Enam bulan telah berlalu sejak Rudy resmi menjadi bagian dari keluarga mereka. Kehidupan di rumah yang megah itu kini terasa lebih hidup dan lengkap bagi Stella. Suasana makan malam yang dulu sering sepi, kini diisi dengan cerita Rudy tentang kantor atau keluh kesahnya menyelesaikan tugas kuliah. Rudy hadir seperti angin segar yang mengisi setiap sudut rumah, dan bagi Stella, dia seperti sinar matahari yang menerangi relung hatinya yang paling dalam.
Awalnya, Stella sangat senang. Akhirnya, dia memiliki "kakak" yang selalu ada untuknya, yang bisa diajak berdebat tentang film, atau meminta pendapat tentang tugas kuliah. Tapi kebahagiaan itu perlahan berubah menjadi siksaan. Perasaan yang sejak di rumah sakit hanya berupa rasa kagum dan bersalah, telah bermetamorfosis menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam dan berbahaya: cinta.
Setiap hari menjadi ujian. Melihat Rudy di meja makan pagi hari, dengan rambut masih sedikit basah setelah mandi, mengenakan kaos ketat yang mengkontur bidang d**a dan bahunya yang berotot, membuat jantung Stella berdebar kencang. Saat Rudy pulang kerja dan langsung menuju home gym kecil di sayap rumah, Stella seringkali "kebetulan" lewat hanya untuk menyaksikan Rudy mengangkat beban, dengan otot-otot lengan dan punggungnya yang tegang berkilat oleh keringat. Itu adalah pemandangan yang membuatnya sulit bernapas.
Dia mulai menyadari bahwa perasaannya bukan lagi sekadar kekaguman pada seorang kakak. Ini adalah hasrat, ketertarikan fisik dan emosional yang membuatnya gelisah. Dan yang paling menyiksa, Rudy memperlakukannya dengan sangat baik, sangat protektif, tetapi selalu dalam koridor seorang kakak terhadap adik. Dia selalu memanggilnya "Stell" atau "Dik Stella", dan celotehan manjanya selalu dijawab dengan senyuman hangat dan nasihat yang bijak. Jarak itu membuat Stella semakin frustrasi.
Seminggu terakhir, rasa itu sudah tak tertahankan. Stella mencoba memberikan kode-kode tipis. Dia lebih sering menyentuh lengan Rudy saat bercanda, memuji penampilannya dengan berlebihan ("Wah, Mas Rudy makin ganteng pakai kemeja itu!"), atau bahkan suatu malam, dia sengaja masuk ke kamar Rudy dengan piyama yang agak tipis dengan alasan menanyakan soal tugas kuliah. Tapi Rudy sama sekali tidak menangkap sinyal itu. Dia tetap ramah, perhatian, tetapi polos. Seolah sebuah tembok besar bernama "status sebagai anak angkat orang tua Stella" berdiri tegak antara mereka.
Kepolosan Rudy itulah yang akhirnya memantik sebuah ide gila di benak Stella. Jika kode-kode halus tidak bekerja, maka dia perlu sebuah situasi yang tidak bisa diabaikan Rudy. Sebuah situasi yang akan memaksa Rudy untuk melihatnya bukan sebagai seorang adik, tetapi sebagai seorang perempuan.
Malam itu, sendirian di kamarnya, Stella menatap langit-langit kamar. Matanya berbinar dengan tekad yang berbahaya. Rencananya sederhana namun penuh risiko: menjebak Rudy.
Dia tidak berniat jahat. Dia hanya ingin Rudy terjebak dalam sebuah situasi dimana dia harus berhadapan dengan perasaan Stella yang sesungguhnya. Mungkin dengan menciptakan momen yang intim, atau situasi yang membuat Rudy harus memeluknya, merawatnya, atau melihatnya dalam keadaan yang "berbeda". Dia ingin memancing reaksi, memecah kepolosan Rudy, dan memaksa perasaannya keluar ke permukaan.
"Maafkan aku, Mas Rudy," bisiknya pada bayangan Rudy dalam pikirannya. "Tapi aku tidak kuat lagi. Aku harus membuatmu melihatku... sebagai Stella, perempuan yang mencintaimu, bukan sebagai adik angkatmu."
Dia tersenyum getir. Ini adalah permainan api yang bisa membakar segalanya: hubungannya dengan Rudy, kepercayaan orang tuanya, dan kedamaian keluarga yang baru mereka bangun. Tapi gejolak cinta yang menyiksa itu telah membutakan matanya terhadap segala konsekuensi. Yang ada dalam pikirannya hanyalah satu tujuan: membuat Rudy jatuh cinta padanya.