Suara bip monitor jantung yang teratur adalah hal pertama yang menyadarkan Rudy bahwa dia masih hidup. Bunyi itu seperti metronom yang menuntun kesadarannya keluar dari kegelapan yang dalam dan tanpa mimpi. Lalu, baunya menyusul—aroma khas antiseptik yang menusuk hidung, bau kain steril, dan udara dingin yang dihembuskan oleh AC.
Dia mencoba membuka matanya. Kelopak matanya terasa berat bagai ditindih beban. Seberkas cahaya lampu neon temaram menyelinap melalui celah matanya, membentuk bayangan-bayangan kabur. Perlahan-lahan, dunia mulai kembali ke fokus. Langit-langit putih rumah sakit.
Rumah sakit...
Ingatannya berputar-putar, kacau. Motor Ninjanya. Jalan Ahmad Yani. Mobil silver yang tiba-tiba menyembul. Jeritan ban. Dan kemudian... kegelapan.
"Ninjaku..." pikirnya lirih, disusul oleh kecemasan yang lebih besar. "Kantor... kuliah..."
Dia mencoba menggerakkan tangan kanannya, tetapi rasa sakit yang tajam langsung menyambar dari bahunya, memaksanya untuk menyerah. Kepalanya terasa berdenyut-denyut hebat, dibalut perban yang terasa ketat.
Dengan usaha yang besar, dia memiringkan kepalanya sedikit ke samping. Pandangannya masih berkunang-kunang, tetapi sebuah siluet mulai jelas terbentuk di samping tempat tidurnya. Seorang perempuan.
Bukan perawat. Perempuan muda dengan rambut yang tertata rapi, mata yang besar memancarkan kecemasan dan... sesuatu yang lain? Penyesalan? Dia cantik, sangat cantik, dengan senyum kecil yang mengambang di bibirnya, seolah-olah mencoba menenangkan.
Dan kemudian, perempuan itu bersuara. Suaranya lembut, jernih, namun mengandung beban yang berat.
“Mas, maafkan saya.”
Kalimat itu menggantung di udara antara mereka. Dalam kondisi setengah sadarnya, Rudy memahami segala sesuatu sekaligus. Ini adalah pengemudi mobil yang menabraknya. Wajah yang membuatnya terpelanting dari Ninjanya kini ada di depannya, memohon maaf. Tapi ada sebuah ketulusan dalam matanya yang menembus kabut kebingungan dan rasa sakitnya. Pesonanya tidak terelakkan, bahkan dalam keadaan seperti ini.
Dengan mengumpulkan seluruh sisa tenaganya, Rudy membuka bibirnya yang kering. Suara yang keluar serak dan lirih, hampir seperti angin.
“Nggak pa-pa..”
Dia sendiri hampir tidak percaya dengan kata-katanya. Mengapa dia memaafkan begitu mudah? Mungkin karena kelelahan, atau mungkin karena ekspresi tulus yang menghiasi wajah cantik di hadapannya. Atau mungkin, naluri dasarnya sebagai orang yang terbiasa berjuang berkata bahwa kecelakaan bisa terjadi pada siapa saja.
Perempuan itu terlihat lega, napasnya yang selama ini tertahan seakan keluar. Senyum kecilnya menjadi sedikit lebih jelas.
“Nama saya Stella,” katanya, memperkenalkan diri, seolah ingin mengukir identitasnya di benak Rudy bukan sebagai si penabrak, tetapi sebagai seseorang dengan nama.
Rudy mencoba untuk mengangguk, tetapi kepalanya kembali berdenyut sakit. Dia hanya bisa membisikkan balasan.
“Saya Rudy.”
“Rudy...” ulang Stella, seperti mencoba merasakan nama itu. “Luka kamu... cukup parah, Kata dokternya. Tapi... tapi tidak membahayakan nyawa.” Dia memberitahu dengan hati-hati, seolah takut kata-katanya akan menyakiti lebih lanjut.
Rudy menutup matanya kembali, mencoba mencerna informasi itu. Tidak membahayakan nyawa. Itu kabar baik. Tapi otaknya langsung melompat pada konsekuensi lain. Biaya rumah sakit. Motor yang hancur. Berapa lama dia harus beristirahat? Kerjaannya? Kuliahnya?
Keputusasaan mulai merayap, tetapi ketika dia membuka matanya lagi dan melihat Stella masih di sana, duduk dengan wajah penuh perhatian, rasanya beban itu sedikit terangkat. Ada seseorang yang bertanggung jawab. Ada seseorang yang peduli.
“Ninja... motorku...” ujarnya, berusaha menyusun kalimat.
“Ayah saya sudah menanganinya,” jawab Stella cepat, meyakinkan. “Kamu fokus untuk sembuh dulu, Mas.”
Di balik senyum dan kata-katanya yang menenangkan, Stella menyimpan gejolak dalam hatinya. Melihat Rudy terbaring lemah, wajahnya pucat dan tubuhnya dipenuhi perban, membuat rasa bersalahnya semakin menjadi-jadi. Setiap tatapan mata Rudy yang bingung dan kesakitan adalah pengingat akan kesalahannya yang ceroboh. Tapi di sini, di ruangan steril ini, sebuah benih hubungan baru telah tertanam. Bukan dia dan Rudy si penabrak dan korban, tetapi Stella dan Rudy, dua orang yang terhubung oleh sebuah takdir kelam di Jalan Ahmad Yani.