Jumat sore itu panggilan telepon dari Bu Sophia mengganggu konsentrasiku menyelesaikan laporan keuangan.
“Rudy, Nak, kamu bisa pulang lebih awal? Ayah dan Ibu harus buru-buru ke Jakarta untuk urusan mendadak. Stella di rumah sendirian,” pinta Bu Sophia.
“Tentu, Bu. Saya akan segera pulang,” jawabku tanpa pikir panjang. Rasa tanggung jawab sebagai anak tertua—meski secara status angkat—langsung berkobar.
Jam menunjukkan pukul 15.30 ketika Mobil baruku pemberian orang tua Stella meluncur meninggalkan kantor. Rumah megah keluarga Stella terlihat sepi saat kudatangi. Kukencangkan bel pintu beberapa kali, tapi yang terdengar hanya teriakan Stella dari dalam.
“Mas, masuk saja! Pintunya nggak dikunci!”
Kubuka pintu dan melangkah masuk. Sunyi. Benar saja, Pak Anton dan Bu Sophia sudah berangkat. Aku langsung menuju kamarku di lantai atas. Rasa lelah setelah sepekan bekerja membuatku ingin segera mandi dan merebahkan tubuh di atas kasur.
Baru saja kulepaskan kemeja kerjaku, teriakan Stella dari bawah kembali memecah kesunyian.
“Mas, sudah kubikinkan kopi cream taruh di meja belajarku!”
“Ya, baik!” balasku sambil menghela napas. Kuhargai usahanya, meski rasa kantuk sudah mulai menyerang.
Kuturuni tangga dan berhenti di depan kamar Stella. Kuketuk pelan.
“Masuk saja, Mas! Aku lagi mandi!” sahutnya dari balik pintu.
Dadaku berdebar tak karuan saat mendorong pintu yang ternyata memang tak terkunci. Suara guyuran air dan segarnya aroma sabun mandi langsung menyambut. Dari balik partisi kaca buram yang membatasi area mandi, kulihat siluet tubuh Stella yang ramping dan lentik. Bayangan samar itu bergerak-gerak, diguyur air, membentuk lekuk-lekuk tubuh yang membuat darahku berdesir. Cepat-cepat kualihkan pandangan, mencoba menenangkan diri yang tiba-tiba gelisah.
Kududuk di kursi meja belajarnya yang rapi. Kuambil cangkir kopi cream hangat yang sudah disiapkan. Aromanya menenangkan, tapi tidak cukup untuk meredakan degup jantung yang masih kencang.
“Mas, udah mandi belum?” tanya Stella tiba-tiba dari balik kaca.
“Sudah. Kenapa?” jawabku, berusaha terdengar biasa.
“Mau mandi lagi?” godanya halus.
“Nggak,” balasku singkat, mencoba fokus pada majalah fashion yang tergeletak di meja.
Tiba-tiba, teriakan panik Stella memecah konsentrasi.
“Mas! Tolong! Ada kecoak!”
Naluriku sebagai lelaki langsung bekerja. Tanpa pikir panjang, kuterjang ke area kamar mandi. Apa yang kulihat membuat napasku tersangkut.
Stella berdiri membelakangi, hanya terbungkus handuk kecil yang basah membalut tubuhnya. Handuk itu pendek, hanya sampai paha atasnya, memperlihatkan masi yang jenjang. Dia berbalik, wajahnya memancarkan kepura-puraan ketakutan yang tak bisa disembunyikan. Senyum kecil mengembang di bibirnya.
“Ah, udah pergi kayaknya,” katanya, sambil memegang shower yang masih menyemburkan air.
Sebelum sempat bereaksi, dia dengan tiba-tiba mengarahkan semburan air shower ke arahku. Bajuku yang masih rapi langsung basah kuyup.
“Stella!” protesku, tapi dia hanya tertawa riang.
“Coba tangkap, Mas!” godanya lagi, menyemprotku sekali lagi.
Aku yang sudah terlanjur basah, tak mau kalah. Kuraih shower kloset di dekatku dan membalas semprotannya. Stella menjerit kecil dan mencoba menghindar, tetapi ruangannya sempit. Semburan airku mengenai tubuhnya, membuat handuk kecil itu semakin basah dan menerawang. Dia menggeliat-geliat sambil tertawa ketika air mengenai bagian tubuhnya yang sensitif, seperti ketiak dan perut. Saat itulah kusadari, di balik handuk yang menerawang itu, tak ada sehelai benang pun yang melindungi tubuhnya. Dadaku berdebar kencang, pikiran ini mulai kalut.
Tawa canda kami perlahan berubah menjadi senyap yang penuh arti. Pandangan kami terpaut, mengunci satu sama lain. Ada sesuatu yang menggantung di udara, sesuatu yang panas dan berbahaya. Tanpa kusadari, jarak antara kami menyempit. Stella tidak lagi menghindar, matanya menatapku dalam-dalam, penuh arti yang selama ini kusembunyikan.
Lalu, segalanya terjadi begitu natural. Tangannya meraih lenganku yang basah, menarikku pelan. Aku tak melawan. Tubuh kami sekarang hanya terpisah beberapa inci. Nafasnya hangat mengenai kulit leherku. Dan kemudian, aku tak tahan lagi. Pelukanku merangkul tubuhnya yang basah dan hangat. Bibirku menemukan bibirnya yang merah dan merekah, lembut namun penuh keyakinan.
Dunia seakan berhenti. Ciuman pertama kami adalah percampuran rasa air, rasa sabun, dan rasa rindu yang lama terpendam. Stella membalasnya dengan penuh gairah, tangannya meremas punggungku, menarikku lebih dekat. Handuk kecil yang selama ini menjadi pembatas akhirnya terlepas dan jatuh ke lantai basah. Tubuhnya yang sempurna sekarang terbuka di hadapanku, mulus dan memesona. Aku terpana, takjub sekaligus takut akan intensitas perasaan ini.
Dengan lembut, kuangkat tubuhnya yang ringan. Dia melingkarkan tangan dan masinya di tubuhku, tak mau melepaskan ciuman kami. Kubawanya ke tempat tidurnya yang luas, di mana aroma tubuhnya semakin kuat. Di atas sprei yang bersih, kami melanjutkan penjelajahan yang telah dimulai. Setiap sentuhan adalah kata yang tak terucap, setiap ciuman adalah pengakuan yang lama dipendam. Aku menjelajahi setiap lekuk tubuhnya dengan bibir dan ujung jari, dari pundak yang ramping hingga paha yang halus. Stella merintih pelan, menyerahkan diri sepenuhnya, tubuhnya melengkung menanggapi setiap rangsang.
Puncaknya adalah saat kami menyatu. Saat batas antara masak dan adik angkat benar-benar luluh, digantikan oleh dua insan yang sama-sama merindukan kehangatan dan cinta. Ada rasa sakit sekilas di wajah Stella, yang langsung kuiringi dengan belaian lembut dan bisikan sayang. Perlahan, rasa sakit itu berubah menjadi ritme yang mengalir natural, diiringi desahan dan erangan yang menandakan kami sama-sama tenggelam dalam kenikmatan. Gerakanku yang awalnya hati-hati berubah menjadi lebih dalam dan bertenaga, dipandu oleh lengkingan kecil Stella yang semakin membuatku tak berdaya.
Saat puncak kenikmatan itu tiba, kami seperti melayang bersama, terlempar dari realitas dunia. Jeritan lembut Stella tenggelam dalam bahuku, sementara aku menggumamkan namanya berulang-ulang, seperti sebuah mantra. Kami tergeletak lelah, masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Napas kami tersengal-sengal, tubuh masih basah oleh keringat, tapi pelukan kami tak kunjung lepas.
Dalam keheningan kamar, aku menyadari satu hal: jebakan Stella telah berhasil. Dan aku, dengan sukarela, telah terjun ke dalamnya.