Setelah seminggu penuh di Rumah Sakit AL, akhirnya hari yang ditunggu Rudy tiba: hari kepulangannya. Dokter telah memeriksa untuk terakhir kalinya dan memberikan lampu hijau. Luka-lukanya dinyatakan sudah sembuh dengan baik, meski masih harus menghindari aktivitas berat seperti angkat beban untuk beberapa waktu ke depan.
Saat sedang memakai kaus dan celana training yang dibelikan Stella, Rudy merenung. Rasa syukur yang luar biasa membanjiri hatinya. Dia selamat dari kecelakaan yang bisa saja merenggut nyawanya.
Pak Anton dan Bu Sophia datang tepat sebelum proses administrasi pulang. Mereka bukan hanya datang dengan tangan kosong.
“Nak Rudy,” ujar Pak Anton sambil menyodorkan sebuah map berisi dokumen. “Ini semua berkas administrasi rumah sakit sudah lunas. Kamu tidak perlu memikirkan biaya sepeser pun.”
Rudy tercekat. “Pak, ini… ini terlalu baik. Saya tidak sanggup…”
“Ini tanggung jawab kami, Nak,” sela Bu Sophia dengan lembut, merapikan kerah baju Rudy seperti seorang ibu. “Kami juga sudah urus motormu yang rusak. Itu sudah tidak bisa diperbaiki lagi.”
Mendengar kabar tentang Ninjanya, hati Rudy sedikit teriris. Motor itu adalah saksi bisu perjuangannya. Tapi sebelum sedihnya berkepanjangan, Pak Anton mengeluarkan kunci mobil dari sakunya.
“Kami sudah ganti dengan yang baru. Mobil ini untukmu.”
Rudy hampir tidak percaya. Sebuah mobil? Itu jauh di luar ekspektasinya. Dia hanya berharap biaya perawatan ditanggung. “Pak, Bu… Saya tidak bisa menerima ini. Motor saja sudah lebih dari cukup, apalagi mobil. Ini terlalu besar.”
“Kami tahu kamu pekerja keras dan mandiri, Rudy,” kata Pak Anton tegas, namun penuh kasih. “Anggap saja ini bukan hanya ganti rugi, tapi juga bentuk keyakinan kami padamu. Kami ingin kamu tetap aman dan nyaman beraktivitas. Mobil ini lebih aman dari motor.”
Rudy hanya bisa mengangguk pelan, rasa haru menyumbat tenggorokannya. Air mata berkaca-kaca di pelupuk matanya. Perlakuan ini jauh melebihi sekadar ganti rugi.
Namun, kejutan belum berakhir. Saat mereka sampai di lobby rumah sakit, Bu Sophia memegang bahu Rudy.
“Dan sekarang, kami mau ajak kamu pulang, Nak.”
Rudy mengira yang dimaksud adalah pulang ke kos-kosannya. “Iya, Bu. Saya akan pesan taksi online saja.”
“Bukan itu maksudnya,” ujar Pak Anton. “Kami maksudnya, pulang ke rumah kami. Kamu akan tinggal bersama kami.”
Rudy benar-benar terkejut. Proposal ini begitu tiba-tiba dan luar biasa. “Tinggal… bersama? Pak, Bu, saya sangat menghargai kebaikan ini, tapi saya tidak bisa merepotkan. Saya sudah merepotkan terlalu banyak. Saya harus kembali ke kos saya.”
“Kos?” tanya Bu Sophia. “Kamu masih dalam masa pemulihan. Siapa yang akan merawatmu? Masakakn untukmu? Kami tidak akan tenang membiarkanmu sendirian.”
“Tapi, Bu…”
“Rudy,” panggil Pak Anton, nadanya lebih dalam dan berwibawa. “Kami sudah berbicara dengan Stella, dan kami melihat sendiri selama seminggu ini. Kamu anak yang jujur, pekerja keras, dan punya integritas. Kami… kami ingin kamu tinggal bersama kami, bukan untuk sementara. Kami ingin mengangkatmu sebagai anak. Sebagai bagian dari keluarga kami.”
Saat itu juga, air mata Rudy yang sudah lama ditahan akhirnya menetes. Sebagai anak rantau yang sudah lama merasakan kerasnya hidup sendirian, mendengar kata-kata “bagian dari keluarga” adalah impian yang tak terucapkan. Dia melihat wajah tulus Pak Anton, senyum lembut Bu Sophia, dan mata Stella yang berbinar penuh harap di samping mereka.
Perlawanannya runtuh. Rasa kaku dan keinginannya untuk mandiri akhirnya luluh oleh ketulusan yang begitu dalam.
“Saya… saya tidak tahu harus berkata apa,” jawab Rudy dengan suara bergetar. “Terima kasih. Terima kasih banyak. Saya… dengan senang hati menerima tawaran ini.”
Senyum merekah di wajah ketiganya. Stella bahkan melompat kegirangan. “Yes! Akhirnya Mas Rudy setuju!”
Perjalanan menuju rumah megah keluarga Stella terasa seperti mimpi. Rudy duduk di samping Stella di kursi belakang, sementara Pak Anton menyetir. Dia memandang keluar jendela, melihat kota Surabaya yang terasa begitu berbeda. Dia tidak lagi seorang diri. Dia sekarang punya keluarga yang peduli, sebuah rumah untuk ditinggali, dan seorang “adik” yang manis yang duduk di sampingnya.
Saat mobil memasuki halaman rumah yang luas, Rudy menarik napas dalam-dalam. Ini bukan hanya awal dari babak baru dalam hidupnya. Ini adalah awal dari sebuah kehidupan yang sama sekali baru, sebuah kehidupan yang lahir dari sebuah kecelakaan tak terduga yang membawanya pada sebuah keluarga yang tidak pernah dia duga akan dimilikinya.