Di kawasan industri yang tak kalah elit, berlokasi tidak jauh dari Dewanata Cabang Bandung. Berdiri megah perusahaan yang sudah bertahun-tahun mendeklarasikan keberadaannya sebagai kompetitor tersengit sepanjang masa.
Berada di jajaran paling depan. Visual yang disuguhkan terlihat mencolok. Menyamai kejayaan sekelas anak perusahaan Jepang, Korea, dan China yang menjadi tetangganya. Orlando Group turut andil sebagai iconic industri di wilayah itu.
Kondisi gedung sudah pasti menjadi impian para karyawan. Nyaman, luas, besar, mewah, bersih, rapih, dan tertib. Bagaikan langit dengan bumi. Bisa dikatakan bahwa tempat terburuk milik pesaingnya itu jelas lebih baik daripada kantor Jun saat ini.
Jackson baru saja memanggil sekretaris pribadinya. Wanita yang selalu menampilkan kesempurnaan dalam segala hal pun kini sudah di hadapan pria itu.
"Bagaimana dengan penawaran yang kita ajukan ke GBA Living? Sudah ada perkembangan?" tanya Jackson, dingin. Perhatiannya terfokus pada beberapa dokumen yang tengah ditandatangani.
"Belum ada. Kudengar sang owner tengah babymoon. Baru kembali ke Indonesia minggu depan. Berita buruknya, Dewanata Group juga tengah mengajukan inovasi terbaru," papar Batari.
Hening! Gerakan tangan Jackson mendadak terhenti. Bukan tertarik dengan spesifikasi produk yang tengah diajukan saingannya, melainkan teringat kedekatan antara Jun dan Wara. Hal itu membuat hatinya terusik.
"Apa jadwalku selanjutnya?" lontar Jackson, mengacuhkan lawan bicara, kembali pada kesibukan.
"Bertemu Direktur Utama Tritunggal. Membahas kelanjutan sempel bahan baku yang Anda minta. Peresmian showroom di Carrefour Paris Van Java Mall menanti Anda setelahnya," terang Batari.
"Silahkan keluar!" perintah Jackson, ada pemaksaan secara tidak hormat pada kalimat yang terlontar.
Mata wanita itu menyipit. Cukup tersentak dengan apa yang didengar. Sedari awal, Jackson memang tak pernah memperlakukannya sebaik sikap pria itu kepada Wara. Seolah menegaskan bahwa hubungan mereka hanyalah pekerjaan dan sebatas urusan ranjang. Tidak lebih dari itu.
"Jackson!" protes Batari, setengah mengintimidasi.
"Kau tidak dengar?" Jackson meninggikan nada suaranya. Menandakan sebuah mandat yang pantang untuk tidak dilakukan.
"Kau keterlaluan Jackson!" kritik wanita itu. Beranjak penuh kekecewaan.
Jackson mengalihkan pandangan. Membasahi bibir, tampak ragu dengan apa yang ingin disampaikan.
"Sebaiknya kita akhiri semua ini. Kenyamanan ranjang nyatanya tidak cukup. Tapi cinta bisa membuatnya lebih dari sekedar cukup," cetus Jackson.
DEG!
Langkah Batari tertahan. Sakit sekali rasanya. Setelah banyak hal yang ia korbankan, Jackson dengan mudah mengatakannya? b******n! Begitu pikir Batari.
Tanpa sadar, setitik cairan bening tergelincir. Melewati pipinya yang mulus nan putih.
Batari menyeka sisa-sisa air mata. Berbalik, menatap Jackson penuh luka. "Kau bilang apa? Cinta?" Batari tertawa mencibir. Ia mendekat lalu bertutur, "jika kau mencintainya, kau tidak akan tidur denganku Jackson. Tidakkah itu hanya semacam platonic relationship? Ikatan kalian cukup kuat namun tidak ada ketertarikan seksual. Lalu apa bedanya hubungan kalian dengan sebuah persahabatan?"
Jackson masih diam. Namun, telapak tangannya mengepal kuat. Ia bukannya tidak tertarik untuk menyentuh Wara. Cinta yang terlalu besar, menuntut Jackson untuk menjaganya.
Tak seorang pun tahu, seberapa keras Jackson menahan hasrat ketika berada dekat dengan mantan kekasihnya. Semua hal yang ada pada diri Wara sungguh menarik. Menguji kadar keimanan. Membangkitkan pikiran liar yang sialnya harus ditekan mati-matian.
Entah sudah berapa ratus kali ia mengutuk adiknya yang terus mengiba, meminta untuk disalurkan. Jackson tetap pada pendirian. Membangun benteng yang tidak mampu ditembus dan dilaluinya sendiri. Terdengar seperti prestasi yang membanggakan. Sayang! Kedatangan Batari di hidupnya, menghancurkan angan. Wanita yang tak kalah cantik dan molek itu menaklukkannya di atas tempat tidur. Jackson tak sealim yang Wara kira.
"Aku khilaf dan aku ingin memperbaiki segalanya," kata Jackson tak berkemanusiaan.
Batari melempar tawa sinis. "Khilaf? Khilaf katamu?" Batari menggeleng pelan. "Tidak! Kita menikmatinya. Kau bahkan menginginkan lagi dan lagi. Kita sering melakukannya. Tiada hari tanpa bercinta. Itu yang kau sebut gawal? Alpa? Keliru? Salah? Yang benar saja Jackson!"
Jackson menaikan salah satu sudut bibirnya. "Sepertinya kau memang benar. Terlepas dari urusan pekerjaan. Apa yang terjadi di antara kita hanyalah simbiosis mutualisme. Aku mendapatkan keperawananmu dan kau memperoleh keperjakaanku. Kau tidak dirugikan begitu pula diriku. Jujur, pelayananmu memang menyenangkan. Tapi kurasa itu tidaklah cukup. Aku menyesal pernah melalui jalan yang salah."
"Terserah kau saja! Kupastikan kau tidak akan berpaling! Berpikir ulang menjadi satu-satunya solusi terbaik untukmu. Barangkali kau lupa. Aku punya pengalaman di dua perusahaan bedding terkemuka. Bisa kau bayangkan jika aku mendukung mereka yang berada di peringkat ketiga dan keempat. Cepat atau lambat kau akan terkena dampak seperti yang tengah dirasakan Dewanata Group," ancam Batari sebelum wanita itu melenggang penuh kemenangan.
Jackson memukul meja cukup keras. "Wanita sialan!" umpatnya kemudian. Ia meraih gawai, menghubungi seseorang.
["Awasi Wara 24 jam! Cari tahu hubungan apa yang terjadi di antara mereka!"]
Jackson menutup sambungan telepon sebelum seseorang diseberang sana menjawab.
***
Berbeda dengan Jackson dan Batari yang tengah bersitegang. Wara justru semakin bersemangat untuk bekerja. Menunjukan kemampuan terbaik jelas menjadi tujuannya saat ini. Tentu saja karena keberadaan Jun di sudut hati. Apalagi memangnya!
Wara mengetuk pintu yang sebenarnya sudah terbuka sebanyak tiga kali. Ada Jun yang tengah terlelap. Duduk bersandar di singgasana. Menimbulkan perasaan tidak enak di benak Wara. Pemandangan sederhana yang entah sejak kapan membuatnya betah berlama-lama memandang.
Wara menerbitkan senyum malu. Rona pun merangkak naik ke wajahnya. Buru-buru berbalik dan meninggalkan ruangan Jun sebelum pria itu menyadari tingkahnya yang tidak biasa. Dokumen yang diminta Jun pun masih dalam pelukan.
Dasar Wara! Berniat menghindar tapi lihatlah! Wanita yang tengah jatuh cinta itu justru tak kapok-kapoknya mengulang kebodohan.
Bersembunyi di balik tembok. Wara hanya memperlihatkan kepala. Mengintip Jun yang masih terjaga. Hatinya tak pernah berhenti menyerukan kekaguman. Memohon agar waktu berhenti. Mengizinkannya menikmati panorama yang memanjakan mata. Sial! Jun menangkap basah perbuatannya.
Jun menghela napas. Masih tidak disadari oleh Wara.
"Mau sampai kapan kau berdiri tidak berguna di situ! Kau tidak sedang menjadikanku obyek fantasi kan?" sembur Jun sedikit menyelidik, membuyarkan lamunan indah yang tengah tercipta.
Wara terperanjat. Menarik dan menahan napas melalui mulut. Menghasilkan lengkingan tertahan. Pelan, sangat pelan sekali. Kepala wanita itu mulai tenggelam di balik dinding. Berjalan mengendap-endap. Hendak kabur sebelum seruan Jun kembali membuatnya jantungan.
"Mana data yang saya minta! Mana! Mana! Mana!" teriak Jun sambil menghentak-hentakkan lem stick ke meja. Menimbulkan kegaduhan di ruang itu.
Wara terlonjak, matanya melotot ketika melihat benda yang tengah didekapnya.
"Matilah kau!" maki Wara pada diri sendiri. Memutar badan, membenturkan kepalanya sekali pada tabir yang dilewati sebelum menemui Jun.
Wara menyerahkan daiichi business file berwarna hijau. "Ini bos."
"Oh, iya. Jangan salah paham. Tadi itu tidak seperti yang Anda pikirkan. Saya sungkan untuk membangunkan bos. Jadi—"
"Memastikan saya tidur apa tidak, begitu?" potong Jun, melengkapi pembelaan wanita itu.
Wara tersenyum canggung. "Benar!" Benaknya terasa lapang. Ada kelegaan di sana.
Salah satu alis Jun naik, membuka dokumen sambil mencibir, "Jika ingin berbohong, belajarlah pada ahlinya! Heran! Berdusta saja kau tidak mampu! Sebenarnya apa kelebihamu? Sampai detik ini, perilakumu bahkan mines!" Jun sengaja memperlambat dan menekankan kata terakhir.
Jun masih tidak mengerti. Apa yang membuat seorang Jackson Orlando sampai jatuh hati kepada karyawannya. Sejauh yang Jun amati, tidak ada yang menarik dari wanita itu. Hanya suara lembut yang terkadang menggelitik hati dan pikiran.
Sebagai orang yang pernah mengenal baik pria itu, Jun tentu tahu. Jackson tidak mudah menaruh perasaan. Tipe idealnya terlalu rumit untuk dipikirkan. Permasalahan itu membuat Jun bertanya-tanya.
Wara mencebikkan bibir. Kesal tapi juga senang bisa berada dekat dengan pria pemilik sejuta pesona itu.
"Mana total omset terbaru per brand?" tanya Jun bermaksud mengubah suasana hati wanita itu.
Wara tidak menjawab. Hanya mendekat, membuka lembaran yang dimaksud dengan sopan lalu menunjuknya.
"Penjualan masing-masing toko? Produk yang paling laku? Rata-rata per enam bulan? Toko berprestasi? Paket special offer? Tagihan macet? Penjualan per sales? Insentif sales satu tahun terakhir yang sudah cair?"
Wara melakukan hal yang sama. Memberikan jawaban hingga ke pertanyaan terakhir.
Jun menoleh, menciptakan jarak wajah cukup dekat dengan Wara yang tengah membungkuk di sampingnya. Saat wanita itu menengok, pandangan mereka terkunci.
DAG! DIG! DUG!
DAG! DIG! DUG!
Sumpah demi apa! Wara gugup setengah mati. Bibirnya bergetar tak kuasa menahan getaran yang mulai menjalar ke seluruh tubuh. Aura pemikat pria itu terlalu kuat. Menarik paksa dirinya. Meruntuhkan semua pertahanan yang tengah dibangun. Sebaliknya! Di mata Jun, Wara justru terlihat lucu.
Jun mengulas senyum meneduhkan. "Terima kasih Wara," bisik Jun dengan suara seksi nan memabukkan. Menggiring Wara menjadi mati kutu. Hanya bisa melipat wajah, menyembunyikan semburat rona kemerahan yang terlukis jelas di rautnya.
"Thanks untuk ini." Jun menyodorkan halaman terakhir yang ternyata berisi karikatur wajah Jun yang dibungkus dengan heart symbol di sudut kertas.
Sepasang bola mata Wara nyaris loncat. Sumpah serapah langsung dilayangkan pada dirinya sendiri. Mengutuk kelalaian yang tiada habisnya.
"Booooossss ...!"
Wara merampas business file berukuran A4 itu dengan berutal. Digunakannya untuk menutupi wajah. Malu sangat malu! Nyaris menangis karena tidak tahu harus berbuat apa.
Jun terbahak-bahak. Kehadiran Wara benar-benar menjadi hiburan tersendiri untuknya.
Sejenak menahan tawa. Jun berceloteh, "Gambarnya bagus. Jadi kupikir itu bukan hasil karya tanganmu. Tapi tingkahmu yang seperti itu justru memberikan jawaban."
Wara tidak menggubris. Ingin segera menghilang ditelan bumi. Masih sambil menutupi wajahnya, ia berjalan tergesa-gesa. Malang! Dikira gawang pintu, Wara justru menabrakan diri berkali-kali ke tembok. Memancing Jun untuk menyemburkan tawa.
Kala wanita itu sudah berhasil ke luar, ia malah mengunci Jun di dalam ruangan. Seakan-akan tengah menawan pria itu. Wara tidak sanggup jika nantinya ditertawakan banyak orang.
"Hei! Buka pintunya! Buka!" sungut Jun. Menggedor-gedor pintu cukup keras.
"Buka! Buka! Buka!" maki Jun, terdengar marah.
Namun, emosi Jun menguap begitu saja ketika mendengar Wara menangis sesenggukan. Membisu beberapa saat sebelum bermonolog.
"Tenanglah! Aku berjanji akan merahasiakannya. Kau bisa mempercayaiku. Atau anggap saja aku tidak pernah melihatnya. Bersikaplah seperti biasa dan berhentilah menangis. Ini perintah!"
Tiba-tiba...
CEKLEK! CEKLEK!
Dan...