecerobohannya.