***
Kau! Kau! Dan kau...!
Membeku dalam ingatan, membatu dalam kenangan.
***
Waktu terus berjalan, detik demi detik telah berlalu. Menuju malam yang semakin larut. Dua orang yang saling bertetangga itu tenggelam dalam rasa yang hampir sama. Pelampiasan mereka pun terbilang mirip.
Soda sudah pasti jadi pilihan. Nyatanya, itu saja tak cukup untuk mengalihkan perih yang tengah membelenggu.
Tidak peduli dengan udara dingin di Kota Bandung. Jun memilih merilekskan pikiran lewat kumpulan air yang menggenang di kolam renang. Menyelami dalamnya volume, menyusuri luasnya arena. Jun terlihat menikmatinya.
Kepingan waktu yang telah lewat, datang silih berganti. Memaksa otak Jun untuk menghidupkan kembali masa yang pernah dilaluinya bersama wanita yang sampai saat ini masih bertakhta.
Berawal dari sebuah pertemuan yang tak terduga, hubungan kerja yang tercipta, kisah cinta yang mewarnai, hingga ketika Batari meningkalkannya tanpa kabar. Memilih melabuhkan hati pada seseorang yang sangat dikenal Jun. Semua tergambar jelas, seperti adegan sebuah film. Sakit! Sangat sakit!
Berbeda dengan kebiasaannya yang suka mengekspresikan kemarahan secara langsung. Menyangkut kehidupan pribadi, Jun menyimpan rapih semua yang ia rasakan di benak dan pikirannya sendiri.
Sejenak menepi ke pinggir kolam. Jun menyeka wajah. Tersenyum getir, mencemooh kebodohannya sendiri sebelum pria itu kembali mengarungi samudra buatan tangan.
Di tempat lain, Wara mengaramkan tubuh pada bathtub. Air hangat yang menyelimuti mampu mengikis sedikit kegundahan di hati. Aroma terapi yang menenangkan turut andil dalam mengelola mental wanita itu.
Matanya boleh saja terpejam, seakan-akan tengah menikmati sensasi yang diciptakan. Tapi yang terjadi tidaklah demikian. Kenangan indah bersama Jackson yang ditutup dengan kepahitan pun terus berkelebat, berputar bagai kaset video. Tanpa Wara sadari, emosi yang terbentuk mendorong wanita itu untuk membenamkan seluruh tubuhnya di sana.
Satu detik... Tujuh detik... Sembilan belas detik... Dua puluh tujuh detik...
Wara tersadar. Kedua tangannya bergerak liar mencari pegangan. Bertumpu pada tepi bathtub, ia mengakat tubuh. Terbatuk-batuk dan tersengal itu sudah pasti!
Wara mengatur napas. Ketakutan terpancar jelas di wajahnya yang mulai memucat. Bagaimana tidak! Kecerobohan nyaris saja merenggut nyawa.
"Bodoh! Bodoh! Bodoh!" maki Wara pada dirinya sendiri. Sejenak mengatur pasokan udara yang masuk ke paru-paru sebelum kembali menyeru, "enough is enough! Jackson, ini sudah cukup!"
"Cukup! Cukup! Cukup! Jangan lagi muncul di pikiranku! Kau telah kumakamkan dan aku harus melanjutkan hidup!"
Wara menatap cermin yang berada satu garis lurus dengan posisinya saat ini. Menyaksikan seberapa bengkak indra penglihannya. Mendorong batin wanita itu untuk bermonolog. Menyemangati dirinya yang tengah rapuh.
'Sekalipun faktanya dia masih hidup, kembali ke masa lalu bukan pilihan yang tepat. Kau sudah tidak mempercayainya! Hatimu pun telah tertutup untuknya! Lalu apa lagi yang kau tangisi?'
'Hei, dengar! Serpihan sampah sangat mungkin berada di tempat terkumuh. Bisa jadi tersebar di setiap sudut gudung. Berdebu, berias bangkai kecoa, dan kotoran cicak. Tidakkah pria sepertinya menjijikkan? Come on, Wara! Kau ... pantas bahagia! Lupakan dia, tataplah masa depan!'
Tidak ingin mengulang tragedi mengerikan, Wara beranjak. Menggapai handuk berwarna putih lalu melilitkannya pada tubuh. Buru-buru keluar dari tempat itu.
Sudah berada di depan lemari. Wanita itu menimbang apa yang ingin dikenakan. Tatkala ia hendak mengambil piyama tidur, Wara menoleh pada pintu balkon. Menarik pakaian tergesa-gesa. Ia berlari kecil menuju tempat yang telah mencuri perhatian.
Wara hendak menyingkap tirai namun sesuatu yang tak biasa yang tengah dirasakan itu mampu menahan gerakan.
Berbalik membelakangi gorden, Wara mencengkram erat pakaian tidur yang ada di tangan. Mendekatkannya ke arah d**a. Getaran yang ditimbulkan oleh organ pemompa darah sungguh luar biasa.
Wara menunduk. Lengkungan bulan sabit terukir jelas pada paras yang tengah menunjukan rona. "Diberikan racun sekaligus penawar dalam waktu bersamaan, bagaimana itu mungkin?" Wara terkikik. "Lucu! Sangat lucu!"
Tidak sabar, Wara memutar tubuh. Menyingkap vitrase, membuat celah sekecil mungkin. Tidak ingin keberadaannya diketahui seseorang yang tengah dibidik.
Wara kegirangan bukan main saat pria yang diincarnya ternyata sedang duduk di balkon. Menyandarkan tubuh pada sandaran kursi dan terlelap. Mempertontonkan pesona ketentraman pada wajah tampannya.
Berlari menuju tempat tidur. Piranti penutup tubuh dihamburkannya ke udara. Wara menjatuhkan tubuh mungilnya di kasur. Pegas besi yang menyangga busa memberi efek pantulan pada tubuh wanita itu.
Wara tidak peduli. Hatinya berderik laksana sungai kering, mengukung ikan-ikan penuh dahaga. Hanya melihat Jun dari kejauhan namun mampu menimbulkan kerinduan yang mendalam. Melenyapkan kesedihan yang sedari tadi dirasakan.
Wanita yang tengah dihinggapi jutaan kupu-kupu itu menarik guling. Memeluk erat lalu bergulir ke kanan dan ke kiri. Kedua kakinya heboh. Dihentakkan berulang-ulang. Menghasilkan bunyi yang tak berjeda. Sesaat, perlakuan manis Jun beberapa jam yang lalu terngiang di pikiran.
Meskipun situasinya rumit, Jun tetap memastikan Wara pulang dalam keadaan perut terisi. Mampir ke sebuah cafe yang menawarkan beraneka ragam menu steak, Jun memilih posisi paling sepi. Duduk menghadap tembok, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Ketika pesanan tiba, Jun menyantapnya dalam diam. Tak ada sepatah katapun keluar dari bibir pria itu. Mulutnya terkunci dengan pemandangan yang tidak diharapkan. Jangan salah! Hal itu sama sekali tidak menyurutkan kepedulian yang telah tertanam pada dirinya.
Di sela-sela aktivitas memindahkan makanan ke mulut, Jun menaruh tissue ke tangan Wara. Melihat bawahannya tak bergeming, Jun berinisiatif menggerakkan tangan Wara. Tindakan meyeka air mata pun terbentuk.
Tidak sampai di situ. Jun melakukan hal yang sama pada makanan Wara. Secara tidak langsung Jun menyuapi wanita yang bahkan belum lama ini dikenalnya. Pada saat Wara menunjukan nafsu makan yang menguap, Jun menajamkan mata. Seolah tengah memberi ancaman yang tidak main-main. Geregetan pun tak sungkan untuk ditunjukan.
Anehnya, wanita itu pun mendadak patuh. Jun tidak perlu membuang banyak waktu. Makanan Wara habis dengan tempo normal. Tentu tugas Jun menjadi ringan.
Ribet! Sangat sangat ribet! Kenapa tidak langsung disuapi saja?
Begitulah Jun! Punya cara tersendiri untuk menunjukan kebaikannya. Sekali lagi! Ia tidak ingin ketulusan hatinya disadari banyak orang. Membalut uluran tangan atau perhatian dengan sisi buruknya sudah biasa ia lakukan.
Walaupun dilakukan dengan dingin, tapi sosok Jun sukses membekas di pikiran Wara. Meninggalkan perasaan tidak sabar untuk berjumpa, berjumpa, dan berjumpa.
"Bos ... sepertinya aku memang menyukaimu," gumam Wara di tengah-tengah kebersamaan yang masih terus memenuhi kepala.
"Tolong jangan tolak aku secepat ini. Tak banyak harapan yang kugenggam. Aku tahu diri. Hanya izinkan sampai luka itu benar-benar sembuh. Sampai akhirnya lupa bahwa aku pernah dikhianati," racaunya kemudian sebelum ia terlelap.