Hari-hari Rudy di Rumah Sakit AL mulai memiliki ritme baru. Bukan lagi ritme yang hanya diisi oleh bunyi monitor dan langkah-langkah perawat, tetapi juga oleh kehadiran Stella. Rasa sakitnya masih ada, tetapi sudah jauh lebih terkendali. Yang tersisa adalah rasa pegal dan gatal di luka-luka yang mulai mengering, serta ketidaknyamanan karena harus terbaring lama.
Pagi itu, sinar matahari masuk melalui jendela, menerangi kamar rumah sakit yang semula terasa suram. Rudy sudah bisa duduk setengah tegak, ditemani bantal yang menopang punggungnya. Dia sedang asyik membaca catatan kuliah yang dibawakan teman kantornya, ketika pintu kamarnya terbuka pelan.
Stella muncul dengan membawa sebuah paper bag dari kafe terkenal. Aroma kopi dan kayu manis langsung memenuhi ruangan.
“Selamat pagi, Mas,” sapanya dengan suara cerah, meski matanya masih selalu menyimpan sedikit rasa bersalah yang tersisa. “Saya bawa Cappuccino dan croissant. Biar ada variasi dari bubur rumah sakit,” ujarnya sambil menyunggingkan senyum.
Rudy menutup bukunya, sebuah senyum kecil akhirnya merekah di wajahnya yang masih pucat. “Wah, terima kasih, Stella. Aroma kopinya saja sudah bikin saya lebih semangat.”
Sejak percakapan singkat saat pertama kali sadar, obrolan mereka mulai mengalir lebih natural. Stella dengan setia menemuinya sepulang kuliah. Mereka ngobrol tentang banyak hal. Rudy yang biasanya fokus pada pekerjaan dan gym, menemukan sudut pandang baru dari cerita Stella tentang dunia kuliahnya, drama dengan teman-teman kampusnya, dan kegemarannya menonton film. Stella, di sisi lain, terpukau oleh cerita Rudy tentang disiplinnya berolahraga dan perjuangannya sebagai anak rantau yang membiayai sendiri hidup dan kuliahnya.
“Jadi, Mas Rudy nggak pernah minta uang sama orang tua di kampung?” tanya Stella suatu sore, heran.
“Nggak pernah. Sejak lulus SMA dan memutuskan merantau, saya bertekad mandiri,” jawab Rudy bangga. “Setiap gaji, langsung saya bagi untuk biaya hidup, ditabung, dan buat kuliah. Ninja itu adalah hadiah untuk diri sendiri setelah enam tahun kerja keras.”
Mendengar itu, rasa kagum dan bersalah Stella bercampur aduk. Dia yang sejak kecil serba kecukupan, bahkan cenderung manja, jadi memahami nilai setiap keringat yang dibayangkan Rudy untuk membeli motor yang sekarang rusak parah karena kecerobohannya.
“Saya benar-benar minta maaf, Mas,” bisiknya lagi, untuk kesekian kalinya.
“Sudah, Stella. Itu kecelakaan. Yang penting sekarang saya harus cepat sembuh,” sahut Rudy, mencoba melegakan. Semangatnya untuk pulih sangat membara. Dia sudah mulai melakukan gerakan-gerakan ringan yang diizinkan fisioterapis. Setiap hari, dia menanyakan progres pada dokternya, kapan dia boleh mulai berjalan, kapan boleh pulang. Hidupnya yang penuh target tidak bisa lama-lama terhenti di sini.
Kehadiran yang tak kalah mengejutkan adalah orang tua Stella, Bapak Anton dan Ibu Sophia. Sejak hari kedua perawatan Rudy, mereka rutin menjenguk setiap sore. Pak Anton, dengan sosoknya yang tegas namun berwibawa, dan Bu Sophia yang lembut dan perhatian, seolah menggantikan peran keluarga Rudy yang jauh di Sumatera Barat.
“Bagaimana kondisinya hari ini, Nak Rudy?” tanya Bu Sophia suatu sore sambil menata buah-buahan yang dibawanya di meja samping tempat tidur.
“Alhamdulillah jauh lebih baik, Bu. Terima kasih sudah dijenguk,” jawab Rudy sopan, merasa sangat dihormati.
Pak Anton biasanya duduk dan berbincang singkat. Suatu sore, obrolan mereka mulai menyentuh latar belakang keluarga.
“Kami memang bergerak di ekspor-impor hasil bumi. Kebetulan, adik saya, Bondan, yang mendirikan dan menjadi Direktur Utama di perusahaan tempatmu bekerja, PT Maju Jaya,” ujar Pak Anton sambil tersenyum.
Rudy terperanjat. Matanya membelalak. “Pak Bondan? Beliau adalah paman Stella?”
Stella yang duduk di samping ayahnya mengangguk, agak malu. “Iya, Mas. Papa dan Om Bondan adalah kakak-beradik.”
Rudy terdiam sejenak, memproses informasi itu. Dunia ini ternyata sangat kecil. Perempuan yang menabraknya adalah keponakan dari bosnya sendiri. Rasa cemasnya pun muncul. “Pak, mengenai kecelakaan ini… saya harap tidak mempengaruhi…”
Pak Anton langsung memotong dengan halus. “Tenang, Nak. Ini urusan pribadi. Bondan sudah saya beri tahu. Dia justru menyemangatimu untuk cepat sembuh. Prestasimu di bagian akuntansi dia apresiasi. Fokuslah pada pemulihanmu.”
Kepastian itu seperti obat penenang bagi Rudy. Dia melihat keluarga ini tidak mencoba lari dari tanggung jawab atau menggunakan pengaruh, tetapi justru menanganinya dengan penuh integritas dan kehangatan.
Pada suatu petang, menjelang Rudy diizinkan pulang, Stella datang lebih sore. Rudy sedang berdiri perlahan di dekat jendela, merasakan kakinya kembali menapak.
“Mas, besok sudah boleh pulang, ya?” tanyanya.
“Iya, akhirnya,” jawab Rudy sambil menoleh, senyum lebar menghiasi wajahnya.
“Nanti… setelah pulang, saya masih boleh jenguk Mas, kan? Tapi… nggak di rumah sakit lagi,” ujar Stella, tiba-tiba merasa canggung. Hubungan ‘penabrak-korban’ rasanya sudah usai. Tapi dia ingin hubungan ini berlanjut.
Rudy memandanginya. Di balik kecantikan dan latar belakang glamornya, Stella tulus. Dia melihat seorang gadis yang belajar dari kesalahan dan berusaha keras untuk menebusnya.
“Tentu saja boleh, Stella. Kamu sudah seperti keluarga di sini. Terima kasih untuk segalanya,” kata Rudy tulus.
Senyum Stella melebar, lebih cerah dari sinar matahari sore yang masuk melalui jendela. Dalam benaknya, sebuah babak baru tidak hanya dimulai untuk pemulihan Rudy, tetapi juga untuknya. Sebuah persahabatan—atau mungkin lebih—telah bertunas di ruang pemulihan ini, dibangun di atas dasar sebuah kecelakaan dan diteguhkan dengan keikhlasan memaafkan dan kesungguhan menebus kesalahan.