Enam bulan tinggal di rumah keluarga Stella bagai mimpi yang tak pernah dibayangkan Rudy. Kasih sayang yang tulus dari Pak Anton dan Bu Sophia telah memulihkan luka fisiknya sekaligus mengisi ruang hatinya yang lama kosong sebagai anak rantau. Mereka tidak hanya memberinya rumah, tetapi juga kehangatan sebuah keluarga yang ia rindukan. Rudy pun membalasnya dengan dedikasi dan rasa hormat yang dalam. Di kantor, kinerjanya semakin baik, dan di rumah, ia selalu berusaha membantu dalam hal apa pun yang ia bisa.
Namun, di balik kedamaian itu, sebuah badai kecil mulai mengganggu ketenangan Rudy. Badai itu bernama Stella.
Memang, usia mereka hanya terpaut lima tahun. Rudy 26 tahun dan Stella 21 tahun. Mereka bahkan sama-sama berada di semester 6 kuliah, meski berbeda jurusan. Rudy mengambil Akuntansi di PTS tempatnya belajar sambil bekerja, sementara Stella, sebagai mahasiswi di sebuah PTN ternama, mengambil jurusan Manajemen Komunikasi. Jurusan yang sesuai dengan karakternya yang supel dan mudah bergaul.
Dan tidak bisa dipungkiri, Stella adalah perempuan yang sangat cantik. Bukan hanya cantik, tetapi juga memiliki bentuk tubuh yang sangat seksi, hasil dari perhatiannya pada fitness dan ballet yang ditekuninya sejak kecil. Setiap kali ia lewat, dengan percaya diri mengenakan outfit yang sederhana sekalipun, aura nya mampu membuat kepala banyak cowok menoleh. Banyak pria yang ingin mendekatinya, dari rekan kampusnya hingga anak-anak pengusaha yang diajak ayahnya bertemu.
Rudy tahu semua itu. Dan sebagai seorang lelaki normal dengan darah yang masih panas, ia pun tidak buta. Ia melihat kecantikan Stella. Namun, selama ini, ia berhasil menempatkannya dalam kotak "adik angkat" yang harus dilindungi, bukan didambakan.
Tapi belakangan ini, kotak itu mulai retak. Stella mulai memberi kode.
Awalnya halus. Sentuhan yang terlalu lama di lengan saat tertawa, pandangan mata yang berkilat dan tertahan sedikit lebih lama darinya, atau pujian tentang penampilannya yang tiba-tiba dan spesifik. "Wah, Mas Rudy, otot lengan nya makin defined nih since balik gym!" ujarnya suatu kali, membuat Rudy tersedak air mineral.
Rudy tahu. Dia bukan orang bodoh. Dia bisa merasakan gelombang perhatian yang berbeda dari Stella. Dan dalam diam, hati kecilnya pun bergolak. Stella adalah perempuan impian banyak pria. Cantik, pintar, dan dari keluarga baik-baik. Mustahil bagi seorang lelaki untuk tidak tergoda.
Namun, setiap kali perasaan itu muncul, rasa bersalah yang lebih besar langsung menghantamnya. Bagaimana mungkin ia membiarkan pikirannya menerawang kepada Stella? Dia adalah anak kandung Pak Anton dan Bu Sophia, yang telah mengangkatnya sebagai anak, memberinya kasih sayang yang tulus tanpa syarat. Mereka mempercayainya. Mereka menganggapnya bagian keluarga. Melihat Stella dengan cara yang berbeda adalah pengkhianatan terbesar terhadap kepercayaan itu. Ia akan menjadi orang yang tidak tahu terima kasih.
"Dia adikmu, Rudy," bisiknya keras pada dirinya sendiri setiap kali ia merasa jantungnya berdebar-debar karena senyuman Stella. "Jangan rusak semuanya. Kau punya segalanya di sini. Jangan serakah."
Kebingungannya itu membuatnya bersikap ambigu. Terkadang, saat Stella terlalu dekat, ia secara tidak sadar menjauh sedikit. Saat Stella memberikan pujian, ia membalas dengan candaan yang datar atau mengalihkan topik pembicaraan ke hal yang lebih aman, seperti kuliah atau pekerjaannya. Ia berusaha mati-matian untuk tetap menjadi "Kak Rudy" yang baik, yang protektif, dan yang netral.
Tapi semakin ia menjauh, Stella justru semakin mendekat. Seolah ada tantangan yang harus ditaklukkan. Rudy bisa melihat kekecewaan sekilas di mata Stella setiap kali ia menghindar, dan itu membuat hatinya sakit. Dia tidak ingin menyakiti perasaan Stella, tetapi dia juga tidak bisa menuruti keinginan hatinya yang mulai memberontak.
Ia terjebak di persimpangan antara rasa hormat dan tanggung jawab pada keluarga angkatnya, dengan gejolak normal seorang pria terhadap seorang perempuan cantik yang jelas-jelas menaruh hati padanya. Dan ia benar-benar tidak tahu bagaimana cara bersikap. Salah satu langkah saja bisa menghancurkan surga yang baru saja ia dapatkan.